
Semangat Senin ❤️❤️
Vote yuks ❤️❤️
Mohon maaf part ini khusus untuk yang sudah menikah atau 21+ yaa. Diluar itu dosa ditanggung masing-masing. Ngeri halu doang 🤣🤣
*****
Begitu sampai di depan pintu kamar, Rama menggantungkan door sign di pintu kamarnya.
"Do not disturb" alias jangan ganggu.
Rama tidak ingin Pak Romi, Fery dan yang lainnya kembali menggangu acara kamar nya dengan Mita.
Meski kini Rama berstatus sebagai suaminya, tapi jantung Mita berdetak tidak karuan. Jika sekedar ciuman, ia ikut menikmati tapi untuk yang satu itu, nanti dulu, rasanya Mita belum siap.
Mita mendengar dari teman-temannya bahwa ML (making love) alias ***-*** untuk pertama kali rasanya akan sakit. Ia tidak tahu bagaimana rasanya, Mita hanya takut.
"Abang aku mandi dulu ya."
Sebenarnya Mita hanya ingin mengulur waktu.
"Aku juga gerah. Mandi bareng, ada bathub."
Rama membuka jas. Seketika Mita teringat pesan Bu Rini semalam.
"Rama itu butuh istri Neng. Neng harus bisa jadi istri yang baik buat Rama, bisa melayani suami. Kalau Ibu punya suami kaya Rama mah, cebok juga Ibu cebokin. Jangankan modelan Rama, Mang Pardi supir angkot hungkul ge aya we pelakor nu daek." (Jangankan modelan Rama, Mang Pardi supir angkot doang juga ada aja pelakor yang mau).
"Sini aku bukain."
Mita mendekat membukakan kancing kemeja Rama. Rama seketika menjadi buas, mengecup wajahnya tanpa henti dengan telan jang dada.
"Abang pelan-pelan." Mita menarik wajahnya.
"Kamu ngegemesin." Rama menggigit kecil telinga Mita.
"Baju Abang dimana?" Mita menuju arah lemari, lalu mengambil kaos pendek polos dan celana pendek rumah. Ia juga membantu Rama memakaikan pakaian tersebut.
"Sekarang buka baju kamu, aku liat nya gerah."
Rama mendekat ke arah Mita, membuka seleting belakang kebaya Mita.
"Aku bisa sendiri."
"Aku bantu."
Rama mengumpulkan rambut panjang Mita lalu di arahkan ke sisi kiri depan bahunya.
"Mandi bareng ya?"
Ucap Rama berbisik sambil memeluk Mita dari belakang.
Rama belum mendapatkan jawaban.
"Mita sayang..."
Rama membuka seletingnya kembali. Jantung Mita semakin tidak normal. Ia belum pernah sedekat ini dengan laki-laki, dan kini ia berada di kamar Rama tengah berusaha membuka bajunya.
"Iya sayang..." meski terlihat tenang, namun hatinya tidak baik-baik saja.
Kebaya nya kini telah terlepas bagian bahunya, hingga bahu Mita dengan mudah Rama belai dan kecup lembut.
Perlahan tapi pasti kebayanya semakin turun, bagian tangan kebaya sudah menyentuh bagian sensitif bagian depan tubuhnya.
Rama menurunkan tali underware ke bagian sisinya. Perasaan Mita semakin tidak menentu, perutnya kini terasa bagai diaduk hawa panas yang tidak bisa didefinisikan rasanya.
"Sayang aku tiba-tiba capek."
"Cape kenapa? Tadi kamu biasa aja."
"Aku tiba-tiba ngga enak badan."
Rama membalikan badan Mita, memegang keningnya untuk merasakan panas atau tidak badannya.
Kebayanya kini terlepas, jatuh begitu saja di lantai kamar hotel.
"Aaaaaaaa" Mita berteriak histeris.
"Jangan teriak."
__ADS_1
Pikiran Rama semakin tidak fokus melihat tubuh istrinya yang kini nyaris polos.
Rama semakin mendekat. Memeluk Mita sangat rapat seolah ingin mendengar detak jantung istrinya.
"Sayang itu apa yang keras dibawah?"
Mita bertanya saking polosnya.
"Tekad aku yang keras saking kuatnya, sampe akhirnya bisa nikahin kamu."
Rama menempelkan keningnya di kening Mita, menatap Mita tajam.
"Kamu beneran capek atau pengen menghindar dari aku?" Rama kasihan jika Mita benar lelah.
"Beneran capek. Aku dari kemarin belum istirahat."
Mita tidak tahu, bahkan Rama lebih capek dari yang ia rasakan. Sejak pulang dari Amerika, Rama langsung ke Anyer, Cianjur dan mempersiapkan pernikahan.
"Mau tidur atau mandi dulu? Aku ambilin handuknya."
Rama menuju lemari tempat handuk yang belum dipakai disimpan.
Mita termenung, merasa kasihan dengan Rama yang sudah sangat menginginkan dirinya.
Mita menarik tangan Rama ke tempat tidur, dan mendorong suaminya hingga posisinya sudah di atas Rama.
"Kamu dingin ngga?"
Rama menutup tubuhnya dengan selimut. Rama di matanya kini bagai anak kecil yang manis. Perlakuan Rama kepadanya bagai perlakuan seorang anak yang ingin melindungi ibu nya.
Mita tersenyum.
"Katanya capek?"
Rama kini yang memposisikan diri di atas Mita
"Udah ngga, liat kamu kaya gini bikin cape aku hilang. Ajaib ya?"
"Aku sayang Abang."
"Sama, aku juga sayang istri aku."
Rama meminta izin untuk memasuki wilayah yang sudah seharusnya menjadi hak nya.
"Pelan-pelan tapi ya?"
"Kalau sakit bilang, nanti aku stop. Aku ngga mau kamu kesakitan."
Mita memulai dengan membuka kaos yang tadi ia pakai kan di tubuh Rama. Mencium tiap spasi tubuh suaminya yang rata, idaman para wanita.
Rama menikmati setiap perlakuan Mita untuknya. ******* dan rintihan kecil pasangan baru tersebut menggema di kamar hotel.
Kedua nya sama-sama melepas masa lajangnya dalam ikatan suci pernikahan.
Rintihan Mita membuat Rama takut.
"Sakit?"
Mita menggeleng. Mita fokus pada rasa sakit yang katanya sebentar, demi Rama yang begitu menginginkan dirinya, ia menahan rasa sakit.
Begitu keduanya mencapai puncak kenikmatan dunia, Rama terus membisikan kata cinta untuk Mita.
"Aku cinta kamu, sampai kapanpun hanya kamu di hidup aku."
"Terima kasih kamu udah mau nerima aku, melayani aku saat ini. Aku bisa gila tanpa kamu."
Gila yang sesungguhnya.
Rama semakin menyadari bahwa ia semakin membutuhkan Mita. Hidupnya kini ia gantungkan kepada Mita.
"Abang jangan bilang gitu, semuanya udah aku kasih ke Abang. Karena aku juga cinta Abang."
Kedua nya lelah setelah mencurahkan semua has rat dan perasaan hingga terlelap dengan pelukan hangat.
Sampai tidak menjawab puluhan suara panggilan telepon, baik panggilan ponsel maupun telepon kamar hotel.
"Sayang, ada yang ketuk pintu di luar."
Namun Rama tak menjawab, malah semakin memperkuat pelukan di tubuh Mita.
__ADS_1
"Abang..."
"Biarin, mereka harusnya ngerti kita lagi apa. Bukannya ganggu."
"Abang bukain pintu dulu takut penting, bagian bawahku sakit. Kalau bangun aku sakit."
"Apanya yang sakit?"
Rama langsung bangkit meski wajahnya masih terlihat lelah.
"Ini ku." Mita menunjuk area pribadi bagian bawahnya.
"Harus diapain biar ngga sakit? Mungkin dimasukin lagi biar ngga sakit?"
Rama menggoda Mita yang terlihat pucat.
Untuk kesekian kalinya pintu kamar diketuk.
"Siapa sih ngga tau sikon banget."
Rama memakai kembali kaos dan celana yang tadi Mita lepas.
Begitu Rama membuka pintu ternyata Yoga sudah di depan kamar nya.
"Kenapa Ga?"
"Kata Ibu udah Magrib, takut kelewat shalat."
"Magrib? Jam berapa emang sekarang?"
"Jam setengah 7 Bang."
"Abang sama Teteh baru bangun kecapean, makasih ya."
"Habis sholat makan di bawah katanya Bang. Semua nya udah kumpul di bawah."
"Iya, makasih ya."
Mita yang bersembunyi di balik selimut kaget begitu melihat jam di ponselnya. Ia ingin segera mandi, akhirnya dengan memaksakan diri Mita berjalan dengan kaki mengangkang seolah ada benda yang mengganjal di bagian in tim nya.
"Bisa ngga jalannya?"
Rama mengambil handuk lalu menggendong Mita ke kamar mandi.
"Bisa ngga mandi nya? Kalau ngga bisa dengan senang hati aku bantuin."
Mita menggeleng.
"Aku bisa sendiri."
Selesai shalat, Rama ke restoran sendiri karena Mita masih merasa tidak nyaman ketika berjalan.
"Makan apa nih?"
Di sana hanya tersisa keluarga inti Rama dan keluarga Mita. Karena keluarga besar yang lain sudah kembali ke rumah masing-masing.
"Mita ngga turun?"
Pak Zainal menanyakan anak perempuan nya.
"Tadi masih shalat Pak."
"Emang Teteh ngga mau makan?"
Sena yang sedang mengambil ayam Hainan melirik ke arah Rama.
"Aku bawain aja ke kamar. Kasian masih cape."
"Masih capek atau karena hal lain?"
Pak Romi sudah curiga, pertempuran sudah terjadi antara anak dan menantunya.
"Hal lain apa sih Pah? Coba jelasin mumpung ada Sena sama Yoga biar belajar."
Rama kesal karena Pak Romi menggoda dirinya.
*****
Panas dingin nulisnya jadi terbayang yang nggak-nggak 😂😂
__ADS_1
Dari sini ke novel aku satu nya ya, jangan lupa absen like dan Komen ya 🤗🤗