
Pemanasan siang-siang mendung ini...
Nanti malam aku update lagi 😚😚
*****
"Mit... lagi apa? Telepon aku ngga kamu angkat."
Pesan dari Rama yang masuk ke ponselnya. Kini Mita yang menelpon Rama. Tadi dia menolak panggilan video dari Rama karena sedang ganti baju.
"Aku lagi beresin tugas biar bisa pulang. Senin banyak tugas yang harus dikumpulin."
"Makan belum?"
"Belum, nanti aku pesen makan ke kantin Malabar minta dianterin. Kamu udah makan?"
''Udah...''
Rama merasa bersalah, sudah marah-marah tanpa pernah bertanya kesibukan Mita akhir-akhir ini yang sepertinya lebih padat.
''Maaf aku minta ini itu ke kamu."
"Iya ngga apa-apa...''
''Jadi kamu mau nya gimana?"
Mita meletakan pulpen dan bukunya lalu menatapnya lekat.
"Aku mau beresin kuliah dulu."
__ADS_1
"Nggak bisa nego?"
"Kenapa kamu seingin itu nikah sama aku?"
"Karena cuma kamu yang bikin aku uring-uringan kaya gini."
Mita mencoba mendalami setiap ucapan Rama.
"Setelah nikah pun aku ngga ngelarang kamu kuliah, aku anter jemput Jakarta-Bogor juga ngga apa-apa. Atau beli rumah di Bogor mungkin. Kamu mau sampe S3 pun boleh. Setelah lulus kerja di kantor juga boleh. Apapun boleh."
Mita menarik nafasnya panjang.
"Apa aku pernah minta ini itu ke kamu?''
Rama menggeleng pelan.
"Sekarang aku minta sesuatu ke kamu."
''Aku cuma minta kamu sabar...''
Rama mengangguk lemah, segala usahanya untuk mengajak Mita menikah ternyata belum berhasil. Sesulit itu merubah pendirian seorang gadis desa yang meluluh lantahkan hatinya.
''Menikah itu sebuah keputusan besar buat aku. Aku mau nikah sama kamu, mau banget karena aku juga sayang kamu. Aku pengen tiap bangun tidur kamu orang pertama yang aku lihat. Nanti aku yang siapin pakaian kamu, yang siapin makan kamu. Nemenin kamu all the time, for the rest of my life.''
''Rasa sayang, cinta dalam hubungan itu perlu. Tapi ada hal lain yang juga perlu, kepercayaan, terbuka, mengalah. Aku sampe sekarang masih sulit untuk ngalah sama kamu, begitupun kamu. Kita masih harus belajar, mempersiapkan mental yang lebih perlu.''
"Aku juga belum punya apa-apa Ram, aku pengen sukses dulu, membahagian orangtua aku. Aku malu bersanding dengan kamu dengan keadaan aku yang masih gini. Aku pengen memantaskan diri untuk kamu dulu.''
Kini airmata yang sudah ia tahan, sudah tumpah membasahi pipi nya.
__ADS_1
''Kalau masih mungkin, aku pengen lamarannya pun nanti. Tapi aku hargain keinginan kamu, niat baik kamu. Tapi untuk menikah tolong sabar sebentar lagi."
''Kesuksesan yang kamu maksud ada di aku ngga? Aku punya ngga?"
Rama tak kalah lekat menatap nya.
"Ada, kamu punya semuanya. "
"Semua yang aku punya buat kamu. Kalau kamu mau, aku bisa jadiin semua yang kamu maksud dengan kesuksesan jadi mas kawin kita."
Mita tersenyum, merasa menjadi perempuan yang paling dicintai dan diinginkan.
''Makasih sayang untuk semuanya... Tapi rasanya berbeda Rama... Mungkin bagi kamu, aku ini ribet. Tapi ini lah aku dengan semua prinsip yang aku pegang. Aku memang cuma perempuan biasa dari kampung, tapi ngga ada seorang pun yang bisa merubah prinsip aku kecuali diri aku sendiri."
Rama tersenyum hangat.
''Aku sayang kamu. Aku ngerti sekarang kenapa aku sesayang ini sama kamu. Aku tunggu kamu siap. Besok pulang diantar Pak Karman ya?''
Rama menyudahi pembahasan mengenai pernikahan, karena semuanya akan sia-sia. Hanya menunggu dan terus berdoa yang Rama bisa lakukan sekarang.
''Nggak usah, aku udah biasa pulang sendiri."
''Kalau gitu besok terakhir kamu pulang sendiri. Lusa kamu mau aku lamar ke Bapak, aku anggap setelah itu kamu udah jadi tanggung jawab aku. Tugas Mama terhadap kuliah kamu aku anggap selesai, semuanya berpindah ke aku. Untuk pulang ke Cianjur udah ngga bisa ditawar, diantar jemput Pak Karman. Pergi keluar kota juga sama, diantar jemput Pak Karman. Balik ke Bogor hari apa?"
Mita menghela nafas, sekarang ia yang harus mengalah.
"Setelah acara lamaran, Senin ada praktikum pagi."
"Bareng sama Mama berarti pulangnya. Ngga ada lagi pulang pergi sendiri. Magang udah diurus Fery, kamu beresin administrasinya. Ada lagi?"
__ADS_1
''Udah bos, semuanya beres."
''Gemeesssss.''