
Rama
Setibanya di rumah, ia melihat belum ada yang pulang. Sepi, pikirnya.
Iseng ia hubungi Sena via video call.
''Sen, kamu sehat?''
''Sehat dong, cuma sedikit capek aja. Beda ya kuliah tuh sama pas SMA. Jadi mahasiswa lebih sibuk dari dosen, kesana kemari. Waktu kakak gitu nggak di jakun?''
''Sama. Kita dituntut lebih aktif. Anak SMA kan masih disuapin. Eh gimana Enin sehat?''
Bukan saatnya ngobrol tentang dunia perkuliahan. Lama tidak motor-motoran ia sedikit lelah.
''Sehat, nanyain kakak terus katanya kapan kesini.''
''Aku nganggur sih beberapa minggu ini sebelum nanti kuliah.''
Ia optimis di terima di IPB.
''Nanti aku ke Bandung sebelum aktif kuliah.''
Sena dan Rama merupakan potret sibling goals, akur dan jarang bertengkar. Mereka pun saling bertukar cerita.
''Kamu bener-bener ya kemarin rekomendasiin resto yang kaya begitu. Orang yang aku bawa banyak Sen.''
Rasa kantuk mulai datang setelah motor-motoran Jakarta Bogor pulang pergi.
''Yaelah gaji sebulan juga ngga habis kak. Kapan dong kesini, aku naksir sepatu nih kemarin iseng-iseng ke PVJ. Kalau nggak transfer aja deh.'' Sena memasang wajah memelas.
''Tuh kan di palak lagi aku. Bokek Dek, kemarin aku baru beli laptop Mita.''
Tanpa sadar ia mengucapkan malapeta.
''Hah? Beli laptop buat Mita?''
''Eh apa ? '' Ia baru sadar dengan apa yang ia katakan barusan.
''Kakak tuh sama Mita gimana sih sebenernya?''
''Ssttttt Dekk jangan disebut namanya.''
''Jelasin ke aku sebelum aku lapor ke mama."
Rasa kantuk yang sempat datang hilang begitu saja saat ia sadar sudah salah bicara.
Ia memperbaiki posisi duduknya.
"Aku tanya dulu sebelumnya, emang salah kalau kakak suka sama dia?''
Rama berubah serius.
Sena tampak berpikir.
''Kakak serius? Kakak suka yang sayang gitu yang biasa aja?''
''Suka yang sayang.'' Ia benar-benar yakin dengan jawabannya.
''Hah nggak masuk akal. Kakak ngga mikirin kuliah nya dia nanti gimana?''
Sena berusaha sedewasa mungkin menyikapi masalah ini.
__ADS_1
''Kalau aku suka sama dia artinya aku nggak mikirin kuliahnya? Aku juga mikirin kuliah nya, aku support, bahkan laptopnya aku beliin.''
''Sampe bisa beliin laptop itu gimana ceritanya?''
''Ah kamu kaya Mama. Anak kecil tau apa. Pacaran aja belom.''
Sena terdiam seperti tersentak.
''Ya ya ya aku cuma anak kecil yang belum boleh pacaran.''
Sambungan video pun terputus, Sena mematikan video call nya. Ambekan.
Hari ini benar-benar menguras energi. Namun hari ini belum usai, masih ada Papa yang beberapa jam lagi pulang lebih cepat.
Mama tentu saja sampai rumah lebih dulu. Menjinjing tas laptop andalannya, dengan wajah yang lelah Mama masuk.
''Pulang jam berapa tadi?''
Saat sarapan tadi Rama pamit terburu-buru sampai tidak sarapan di rumah.
Tas disimpan di meja begitu saja lalu meminta air putih kepada Bi Imas.
''Biar saya aja yang ambilin Bi.''
Ia melangkah ke dispenser, mengambil gelas dengan posisi masih terbalik tanda belum dipakai, lalu memberikannya kepada Bu Lia.
''Makasih Kak.'' Rama tersenyum. Rama memang selalu memperlakukan perempuan dengan baik, terlebih kepada ibunya sendiri.
''Tadi jam 3 an aku udah pulang. ''
''Motoran kemana? Tadi Mama berangkat mobil kamu ada.''
Sudah lama Bu Lia tidak melihat Rama motor-motoran.
''Mama malah nggak tau. Tadi sebelum berangkat nggak ada ngomong apa-apa. Ngomong apa aja Papa tadi?''
''Nanya aku dimana, nanya kuliah, terus nyuruh makan malam di rumah.''
''Berarti kamu ada salah. Pikirkan baik-baik salah kamu apa. Mama mandi dulu gerah.''
Salah apa pikirnya?
Sudah lama sekali ia membuat kesalahan lalu ditegur Papa. Terakhir saat kelas 2 SMA ia berkelahi dengan temannya karena salah paham, menyebabkan orangtua nya dipanggil ke sekolah yang diwakili Mama.
Petang hilang malam pun datang, namun belum menunjukan tanda - tanda kedatangan Pak Romi.
"Papa mana sih Ma, tadi nyuruh makan malam di rumah tapi belum sampai juga."
Terlihat Bu Lia masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama ia keluar lagi.
"Papa ada operasi mendadak, kita makan duluan. Tapi kamu habis makan jangan dulu naik."
Perasaan tidak enak tiba-tiba muncul. Sejak tadi ia hanya menduga-duga bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan Papa nya. Tapi kali ini ia jadi khawatir.
Pukul 10 malam baru terdengar suara pintu gerbang dibuka.
"Papa udah makan?"
Mama menghampiri Papa lalu mengambil tas yang Papa bawa.
"Udah tadi di rumah sakit. Rama mana?"
__ADS_1
"Hmmmm. Ini aku ngantuk nungguin Papa."
"Tadi kamu dari mana bawa motor?" Pak Romi terlihat mengendurkan dasi yang dikenakannya.
"Papa liat aku? Dimana?" Feeling nya semakin tidak enak.
"Tuh, mobil papa sama motor kamu sebelahan sampe nggak sadar."
"Ya emang kenapa sih Pah, gitu aja. Lagi fokus kali kirain Mama ada apa." Mama mendengus. Masuk ke kamar untuk menyimpan tas suaminya tersebut.
"Papa cuma penasaran perempuan yang kamu bonceng siapa? Ngelus-ngelus kaki perempuan si tengah jalan. Buat kamu mungkin romantis, tapi Papa ngeliat nya nggak banget."
Mamposss, jawab apa ini.
"Kamu jalan sama perempuan? Siapa?"
Mama keluar kamar dengan rasa penasaran.
Ia merasa semakin terpojok.
"Temen Pah..." hanya itu yang bisa ia ucapkan.
Si raja ngeles tidak bisa berkutik, sedangkan berbohong bukan style nya.
"Temen apa? Masih muda banget. Mama mau lihat? Siapa tau Mama kenal."
Mati, jangan bilang papa punya barang bukti.
"Papa udah siapin barang bukti, jadi kamu nggak bisa mengelak."
The smart papa. Sempurna, ia benar-benar terpojok.
Pak Romi mengeluarkan HP nya lalu memperlihatkan sebuah foto.
Bu Lia terperanjat.
"Ini Mita kan Kak? Mirip aja apa emang Mita?." Bu Lia terlihat menunggu jawaban.
Foto tersebut benar-benar jelas. Menandakan diambil dari jarak yang dekat.
"Mama kenal? Mita siapa?"
"Anak asuh Mama yang kuliah di IPB."
"Ya Tuhan.... Rama kamu bener-bener."
Pak Romi terlihat jelas merasa shock. Ia pun masuk ke kamar meninggalkan Rama tanpa menoleh sedikitpun. Dan itu semakin membuat perasaannya campur aduk.
Ia memang sadar bahwa suatu saat kedekatannya dengan Mita akan diketahui keluarganya, tapi tidak secepat ini.
Kalau begini ia harus bilang apa?
******
Eng eng enggg
Rama emang bener-bener anak kecil dipacarinn π€«π€«π€«π€«
Haloo untuk pembaca semua yang baru baca karya ku nu sa-aya-ayana, By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini πΊπΊ
Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back π€π€
__ADS_1
Semoga kita bisa berkawan rapat πΊπΊπΊπΊ