
Hari ini sudah beberapa kali Adit mengirim chat kepada Sena sekedar menanyakan sedang apa, sibuk ngga dan semisalnya.
"Kalau ngga sibuk mau apa?" pikir Sena.
"Paling cuma disuruh dengerin, atau nanya tentang teteh." Sena terus membatin.
Sena sudah malas ngeladenin Adit yang tidak kunjung move on.
"Lo ngga liat gue? Buta apa gimana? Hello !" Kali ini Sena bicara dengan cermin di dalam kamarnya.
Begitupun dengan Damar. Sudah beberapa kali juga Damar memintanya kembali, meminta Maaf karena sudah ke kanak-kanakan.
Jika Sena diminta mengucapkan satu kata untuk Damar, ia akan mengatakan, Bye. Cukup.
Obrolannya terakhir dengan Damar sebelum putus, tepat setelah kepulangannya dari Amerika.
"Sena kamu tuh ngga ada usaha nya banget ngehubungin aku. Harus aku duluan yang ngirim text ke kamu."
Saat di Amerika, seminggu full Sena bersama sang Mama dan Rama. Saat itu Damar benar-benar kesal karena selama itu pula tidak ada satupun video call dari Damar yang Sena jawab. Bagaimana bisa mengangkat video call dari Damar sedangkan Ia tidur sekamar dengan Bu Lia bahkan 7x24 jam bersama ibunya tersebut.
"Masa lo ngga ngerti sih?" Sena juga kesal dalam hati.
Akhirnya Sena menelpon Damar untuk menyelesaikan semuanya setelah memastikan di luar kamarnya tidak ada siapapun, termasuk Bu Lia.
"Mar plis, aku tuh masih jet lag, seharian tidur. Boro-boro pegang hp, perut laper aja aku tahan karena masih ngantuk dan pusing."
Begitu sampai Jakarta, Damar seolah meneror dirinya yang meminta video call karena rindu.
Biasanya, Damar akan sangat perhatian jika Sena sudah mengeluh pusing. Tapi kini Damar sedang tidak berada pada mood yang baik.
"Mungkin aku emang akan selalu jadi nomor kesekian, ngga tau nomor berapa pokoknya paling ujung. Jangankan video call atau denger suara kamu, text aku duluan aja jarang banget, dan ngga semua text aku dibalas. Susah banget mau ngobrol sama pacar sendiri, aku jadi kaya ngga punya pacar Sen."
Damar terus menggerutu yang membuat Sena tambah pusing.
"Yaudah kita ngga usah pacaran aja, toh rasanya sama aja kan. Kamu juga ngerasa aku ngga ada, aku juga ngga ngerasa kamu ada."
Damar panik, merasa ucapannya sudah salah.
"Bukan gitu Sen. Gimana sih sekalinya ngobrol malah kaya gini. Aku kangen, kamu ngerti ngga sih?"
"Terus gimana? Kamu akhir-akhir ini ngga ngerti posisi aku gimana. Tanpa kamu minta, kalau aku bisa video call kamu, aku bakal call."
"Sen please jangan ikutan marah, harusnya kamu tenangin aku. Aku jadi tambah pusing kalau kamu kaya gini. Aku cuma pengen ketemu, kasih tau aku gimana caranya aku bisa ketemu kamu? Aku bolos kuliah aja 3 hari hah ? Aku ke Bandung atau Jakarta? Kamu dimana sekarang?"
"Ngga perlu buang-buang energi dan uang kamu buat hal bucin yang ngga guna. Mungkin buat cewek lain kelihatannya so sweet kamu bela-belain terbang kesini biar aku ngga marah. Tapi kalau sampai kamu bolos buat hal kaya gini, kamu tambah minus di mata aku. Aku capek Mar, aku masih jetlag. Dan maaf, kamu bisa cari perempuan disana yang bisa selalu ada buat kamu. Maaf aku cuma bisa sampai sini sama kamu."
Setelahnya Damar tidak menghubungi nya kembali, entah bagaimana kabar Damar setelah putus dengan Sena. Nyatanya berhubungan jarak jauh sekaligus pacaran diam-diam membuat Sena capek. Lelah otak dan energi.
Setiap bicara hanya pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi. Manisnya rindu karena LDR hanya bertahan beberapa bulan saja.
Namun satu bulan terakhir, Damar kembali menghubungi. Seperti saat ini, setelah membalas pesan dari Adit, Damar seolah mencari perhatian.
"Sen lagi apa? Untuk kesekian kalinya aku minta maaf. Aku ngga ngehubungin kamu karena ku introspeksi diri. Alasan yang harus kamu tau, aku kemarin cuma pengen recharge energi aku dengan ketemu kamu. So, maybe we can back together? I wish you can back again to me." (mungkin kita bisa kembali bersama? Aku berharap kamu bisa kembali lagi ke aku)
Karena panggilan telepon, video call dan chat tidak kunjung berhenti akhirnya Sena membalas pesan Damar.
"Sorry Mar, gue ngga bisa. I wish you someday you will be find someone who better than me." (Aku harap suatu hari kamu akan menemukan seseorang yang lebih bail dari aku)
Adit yang mengirimkan pesan kembali.
"Sen, chat aku kok cuma dibaca ngga ada yang di bales. Aku bikin salah atau kamu emang sibuk? Bales lah sebentar, aku minta waktu kamu 1 menit buat bales."
Sena menarik nafas kesal. Kenapa dua orang laki-laki ini bikin dia lelah hari ini.
__ADS_1
"Aku sibuk, aku juga lagi capek Mas, maaf."
"Kapan waktu free?"
"Kalau aku free aku kabarin."
Sena melempar ponsel nya ke tumpukan boneka di atas kasurnya.
Entah telepati darimana, Adit yang sedang di Tokyo ikut melempar ponselnya ke kasur setelah membaca balasan Sena.
Adit mengetuk pintu kamar Reychan, teman se apartemen nya yang juga berasal dari Indonesia.
"Lagi ngapain?"
"Masak mie."
"Sekalian dong, pinjem mie lu dulu. Gua males balik ke kamar."
Reychan membuka meja dapur kamarnya yang berisi stock makanan dan bumbu instan.
"Masih belum move on sama yang udah ninggalin kawin?"
"Nikah Chan..."
"Abis nikah kan kawin kan mereka? Sama aja."
Mita? Rasanya sudah tidak terlalu sepanas beberapa waktu lalu jika mengingat Rama dan Mita.
"Udah biasa aja."
"Terus kenapa muka lu asem gitu."
Reychan sedang menyeruput mie kuah kebanggaan warga Indonesia yang ia beli di Toko Indonesia dekat apartemen.
"Temen kuliah? Cewek apa cowok?"
"Temen curhat di Indo, cewek anak ITB."
Reychan tersenyum penuh arti.
"Temen doang?"
Adit mengaduk mie nya yang sudah matang dan siap disantap di tengah hujan salju Tokyo.
"Ya temen, terus apa lagi?"
"Gua tim yang ngga percaya sama pertemanan dekat antara cewek dan cowok. Salah satu nya pasti ada yang baper. Nah temen lu itu baper kali sama lu. Lu nya tapi ngga peka."
Adit mengerutkan keningnya.
Masa?
"Lu curhat mantan lu ke dia?"
Adit mengangguk.
"Dia nya kenal sama mantan lu?"
"Kenal banget."
Adit malas menjelaskan hubungan Sena dan Mita kepada Reychan.
"Ke laut aja lu sono, ngga peka. Dia suka sama lu."
__ADS_1
Hah? Serius?
*****
Di malam saat menikmati manisnya bulan madu bersama istri tercinta di lagi hari, panggilan telepon dari Fery bersahutan dari ponselnya dan ponsel Mita. Artinya ada yang penting sampai Fery menelpon Mita juga.
"Sorry bukannya mau ganggu. Tapi pabrik lagi genting bos."
Fery bicara dengan hati-hati, takut mengganggu mood Rama.
"Kenapa?"
"Operator ada yang meninggal di line."
"HAH???"
Tanpa banyak bicara menyudahi pendakiannya dengan sang istri, meski Rama masih ingin untuk nambah.
Rama mendekati Mita.
"Sayang sorry, kita harus balik ke pabrik dulu."
"Kenapa Bang? Kok tiba-tiba?"
"Fery nelpon, ada yang urgent."
Rama tidak ingin mengatakan nya sekarang kepada Mita, tidak mau situasi di mobil menjadi lebih menengangkan.
"Gua berangkat sekarang dari Bandung, tolong kasih keterangan dulu buat laporan polisi."
Pikirannya kini menerawang jauh. Menerka-nerka kecelakaan apa yang bisa menyebabkan karyawannya meninggal di line produksi.
"Pabrik ngga kenapa-kenapa kan Bang?"
Mita khawatir melihat raut wajah Rama yang tiba-tiba kosong.
"Anak operator ada yang meninggal di line."
Mita tersentak, bagaimana bisa? Namun Mita tidak ingin menambah kecemasan Rama. Mita menggenggam tangan kiri Rama.
"Everything will be fine."
Rama tersenyum sekilas mengangguk.
Sementara itu di pabrik, Fery sibuk menemani polisi yang tengah olah TKP.
Mita yang ikut membantu memantau pabrik tidak banyak bicara, Khawatir mengganggu konsentrasi nyetir Rama.
"Abang bisa nyetir sampai Tangerang? Kita bisa suruh supirnya Enin untuk bawa mobil. Aku takut Abang jadi ngga fokus, malah celaka juga nanti."
Mita benar, pikir Rama.
Dengan sigap Mita menekan nomor rumah Enin yang tersimpan di ponsel Rama.
"Assalamualaikum Enin, ini Mita. Mita sama Abang mau pulang ke Jakarta, tapi Abang kurang sehat, ada supir yang bisa kita mintain tolong ngga ya Nin buat bawa mobil? Pulang ke Bandungnya lagi nanti Mita pesenin tiket travel."
Rama memeluk Mita seolah meminta kekuatan. Mita pun mengelus bahu suaminya lembut.
"Setiap pekerjaan punya resiko, kita bisa evaluasi di manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) perusahaan. Jangan ngerasa bersalah, kematian sudah di takdirkan."
"Kamu bisa bantu aku?"
"Aku istri yang sangat bisa diandalkan. Abang ngga salah pilih aku."
__ADS_1
Rama mengeratkan pelukannya mendengar support yang Mita berikan untuknya. Kekuatannya bertambah mengahadapi permasalahan perusahaan nya saat ini.