
Adit
Hari ini ia memutuskan kembali ke Malabar 10, ia izin ke orangtuanya ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum ia kerjakan.
"Bu, Adit ke kosan ya. Kerjaan Adit udah deadline semua."
"Kenapa ngga ngerjain disini?"
"Adit ajak Mita kesini mana mau Bu. Dia kan yang ngurus-ngurus."
"Oh, manager kamu tuh dia?"
Ia yang tersenyum salah tingkah hanya mengangguk. Memang ia hanya mengatakan sudah memiliki manager, namun siapanya ia belum memberi tahu.
"Jangan yang aneh-aneh. Kamu aneh-aneh, yang tercoreng semua keluarga kita. Ayah tuh tokoh, kamu ngerti kan maksud Ibu?"
Seperti kebanyakan orangtua, sebelum ia berangkat nasehat yang keluar panjang sekali, seperti ia akan tidak pulang lama. Padahal cuma ke Bogor.
''Besok ajak Mita fitting baju Dek biar samaan di nikahan Mas, mumpung Mas sama Mbak libur."
Ia tersenyum, bersyukur Ibu nya menerima Mita menjadi pilihan nya. Saat ia bercerita tentang latar belakang Mita, tidak ada respon merendahkan atau meremehkan. Karena ayahnya dulu juga merangkak dari bawah.
"Semua orang punya latar belakang yang sudah Allah takdirkan. Kita ngga bisa milih dilahirkan dari keluarga mana. Dilahirkan menjadi kaya atau miskin adalah takdir, tapi kita bisa memilih mau mati dengan keadaan seperti apa, harus berjuang." kata-kata yang keluar dari mulut Ayahnya malam itu sungguh di luar ekpektasinya.
Begitu sampai kosan ia temui Mita yang sedang ngobrol dengan penghuni kos lainnya di gazebo seperti biasa.
"Mas tumben baru keliatan." Vira perempuan berhijab menyapa saat ia ikut bergabung di gerombolan ciwi-ciwi. Ia mengangguk, pandangan nya terarah pada Mita namun gadis itu hanya menoleh ke arahnya sekilas.
Ia pun mendekati Mita yang menjaga jarak dengannya, masih asik tertawa dengan yang lain seolah tidak peduli dengan kehadirannya.
"Ngobrolin apa?" ia mencolek pundak Mita, minta di notice.
"Kemarin Citra pingsan pas mau ujian, kita kasian tapi lucu." lagi-lagi tanpa melihat ke arahnya. Ia hanya mengangguk canggung.
Masih terasa aura dingin darinya. Padahal saat meninggalkan kosan, rasanya ia yang marah. Sekarang jadi ia yang merasa terpojok. Aneh.
"Neng, udah libur kan? besok ikut ke butik ya sekalian cobain motor baru."
"Ngapain ke butik?"
"Fitting baju buat nikahan Mas Abi, kakak ku yang pertama."
Mita tampak kaget, mungkin tidak menyangka akan dilibatkan dalam acara keluarga.
"Biar samaan sama keluargaku."
"Kayaknya ngga perlu Mas. Terlalu berlebihan, aku bukan keluarga."
"Ngga mau berusaha masuk ke keluarga aku?"
"Ngga sekarang kan?"
"Nanti mau?"
"Kalau jodoh."
"Harus jodoh."
Sejak pembicaraan nya dengan Putri yang membahas kissing, ia jadi sering membayangkan yang tidak-tidak dengan Mita.
"Fi, kissing tuh wajar buat orang pacaran?" saat bimbingan bertemu Raffi di kampus.
"Lu belum pernah? Bokis lu kalau belum pernah."
"Serius gua nanya, wajar apa ngga?"
"Kalau lu cowok normal ya wajar lah. Seusia kita apalagi. Bikin anak juga lu udah bisa. Walaupun di Islam ngga boleh, haram Dit haram astagfirullah."
"Ah bang ke lu ngomong haram segala, doyan juga lu."
Ia kembali fokus pada Mita di sampingnya, yang sudah ia genggam tangannya. Penghuni kosan lainnya sudah bubar tak lama setelah ia mendekati Mita. Pengertian sekali pikirnya terkekeh.
"Nanti malam barbeque lagi ya." sebagai upeti sudah mendukungnya dengan Mita yang disambut dengan kehebohan Wanda yang ribut perbaikan gizi.
"Aku kangen."
Ia menarik tanggan Mita untuk mendekat ke arahnya. Posisinya kini berhadapan dengan gadis itu.
"Yang kemarin ninggalin pulang ngga bilang-bilang siapa? Yang aku chat, telepon, video call ngga jawab siapa?"
Mita menatapnya tajam, seolah sedang menumpahkan kekesalannya. Matanya yang hitam bulat, bibirnya yang tipis namun penuh, terlihat sempurna bersanding dengan pipi nya yang semu kemerahan.
Hatinya sudah tidak bisa berdetak normal. Ia membuang wajahnya, khawatir terbawa suasana hatinya yang ingin lebih.
"Huh." terdengar pelan namun masih terdengar, mencoba melepaskan sesuatu yang bergemuruh di dada nya.
"Kenapa?"
"Hemm? Kamu jaga jarak sama dia. Jadi ke Amrik?"
Ia salting.
"Senin aku urus paspor sama visa. Boleh kan? Aku ngga enak kalau nolak ajakan Ibu." suaranya melembut saat menyebut kata "Ibu". Sayangnya bukan Ibu nya yang Mita sebut tadi.
"Kalau aku bilang ngga boleh emang ngaruh?"
Ingin rasanya marah, tapi tak mampu. Ia terlalu membutuhkan Mita.
"Aku takut dibilang ngga sopan atau mereka tersinggung."
"Yaudah ngga usah minta izin ke aku." Ia menarik nafas berat.
"Yang penting kamu ngga macem-macem." lanjutnya serius. Tangannya kini sudah mengusap lembut pipi Mita.
Ia mengencangkan genggaman tangan nya untuk mempertegas.
__ADS_1
Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Mita sambil memejamkan mata. Ingin rasanya ia diakui bahwa Mita miliknya.
Namun Mita menjauh.
"Mas mau apa?"
Ia kaget dengan yang sudah ia lakukan, bibir nya hampir saja menyentuh Mita.
"Aku kurang tidur kayaknya. Nanti sore take video di atas."
Ia merutuki Putri, karena teringat ucapan Kakaknya ia hampir hilang kendali.
*****
Rama
Ia melihat story Whatsapp Fery yang berisi foto sebuah tangan mungil.
"Welcome to the world my baby girl. Hope your life full with the joy, happiness and goodness from God. We all love you to the moon."
Ia tersenyum, rasa haru merasuki hatinya. Sahabatnya kini menjadi Ayah. Ia lantas menghubungi Sena.
"Dek, kamu dimana?"
"Di Bandung, kenapa? Masalah visa sama paspor udah aku sampein langsung setelah Kakak tutup telepon."
"Anak pinter. Makasih Adik cantik. Aku minta tolong kamu kan di Bandung, pesenin bunga buat istrinya Fery baru lahiran. Sama beliin kado terserah yang gimana, yang penting yang kepake dan bagus. Aku transfer berapa?"
"10 juta kak."
"Hah kado apaan 10juta?"
"Kado nya mah ngga segitu, bensinnya loh ini yang mahal. Kalau kakak pulang, baru tiket pesawat sebalik loh itu, kelas ekonomi lagi."
"Haduh.... Bensin kan ada supir Enin. ngga bisa lebih murah lagi apa bensinnya? Aku lagi nabung buat nikah. Jangan peras aku terus atuh." ia putus asa.
"Deuhhh nikah Mama Papa yang bayar pasti kan."
Ia terkikik, pintar adiknya ini.
"Ahh 10 juta kebanyakan, anak kecil jangan pegang uang banyak-banyak. Mita juga ngga aku kasih uang banyak."
"Bedalah aku sama Mita..."
Sena tidak melanjutkan omongannya.
"Kenapa ngga dilanjut? Kamu mau ngomong apa?" ucapnya tajam.
"Jelas kamu sama Mita beda. Dia udah ada aku yang udah siap nafkahin. Damara Gunawan itu apa? Masih minta orangtua sok-sokan pacaran. Kalau Mita yang minta 10 juta aku kasih."
"Astagfirullah Kak, pacar orang."
"Tapi tetap calon istri aku. Kamu udah putus belum sama anaknya Kapten Gunawan?"
Sena terdengar gugup.
"Apa yang ngga aku tau? Doa aku akhirnya terkabul. Thank God."
Ia yang sudah tau Sena sudah putus dengan Damar karena melihat status galau adiknya beberapa minggu lalu.
"Doa apa?"
"Aku berdoa semoga kamu cepat putus."
Ia tidak tahan menahan tawanya di balik telepon. Seru baginya mendengar Sena ngomel.
"Astagfirullah ya Allah kakaaakk, doanya bukan yang baik-baik."
"Putus kenapa? Diselingkuhin?"
Ia masih belum puas menggoda Sena.
"Kakaakk. Udah ah kirim sekarang 10juta."
"Ngga ada, 7 juta aja. Awas ngasih kado yang jelek. Fery udah kerja di kantor Kakak jangan malu-maluin bos."
"Ehhh 1juta lagi aja Kak."
"Bawel." gerutunya kembali karena Sena masih saja nego.
Selesai menghubungi Sena, kini ia menelpon Ibunya. Bu Lia yang kala itu sedang di kampus menjawab teleponnya.
"Assalamualaikum Mama sehat?"
"Waalaykumsalam sehat alhamdulillah. Kamu sehat?"
"Sehat lahir batin alhamdulillah, cuma ada yang kurang satu."
"Kurang apa?"
"Kurang Mita belum jadi istri aku."
Ia tertawa dengan omongannya yang receh.
"Kamu nih. Kenapa?"
"Fima nikah minggu depan. Aku minta tolong wakilin sama Papa juga. Kado udah diurus sama anak kantor. Nanti di anter ke rumah."
"Wah bareng dong sama anaknya Pak Bamwir. Pulang dari kondangan Pak Bamwir, Mama ke Fima kalau waktunya cukup."
Nama yang mengingatkan dia dengan Adit.
"Anaknya Pak Bamwir yang mana yang nikah?"
"Yang paling gede, siapa itu lah namanya Mama lupa."
__ADS_1
"Oh yaudah jangan lupa ya Ma. Fima udah lama kerja di kantor, ngga enak kalau ngga ada perwakilan keluarga."
"Iya Kak."
*****
Adit
Ia sudah rapi sejak jam sembilan tadi, menunggu Mita di ruang makan sambil melahap roti bakar.
"Berangkat sekarang? Kamu mau ngga roti bakar? Tadi Bu Wati bikin lebih."
Mita datang dengan dress semata kaki berwarna pastel terlihat anggun. Membuat ia gugup, beberapa kali membuang muka. Bukan karena tidak menarik, tapi hatinya berdesir halus kembali.
"Aku deg-degan, ngga mau makan."
"Aku laper terus sekarang aneh."
"Mas gini ngga apa-apa kan?"
Mita terlihat gugup, mungkin pertama kali nya dalam hidup ia bertemu orangtua pacar. Ia tersenyum, excited sekali rasanya hari ini.
Ia melihat Mita sekilas tersenyum.
"Cantik, seperti biasa."
Membuang muka kembali. Tak ingin kejadian kemarin terulang kembali.
"Kita naik mobil aja ya? Butiknya 2 jam kalau naik motor. Kalau di mobil bisa lewat tol."
"Naik motor Mas keberatan?"
"Nggak. Yaudah kita naik motor baru."
Perjalanan menuju butik seperti tidak terasa. Ia sangat menikmati setiap kebersamaan dengan Mita. Senyuman seperti tidak lepas dari bibirnya hari ini.
"Beda ngga sama naik motor beat?"
Mita tertawa.
"Itu lah bedanya Mas sama uang."
"Apa bedanya?"
"Mas bisa bohong, kalau uang ngga bisa."
"Sembarangan. Aku kapan pernah bohong?"
"Ngga pernah ya? Kirain kalau muji aku itu gombal alias bohong."
"Aku ke kamu jujur dari hati."
Genggaman tangannya semakin erat, perasaannya begitu dalam mungkin terlampau sayang.
"Sampe. Biasa aja ya ngga usah takut. Keluargaku baik."
Ia mengambil tangan Mita memberi kekuatan. Bagaimanapun ini pertama bagi Mita, dan baginya juga.
"Buk... ini Mita. Mas, Mbak ini Mita."
Terlihat dua orang perempuan dan laki-laki kini memperhatikan Mita tak berkedip.
"Gusti.. ayu nemen."
Ibu memeluk dan mengusap pundak Mita. Sungguh di luar ekspektasinya.
"Cantik kata Ibuk." Ia menerjemahkan perkataan Ibu nya.
"Mirip toh sama aku?"
Kali ini kakaknya yang bernama Putri yang selalu SKSD berkomentar.
"Hueeekkk aku gumoh."
Ia memperagakan orang muntah. Namun ia sangat senang, keluarganya se-welcome itu kepada Mita.
"Hanya orang-orang berhati suci yang bisa lihat kemiripan aku sama Mita."
"Oh Iya tiket kamu udah aku pesen, kita bertiga ke Bali dong. Eh, berlima sama Mas Abi sekalian dia honeymoon."
Mita nampak bingung tidak mengerti Putri sedang membicarakan apa.
"Walahhh jadi rame Mbak."
Ia tidak setuju. Pergi dengan pengantin baru bukan pilihan yang bagus.
"Kenapa sih kamu ngga suka banget kalau aku ikut." Kali ini Abi berkomentar.
"Keramean Mas berlima. Riweuh nanti."
"Biarin dong, kalau Mas Abi ikut kan sponsor jadi nambah. Uangku aman. Kamu mesti ngga mau keluar uang."
"Aku kan adek, mana ada Adek bayarin Mbaknya."
"Ya makanya bareng Mas aja, jadi sekalian sama Mas."
Mereka mencoba baju yang sudah disiapkan desainer khusus untuk keluarga inti. Meskipun Mita masih terlihat canggung, tapi Mita masih bisa mengimbangi.
"Pantes direbutin, bentukannya kaya bidadari." Abi menepuk pundak nya dan berbisik.
Ia tersenyum, artinya ia tidak salah pilih.
__ADS_1