
Adit hari ini begitu semangat. Bangun subuh seperti biasa, namun tidak berlindung di balik selimut kembali. Sarapan di restoran hotel jam 6 pagi saat belum ada siapapun, dan menu masih minimalis.
"Selamat pagi Mas Aditya. Maaf, menu kami belum tersedia semua."
Seorang staf restoran menghampiri Adit ketika sedang mengambil buah potong.
"Pagi Mas. Ngga apa-apa, Saya mau check out. Sarapan yang ada aja."
"Baik, kalau Mas Aditya berkenan Saya bantu ambilkan beberapa menu sarapan kami."
"Oh iya, boleh terima kasih."
Dengan sigap staf restoran benama Wahyu mengambil beberapa menu makanan lalu diantar ke meja tempat Adit sarapan.
Privilage seorang selebgram, dilayani sebaik mungkin karena takut di review buruk yang akan berimbas besar kepada hotelnya.
Selesai sarapan, Adit langsung jemput Sena lalu mengantar ke kampus. Dan menjalankan misinya hari ini.
Kini, senyum merekah terutas di bibir Adit karena semuanya berjalan sesuai harapan.
"Balik dulu ke rumah Enin ya. Habis itu aku mau ajak kamu keluar. Terserah kamu makan, ngopi, mau kemana aja aku anter."
"Kenapa ngga sekarang aja? Biar sekalian, ngga bolak balik."
"Boneka gimana? Kan nyimpen boneka kamu dulu. Jadi kita ke rumah Enin, baru keluar."
Hari ini banyak kata perintah dari Adit.
"Bisa dikirim aja sih sebenernya tinggal kasih alamat. Tapi yaudahlah ngga apa-apa."
Aneh, pikir Sena.
"Pulang dulu nih?"
"Yes, pulang dulu."
Keduanya terlihat menggemaskan. Memperhatikan pasangan kekasih yang akan LDR kembali, selalu menarik perhatian.
"Pantes itu cewek adem ayem aja, kalau ada yang ngedeketin ngga pernah respon. Pawangnya kaya gitu."
Komentar mahasiswa lain yang hanya memperhatikan Sena dari jauh karena berbeda jurusan. Meski tidak saling mengenal, Sena tersohor ke penjuru kampus. Anak rumahan, cerdas, cantik, dari keluarga terpandang.
Selama diperjalanan, begitu banyak rencana yang sudah Adit buat. Rencana hari ini sebelum kembali ke Jakarta.
"Aku kangen kamu sebenernya."
Membawa motor ke Bandung ternyata bukan ide yang bagus, pikir Adit.
"Kan ini kita lagi bareng, aku di deket kamu. Kok bisa kangen padahal lagi deket sama orang yang dikangenin."
"Bisa, contohnya aku."
Adit menarik tangan Sena agar lebih mengeratkan pelukannya di atas motor.
"Aneh."
Tidak masuk di akal Sena.
Sena memejamkan matanya, mencium aroma khas Adit dari balik jaket yang Adit gunakan.
"Aku sayang kamu."
"Aku tau. Dan aku juga sayang Mas."
Setelah sampai di kediaman Enin, Adit menyimpan motornya di dalam garasi. Seperti hendak bertamu lama.
"Non, mobil kamu bisa dipake kan? Aku rada pegel bawa motor. Udah lama ngga motoran kayaknya."
Adit memutar-mutar kepalanya, seperti kretek abal yang viral di youtube, namun tanpa suara "krek".
"Lho nanti pulang ke Jakarta gimana? Motor dibawa sama Mang Jaja aja atuh ya, Mas bawa mobil. Nanti tukeran di Jakarta."
"Jangan, ngga bisa sembarang orang pake motor ini."
"Oh iya aku lupa, ini mah motor mahal..."
"Emang beda pake motor ini sama pake motor biasa. Kalau sekitar Bandung sih ngga masalah. Tapi kalau ke Jakarta, apalagi baru pertama kali pake mah jangan deh."
Adit dan Sena sebenarnya setipe. Tidak merasa eksklusif, namun sebenarnya eksklusif.
"Bhaiq..."
__ADS_1
"Cari makan pake mobil bisa kan?"
Adit mengulangi pertanyaannya yang belum terjawab.
"Bisa, bentar aku ambil kunci dulu."
Setelah pamit kepada Enin, Adit membawa mobil pemberian Pak Romi untuk Sena. Meski secara hak sudah menjadi milik Sena, namun Sena tidak diizinkan membawa mobil sendiri.
"Mau kemana lagi ini teh?"
"Mau ajak Sena jalan-jalan, Nin. Besok Adit berangkat ke Tokyo lagi. Mumpung masih disini."
"Sakola teh jauh-jauh teing atuh Ujang kasep." (sekolahnya jauh amat anak ganteng.)
Adit tersenyum.
"Biar masa depannya cerah, Nin. Mau memperistri anaknya Pak dokter, biar ngga malu-maluin keluarga kalau disini-sini aja."
Adit berkilah dengan senyuman manisnya.
"Jago gombal, kaya Rama aja."
Rama memang panutan di mata Adit.
"Sok atuh, jangan sore-sore bisi kahujanan. Pake mobil aja , sore mah Bandung teh dingin." (bisi : takut)
Tjakep, direstui bawa mobil. Adit sumringah.
Setelah berbasa-basi, untuk pertama kali nya Adit membawa mobil perempuan. Mobil sederhana bagi ukuran Sena, hanya innova.
"Kemana ini?"
Adit memakaikan Sena sabuk pengaman.
"PVJ yuk?"
"Seleranya anak metropolitan banget. Yang lain atuh, Non. ke Lembang gitu, Pangalengan, Ciwidey yang jauhan dikit."
"Jujur ya, tugas aku buat besok banyak. Tapi kalau Mas mau yang jauh, ke Mars aja gimana?"
Adit tersenyum.
"Yuk bisa yuk refresh energi dulu, sebelum aku berkutat dengan angka dan gambar."
Sena bergeliat melemaskan tubuh, membuat Adit salah fokus.
Di perjalanan yang berjarak kurang dari 10 kilometer, Adit dan Sena ber-carpool karaoke ria. Menyetel lagu melow bin galau dengan volume besar. Diselingi lagu hiphop yang nge-beat. Sena bernyanyi dengan teriak bak orang kehilangan akal, dengan tangan kiri Adit sebagai microphone.
Adit menikmati pertunjukan Sena hari ini. Jarang-jarang bisa melihat primadona kampus tertawa lepas seperti hari ini.
"Kamu gemes amat."
"So pasti. Sayang aku ngga sih Mas?"
"Masih nanya."
Adit memarkirkan mobil di basement mall.
"Sini dong."
Adit menarik tangan Sena. Memeluk dalam rengkuhan.
"Oh jadi ini alasan kenapa Mas pengen naik mobil?"
"Kan aku bilang, aku kangen."
Sena membalas pelukan Adit lebih erat.
"Besok aku balik, Non. Jaga diri, jaga kepercayaan aku."
Sena mendongakan wajahnya ke arah wajah Adit.
"Siyap Bos."
"Kalau kangen aku, peluk yang tadi aku kasih."
"Oke siap."
"Aku peluk apa kalau kangen kamu?"
"Peluk bantal !"
__ADS_1
"Kasian amat disuruh peluk bantal. Kamu ikut aja deh ke Tokyo."
Adit memeluk bertambah erat. Tak terasa airmata Sena menetes, hingga menembus kaos Adit.
"Kenapa nangis? Omongan aku ada yang salah?"
Adit menempelkan dahinya pada dahi Sena. Menghapus airmata Sena dengan jarinya.
"Aku seneng aja Mas ada disini. Tapi sedih juga besok mau tinggal lagi."
"Aku bakal baik-baik aja disana. Don't worry, doain ya pas balik udah selesai kuliahnya."
Detak jantung Adit berpacu lebih cepat, hingga sesak. Sebelum kehilangan akal, Adit melepas pelukannya.
"Yuk turun. Udah lumayan, peluk kamu bikin hati aku lebih baik."
"Luar biasa Bapak ini. Jadi intinya pengen peluk aku doang?"
"Yes. Emangnya kamu ngga mau peluk aku?"
Adit melepaskan kembali sabuk pengaman Sena. Dan mencium singkat kening sang kekasih.
Begitu sulit menjaga kehormatan zaman sekarang. Namun dengan segala keteguhan prinsip, Adit berusaha sekeras mungkin untuk menahan segala naf su sebagai laki-laki normal.
Hari itu Sena dan Adit menghabiskan waktu di mall sampai sore. Sena membeli beberapa buku dan novel untuk bahan bacaan saat jenuh dengan rutinitas mahasiswa tingkat akhir.
Tak lupa Sena mengajak Adit ke toko aksesoris untuk membeli sesuatu untuk Adit.
"Mas, bawa ini ya ke Tokyo? Kalau kangen aku peluk ini."
Sena menunjuk boneka bola nerdiameter 60cm.
"Kegedean dong, Non. Gimana bawanya di pesawat."
Sena tertawa, tidak berpikir ke arah sana.
"Pake coba."
Adit memakaikan Sena topi berwarna merah muda.
"Masya Allah cantik amat anaknya Pak Romi."
Tidak mau kalah, Sena mengambil topi dengan motif sama berwarna biru.
"Pacar nya siapa ini ganteng amaaatt."
Kedua nya tertawa bersama layaknya sepasang kekasih.
Akhirnya Sena memilih boneka bola seukuran bola basket.
"Makasih lho bolanya."
"Dengan senang hati."
Setelah puas mengelilingi PVJ, sepasang kekasih tersebut menutup pertemuan hari itu dengan makan di warung tenda.
Meski belum terlalu banyak warung tenda yang buka, beberapa penjual soto ayam dan makanan pinggir jalan lain sudah aja sejak siang.
"Di warung tenda aja gimana? Udah sore, takut Mas kemalaman nyampe Jakarta."
Sena melihat jam tangan mahalnya sudah menunjukan pukul 3 sore.
"Serius mau makan di pinggir jalan?"
"Lho emang kenapa? Aku juga suka kok. Kalau ngafe takut pewe, yang penting perut kamu ngga kosong mau motor-motoran."
"Boleh juga."
"Nanti disana mampir dulu ya, nitip buat Ibu, Ayah, Mas Abi sama Mbak."
Sena menunjuk toko kue terkenal khas Bandung yang biasa dijadikan oleh-oleh.
Selesai membeli titipan untuk keluarga Adit, dengan berat hati Adit pamit kepada Enin. Dengan mata yang terasa perih karena harus berpisah dengan Sena.
"Di negeri orang harus lebih jaga diri. Disini Sena jaga diri, Adit lebih jaga diri."
"Iya, Nin. Enin sehat-sehat."
"Aamiin. Doain Enin panjang umur, pengen liat Sena nikah. Semoga jodoh sama Sena ya bageur."
Adit memejamkan mata, meng-amin-kan dari dalam lubuk hati yanv paling dalam. Amin yang paling serius yang pernah ia ucapkan.
__ADS_1