
Rama
Beberapa hari ini ia kewalahan mengatur tugas kuliahnya dan memeriksa dokumen yang dikirimkan Lani, salah satu karyawan kantornya karena Fima sudah cuti mendekati acara pernikahan nya.
Sejujurnya ia tidak begitu kenal siapa kekasih Fima yang sudah setahun lebih ini menjalin hubungan. Karena ia pun jarang sekali ke kantor. Terlebih setahun terakhir ia sudah di Amerika. Ia hanya sekedar tau nama calon suami Fima adalah Abimanyu.
Perbedaan waktu yang terpaut 14 jam membuat antara ia dan keluarganya kesulitan dalam komunikasi. Saat ia free time, di saat yang sama warga Jakarta masih dalam balutan selimut dan lelapnya mimpi.
Pagi ini sejujurnya rasa kantuk masih ia rasakan. Tapi ia paksakan untuk menelpon Ibu nya untuk memastikan kehadirannya di resepsi Fima besok.
Ibu nya yang saat itu sedang membaca silabus, memberikan info yang sedikit mengejutkan baginya.
"Fima itu nikahnya sama anaknya Bamwir yang paling gede ternyata."
Ayahnya yang baru saja sampai rumah mendengar pembicaraan ikut dalam obrolan.
"Wah besok ada yang ketemu mantan dong."
"Apa sih Papa, udah tua masih aja."
Ibu nya merasa risih selalu dikaitkan dengan pembahasan mantan jika menyangkut Bambang Wiraguna.
"Usia boleh tua, tapi kenangan kan pasti masih ada. Iya kan Ram?"
Ia hanya bisa tertawa tipis, tidak tertarik ikut dalam obrolan tentang mantan karena masih menahan kantuk.
"Jadi aman ya besok dateng kan ke Fima? Fima karyawan aku soalnya."
Gaya nya selalu seperti itu, bahkan terhadap orangtua pun sama. To the point.
"Besok berarti ada Mita ya. Dia masih sama anak bungsunya itu?"
Ahh... bang cadd. Bener juga pikirnya.
"Masih kayaknya Ma. Udah lama ngga kontak Mita, tugas sama kerjaan aku banyak banget. Mana ada temen yang dateng terus ke flat Rama."
"Temen dari mana?"
"Temen bule di kelas. Jadi menghambat aku ngerjain laporan kantor. Udah jarang order makanan sekarang, dibawain terus."
Ia teringat Michelle, temannya di kelas yang asli Amerika.
"Awas jangan kamu bungkus."
"Si Papa paham bungkus segala. Ngga lah, masih ada iman dan Mita di hati Rama."
Ia tertawa mendengar ayahnya paham jokes anak muda.
"Besok Papa mau lihat perempuan yang diributkan itu kaya gimana. Selera keluarga nya Bamwir itu bagus. Fima aja dipilih keluarga itu, sayang kamu nya ngga mau."
"Selera Rama citarasa nusantara Pah. Fima meskipun Jawa tapi ada darah bule nya."
Ia jadi memikirkan sesuatu untuk besok. Senyumnya simpul.
****
Mita
Hari Jumat yang tak ia inginkan datang terlalu cepat, mau tidak mau akhirnya datang juga. Sejujurnya ia masih gugup berada di tengah-tengah keluarga Adit. Acara besar seperti ini pastinya dihadiri keluarga besar, rasanya ia belum siap.
Perbedaan layar belakang yang jauh, membuat ia membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami pola pikir keluarga Adit.
"Berangkat jam berapa?"
Ia yang masih memegang buku materi kuliah seolah masih fokus belajar.
"Malem ngga apa-apa? Aku mau beresin laporan sama tugas dulu abis ini."
Ia mencari-cari alasan. Sebisa mungkin ia datang malam untuk meminimalisir interaksi dengan keluarga jauh Adit yang infonya sudah tiba di hotel.
"Naik mobil kan? Ngga apa-apa kalau mobil, kalau pakai motor nanti kamu masuk angin."
Ia terdiam, memikirkan kembali ucapan Mas Abi tempo hari.
"Mas ngga mau ganti mobil ke city car gitu?"
Baginya mobil Adit sekarang terlampau mewah. Sedangkan ia masih Mita yang sama, Gadis sederhana dari Cianjur. City car seperti Honda jazz mungkin lebih nyaman pikirnya. Tidak terlalu mengundang perhatian orang banyak.
"Kalau harus jual si ganteng aku ngga mau. Kalau beli lagi boleh aja kalau di acc Bu manager."
"Pengeluaran lagi Mad kalau gitu."
Ia tidak setuju.
"Ayah kan udah gantiin uang yang kepake kemarin. Jadi masih bisa sebenarnya kalau mau beli juga."
Iya belum sempat memeriksa saldo rekening tabungan Adit.
"Kemarin minta nya gimana ke Ayah? Ngga dimarahin?"
Uang 200 juta baginya sangat besar. Apakah bisa dengan semudah itu orangtua Adit memberikan hanya untuk sebuah motor?
"Biasalah orangtua, ceramah dulu. Cuma baru mau gantiin kalau udah liat motornya dan BPKB nya atas nama Mas. Takut buat narkoba kali." ia dan Adit tertawa bersama. Rasanya menjadi kekhawatiran semua orangtua, tidak mau anaknya terjerat pergaulan bebas dan narkoba.
Ia dan Adit berangkat pukul 21.00 dengan harapan ketika sampai hotel, keluarga Adit sudah tidur.
"Kamu tuh kenapa sih suka kelewatan?"
__ADS_1
Ia yang bingung karena merasa tidak melakukan kesalahan akhirnya bertanya.
"Kelewatan apanya?"
"Cantiknya."
Ia tak bisa menahan senyumnya.
Tersipu malu.
"Tuh kan gemes."
Begitu sampai di hotel, ternyata masih ramai. Ada beberapa keluarga yang baru datang dari Banyuwangi, kota asal Ayah Adit.
Adit mengajaknya ke kamar para sepuh.
"Bu, ini Mita udah dateng."
Ia dan Adit menyalami satu per satu semua orang di kamar tersebut.
"Malem banget sih Dek. Kasian itu Mita keanginan."
Adit lagi yang kena getahnya.
Namun Adit tak pernah menjawab jika sedang disalahkan jika alasan sebenarnya adalah ia. Xixixi
"Pacarnya Adit toh? Cocok cah ayu karo cah bagus."
Komentar seorang Ibu paruh baya yang dipanggil Bude oleh Adit.
"Alhamdulillah akhirnya ada yang bilang bagus. Ayah mana Bu?"
Adit tertawa usil.
"Lagi ke ballroom, liat tempat acara. Mau nyusul Ayah?"
Adit melihatnya sekilas.
"Ngga usah, langsung ke kamar Mbak aja. Kamar sebrang kan? Hebohnya kedengeran sampai sini."
Ia ke kamar khusus para wanita lajang. Kamar tipe suite yang terdapat ruang tamu dan ruang makan di dalamnya didominasi oleh aksen marmer. Satu kata untuk kamar ini. Mewah.
Di dalam kamar itu sebagian besar anak-anak remaja usia ABG tanggung, mungkin seusia anak SMP Dan SMA. Hawa anak-anak orang kaya sudah tercium, karena masing-masing memegang ponsel dengan kamera bermata tiga. Sedang asik membicarakan BTS, EXO Dan Astro.
"Mas Adit pacarnya selebgram juga ya?"
Ia yang mendengar ucapan polos seorang salah satu gadis kecil itu hanya tertawa.
"Cantik kan? Mas Adit gitu loh."
"Pinter kamu." Adit mncubit pipi anak itu yang bernama Diandra gemas.
Mbak Puput yang sedang asik dengan ponselnya melihat ke arahnya dan Adit.
"Kamu cowok sana.'' Mbak Puput menatap Adit.
"Kenapa sih, orang ada pacar aku disini. Pacar Mbak mana? Ngga punya ya?" Adit mencibir.
"Pacarku ke laut."
"Oh masih toh. Punya pacar kok kaya jomblo."
Puput yang memiliki pacar seorang prajurit TNI-AL memang sedang patroli laut. Bukan lagi ngambang di laut. Xixixi.
"Kamu udah bilang kan akhir tahun kita jadi ke Bali?"
"Ya Allah aku lupa."
"Apa sih isi kepala kamu gituan aja lupa."
Mbak Putri ngomel.
"Neng cantik doang isi kepala ku."
Disoraki oleh bocil-bocil.
"Prettt." seolah muak mendengar gombalan Adit.
"Mita bisa kan ikut ke Bali libur akhir tahun? Temen Mbak ada yang minta di promosikan villa barunya. Mbak udah pesan tiket kamu." lanjut Mbak Puput.
"Ke Bali? Tanggal berapa? Mas ngga bilang kalau mau ke Bali."
"Aku lupa terus. Yang kemarin aku minta foto KTP kamu itu diminta Mbak buat tiket."
"Akhir Desember aku lagi persiapan ujian akhir semester, ujiannya awal Januari."
Ia menging-ngingat jadwalnya di akhir Desember. Sepertinya akan sibuk persiapan ujian akhir. Lagi pula ada perlu apa ke Bali?
"Apa mau pas libur semester? tiketnya bisa reschedule kok."
"Mita ngga bisa, dia mau ke US."
Adit yang mendengar libur semester langsung nge-gas. Ia melihat Adit sekilas yang sedang memotong apel yang tersedia di meja makan hotel.
"Neng mau?" ia menggeleng karena semua mata sedang menatapnya.
"Wihhh sadis, kamu jauh juga mainnya."
__ADS_1
"Ada yang ngajak Mbak, ngga enak kalau di tolak."
"Kalau ada yang ngajak balikan ngga enak juga nolaknya?"
Adit menatap nya tak berkedip.
"Mas kok jadi ngomongin itu."
"Wihh seru nih ngomongin mantan. Ayok lanjut aku suka huru hara.''
"Udah ah aku mau balik ke kamar."
Adit keluar kamar membawa apel yang sudah ia potong.
"Tuh kan Mas mah ngambek."
"Emang dia ngambekan. Ya gitu itu, ngambek dikit masuk kamar."
*****
Adit
Begitu mendekati pintu masuk ballroom hotel tempat di selenggarakan acara ia tertarik dengan begitu banyaknya jajaran karangan bunga yang dikirimkan oleh kerabat Mas Abi, keluarganya dan keluarga Mbak Memes. Mulai dari politisi, pejabat negeri, anggota dewan dari berbagai komisi, petinggi TNI dan POLRI, rektor universitas negeri terkenal, pebisnis, berbagai perusahaan karena tertulis nama PT, hingga kalangan artis.
"Mas Abi sama Mbak Memes kerja dimana Mas? Banyak banget karangan bunga nya."
Ia tersenyum, Mita pun memperhatikannya. Mungkin Mita bertanya-tanya siapa keluarganya sebenarnya.
Sedetik ia berhenti pada karangan bunga terbesar yang mencolok. Karangan bunga yang didominasi warna biru dan kuning tersebut bertuliskan nama seseorang dan perusahaan yang sepertinya miliknya.
Happy wedding
Fima & Abimanyu
Rama Yudha R. - PT Abadi Makmur
Ia mencibir, orang itu selalu saja ingin menonjolkan kepunyaan nya dihadapannya.
Mita yang berada di sisi nya ikut melihat karangan bunga tersebut.
"Rama anaknya Bu Lia." ia tau apa yang sedang ia pikir Mita.
Mita tampak terkejut.
"Calon istrinya Mas Abi kerja di kantornya Rama."
Ia tidak ingin menutupi siapa Rama.
"Nanti mungkin Bu Lia sama Pak Romi kesini."
Kekagetan Mita terlihat jelas. Bukankah bagus jika keluarga itu melihat ia dengan Mita bersama keluarganya??
*****
Mita
"Mita disini?"
Ia yang sedang duduk bersama Adit di meja VIP khusus keluarga dan kerabat dekat melihat Bu Lia mendekat ke arahnya.
"Iya Bu, diajak Mas Adit."
Ia menoleh ke arah Adit yang sedang menikmati sushi. Adit sepertinya tahu siapa yang sedang berbicara dengannya.
"Oh Adit anak bungsungnya Pak Bamwir ya?"
Adit pun mendekat ke arahnya dan Bu Lia lalu mengangguk memberikan hormat.
Seorang laki-laki paruh baya yang sepertinya Pak Romi mendekat dengan sepiring kambing guling di tangannya. Ia berusaha tetap tersenyum menutupi kegugupannya.
"Ini siapa Ma?"
"Ini Mita." Bu Lia memeperkenalkan nya kepada Pak Romi.
Pak Romi yang juga Ayah Rama nampak terkejut.
"Mita yang di IPB?"
Ia mengangguk senormal mungkin.
"Kok disini?"
"Ini Adit, anak bungsunya Mas Bamwir teman nya Mita."
Semoga Bu Lia tidak tau bahwa ia dan Adit menjalin hubungan khusus.
Adit tersenyum, memberikan tangan. Pak Romi mengangguk, membulatkan mulutnya membentuk huruf "O".
"Visa nya udah keluar?"
Pak Romi menatapnya penuh.
"Belum Pak, masih nunggu."
"Semoga disetujui kedutaan jadi kamu bisa nyusul Rama."
Ya Tuhan... Ayah dan anak ternyata sama saja.
__ADS_1
Tapi tunggu, maksudnya apa?