
Huaaaa mohon maap baru UP setelah sekian purnama 😢😢
Buat yang lupa bab terakhir boleh dibaca lagi biar rada nyambung 😆
*****
"Kamu mau nikah? Yuk. Kapan?"
Percakapan yang sejatinya hanya melalui pesan text, namun terdengar begitu nyata di telinga Sena.
Gila !
Namun tak mampu Sena ucapkan.
"Bulan depan siap?"
Adit seperti menantang.
"Mas Adit ngaco !"
Adit tertawa membayangkan ekpresi gemas Sena kala itu yang semu merah membaca balasan dari Adit.
"I'm serious. Kamu siap aku ajak susah?"
Selepas dari restoran tadi, Adit langsung masuk ke kamarnya hendak istirahat. Sementara Sena bersantai bersama Mita, Rama, dan Yoga di ruang TV.
"Susah nya kamu emang kayak gimana?"
Sena yang tadinya sedang berkumpul di depan TV, masuk ke kamar setelah menyadari sudah mulai senyum-senyum sendiri membaca pesan dari Adit.
Tak lama, Adit menelpon Sena.
"Mau nikah beneran sama aku? Aku tuh kalau di Indonesia cuma tinggal di kos-kosan, seringnya motoran, makan lebih sering di kantin atau warteg, jarang ke tempat fancy, bahkan aku itu anak rumahan. Ngafe, nongkrong itu jarang buanget."
Sena tertawa.
"Ya kos-kosannya juga punya kamu kan. Gimana sih."
"Tapi kosan aku bukan kosan eksklusif, kosan yang biasa banget. Jauh lah gaya hidup aku sama gaya hidup kamu."
Inikah takdir Adit, terus belajar adaptasi dengan kehidupan perempuan yang ada di sisinya. Bahkan ketika dengan Mita, ia yang lebih banyak beradaptasi. Ternyata dengan Sena pun sama.
"Tapi kalau pemikiran aku sih ya, ngga etis kalau cowok minta cewek nya untuk menurunkan standard yang selama ini orangtuanya kasih. Kalau cowok tersebut emang sayang sama ceweknya, harus nya malah semakin kerja keras, berusaha minimal memberikan yang biasa dia dapatkan dari orangtuanya. Ini menurut aku pribadi, boleh dikoreksi kalau aku salah."
Adit tertawa, Sena se-gamblang itu bicara standard hidupnya. Tipe perempuan cerdas yang memiliki prinsip hidup dan tau apa yang ia mau.
"Ngga salah sih."
"Tapi kalau aku pribadi sih asal ada niat, yang lain ngukutin. Namanya juga membangun rumah tangga, sama kaya membangun rumah, sama kaya isi bensin, mulai dari 0."
Adit tersenyum, baru tau isi kepala Sena mengenai pernikahan, cukup dalam.
"Eeaaaa.'' Adit geli sendiri.
"Aku juga bukan tipe cewek yang ngga mau kerja. Kalau aku kerja, gajiku bakalan dua digit kok tenang aja kita bisa nabung bareng."
Rama detected, selalu percaya diri. Terdengar sombong meski tidak ada niat, tapi memang itu lah kenyataannya. Rakyat jelata mau bilang apa ~~
Selesai shalat magrib Adit ke apartemen Rama. Saat itu Sena tengah bersantai menikmati tayangan Netflix dengan sekotak donat empuk hasil keisengan Sena yang memesan UberEats. Sementara Rama dan Mita sedang pergi keluar mencari dimsum, sengaja tidak mengajak Adit karena khawatir alergi Adit kambuh kembali.
"Tiap bulan aku transfer kamu ya?"
"Transfer buat apa?"
Sena menghentikan kunyahannya.
"Aku mau belajar jadi suami. Kamu mau nikah kan? Biarin aku belajar dulu. Namanya belajar jadi nominalnya belum penuh, beda sama jatah dari aku buat kamu kalau udah nikah."
Sena berusaha mencerna perkataan Adit.
"Rekening kamu berapa? Biar aku aktifin autodebitnya."
"Ngga perlu gitu Mas."
"Biar kamu tau kalau aku serius sama kamu, meski aku belum siap untuk nikah tapi aku serius."
Adit ikut mengambil sebuah donat dengan glaze berwarna abu yang ia yakini rasa tiramisu.
Sena diam meneruskan acara ngemilnya, tidak ingin menganggap serius ucapan Adit. Karena baginya Adit berlebihan.
"Sen..."
"Hmmm?"
Sepi, dingin, suasana mendukung, hingga akhirnya membuat Adit memberanikan diri mendekati Sena lebih.
Begitu Sena membalikan badan dan menatap Adit, Adit langsung melahap bibir Sena. Sena kaget, bingung harus melakukan apa.
"Sorry."
Dengan kikuk Sena mengangguk sambil tersenyum kecil. Sena tidak keberatan? pikir Adit.
Melihat respon Sena yang tidak menunjukan penolakan, Adit meraih wajah Sena kembali. Bahkan Sena ikut terlarut dalam permainannya.
Adit mengutuk diri sendiri karena berani melakukan itu di apartemen Rama, bagaimana kalau Rama datang? Ia bisa habis, tapi semua sudah terlanjur.
Sena yang agresif membuat Adit tidak lagi memikirkan Rama. Sena menerima dan tau caranya membalas.
"Kamu udah pernah sama cowok lain sebelum sama aku?"
"Hmmm?" Sena tidak paham.
"You like a professional."
Sena sangat berbeda dengan Mita, Adit paham sejak awal. Namun baginya janggal, Sena bisa merespon seperti itu.
"Maksudnya, I'm like a bi tch?" (bi tch \= perempuan murahan)
Sena menatapnya tajam.
"Harusnya tadi aku tampar kamu, cowok brengsek !"
Sena bangkit menuju kamar.
"Sen, bukan gitu Sen."
Brakkk !!!
Sena membanting pintu kamar. Ia menangis di dalam kamar, menumpahkan kekesalan dan perasaan kecewanya.
"Sen, maaf Sen. Aku ngga maksud nyinggung kamu."
"Kamu balik ke kamar, sebelum kakak dateng."
Sena bicara setengah teriak.
Adit merutuki dirinya sendiri, baru menyadari kesalahan di ucapannya barusan.
"Buka dulu pintunya Sen."
"Ngga!!"
Adit kembali ke kamar, sambil terus menghubungi Sena yang tidak mau bicara dengannya.
__ADS_1
"Sen, angkat dong."
Pesan whatsapp kesekian yang Adit kirimkan untuk Sena.
"Aku ke samping lagi ya, biarin Kakak tau, Papa Mama sekalian tau. Aku udah ikhlas kalau di hajar."
Sena menelpon Adit, Adit tesenyum.
Akhirnya...
"Kamu marah?"
"Menurut You?"
Ingin sekali rasanya Sena mengucapkan "Lo" namun masih bisa ia tahan, dan menggantinya dengan kata you.
"Maaf, aku ngga maksud. Tadi aku cuma nanya. Maaf ya?"
"Sumpah omongan lo jahat banget. Semurahan apa gue di mata lo?"
Adit mengacak rambutnya mendengar ucapan Sena. Yoga yang melihat Adit demikian tersenyum simpul sambil memalingkan wajah.
Pertahanan mulut Sena sudah tidak bisa ditahan. Akhirnya ia mengucapkan lo gue kepada Adit.
"Maaf Sen..."
"Gue bisa maafin lo, tapi kayaknya ngga bakal bisa lupa. Yaudahlah lupain aja."
Sena kembali terisak.
"Aku kesana ya? Tampar aja mulut aku yang kurang ajar ini. Ajarin sama kamu gimana caraya ngomong yang baik sama perempuan."
"Ngga perlu. Gue ngantuk, mau tidur."
Sena sudah memaafkan, tapi membahasnya lagi membuat hatinya sakit kembali. Belum sempat Adit menjawab, Sena sudah menutup sambungan telepon tersebut.
"Maafin aku Sena..."
Akhirnya Adit tuliskan hanya dalam pesan text.
"Kenapa Mas? Berantem sama Teh Sena?"
"Orang pacaran ada aja masalahnya Ga."
"Mas Adit chat sama cewek ya? Biasanya temen Yoga gitu kalau marahan."
"Enak aja, nggak lah. Mas itu cowok paling setia."
Yoga hanya mengangguk-ngangguk tersenyum kecil.
"Kak, pengen juga dimsum."
Adit menuliskan pesan untuk Rama. Sebenarnya bukan dimsum yang ia inginkan, namun Adit mencari alasan agar bisa ke apartemen Rama lagi.
Sambil menunggu balasan Rama, Adit merasa gundah. Empat puluh menit sudah ia menunggu, akhirnya getaran pesan masuk Adit rasakan juga.
"Sini ajak Yoga."
Rama sudah sampai.
"Ga, mau dimsum ngga?"
"Kenyang Bang, tadi makan mie double ekstra spesial."
Cara terbaik menikmati cuaca dingin adalah dengan semangkuk mie kuah soto, ekstra telur 2 butir, sosis, bakso, paket lengkap dengan saos dan sambal. Perpaduan mie instan yang jarang Yoga rasakan di rumah.
Baru beberapa hari meninggalkan tanah air, ada sedikit kerinduan akan atmosfer Indonesia. Rama yang sudah mewanti-wanti Bu Lia membawa mie instan banyak, jika rindu dengan tanah air.
Saat Sena sedang menyantap dimsum, matanya tanpa sengaja melihat Adit masuk ke apartemen, raut wajahnya berubah.
"Wah pesta dimsum nih."
"Sena makannya banyak banget, itu dus donat kamu yang habisin kan?"
Rama melihat sekotak donat yang berukuran 6pc donat hanya tersisa setengah bagian saja.
Dengan wajah jutek Sena menjawab ucapan Rama dengan tatapan tetap mengarah pada dimsum. Adit reflek menelan ludahnya karena bingung harus bagaimana.
"Biarin, dari pada aku makan orang. Ada yang mau aku makan disini?"
"Serem amat."
Mita tertawa.
Rama sedang melakukan pencarian untuk membeli tiket ke Los Angeles besok, dengan berbantalkan paha Mita.
"Besok enaknya penerbangan langsung atau transit dulu?"
Rama butuh saran.
"Transitnya dimana?"
Sena si petualang penasaran.
"San Francisco."
"Waktu transitnya berapa lama?"
"Paling sebentar 1,5 jam paling lama 13jam."
"13 jam aja, lumayan bisa explore San Francisco."
"Di sana emang ada apa?"
Adit yang katanya anak rumahan memang se-tidak tahu itu mengenai lokasi yang asik untuk dikunjungi. Namun tak ada yang menjawab pertanyaan Adit, termasuk Sena.
"Ada apaan Sen disana?"
Mita juga sama polosnya, mengulang pertanyaan Adit. Tidak tau banyak tempat wisata apalagi tempat wisata di Amerika.
"Aku takut salah inget, bentar aku cek ulang ya Teteh cantik."
Adit kesal ucapannya tadi diacuhkan Sena, sementara kepada Mita sehalus itu.
"Dimsum beli dimana ini enak banget?"
Adit berpura-pura tertarik dengan dimsum, demi menutupi rasa kesalnya. Dua dimsum sekaligus ia makan dalam satu waktu.
Rama dan Mita tidak mengerti dengan apa yang terjadi di hadapannya.
"Gua kasih tau juga lu ngga bakal tau."
Rama yang sudah kenyang, hanya berbaring sambil berselancar di dunia internet. Begitupun Sena langsung mencari informasi mengenai kota yang menjadi bagian dari California tersebut.
"Nah bener nih, kita bisa ke Fisherman's Wharf Teh."
Pertualangan belanjanya akan dimulai besok. Ihiy !
"Tempat apa itu?"
Rama curiga.
"Belanja dong."
__ADS_1
Tebakan Rama tepat.
"Asik tempat favorit Sena dong, kamu sama aku ya belanjanya."
Adit masih berusaha sebaik mungkin demi membuat Sena memaafkannya.
"Pake kartu aku aja. Adit kemarin udah bayarin sepatu kamu."
"Ngga apa-apa pakai yang gua lagi juga, ATM gua juga ada isinya Kak."
"Oke, aku pakai kartu yang unlimited ya Kak."
Secara tersirat Sena menolak kartu Adit.
"Kartu yang itu mah di Teteh."
"Enak banget sih yang punya kartu unlimited."
"Kenapa sih kamu sama Adit?"
"Ngga kenapa-kenapa."
"Duduknya jauhan gitu."
Adit pindah duduk mendekati Sena.
"Ngga apa-apa Teteh syantik."
Adit melebay-melebaykan ucapannya sambil merangkul paksa Sena.
"Ihh apa sih. Kak, Adit Kak."
Tiba-tiba ponsel Rama berdering dengan foto keluarga Fery terpampang nyata di ponsel Rama.
"Dit." Dengan tatapan tajam Rama sambil mengangkat video call dari Fery.
"Bos aing master ayeuna mah euy edan. Selamat atas gelar baru."
Adit sedikit kaget mendengar ucapan laki-laki di ponsel Rama. Memanggil Rama dengan sebutan bos tetapi dengan bahasa yang menurutnya tidak sopan.
"Hahaha bisa wae, nuhun Fer. Kantor aman?"
"Aman bos. Balik kapan?"
"Seminggu lagi."
"Ini udah berapa hari lu di sana, masih seminggu lg aja. Disana harinya ngga maju?"
"Banjir pamajikan aing. Mita kasian, kalau haid kan ngga nyaman di pesawat jadi baliknya nunggu haid dia beres."
Fery tertawa keras. Ternyata memang seperti itu hubungan antara bos dan anak buah yang sedang video call dengan Rama, pikit Adit.
"Sepik lu."
Sementara itu Adit mengirimkan pesan kepada Ibunya minta dikirimkan uang. Sedikit pusing karena ternyata berhubungan dengan Sena sangat berbeda dengan saat bersama Mita.
"Bu, aku ambil profit trading ku yang bulan kemarin ya."
Tidak bisa dipungkiri, kini Rama bagai barometer untuk Adit. Cara Rama memperlakukan Mita sangat ia perhatikan. Bahkan untuk membeli minuman atau makanan pinggir jalan saja Mita meminta uang Rama.
Apalagi barang-barang mahal, batin Adit.
"Buat apa?"
"Bentar lagi aku telepon Bu."
Adit kemudian pamit untuk kembali ke kamar, karena ingin menelpon Bu Retna.
"Assalamualaykum Bu."
"Waalaykumsalam cah bagus, sudah baikan?"
"Sudah Bu. Ayah Ibu sehat?"
"Sehat alhamdulillah. Buat apa minta uang?"
To the point.
"Aku ngga minta uang Ibu, aku minta uangku Bu..."
"Ya buat apa? Lebih baik di investasikan toh? Kamu kan ada dari Ayah, dari endorsement sudah mulai lagi kan?"
"Endorsement kan baru jalan beberapa minggu."
"Ya tapi buat apa?"
"Buat kebutuhan pribadi Adit Bu..."
Adit melihat keberadaan yoga yang sudah tidur, berharap memang tidur sungguhan.
"Kamu serius sama Sena?"
Feeling seorang Ibu memang selalu tepat, batin Adit. Ia tidak pernah bisa menutupi yang ada di pikirannya meski hanya melalui telepon.
"Adit nggak pernah main-main sama perempuan..."
Ucapan Adit barusan memiliki arti yang dalam.
"Semua uang kamu Ibu transfer semua hari ini. Jadi Ibu dan Mas ngga pusing lagi mikirin uang kamu."
Adit tersenyum lega, membicarakan uang bahkan dengan orangtua sendiri selalu memiliki kekhawatiran tersendiri baginya.
"Mulai saat ini kamu bertanggung jawab atas diri dan uang kamu karena kamu sudah dewasa. Sudah siap nafkahin anak orang?"
"Menurut Ibu gimana? Aku sudah mampu belum?"
Bu Retna tersenyum, Adit masih belum percaya akan dirinya sendiri.
"Dek, Ibu itu dijatah sama Ayah. Ngga semua keinginan Ibu harus dipenuhi Ayah. Terutama kebutuhan-kebutuhan yang bukan primer. Tas, alat-alat dapur Ibu yang mahal, itu Ibu beli dari tabungan Ibu. Setiap bulan Ibu selalu nyisihkan uang dari Ayah. Beberapa barang hadiah dari Ayah, ada juga pemberian teman di moment-moment tertentu."
Adit mengangguk, kini ia paham.
Kira-kira berapa ia harus menjatah Sena?
"Jatah Ibu berapa?"
Dengan polos Adit bertanya segamblang itu.
"Ya beda jatah Ibu dan jatah Sena. Lagian kamu belum nikah, nafkah itu kebajiban suami untuk istri. Bukan kewajiban pacar. Sena suka minta bayarin?"
Dengan hati-hati Bu Retna bertanya hal yang menurutnya sensitif.
"Anaknya susah untuk nerima aku bayarin, uang dia uakeh. Tapi aku sebagai laki-laki gengsi diragukan isi rekening ku jadi aku suka maksa bayarin."
Bu Retna lega, Sena memang anak baik.
Begitupun dengan Adit, ia lebih lega karena Bu Retna memberikan kepercayaan mengelola uang sepenuhnya.
Begitu pagi hari, Adit melihat bukti transfer yang Bu Retna kirimkan ke emailnya. Adit syok, ternyata angkanya tidak main-main, mencapai belasan milyar. Entah bagaimana caranya uang yang ia titipkan kepada Ibu dan Abimanyu, bisa berkali-kali lipat? Belum lagi unit kosan yang bertambah, semua berkat manajemen Bu Retna dan strategi bisnis Mas Abi.
"Bu, aku ambil sebagian aja. Sebagian lagi Ibu aja sama Mas yang kelola."
Setelah berulang kali Adit dipikirkan, ternyata banyak uang mendatangkan tanggung jawab besar.
__ADS_1
"Emoh, Ibu udah ngga mau pusing. Sekarang semua kamu yang urus. Meski masih proses pencairan, tapi sudah Ibu talangin. Kamu belajar investasi sendiri, tanya-tanya ke Mas. Tanya ke calon kakak iparmu."
Adit kini pusing, harus melakukan apa dengan uang yang menurutnya sangat banyak tersebut.