
Flashback
"Jan cok! Malam pertamaku malah harus ngurusin kamu." Abi menggerutu kesal di malam sehabis pesta resepsi nya. Karena ulahnya, seluruh keluarga heboh.
Ayahnya yang kesal melihat matanya dan Mita bengkak karena menangis juga wajah yang acak-acakan akhirnya angkat tangan. Hingga terpaksa ia dan Mita tidak mengikuti acara hingga selesai.
"Kamu balik ke kamar, jangan kemana-mana. Nanti malem bicara sama Mas mu."
Akhirnya ia kembali ke kamar hotel dengan wajah yang tidak dapat didefinisikan. Hingga membuat orang-orang yang melihatnya tidak berani menyapa.
Kali ini ia, Abi dan Fima sudah di restoran hotel yang terletak di rooftop. Menikmati malam dengan vape di tangan.
Kini hari-hari nya tak bisa tanpa vape kembali. Bayang-bayang Mita meninggalkan nya seringkali datang tiba-tiba, menjadi ketakutan tersendiri baginya.
"Kamu bales pake cara berkelas lagi ngga bisa hah? Malah misuh-misuh di acaraku ngga jelas."
Ia tak berniat menjawab. Hanya memainkan gelas berisi lemon tea dingin dengan tatapan malas.
"Mau mu opo? Jawab!"
Ia tak peduli dengan omelan dan sumpah serapah Abi yang kesal karena malam pertamanya terganggu. Ia tetap asik menghisap asap yang keluar dari vape miliknya. Sejak beberapa minggu terakhir vape kembali menjadi teman terbaik nya.
"Kamu lepasin aja lah, ribet ngurusin hal ginian."
Rahangnya mengeras, sorot matanya menajam. Tatapan matanya kini mengarah ke Kakak laki-laki nya.
"Kenapa dulu Mas ngga ngelepasin Mbak? Enak aja ngomong."
"Terus mau kamu gimana?"
"Aku bisa kesana apa nggak?"
Raut wajahnya kini berubah serius.
"Kamu beli mobil motor ratusan juta bisa, cuma ke Amrik masa ngga bisa?"
"Ini mepet Mas. Visa ku bisa keluar ngga waktunya mepet gini."
"Temen Ayah bejibun di kedutaan, bilang sana ke Ayah."
"Mas aja yang bilang."
"Susah nya bagian aku lagi."
Senjata terakhir keluarganya terpaksa ia gunakan, yaitu dengan kekuatan orang dalam. Koneksi nyatanya sebuah privilege yang dibutuhkan di negara kita tercinta ini. Dengan sedikit memendam rasa malu, ia meminta Ayahnya menghubungi temannya di kedutaan untuk membantu mempercepat proses visa.
"Alamat bajingan itu dimana aku cari nya?"
"Urusan aku." Fima yang cuek menyeruput ice coffee latte meliriknya sekilas.
"Tapi aku minta kamu ngga usah bikin rusuh disana. Kamu cukup liat dari jauh mereka ngapain. Kamu bisa liat nanti, dia pantas kamu perjuangkan atau ngga. Jangan dibutakan cinta."
"Kayaknya dulu ada yang buta karena cinta juga deh. Aku udah tolak mentah-mentah, sengaja aku pake bahasa setajam silet buat nolak tapi ngga sadar juga." Fima membongkar masa lalu suaminya sendiri.
Ia mendelik.
"Sok-sok an ngajarin aku, Mas dulu lebih bucin kan. Cih."
"Kamu kalau ngasih tau adek yang bener." Abi setengah kesal karena istrinya malah memojokan. Abi pun menarik kursi yang di duduki Fima hingga kursinya dan Fima saling berhadapan. Lalu mencium bibir istrinya dalam dan penuh gai rah.
"Wedus." ia membuang muka.
"Harusnya aku lagi di kamar lebih panas dari ini bukan ngurusin kamu."
Abi menarik tangan Fima menyuruh nya bangkit untuk meninggalkan restoran.
__ADS_1
Dan kini di depan matanya, pacarnya dan Rama sedang berjalan meninggalkan Bandara. Melihat Mita dalam pelukan laki-laki lain membuat hatinya panas sekaligus sakit. Mencoba memahami apa yang terjadi di depan matanya.
Bukankah perempuan hanya mau di sentuh oleh laki-laki yang ia sukai? Seharusnya ia bisa menyimpulkan sesuatu, karena nyatanya Mita menolak jika ia ingin melakukan kontak fisik lebih. Namun ketika Rama yang melakukan, Mita seolah menerima bahkan menutup matanya. Bangsatt!
*****
Setelah seharian kemarin full istirahat karena jetlag. Rama hari ini mengajaknya pergi.
"Ada yang pengen aku omongin."
Saat sarapan di ruang makan apartemen pagi tadi. Dan didengar Bu Lia dan juga Sena. Tidak bisakah Rama bicara kepadanya jika sedang berdua saja?
"Ngga bisa di sini aja ngomong nya? Mama pengen denger."
"Nanti kalau ada hasilnya aku kasih tau Mama."
Ia teringat ucapan Bu Lia di pesawat kemarin.
"Kamu harus memutuskan, siapa yang kamu pilih. Rama dan Adit anak-anak baik, meskipun salah satu nya pasti ada yang terluka. Tapi kamu harus menyampaikan sebaik mungkin, selesaikan dengan baik-baik."
Ia mencoba berpikir sejernih mungkin. Siapa laki-laki yang benar-benar ia cintai?
Perlakuan Rama kepadanya yang terlampau berani baginya, membuatnya berpikir apakah Bu Lia terutama Pak Romi sudah menyetujui hubungan ia dan Rama?
Ia kembali teringat dengan pelukan hangat yang memang ia rindukan dari Rama. Dan kecupan singkat dan manis masih terasa di wajahnya. Apakah ini tanda bahwa Rama yang ia cintai? Bukan Adit yang selama ini selalu ada dan sudah begitu baik baginya.
"Aku mau ajak kamu ke tempat yang katanya paling romantis disini."
Rama memperlakukannya bak putri sejak kemarin. Sungguh di luar ekpektasinya Rama bisa bersikap seperti ini di depan Bu Lia.
Dengan menaiki mobil pinjaman dari Rudy, teman dari Indonesia Rama mengajaknya pergi ke Golden Gardens Beach Park yang terletak di Puget Sound.
"Ini pertama kalinya aku bawa mobil sendiri disini."
Sudah lama ia tidak ngobrol berdua dengan Rama. Ternyata ia merindukan Rama, sesuatu yang baru ia sadari.
Anehnya, ia baru menyadari nya sekarang. Bukan kemarin saat Rama meninggalkannya. Apa karena ada Adit di sisi nya? Ia malu, merasa seperti orang yang egois dan serakah.
"Naik transportasi umum atau taksi."
Rama terus memandangi nya dengan senyuman.
"Kenapa ngga beli mobil?"
Sultan Rama beli apartement mewah dengan lantai paling atas yang tentu eksekutif saja bisa, membeli mobil tentu lebih mudah.
"Ngurusnya surat izin nya ribet. Lagian aku disini ngga lama. Kurang dari 1tahun lagi kuliah aku beres, aku pengen cepet pulang buat kamu."
Kini Rama sudah menggenggam dan menciumi tangannya. Hatinya begitu berbunga-bunga, berada di negara impian banyak orang dengan orang Rama di sisinya.
Mereka tidak tau bahwa ada seseorang yang mengikuti nya sejak keluar dari apartemen tadi dengan mobil sewaan. Dengan berbekal alamat yang didapat Fima, mencari alamat Rama bukan perkara sulit.
Kini di hadapannya banyak lalu lalang orang, pasangan yang tengah menghabiskan weekend bersama, dam sekumpulan bapak-bapak yang akan memancing.
"Kita liatin dua orang itu."
Tiba-tiba muncul ide iseng Rama, begitu ia duduk di tepi pantai beralasankan pasir dengan dua botol minuman soda dan snack yang tidak pernah ia jumpai di Indonesia. Ngapain ngeliatin orang pacaran pikirnya.
Lima menit mengamati, tidak ada hal aneh dari pasangan tersebut.
"Kenapa sih, orang mereka biasa aja."
"Tunggu bentar lagi."
Dan benar saja, sepasang muda mudi yang ia perhatikan sejak tadi kini sedang berciuman panas.
__ADS_1
Oh My God... ia menelan ludah.
"Mau nyoba sama aku?" Rama menatapnya menggoda.
Perut Rama kini sudah jadi sasaran cubitan nya.
''Aawww aaww sakit Mit."
"Enak di kamu ngga enak di aku."
"Ini pertama juga buat aku, kita belajar bareng-bareng. Aku belum se professional orang itu. Tapi aku akan melakukan yang terbaik."
Rama terus merapatkan duduknya.
"Kamu kurang tidur. Tau ah kamu mesum."
Ia membalikan badan mencoba menghindar dari senyuman jahil Rama.
"Kok mesum, itu kan ungakapan perasaan juga."
Rama sudah menariknya dalam pelukan, kini punggungnya sudah menempel di dada Rama. Posisi berpelukan yang ia suka lihat di film-film Hollywood. Ia tersenyum, kini ia merasakan sendiri di posisi ini bahkan ia bisa merasakan detak jantung Rama.
"Aku tiap hari ngeliat yang kaya gituan disini, aku tersiksa disini kamu harus tau. Aku pengen ngerasain juga."
Rama membalik tubuhnya, kini wajah nya dan wajah Rama terasa dekat. Bahkan ia bisa merasakan hangatnya nafas Rama. Namun ia membalikan badannya kembali, khawatir ia terbawa perasaan.
"Liat aku dulu bentar, aku mau ngomong."
Jantungnya kini sudah tidak bisa normal, berdetak tidak karuan.
''Mita... aku sayang kamu dengan seluruh jiwa raga aku. Aku suka kamu dari pertama kita ketemu. Dan aku semakin jatuh cinta sama kamu setiap harinya sampai saat ini."
"Mita... aku tau status kamu masih sama Adit, tolong kamu selesaikan baik-baik. Aku mau bilang terima kasih sama dia karena sudah menjaga kamu dengan baik."
Ia tak kuasa menahan airmata nya. Ia tidak menyangka Rama akan mengatakan perasaannya. Pernyataan cinta disaat ia masih berstatus pacar Adit. Namun hatinya tidak ingin menolak. Ia semakin yakin Rama lah yang ia cintai. Tapi tidakkah ini jahat untuk Adit? Ia merasa sangat buruk.
"Mita... aku mau kamu jadi istri aku. Membangun impian-impian kita bareng-bareng. Kamu jadi orang hebat dan aku pun sama."
Kini cincin bermata indah di hadapannya. Rama memakaikan cincin yang keindahannya baru ia lihat pertama kali di jari manis tangan kirinya.
"Mita... ini lamaran dari aku buat kamu. Nanti aku akan minta kamu ke Bapak kalau aku pulang nanti. Tolong tunggu aku dengan setia kamu. Karena aku disini melakukan yang sama untuk kamu."
"Aku ngga akan nanya kamu mau atau ngga, karena aku tau kamu juga sayang sama aku. Maaf kalau ngedadak, Papa yang nyuruh cepet-cepet."
Hah? Ia terkejut. Bagaimana bisa?
"Kok bisa?''
''Bisa dong." Masih dengan senyum khas Rama yang jahil.
"Gimana? Praktekin yang tadi sekarang sama aku, calon suami kan sekarang status nya? Aku udah siap nerkam kamu."
Ia pun lari dari terkaman Rama.
"NGGAK MAU!"
Rama pun tertawa mengejar Mita. Dengan deburan ombak yang menjadi saksi, bahwa ia dan Rama kini menjalin kasih.
Ia dan Rama kini saling berpelukan, merasakan cinta yang tumbuh di hati keduanya.
"Aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu." ia tak bisa membohongi perasaannya. Bahkan orang buta pun seharusnya tau, bahwa ia mencintai Rama.
Namun tanpa sadar ada sepasang mata yang hatinya kini hancur berkeping-keping.
__ADS_1