Cinta Mita

Cinta Mita
Si Kepala Batu


__ADS_3

Selamat sore pembaca setia yang udah nungguin update-an novel ini. Maaf semingguan kemarin ngga sempat update, karena kesibukan di dunia nyata yang menguras tenaga dan pikiran.


Terima kasih untuk komen dan doa nya yang berharap aku sehat biar bisa terus update. Doa kebaikan yang sama untuk pembaca setia yang baik hati ❤️


Selalu sehat ya semua ❤️❤️


******


"Mas, ini air hangat biar enakan badannya."


Sena meletakan gelas berisi air hangat perintah dari Pak Romi tadi di atas nakas tidak jauh dari posisi Adit berbaring.


"Makasih Sen."


Adit menarik tangan Sena agar mendekat. Sena yang hanya berdua dengan Adit di dalam kamar, merasa tidak enak hati. Meski pintu kamar terbuka lebar, hatinya ternyata tidak bisa diajak santai.


"Aku keluar dulu ya Mas."


Jika ada Rama mungkin Sena tidak akan secanggung ini, karena Rama pasti merusuhi Sena dan Adit di kamar. Rama kembali ke resto untuk menjemput Yoga setelah menelpon adik iparnya tersebut untuk memastikan bahwa Yoga masih di resto.


"Ngga mau nemenin aku disini?"


Sena mengusap kening Adit yang mulai bercucuran keringat, karena tebalnya selimut yang Adit kenakan.


"Aku ngga enak kalau kelamaan berdua sama kamu. Kalau butuh apa-apa telepon aku aja ya, aku ke kamar dulu."


Adit mengangguk, sementara Sena menutup sempurna seluruh anggota tubuh Adit di balik selimut.


Selepas Sena keluar dari kamarnya, Adit langsung memejamkan matanya. Lelah karena bersin yang terus menerus ternyata ampuh sebagai obat tidur.


Sementara itu, saat Sena ingin segera ke kamarnya, Sang Mama mengajaknya bicara.


"Kamu udah bilang ke Ibu nya belum kondisi Adit?"


Malam itu orangtua Mita sudah masuk kamar, sehingga di ruang tengah hanya tersisa kedua orangtuanya saja.


Tunggu, Ibunya Adit? Sena belum terpikir akan bicara dengan keluarga Adit.


"Anaknya ada sama kita aja, orangtuanya ngga tau. Adit ngga bilang orangtua nya kalau kesini?"


Pak Romi baru saja menutup laptopnya, mungkin habis zoom meeting dengan tim dokter di Jakarta.


"Aku kan tau Pah. Aku juga ngga tau harus bilang apa. Emang harus ya nelpon Ibu nya?"


"Papa udah nanya ke Adit kemarin, sekarang Papa yang nanya ke kamu. Kamu serius ngga sama Adit?"


"Adit jawab apa? Jawaban aku sama kaya jawaban Adit."


Sena tidak tau jawaban Adit kepada orangtuanya apa, hanya saja ia yakin Adit tidak akan mengecewakannya.


"Adit bilang kalian proses saling mengenal yang serius. Benar begitu?"


Baru kali ini Sena membicarakan laki-laki yang berstatus bukan teman dengan kedua oranggtuanya seserius ini. Apa yang membuat kedua orangtuanya mengizinkan kehadiran Adit di kehidupannya? Apa karena kedua orangtuanya sailing mengenal atau karena pribadi Adit itu sendiri?


"Iya bener kata Adit. Aku sama Adit lagi saling mengenal. Karena beda mengenal dia sebagai teman dan sebagai pasangan."


"Kalau serius kamu coba masuk ke keluarganya, karena kalau kalian serius, hal itu juga perlu."


"Iya Mama sayang."


Sena bangkit hendak ke kamarnya, lalu mencium pipi Sang Mama.


"Nomer Ibu nya Adit sudah Mama kirim, kamu telepon ya, bilang keadaan anaknya."


Sedari tadi Bu Lia memainkan ponselnya ternyata mengirimkan nomor ponsel Ibu nya Adit.


"Iya, aku telepon di kamar aja ya Ma."


Sena keluar dari apartemen sewaan menuju kamarnya yang terletak di apartemen Rama. Seperti tidak ada kehidupan, Mita sudah masuk kamar, sedangkan Rama belum juga kembali.


"Teh, udah tidur ya? Rencana besok kita gimana jadinya?"


Sena dan Mita sedang merencanakan kejutan sederhana untuk besok di acara wisuda Rama. Tadi siang sebelum ke Nike store, Sena dan Adit sambil mencari vendor dan bergerak membantu Mita demi surprise kecil untuk sang suami.


"Aman Sen. Udah aku follow up lagi tadi. Makasih ya."


Mita menampakan wajahnya dari balik pintu kamar. Sehingga membuat Sena curiga akan pakaian yang Mita gunakan sepertinya minimalis alias seksi.


"Yaudah deh aku masuk kamar ya."


"Adit mendingan?"


"Mendingan. Kasian banget bersin terus, cape kali dia jadi langsung tidur."


"Iya kamu juga istirahat. Good night sweety."


"Good night teteh syantik."


Kedua nya lalu berpisah, masuk ke dalam kamar masing-masing. Mita bermain ponsel, sedangkan Sena menelpon calon ibu mertua seperti mandat Sang Mama.


Empat kali nada sambung berdering, akhirnya Bu Retna mengangkat telepon dari Sena.


"Assalamualaykum."


Hatinya berdebar tak menentu. Sungguh jantung Sena sedang tidak baik-baik saja.


"Waalaykumsalam. Maaf Tante mengganggu, ini Sena."


"Sena? Ya Allah nduk... Maaf Ibu lupa. Adit gimana sekarang?"


Ibu? Rasanya... Mungkin sama seperti perasaan Adit ketika mencoba menyebut Pak Romi dengan sebutan Papa .


"Mas Adit lagi tidur Bu, tadi ditanya minum obat apa tapi kata Mas tidur aja."


"Tadi Mama juga sudah nelpon Ibu, Adit memang cuma butuh istirahat aja selimutan. Nanti kalau sudah keluar keringat artinya sudah baikan."


Terkejut, ternyata Mama nya sudah menelpon duluan. Apa saja yang sudah dibicarakan para orangtua tersebut?


"Oh iya Bu."


"Kapan pulang?"


"Tiga hari lagi Bu, besok baru wisuda Kakak."


"Semoga sekolah Sena dan Adit juga cepat selesai, yang penting fokus, saling support."


"Iya Bu, mohon doanya."


"Pasti Ibu mendoakan untuk anak-anak Ibu, semoga semuanya lancar. Harus saling ya, saling ngalah, saling sabar."


"Iya Bu."


Tidak menyangka akan bicara dengan Ibu Adit secepat ini, bahkan Sena belum pernah melihat secara langsung keluarga Adit. Hanya melalui foto yang Adit unggah di Instagram saat Hari Raya lalu.


Setelah selesai bicara dengan Bu Retna, Sena lantas mengirimkan pesan kepada Adit.


"Mas, kalau butuh apa-apa telepon aku, biar aku langsung bangun khawatir aku ketiduran."


Sementara itu, selepas bicara dengan Sena, Bu Retna langsung menelpon Adit.

__ADS_1


Adit yang belum ada satu jam tidur, merasa terganggu dengan suara telepon dari ponselnya. Namun begitu melihat mama Ibu di ponselnya, Adit memaksakan untuk bangun.


"Assalamualaikum Bu."


"Waalaykumsalam, gimana keadaan kamu sekarang?"


Keadaan? Mungkin feeling seorang Ibu yang tau anaknya sedang tidak baik-baik saja.


"Baik Bu, lagi istirahat."


"Kamu itu keterlaluan, ke Amerika ngga pamit ke Ibu."


Dari mana Ibu nya tau bahwa ia sedang di Amerika?


Ahh... pasti dari Mba Putri, karena ia meminta uang beberapa minggu lalu.


"Aku lupa, Mba juga mesti bilang kan?"


"Yo bahasa mu Dek, izin orangtua. Kamu ngga butuh doa Ayah Ibu lagi?"


"Ngga gitu Bu, maaf Adit salah."


"Sekarang malah kambuh kan alergi kamu? Ngga pamit Ibu jadi begitu itu."


Adit termenung, merasa ucapan Ibu ada benarnya. Tapi darimana Ibu tau alergi nya kambuh?


Namun Adit tidak biasa menjawab ucapan orangtua apalagi Ibu ketika marah.


"Lebih milih ketemu Sena jauh-jauh ke Amerika, dibanding pulang ketemu Ibu?"


Dari mana lagi Ibu tau Sena? Otaknya memaksa berpikir meskipun badannya masih lelah.


Namun Ibu nya terdengar kecewa.


"Adit pulang ke Jakarta Bu dari sini, tiga hari lagi Adit pulang."


"Ngga usah, pulang ke Tokyo aja istirahat."


Semua wanita memang sulit dimengerti pikir Adit, bahkan termasuk Ibu.


"Iya Bu..."


"Jaga diri, jaga anak gadis orang, jangan ngisini Ayah Ibu. Orangtua Sena itu kerabat Ayah, jaga nama baik Ayah. Ngerti maksud Ibu?"


"Iya Bu..."


Adit ingin meminta penjelasan dari mana Ibu nya tau tentang ia dan Sena, namun tubuhnya masih butuh istirahat, akhirnya ia mengurungkan keinginannya.


Tak lama, terdengar suara orang membuka pintu kamar, ternyata Yoga sudah sampai


"Mas kenapa?"


"Alergi kambuh biasa. Dari mana kamu?"


"Dingin banget sih diluar. Suhunya 5⁰c."


Yoga melihat suhu yang terpampang di ponselnya.


"Aku lagi motret, ketemu orang Indonesia yang kuliah disini jadi ngobrol tadi."


"Kirain kenalan sama bule."


"Belum ada yang nyantol Mas."


Yoga tertawa, persis seperti tertawanya Mita.


"Tidur Ga, Mas capek banget."


Sementara Rama masuk ke dalam kamar setelah menjemput Yoga. Melihat Mita tertidur pulas di sofa kamarnya membuat Rama merasa kasihan sekaligus bersalah, karena kejadian haid masih membekas di hatinya.


Meski keinginannya akan Mita sudah menggebu, namun melihat Mita seperti lelah akhirnya ia hanya mendekatkan kepalanya ke tubuh Mita. Mengusap lembut rambut istrinya.


"Maaf ya sayang."


Bisiknya lirih.


Tangan Mita bergerak menggenggam tangannya.


"Aku yang minta maaf belum bisa ngasih hal yang sudah kamu pengen."


"It's oke, aku bisa sabar beberapa hari lagi."


"Bukan itu."


"Terus apa?"


"Baby kaya punya Fery."


Rama mencium kening istrinya, entah mengapa hatinya sedikit terenyuh, mungkin karena keinginan akan bayi begitu besar, padahal pernikahannya baru sebulan.


"Baru sebulan? Ngga masalah."


"Kalau aku ternyata ngga bisa ngasih Abang anak gimana? Abang ninggalin aku?"


Mita sudah overthinking, ia begitu takut tidak bisa hamil.


"Stttt jangan ngomong gitu."


Rama tidak ingin Mita bicara hal aneh kembali hingga ia menghisap bibir istrinya.


Meski sesuatu milik Rama sudah mengeras di bawah sana melihat pakaian Mita, namun Rama tidak berniat melakukan lebih dengan Mita. Hanya pelampiasan kecil untuk mengurangi rasa rindunya.


Jam 5 subuh Mita terbangun karena alarm alaminya untuk shalat Subuh, namun baru menyadari bahwa Subuh di Seattle hari ini pukul 06.16. Ia pun tersenyum, akhirnya menghubungi kembali seseorang di kamar mandi yang akan membantunya menyiapkan surprise kecil untuk Rama.


"Don't be late, I'll be there at 8am." (Jangan telat, aku akan tiba disana pukul 8)


Masih ada 3 jam sebelum rencana dimulai. Sedangkan acara wisuda Rama akan dimulai pukul 9 pagi.


Mita pun menyiapkan segala keperluan Rama dan dirinya. Namun baju yang akan Mita kenakan di acara wisuda, ia masukan ke dalam tas.


"Sayang, kayaknya ada yang pengen aku beli di Market deh."


Melihat Rama menggeliat tanda Rama juga sudah bangun namun Masih memejamkan mata.


"Beli apa? Pulang aku wisuda kita kesana."


"Aku aja sendiri kesana, sebelum berangkat ke acara kamu."


"Ngga bisa, nanti aja pulangnya, nanti aku telat."


Rama masih memejamkan mata sambil memeluknya.


"Ngga mau, aku pengen sendiri, jam setengah 8 deh biar spare waktunya cukup jadi ngga telat."


"Apa sih kalau dikasih tau suka ngeyel."


Rama duduk, bangun dari posisi tidurnya. Merasa permintaan Mita menyebalkan.


"Pokoknya aku mau ke pasar dulu, aku juga mau beli syal buat dipake di acara kamu."

__ADS_1


"Kenapa ngga kemarin sih? Suka ada-ada aja."


"Kemarin lupa. Aku siap-siap ya."


"Terserah, capek ngasih tau kamu."


Mita membalikan badannya, agar senyumannya tidak dilihat Rama. Xixixi.


Sementara itu saat Subuh tiba Adit belum terlihat keluar kamar karena masih lelah, terpaksa Bu Lia mengetuk pintu kamar Adit untuk membangunkan shalat Subuh.


"Gimana kondisinya sekarang Dit?"


"Baikan Mah alhamdulillah."


"Kalau masih kurang sehat ngga ikut ke kampus Rama juga ngga masalah Dit. Habis shalat langsung sarapan."


Pak Romi memberi intruksi.


"Iya Pah."


Adit mengingat sesuatu, menelpon Sena di apartemen sebelah.


"Sen, aku ngga ikut ke acara Kakak ngga apa-apa kan?"


"Mas baikan belum? Kalau belum kita ke klinik aja."


"Baikan kok."


"Terus kenapa ngga ikut?"


Sejujurnya Sena ingin Adit ikut jika memungkinkan. Berharap Adit bisa hadir di salah satu acara penting keluarganya.


"Aku belum pulih banget. Kalau Memungkinkan aku nyusul ya."


"Oke."


Sementara Mita begitu sibuk ingin ke Pike Market seorang diri.


"Teteh belum siap-siap?"


Saat sarapan Bu Rini melihat penampilan Mita yang terlalu santai menurutnya.


"Teteh mau ke Market dulu Bu."


"Ngapain?"


"Beli syal sama ada yang perlu di beli."


Rama diam sejak Subuh tadi, kesal dengan sikap keras kepala Mita yang sulit dinasehati.


"Nanti aja atuh pulang acara, nanti telat."


Pak Zainal berpendapat.


"Ngga akan Pak, tenang aja."


Mita tersenyum, tetap bersikeras.


"Sama Rama?"


"Sendiri aja Pah, kasihan Abang kalau ikut. Aku cepet-cepet kok."


Sena dan Adit tersenyum simpul melihat wajah kesal Rama.


"Ngga apa-apa Ram, Mita sendiri?"


"Biarin lah Pah, mau nya dia aja gimana. Mulut aku udah berbusa ngasih tau."


Pak Romi ikut tersenyum, baru tau sifat keras kepala menantunya.


"Jadi ngga boleh aku ke Market? Tadi Abang bilang terserah."


"Terserah, aku bilang terserah."


Rama membereskan sarapannya buru-buru lalu masuk kamar.


"Ini dasi nya ya sayang, aku simpan di atas meja kamu."


"Ngga bisa banget ke Market nya nanti aja? Harus benget sekarang?"


"Harus sekarang."


Mita menjawab singkat.


"Aku berangkat sekarang ya Bang."


"Ajak Yoga atau ngga usah ke Market."


Mita belum pernah sekeras kepala ini seingat Rama. Entah apa yang diinginkan istrinya sekarang.


"Yaudah aku naik taksi sama Yoga."


Jam 8 kurang Mita sudah berangkat dengan membawa tas. Namun sampai jam 08.30 Mita belum juga kembali.


"Mita udah dateng Kak?"


Bu Lia masuk ke apartemen Rama dengan rombongan.


"Belum Mah, tadi berangkat sama Yoga."


"Telepon suruh cepet pulang, sebentar lagi kita berangkat."


Anehnya pesan whatsapp nya sejak tadi tidak dibalas bahkan belum dibaca. Begitu Rama menelpon, terdengar suara ponsel berdering dari dalam kamarnya.


Rama langsung memeriksa asal suara tersebut. Begitu melihat ponsel Mita di balik bantal wajah Rama mengeras.


"Dimana Ga? Mana teteh?"


Tanpa basa basi Rama menelpon Yoga.


"Ngga tau Bang. Yoga disuruh nunggu di kedai roti Bang."


"Astagfirullah, kita mau berangkat ini. HP teteh ngga dibawa."


Dengan kekesalan yang memuncak Rama menutup telepon tanpa salam.


"Kita berangkat aja Ram, Bapak suruh Mita nyusul sm Yoga. Daripada kita semua telat."


"Ari Teteh kunaon jadi merekedeuweung budak teh." (Teteh kenapa jadi susah dibilangin.)


Bu Rini ikut terlihat kesal dengan kelakuan Mita.


"Sabar."


Pak Romi menepuk pundak Rama.


"Haaaah." Rama menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal.


Rama tidak bisa menyembunyikan amarahnya di hadapan orangtua Mita. Dengan terpaksa rombongan pergi ke tempat acara tanpa Mita, Yoga dan Adit.

__ADS_1


"Kamu tuh ya, kepala batu !!!!"


Meski tidak akan dibaca Mita, Rama hanya ingin menumpahkan kekesalannya.


__ADS_2