
Mita
Terlihat Adit sedang memanaskan motor yang baru ia lihat. Benarkah motor itu selama ini ada di garasi dalam?
"Udah siap berangkat?"
Terlihat jelas motor tersebut baru selesai mandi, kinclong sudah siap untuk dibawa mudik.
Tapi tunggu, kalau Bapak dan Ibu bertanya Adit ini siapa gimana? Teman? Atau Adit yang punya kosan? Sama rumitnya dengan Rama.
"Udah sih kayaknya."
Ia menimbang-nimbang kembali beberapa barang penting yang harus ia bawa. Laptop, beberapa buku, charger, sampai dompet tidak luput dari absensi agar tidak tertinggal.
"Jangan sampai ada yang tertinggal. Kamu pulang lagi besok kan?"
Ia mengangguk, persis seperti yang ada di pikirannya tadi.
"Iya, besok siang. Senin ada quiz, aku mau belajar dulu malemnya."
"Yaudah besok pulangnya aku jemput lagi, kebetulan besok aku mau nginep di Puncak semalam. Ngeberesin beberapa kerjaan."
Ia merasa untuk kesekian kalinya ada Rama dalam tubuh Adit.
"Kerjaan apa Mas?" ia memberanikan diri untuk bertanya, semoga pertanyaannya tidak termasuk ke dalam hal-hal tabu yang untuk ditanyakan.
Adit menunjuk tas yang ada di depan motornya.
"Ini numpuk endorsement, besok mau take video." Adit memperlihatkan tas ranselnya yang berisi kamera dan berbagai macam barang yang harus ia promosikan.
"Keren banget." ia bergumam dalam hati. Ia kagum dengan Adit, di usia yang terbilang muda Adit sudah memiliki penghasilan sendiri walaupun yang ia tau dari penghuni kos keluarga Adit sangat berkecukupan. Tapi itu tidak menjadikan Adit seperti anak orang kaya kebanyakan yang hanya mengahabiskan uang orangtua.
Adit bisa memnfaatkan privilege yang ia punya untuk hal yang positif. Dan hebatnya lagi, dengan segala kelebihan yang Adit miliki, ia sama sekali tidak over proud dan tidak pernah menampakan kelebihannya.
"Kamu bengong, berangkat sekarang?" Adit menyadarkannya dari lamunannya. Ia pun mengangkat tas ranselnya namun Adit mengambilnya.
''Aku aja yang pake.'' Adit menggunakan tas ranselnya di depan dada nya. "Biar nggak masuk angin." Adit tersenyum. Tentu bukan alasan utama bukan?
Adit memberikan helm kepadanya untuk ia pakai.
"Aku mau foto kamu ya buat kenang-kenangan. Ngga keberatan kan?" ia mengangguk malu. Adit mengarahkan kamera ponselnya ke wajahnya saat ia menggunakan helm. Dengan reflek ia tersenyum malu.
Acara mudik kali ini tentu tidak luput dari ceng-cengan anak kosan lainnya. Grup Malabar 10 selalu heboh jika membicarakan dirinya dan Adit. Seperti saat Adit yang memberikan tisu semalam.
"Ada yang ngga bisa bobo mikirin tadi dikasih tisu sama Mas ganteng. " sebagai chat pembuka bahan ghibah malam itu dari Rani.
"Kenapa ngga di lap-in aja sekalian." Wanda menanggapi tidak kalah eror. Bahan ghibah baru yang menarik untuk mereka.
Pertama kalinya seumur hidup ia pergi dengan jarak yang lumayan jauh dengan orang lain selain keluarganya. Karena selama ini Bapak yang selalu mengantar ia jika pergi. Tentu kali ini ia nervous.
Sepanjang perjalanan masing-masing mereka bercerita tentang kuliah dan kegiatan sehari-hari juga saling bertukar cerita tentang keluarga.
Beberapa obrolan yang baru kali ini ia ceritakan kepada orang lain. Bahkan kepada Rama ia belum cerita banyak.
"Kamu berapa bersaudara?"
Adit selalu memiliki bahan obrolan standar namun bermakna dalam. Apakah artinya ia ingin mengenal keluarga nya lebih? Seperti yang dikatakan Rani saat tau Adit ingin mengantarnya mudik.
"Aku anak pertama, adik aku satu cowok sekarang SMK."
Adit pun ber-ohh ria.
"Gimana ceritanya bisa kenal dengan keluarga Rama?"
__ADS_1
Adit selalu ingin tau tentang Rama. Apakah Rama semenarik itu?
"Dikenalin sekolah. Keluarga aku biasa-biasa aja, bukan keluarga yang mampu untuk sekolah sampai universitas. Jadi pihak sekolah bantu aku cari orangtua asuh yang biayain kuliah aku. Sambil nanti cari-cari beasiswa kalau sudah masuk. Jadi mulai dari daftar kuliah, SPP, buku, kosan, sampai bulanan aku yang tanggung keluarga Rama.'' ia menjelaskan tentang semua biaya yang di cover oleh Bu Lia. Betapa besar jasa keluar Rama untuk kuliah nya.
"Berarti kamu pintar, sekolah sampai nyariin orangtua asuh buat kamu sampai kamu ada disini."
"Mungkin. Padahal aku cuma belajar lebih rajin , bangun lebih pagi, berdoa lebih banyak dari yang lain. Cuma itu."
Ia melihat senyuman Adit dari kaca spion.
"Orangtua nya Rama siapa?"
"Ibu nya Rama dosen, kalau ayahnya yang aku tau beliau dokter."
"Nama lengkapnya kamu tau?"
Ia pun menggeleng.
"Memangnya aku perlu tau?" Apa perlu ia tau siapa nama lengkap orangtua Rama?
Adit tertawa lepas.
"Kamu polos banget. Kalau kamu tau nama lengkap orangtua nya Rama, aku yakin nama mereka ada di google. Mereka bukan orang sembarangan." terang Adit gamblang.
Ia nampak berpikir, benarkah yang dikatakan Adit? Darimana Adit tau? Apakah keluarga Adit juga bukan orang sembarangan?
Serumit itu lingkungan orang kaya. Latar belakang keluarga ternyata memang perlu, bahkan Adit bertanya tentang latar belakang keluarga Rama. Tentu bukan tandingan keluarganya.
''Kalau orangtua Mas Adit siapa?"
Adit yang mendengar pertanyaan nya tertawa keras.
"Kamu cerdas."
"Tapi orangtua Mas Adit pasti hebat. Anaknya aja kaya gini, bukan kaleng-kaleng." Adit tersenyum mendengar pujian yang ia berikan. Ia rasa tidak berlebihan, Adit memang sebegitu hebat dimatanya.
"Kita beli oleh-oleh buat orang rumah kamu dulu."
"Ngga perlu Mas." tolaknya halus. Namun tidak membuat Adit membatalkan niatnya. Motor yang mereka kendarai sudah sampai di salah satu pusat oleh-oleh di Puncak.
"Dari aku bukan dari kamu. Buat Ibu Bapak, bukan buat kamu." Adit menggodanya, Persis seperti Rama. Ia harus banyak-banyak istigfar jika dengan Adit. Khawatir hatinya melemah.
"By the way, maaf waktu itu aku gombalin kamu. Aku ngga tau kenapa bisa ngomong gitu kemarin, aku baru sadar apa yang aku omongin. Malu-maluin sih sebenarnya."
Adit terlihat kikuk menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal. Hanya salah tingkah.
"Ngga apa-apa, Rama udah sering gombalin aku katanya biar aku kebal kalau digombalin cowok. Ternyata bermanfaat juga."
Ia jadi teringat Rama. Diliriknya jam di tangan kanannya, bertanya dalam hati apakah Rama sudah berangkat? Namun sayangnya Rama tidak memberinya kabar apa-apa.
"Btw kriteria laki-laki pendamping kamu yang kaya gimana? Harus yang hebat kaya Rama?" benarkah Rama sehebat itu?
"Waktu itu aku suka Rama karena dia perhatian, kita juga nyambung. Yang terpenting, caranya dia suka sama aku bikin aku ngga bisa nolak. Dia bikin aku yang bukan siapa-siapa ini ngerasa kaya perempuan yang paling beruntung karena ada laki-laki yang sayang banget sama aku. Itu aja."
"Bukan siapa-siapa gimana, kalau kamu ngga istimewa dia ngga akan segitunya sama kamu."
Ia tersipu mendengar kata istimewa untuknya, benarkah?
"Aku nggak ngerti kenapa Rama bisa segitunya. Nggak ada yang spesial di diri aku. Keluarga aku pun jauh dari sempurna. Tapi memang dia sangat memuliakan perempuan." poin terpenting untuk Rama adalah hal tersebut. Rama yang sangat sayang dengan Ibu Dan Sena.
******
Adit
__ADS_1
"Kemarin pas aku cuci mobil kenapa kamu bilang kita janjian makan terus aku lupa?" sejujurnya ia penasaran akan hal ini. Kebohongan apa yang sudah Mita katakan kepada Rama?
Mita pun menceritakan awal mula ide iseng itu muncul namun ternyata Adit sudah ada di kosan.
"Aku kira Mas belum pulang, jadi aku pura-pura pakai nama Mas. Maaf ya." Mita merasa sungkan sudah berbohong memakai namanya.
"Nggak apa-apa. Bahkan segitunya ya dia, kamu udah janjian sama cowok lain tapi dia tetap antar kamu pulang."
Mita tersenyum merona. Jelas terlihat bahwa Mita tersentuh dengan sikap gantle Rama. Ada kesan bangga saat Mita mengatakan alasan Rama mengantarnya langsung ke kosan, bukan ke restoran cepat saji tersebut. Rama meminta laki-laki yang mengajaknya bertemu untuk menjemput Mita. Layak ditiru sebagai senior untuk membuat wanita terpesona.
Hal yang ia tangkap bahwa Mita masih menyimpan perasaan untuk laki-laki itu. Dilihat dari cerita Mita, Rama adalah laki-laki dengan sejuta pesona. Berat saingannya kali ini.
Selesai membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga Mita. Ia tiba-tiba memiliki ide yang menarik, namun masih ragu apakah Mita mau?
Ia mengajak Mita mencicipi jagung bakar di Warpat yang mejadi tongkrongan anak-anak muda seperti dirinya. Hanya jejeran warung-warung biasa yang menjual mie rebus, kopi dan cemilan untuk menghangatkan tubuh. Ia pun beberapa kali mengambil gambar mereka berdua sebagai kenang-kenangan, untungnya Mita tidak keberatan.
"Aku tag kamu di instagram ngga masalah kan?"
"Nggak sih, cuma jadi banyak yang follow aku Mas. Aku jadi ngga enak takut disangka pansos."
"Eh nggak dong, kan aku yang tag."
"Ada yang DM juga sih beberapa, nanya aku siapanya Mas Adit."
"Kamu bales apa?" ia penasaran dengan jawaban Mita untuk followers nya.
"Aku ngga bales." Mereka pun tertawa terbahak-bahak bersama. Menikmati sepiring pisang goreng dan bandrek hangat dengan orang yang kita sukai.
''Kita istirahat dulu ya, aku udah lama ngga naik motor jadi kaya pegel-pegel.''
Ia memencet-mencet punggungnya yang terasa pegal.
"Mas maksain sih, aku jadi ngga enak."
Mita terlihat merasa tak enak ketika ia memencet punggungnya. Kesalahan pertama untuknya, ia seharusnya tidak menunjukan itu. Itu menggerutu dalam hati.
"Aku nya aja yang berasa udah tua. Tapi udah enakan."
Ia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Mit, sorry aku mau nanya kamu mau ngga jadi tim endorsement aku? Ini penawaran aja, kalau ngga mau ngga apa-apa jangan sungkan."
Padahal hanya pertanyaan biasa, bukan pernyataan cinta. Tapi ia sudah takut ditolak, melihat Mita yang berbeda dengan kebanyakan perempuan kemungkinan ia ditolak tinggi jika tentang pernyataan cinta. Ia belum siap untuk itu.
"Maksudnya gimana Mas?"
Ia menarik nafas se-rileks mungkin.
"Endorsement yang masuk ke aku udah lumayan banyak, cuma aku masih ngurus semuanya sendiri. Mulai kewalahan, karena aku agak pemilih untuk nyari orang yang bener-bener cocok sama aku. Aku belum punya manager dan tim yang bantu-bantu."
Bahasa yang ia gunakan terkesan berbelit-belit. Ia sekarang lebih hati-hati dalam memilih kalimat, khawatir ada perkataan nya yang salah kembali.
"Kerjanya kaya gimana?"
Namun di luar dugaan, Mita nampak antusias. Semoga usaha nya berhasil. Ia memang membutuhkan orang untuk mengahandle urusan endorsement.
"Paling jawab penawaran kerjasama dari online shop atau brand aja. Kaya telepon, chatting, email. Atur jadwal untuk take video. Kalau yang lain kita bisa kerjain bareng-bareng."
"Aku mau. Mulai kapan?" Kalimat yang ia tunggu akhirnya terdengar di telinga nya. Bibirnya pun tersenyum tidak bisa berbohong, ikut merasakan kebahagiaan hatinya.
"Kita partner kerja sekarang."
Baiklah, naik satu level. Kemajuan yang bagus.
__ADS_1