
Selesai shalat Subuh Sena udah rapi. Mengambil susu dan membuat roti bakar sendiri.
"Tumben."
Komentar dari Pak Romi ketika melihat Sena kerepotan mengoles selai coklat yang mengenai tangannya. Sena mulai berpikir untuk lebih mandiri seperti saran dari Rama.
"Kalau udah serius sama laki-laki, kamu udah harus lebih mandiri Dek. Sebelum urusin suami, belajar urus diri sendiri."
Akhir-akhir ini ucapan Rama selalu terlintas di kepalanya. Obrolan kakak dan adik yang sederhana namun bermakna di meja makan beberapa hari lalu.
Sena menikmati sarapan subuhnya sambil menyimak acara berita di ruang keluarga. Sementara Pak Karman mencuci mobil sebelum dibawa membelah jalanan Jakarta Bandung. Di samping Sena, ada Bu Lia yang sedang membaca buku yang covernya sudah usang dimakan usia.
"Mah, Papah mana? Di berita ada kecelakaan, jalanan macet. Aku bisa telat ngampus."
"Kecelakaan dimana?"
"Tol Cikampek."
Bu Lia menutup bukunya lalu bangkit menuju kamar hendak melaporkan kondisi terkini jalan tol.
"Kecelakaan apa?"
Pak Romi keluar kamar masih menggunakan celana pendek. Sudah mandi namun belum berganti pakaian tidur. Kebiasaan yang sudah mendarah daging di diri dokter jantung tersebut.
Pak Romi memperhatikan acara berita yang di dalamnya terdapat seorang reporter wanita yang langsung melaporkan dari TKP.
"Papa liat aja."
Diberitakan sebuah truk oleng pada pukul 04.00 hingga menabrak pembatas jalan lalu terpelanting mengenai 7 kendaraan lainnya. Hingga ruas jalan tol Cikampek kini mengalami kemacetan mencapai 20km.
"Waduh macet 20 km bisa terurai berapa jam."
Pak Romi memutar otak.
"Ngga ngampus kayaknya ini aku."
"Ngga usah lewat tol, sesempet nya aja kamu ngampus. Mana Kang Karman? Mobil udah siap? Ayok berangkat."
Bertepatan dengan gerakan kepala Pak Romi yang mencari Pak Karman keluar jendela, Bi Imas setengah berlari datang ke arah Pak Romi.
"Pak punten, Pak Karman jatuh kepleset pas nyuci mobil tadi."
Pak Karman yang sedang tidak enak badan, memaksakan diri untuk tetap mengantar Sena ke Bandung. Hingga akhirnya tidak fokus, dan terjatuh karena tersandung selang air dengan kondisi lantai garasi yang licin karena basah.
"Astagfirullah, subuh-subuh kieu aya we musibah. Saur Ibu ge kamari sina si Jaja we nu ngajemput Sena kadieu ti Bandung ari teu genah awak mah." (Subuh-subuh gini ada aja musibah. Kata Ibu juga kemarin biar Jaja yang ngejemput Sena dari Bandung kalau ngga enak badan.)
Bu Lia lekas memeriksa Pak Karman ke kamar belakang.
"Kalau aku bareng sama Mas Adit gimana Pah?"
Dengan ragu-ragu Sena mengutarakan pertanyaan yang sejak kemarin terlintas di benaknya. Namun tidak berani ia minta karena kemungkinan diperbolehkannya kecil.
"Adit mau ke Bandung?"
"Iya dia kangen riding, sekalian aja riding nya ke Bandung."
"Naik motor?"
Karena panik, Pak Romi menanyakan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan oleh seorang dokter yang luas pengetahuannya.
"Namanya juga riding, ya naik motor dong Pah. Mumpung pulang katanya pengen motor-motoran."
"Adit anak motor?"
__ADS_1
Sena mengangguk.
Setelah diskusi antara Bu Lia dan Pak Romi, akhirnya Pak Romi menyuruh Sena menelpon Adit.
"Mas, udah siap belum?"
"Ini aku baru mau sarapan, nanti langsung berangkat. Kenapa Non?"
"Tol macet parah, ada kecelakaan beruntun. Pak Karman juga jatuh pas nyuci mobil tadi, ngga bisa antar aku."
"Terus kamu gimana?"
"Mas mau anter aku ngga?"
"Emangnya dibolehin Papa motor-motoran?"
"Ini Papa mau ngomong."
"Dit, kamu antar Sena ngga apa-apa?"
"Tadinya Adit mau naik motor Pah. Tapi kalau pake mobil berarti ngga bisa lewat tol ya?"
"Kalau kamu mau naik motor juga ngga apa-apa. Papa nitip Sena aja, hati-hati di jalan. Yakin kamu ngga apa-apa antar Sena?"
"Dengan senang hati Adit antar, Pah. Yaudah Adit kesana sekarang biar ngga telat."
Pak Romi tersenyum.
"Sarapan dulu, Dit."
"Iya Pah."
Agar cepat selesai, Adit mengiyakan ucapan calon mertua. Namun mengantar Sena saat ini menjadi misi yang lebih penting dari sarapan, akhirnya dengan senang hati Adit melewatkan sarapan mie goreng mawut andalan Bu Retna dan hanya meneguk segelas susu hangat.
"Bu, Adit berangkat mau antar Sena ke Bandung."
"Sena ngga jadi diantar supir? Masuk angin lho Dek, anak orang."
"Barusan Papa nya telepon, di tol ada kecelakaan, supirnya juga jatuh pas nyuci mobil jadi ngga bisa antar."
"Memang mau mu bonceng Sena."
Putri kembali menjulid. Mulut seorang kakak sepertinya memang diciptakan untuk julid ke adik.
"Itu namanya rejeki anak sholeh Mbak. Jodoh memang ngga kemana."
"Aku aamiin-in aja, biar kamu seneng."
Putri bicara dengan muka mengejek.
"Sarapan dulu."
"Nanti aja, takut telat Bu."
"Sarapannya kamu butuh waktu berapa jam?"
Adit tidak menjawab sinyal buruk dari Bu Retna.
"Sarapan cuma lima menit, Ibu sudah capek-capek masak dari subuh ngga dimakan."
Bu Retna melanjutkan kembali kalimatnya yang tidak dijawab Adit.
Tak mampu membantah akhirnya Adit mengambil mie goreng yang ditumis bersama nasi, sayuran, dan aneka seafood ke atas piringnya.
__ADS_1
"Kamu itu harus sayang diri sendiri lebih dari sayang siapapun. Harus jaga kesehatan. Kalau sakit piye?"
Melihat Bu Retna mengomel, Putri pun tidak berani banyak bicara dan merusuhi Adit.
"Hati-hati bawa motornya, kalau ngantuk atau capek istirahat dulu. Lebih baik telat asal selamat. Bandung itu lebih dari seratus kilo."
Sepedas apapun ucapan Bu Retna, namun ucapannya memang sebuah peringatan yang harus menjadi perhatian Adit. Tanda kasih sayang seorang ibu kepada anak.
Selesai sarapan, Adit membelah jalanan menuju rumah Sena dengan senyuman optimis. Bersama Sena Adit seringkali merasakan bunga-bunga bermekaran di hatinya.
Adit melihat jam nya, ternyata membutuhkan waktu 35 menit untuk sampai ke rumah Sena dengan mengendarai panigale yang ia beli sebelum berangkat ke Jepang. Menurut perhitunganya, dengan skill naik motor sebelum pergi ke Jepang harusnya jarak rumahnya ke rumah Sena bisa ditempuh dalam 20-25 menit. Karena hampir setahun lamanya Adit tidak mengendarai motor, kecepatan motor-motoran Adit menurun. (panigale : salah satu seri motor ducati)
"Lumayan."
35 menit yang lumayan, sebagai pemanasan sebelum ke Bandung.
Begitu Adit sampai rumah calon mertua, tanpa menunggu lama ia dan Sena langsung berangkat demi mempersingkat waktu agar tidak terlambat.
"Ini motor kamu?"
Pak Romi rela menunda berangkat ke rumah sakit demi menitipkan Sena secara langsung kepada Adit. Sementara Bu Lia sudah lebih dulu berangkat karena ada kelas pagi.
"Iya Pah."
Meskipun Pak Romi bukan anggota club motor, namun sedikit banyak ia mengetahui motor mahal. Karena secara naluriah, kebanyakan laki-laki menyukai motor. Yang membedakan adalah ada atau tidaknya dana dan waktu yang mendukung.
"Baru? Kinclong banget."
"Lumayan Pah, beli sebelum ke Tokyo. Kilometernya baru seratusan, baru dipake disini-sini aja."
"Nanti Papa boleh nih pinjem, sekali-kali motoran ke rumah sakit."
Adit tertawa. Respon Pak Romi diluar dugaan Adit.
"Boleh Pah. Adit ke Jepang, motor nya simpen sini aja kalau Papa mau pake."
"Ih ngga usah. Inget udah mau jadi kakek, Pah."
"Lho memang kenapa? Mau jadi kakek ngga boleh motoran?"
"Papa minta beliin ke Kakak aja. Dia juga mau beliin motor buat Yoga kuliah. Mau beli buat Kakak juga katanya. Sekalian Papa minta beliin."
"Ide bagus."
Pak Romi tertawa sambil mengusap bahu Adit, sementara Adit tersenyum penuh makna.
Pak Romi bersyukur memiliki anak dan calon menantu yang sudah bisa mandiri di usia muda. Adit dan Rama lebih beruntung karena memiliki privilage keluarga berada, sudah tentu Rama dan Adit lebih mudah mendapatkan kesuksesan materi dibanding teman seusianya yang harus memulai dari nol.
Setelah berpamitan, Adit mengambil ancang-ancang agar Sena memegang pinggangnya.
"Bismillah."
Rute yang Adit pilih adalah melewati Cikampek, Purwakarta dan Padalarang. PerkirannSena berharap dosennya akan terlambar datang atau berhalangan hadir. Karena jika melihat maps kemungkinan Sena dan Adit sampai Bandung lebih dari jam10.
"Siap?"
"Siap ke KUA?"
"Kuliah dulu, pulang kuliah ke KUA."
Adit tersenyum, mengusap kepala Sena yang dagunya tepat berada di atas bahu kiri Adit.
Sena mengencangkan pelukan di pinggang Adit, menikmati pengalaman pertama di bonceng kabogoh.
__ADS_1
Duh, dunia milik berdua !