
Dua hari lalu Festival Pelabuhan Kesennuma selesai, Pak Heri Heryawan selaku Duta Besar Indonesia untuk Jepang puas untuk event kali ini. Adit dianggap berhasil karena melonjaknya jumlah pengunjung yang datang dibandingkan tahun lalu. Bahkan meningkat hampir dua kali lipatnya.
Namun tugas Adit belum selesai karena Adit kembali ditunjuk oleh KBRI, terutama oleh Pak Heri untuk kembali menjadi Brand Ambassador perhelatan budaya bertajuk "Indonesia Diversity Festival: A Million Colours". Meski bingung bagaimana ia harus membagi waktu untuk belajar dan mengerjakan endorsment. Terlebih ujian di depan mata. Otomatis jatah waktu untuk tidur dan bicara dengan Sena akan sangat berkurang.
Waktunya kini lebih banyak ia habiskan di venue acara, bahkan untuk mengerjakan tugas sekalipun. Jika sudah pulang ke apartemen keinginannya hanyalah tidur, karena energinya sudah terkuras habis oleh belajar dan bekerja.
Keragu-raguan sempat Adit tadakan untuk menerima tawaran di perhelatan budaya kali ini. Namun begitu mengetahui bahwa acara ini akan melibatkan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang, Adit memuntuskan diri untuk terlibat di dalamnya
"Kalau di Festival Budaya ini, kita bakal kerja sama dengan PPI Jepang, Mas. Bakal lebih seru sih biasanya. Nyesel lho kalau ngga gabung."
Adalah Silvi yang berusaha mencari cara agar Adit mau kembali bergabung. Dengan adanya kehadiran Adit, semangatnya bertambah berkali-kali lipat.
"PPI dari kampus mana aja?"
"Semua kampus ngumpul di sini. Dari kampus aku juga banyak yang gabung."
"Tapi sumpah kerjaan aku banyak banget, ujian juga bentar lagi."
Meski kagok dengan bahasa aku - kamu kepada selain Sena, tapi untuk menggunakan lu - gue rasanya kurang sopan karena bagaimanapun Silvi adalah Staf KBRI.
"Belajar di sela-sela kegiatan acara aja, Mas."
Adit menangguk. Seperti hari ini Adit makan siang sambil cek ulang materi bahan presentasi di venue acara saat jam istirahat.
"Siap."
Festival Pelabuhan kemarin banyak dikunjungi oleh diaspora, namun Festival kali ini didominasi dengan kedatangan mahasiswa. Termasuk diantaranya mahasiswa Jepang yang mengambil kelas Bahasa Indonesia.
Dengan adanya bukti sejarah mengenai penjajahan Jepang di Indonesia, membuat sebagian besar masyarakat Jepang merasa hal tersebut adalah kesalahan nenek moyangnya. Dan mereka menyayangkan akan hal tersebut.
"Mas, gimana rasanya LDR?"
Silvi membuka percakapan dengan Adit di tengah-tengah acara, saat penampilan Tari Saman dari Provinsi Aceh sedang berlangsung.
"Gimana ya? Aku ngga expert sebenernya, kadang masih berantem-beramtem kecil. Tapi intinya komunikasi aja yang penting sama rasa percaya. Kok kamu tau aku udah punya pacar?" (expert : ahli)
Adit dan Silvi ikut menikmati pertunjukan dari belakang panggung sayap kiri. Bersama mahasiswa lain dari PPI yang bertugas mengatur acara.
"Aku followers Mas Adit dari lama, jadi tau. Belum lama Mas Adit pulang ke Jakarta ketemu ceweknya kan?"
"Wih tau lho. Berarti ngikutin aku banget ya."
Adit tersenyum teringat si Putih, boneka yang ia berikan untuk Sena.
__ADS_1
"Kamu LDR juga?"
"Ngga."
"Atau pacaram sama mahasiswa Indo yang kuliah disini juga?"
"Ngga juga."
"Apa kamu pacaran sama orang Jepang?"
"Aku belum punya pacar."
"Wah single tho. Sama Hiro mau?"
"Ihh Mas Adit apa sih."
Silvi memukul-mukul kecil lengan Adit. Adit hanya tertawa karena senang menjahili Silvi yang terlihat lugu.
"Kalau bisa sih, jangan pacaran sama orang sini. You know lah what I mean." (kamu ngerti maksud aku)
"Iya sih, gaya pacaran orang sini lumayan bebas."
"Iyes bener."
"Mas dimana?"
"Di hati kamu. Kenapa?"
"Aku serius, Mas. Kok kayak suara musik lagu adat gitu sih?"
Adit mendekatkan kamera depan sangat dekat hingga layar ponselnya full wajah Adit. Hingga Sena tidak bisa melihat background di belakang Adit dan tidak tau Adit sedang dimana.
"Aku juga serius. Emang aku ngga ada di hati kamu?"
Rasa lelah kurang tidurnya lumayan terobati setelah melihat wajah penasaran Sena yang menggemaskan.
"Ada lah. Serius Mas dimana?"
Meski pandangan mata Silvi lurus ke arah panggung, namun telinganya masih berfungsi dengan baik obrolan antara Adit dan seseorang yang sudah pasti pacarnya.
"Di festival. Kenapa, Non?"
Perasaan aneh tiba-tiba memenuhi hati Silvi melihat Adit tersenyum sangat manis sambil ber-video call ria.
__ADS_1
"Minum vitamin belum?"
"Udah tadi. Kenapa nanya-nanya?"
"Mas kangen apa dari Jakarta?"
"Kangen apa dari Jakarta? Maksudnya gimana?"
Bahasa Sena yang belibet dan suara musik yang kencang membuat otakny memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna pertanyaan Sena.
"Di Jakarta atau di Indonesia ada yang Mas kangenin ngga?"
"Kangen kamu, kayak gituan masih ditanyain."
Silvi lantas menjauh dari Adit, karena tidak tahan dengan ke-uwu-an yang Adit perlihatkan. Bahkan beberapa pasang telinga ikit mendengarkan obrolan tersebut. Terlebih Adit adalah BA acara, sehingga ia lebih banyak disorot.
"Mau dikirimin makanan ga? Siapa tau kangen rendang gitu."
"Banyak disini rendang tinggal ke Toko Indo."
"Oh gitu ya."
Sena mengerucutkan bibirnya. Terlalu menggemaskan !
"Kamu lucu banget anyun gitu."
"Aku lagi pengen ngirimin apa gitu."
"Baik banget sih mau ngirimin makanan segala. Tapi kamu tenang aja, makan aku disini aman."
"Bener ngga lagi pengen apa-apa?
"Lagi pengen apa-apa sih sebenernya."
"Pengen apa? I'll give you anything." (aku bakal ngasih apapun!)
Sena kembali bersemangat. Adit melihat ke kiri dan kanan, lantas bicara setengah berbisik.
"Pengen sun kamu."
"Iiihhhh orang serius juga."
Meski sudah menjauh, Silvi masih memperhatikan Adit dengan serius. Dengan segala pesona dan kelebihan yang Adit miliki, menyukai Adit menjadi perkara yang sangat mudah.
__ADS_1
Tak peduli benar atau salah.