
Malam hari waktunya Adit menelpon kekasih hati di kota dengan sebutan Paris Van Java. Kota yang beberapa tahun silam masih dingin, perlahan mulai menurun tingkat kedinginannya karena efek global warming.
Sesaat hendak mencari nama kekasih untuk menekan tombol video call, ternyata Adit kalah cepat.
Mbak Put Calling - notifikasi yang muncul di layar ponsel Adit.
"Iya Mbak."
"Lagi apa Dek?"
"Baru beres belajar ki, lagi santai-santai. Ono opo?"
"Oraaa."
"Ganggu aja. Aku mau video call Sena."
"Ih kamu nih, ngga kangen Mbak apa hah?"
"Kangen, tapi sama pacarku juga kangen."
Adit melihat pantulan wajahnya di kamera ponsel. Mengatur posisi rambutnya yang ia rasa tidak enak dilihat.
"Cah bucin. Aku mau bilang, bulan besok aku dilamar."
Sama seperti kebanyakan perempuan Indonesia, Putri juga ingin segera dilamar. Menjalin hubungan empat tahun lamanya, akhirnya Putri mendapatkan kepastian hubungan.
"Iya tah? Alhamdulillah akhirnya."
Wajah Adit berubah antusias. Kabar yang ia tunggu-tunggu akhirnya ia dengar juga.
"Seneng hah? Aku ngerti kenapa kamu seneng."
"Sebagai adik yo seneng, Mbak nya mau nikah."
Adit membuka pintu kamar yang terhubung dengan balkon, ingin menikmat udara malam dan lampu malam kota Tokyo.
"Alah prett. Ibu udah bilang kamu serius sama Sena."
Suara "tek" dari pemanas air terdengar sebagai tanda air di dalamnya telah mendidih. Tanpa canggung Adit menuangkan air yang telah 100⁰C tersebut ke dalam cangkir yang sudah berisi cappuchino instan produk Indonesia.
Segelas cappuchino pun siap untuk ia nikmati di balkon apartemen sebagai saksi obrolannya dengan Sena nanti.
"Sama sebelumnya juga aku serius, tapi ngga jodoh. Mbak nikahnya kapan?"
"Belum tau, dia mau berlayar lagi. Jadi sebelum pergi mau mengikat aku dulu, nanti pulang berlayar baru diomongin masalah nikahan."
"Aku kuliah satu tahunan lagi lho Mbak, sebelum aku lulus harus udah nikah."
Adit memberikan peringatan. Sebagai laki-laki dewasa Adit sudah merindukan seseorang yang bisa ia panggil dengan sebutan istri.
"Ngisi tenan." (maksa banget)
"Plis lah. Mbak juga udah ngga muda, nanti susah punya anak mau?"
Adit pernah mendengar beberapa kali petuah tetua di keluarga besarnya agar jangan menunda pernikahan. Terutama kepada saudara-saudara perempuannya yang belum menikah.
Teringat ketika Budhe Wati menasehati anak dari adiknya, yang tidak lain adalah sepupu Adit bernama Zara.
"Kamu nunggu apa? Kerjaan sudah enak, kendaraan sudah ada, pacaran jangan lama-lama banyak setan lewat. Kalau calonmu belum ada rumah minta ke Bapakmu. Omahe Bapakmu akeh. Suamimu nanti suruh beli isi nya. Usia perempuan itu mempengaruhi kesuburan rahim."
Entah benar atau tidak, setidaknya malam ini bisa Adit jadikan alasan untuk meminta Kakaknya segera menikah.
"Sembarangan. Kamu masih kecil mau nikah segala. Gayamuuu ki. Punya tabungan berapa? Ojo gawe ngisin, arep rabi karo kancane Ayah."
"Aku mau serempat abad, udah cukup lah. Aman rekening ku alhamdulillah."
Adit hitung-hitung dua bulan lebih membuka endorsment sudah bisa membeli mobil.
Obrolan ngalor ngidul kakak adik akhirnya terhenti karena nama Sena telah terlihat dalam pop up notifikasi whatsapp.
"Mbak nanti aku sambung lagi ya, aku mau bales chat nya Sena."
"Semprul, cewek ae."
Adit membalas dengan juluran lidah untuk Putri.
"Non cantik lagi apa?"
"Lagi nunggu kabogoh aku yang katanya mau video call, tapi kayaknya lupa."
Adit tersenyum simpul melihat delikan mata Sena yang membuang muka.
"Bukan lupa, Mbak Put tadi VC pas aku mau call kamu."
"Oooooo..."
"Oooooo..."
Adit menirukan ucapan dan ekspresi Sena. Sena tidak bisa menahan senyumnya.
"Minggu depan kamu pulang ke Jakarta apa di Bandung, Sen?"
Adit sudah merencanakan matang-matang kepulangannya. Menghentikan sementara permintaan endorment dan menyelesaikan semua kerjasamaa yang sudah masuk. Juga beberapa tugas yang kampus yang harus ia kerjakan.
Sena melihat kalender meja yang duduk dekat lampu belajar. Teringat dua hari lalu salah satu anggota grup kelas saat SMA nya yang tak lain adalah temannya bernama Fahri, mengabarkan bahwa akan menikah. Sontak anggota grup ramai, mengingat mereka belum kuliah tapi akan menikah.
Bukan ucapan selamat ataupun doa yang keluar melainkan,
"Lu badung sih Ri, bukan kuliah aja yang bener malah kawinin anak orang."
Rizal sang ketua kelas somplak menjadi orang pertama yang membalas undangan dari Fahri.
Meski tidak dijabarkan, hampir seluruh anggota grup mengerti maksud dari banyolan Rizal.
"Kampret, fitnah ae lu."
Fahri membalas tak lupa membubuhkan emoticon tertawa hingga miring.
Grup pun ramai mengolok-ngolok Fahri yang memilih menikah muda.
"Fahri pinter investasi guys 🤣"
Anggota grup lainnya ikut berkomentar.
"Eh, Fahri sekarang anak rohis tau. Dia nikahain ukhti-ukhti DKM kampus."
Dina, member grup yang satu kampus dengan Fahri memberikan membelaan untuk playboy cap kapak saat sekolah dulu.
"Nama ceweknya jangan-jangan Aisha 😭."
Kali ini Reno ikut berkomentar. Entah apa makudnya membubuhkan emoticon menangis hingga bombay.
"Eh tau-tau maharnya pake bismillah 😌."
"Kupinang kau dengan bismillah dong, kaya judul lagu dangdut yang waktu itu hietz abiezz 🤣"
"Itu judul film kampret 🤣🤣."
Sena tertegun, Damar ikut berkomentar di grup. Rasanya sudah sangat lama Damar tidak aktif di grup SMA. Sena berharap Damar baik-baik saja.
"Eh orang Singapore, balik ngga lu?"
"Mau tau aja. Kangen ya lu 🤣."
"Najis tra la la gua kangen batangan laknat. Mau cek ombak aja, takut ada reuni mantan 😚."
Candaan khas teman-teman sekolah yang kadang dirindukan.
"Lu sama Vina maksudnya? Gih sono, susul tuh Fahri 🤣."
"Maa sya Allah, baarakallah Akhi Fahri. Sakinah mawaddah warahmah ye Ri."
Seketika Rizal berubah haluan dalam berucap. Terdengar lebih syar'i. Mengalihkan pembicaraan Damar yang menyebut mantan terindah saat SMA dulu.
"Gedeg gua denger lu ngomong bener." (Gedeg : sebal)
Tak membutuhkan waktu lama, obrolan di grup menjadi lebih islami. Satu per satu doa ia baca dari warga grup.
*****
"Sen..."
Adit menyadarkan Sena yang tiba-tiba teringat Damar.
"Iya Mas. Aku kayaknya pulang ke Jakarta, ada undangan nikahan temen SMA. Kenapa?"
"Ngga kenapa-kenapa, nanya aja."
"Temen-temen aku pasti pada bawa gandengan, aku mah ada kabogoh juga rasa jomblo."
Melihat postingan beberapa temannya yang kerap berfoto dengab pasangannya, langsung terbayang bahwa teman-temannya akan membawa pacar masing-masing. Fenomena yang biasa terjadi ketika menghadiri pernikahan teman.
"Kalau jomblo nya kaya Non Sena mah, high quality jomblo namanya."
Adit menggoda, namun Sena tetap cemberut.
"Ajak Teteh atau Kakak biar ngga sendirian."
__ADS_1
"Ihh ngapain banget ajak mereka, mending sendiri."
"Nanti aku terbang ke Jakarta. Wushhh."
Adit memperagakan tangannya menjadi pesawat terbang.
"Beneran?"
"Dalam mimpi."
Sena mendelikan matanya kembali, lalu Adit bicara dengan tersenyum dan melembutkan suara.
"Bercandaa Sena sayang..."
Sena tetap diam.
"Aku sayang kamu."
Adit mencoba melunakan hati Sena.
"Cinta aku bertepuk sebelah tangan."
Adit menyeruput kopi yang sudah terlihat asap karena terbawa angin Tokyo.
"Aku sayang kamu Shenafia Rachman."
Sena rindu Adit, semakin Adit bicara demikian, kerinduannya semakin bertambah.
"Rindu itu berat ya, bener kata Dylan."
Sena akhirnya mau menatap Adit.
"Ngga berat, kita bisa video call tiap hari kan. Waktu Dylan sekolah belum ada video call jadi berat."
Adit menggoda Sena kembali.
"Tapi ngga bisa dipeluk. Coba ada aplikasi yang bisa merasakan pelukan virtual."
"Janji ya kalau aku pulang peluk?"
"Iya dong kan kangen."
"Oke, nanti aku pulang."
Sena mencibir, emangnya Jakarta Bandung?
*****
Seminggu kemudian Adit benar-benar terbang ke Jakarta. Membuat keluarga nya kaget dengan kepulangannya.
Adit yang sampai Jakarta pagi langsung menuju rumah orangtua. Sengaja ia mengambil penerbangan malam, agar bisa tidur di pesawat. Alasan lain tentunya agar di rumah bisa lebih lama, agar tidak ada protes dari Bu Retna seperti,
"Mau kemana lagi Cah bagus? Baru juga sampe sudah mau pergi lagi."
atau
"Ndak kangen Ibuk tah?
Adit sudah memikirkan masak-masak segala mungkinan. Karena ia hanya memiliki waktu enam hari di Indonesia.
Adit memncet bel gerbang rumahnya.
"Mah, tolong liat gerbang. Tukang paket kayae."
Imah, pembantu rumah tangga di keluarga Adit lantas keluar menuju gerbang. Ketika mendengar perintah dari majikan.
"Mas Adit?"
Imah kaget ketika seseorang yang memencet bel ternyata bukan tukang paket, malainkan anak bungsu dari majikannya.
"Mbok sehat? Ada siapa aja di rumah?"
"Sehat, Mas. Ada Ibu lagi di dalam."
Imah mengambil koper dari tangan Adit dan mempercepat langkah masuk ke dalam rumah.
"Bu, Mas Adit pulang."
Bu Retna langsung memeriksa orang di belakang Mbok Imah yang tertinggal jauh di belakang.
"Ya Allah. Ini anak pulang ngga bilang-bilang."
Adit mengambil tangan Bu Retna lalu mencium dan memeluk penuh rindu.
"Sengaja biar surprise. Ayah ke kantor?"
"Belum, aku laper. Ibu masak apa?"
"Ayam goreng sama lodeh. Mau makan?"
Di pesawat tadi terjadi turbulensi hebat, hingga membuat Adit mual tak berselera makan. Penerbangan selama 7 jam tanpa makan, sukses membuatnya lapar berat.
"Mau, tapi aku ganti baju dulu."
Bu Retna mengangguk, mengelus kepala Adit.
"Mah, kamu ke pasar. Sore masak menu nya Adit."
Bu Retna membuka kulkas, memeriksa isi di dalamnya.
"Opor sama gudeg ya Buk."
Adit masih mendengar ucapan Bu Retna. Kerinduannya akan gudeg tidak terbendung.
Adit merebahkan tubuhnya di atas kasur yang hampir 1 tahun ia tinggalkan. Adit mencari ponselnya di dalam tas. 24 jam lebih tidak memberi kabar kepada Sena, tentunya membuat Sena berpikir tidak karuan di Bandung sana.
"Non.. Besok acaranya jam berapa? Udah di Jakarta belum?
Kini Adit lebih nyaman memanggil Sena dengan sebutan Non alias Nona. Beberapa kali mencoba memanggil dengan sebutan "babe" tidak cocok dengan lidahnya yang rasa gudeg.
"Sibuk banget Mas nya. Terakhir aku udahin cowok karena terlalu sibuk."
"Ehh ngga boleh ngancem-ngancem. Ayo..."
"Ngga ngancem. Aku memberikan informasi aja."
Jelas sekali Sena tipe perempuan yang posesif.
"HP ku kemarin nyelip, aku cari-cari ngga tau nya di belakang dispenser. Baru ketemu barusan. Aku kira jatuh di jalan. Kalau siang ini ngga ketemu juga aku mau beli HP baru tadinya. Eh ketemu, ngga jadi beli HP deh."
Adit membuat alasan yang kira-kira dapat diterima oleh mahasiswa ITB tersebut. Agar persoalannya tidak menjadi panjang.
"Bener?"
"Terserah percaya atau ngga."
"Percaya. Aku lagi di jalan pulang ke Jakarta. Sengaja pagi biar ngga macet."
"Yaudah bilang Pak Karman hati-hati. Aku beli makan dulu dulu ya. Nanti aku call lagi. Oke ngga?"
"Iya oke."
Setelah itu Adit turun ke ruang makan, lalu menikmati hidangan khas Indonesia yang tidak ia temui di Jepang. Meski ada restoran Indonesia di Jepang, tapi ia belum menemukan masakan rumahan seperti lodeh.
Setelah perutnya penuh, Adit menemani Bu Retna menyiram tanaman, memanfaatkan waktu di rumah sebaik mungkin meski tubuh nya ingin istirahat.
"Kamu kok tiba-tiba pulang, ada angin apa?"
"Pengen aja pulang, kangen Ayah Ibu."
"Moso sih? Bukan kangen yang di Bandung?"
"Sama Sena juga kangen."
Bu Retna melihat Adit sekarang jauh lebih dewasa dan lebih kalem. Semakin menyadari bahwa putra bungsunya lambat laun akan menikah. Terkadang ada perasaan tak rela melihat anak-anak yang telah ia besarkan akan memiliki kehidupan baru.
Bukan tidak senang dengan kehadiran Sena di kehidupan anak kesayangan, mungkin hanya naluriah seorang Ibu yang takut kehilangan. Padahal jika ditelisik kembali, saat dengan Mita dulu, batinnya baik-baik saja. Apa karena Sena benar-benar akan menjadi menantunya?
"Di Jepang ngga ada yang bisa dipeluk gini Bu..."
Adit memeluk sang ibu dari belakang. Tak ingin Bu Retna berpikir berlebihan.
"Nanti bisa tiap hari kalau sudah ada istri."
Mengusap tangan Adit yang melingkar di lehernya. Mencoba mengikhlaskan Adit jika sudah waktunya menikah.
"Sena kan orangnya?"
Adit mengangguk.
*****
"Acaranya jam berapa?"
"Tema nya gala dinner, jadi mulai jam 7 malam."
"Berangkat jam berapa?"
__ADS_1
"Habis Maghrib paling, lokasi di restoran ngga jauh dari rumah. Garden party gitu Mas."
"Siapp terima kasih informasinya."
"Ngapain sih lagian nanya detail banget. Kaya yang mau dateng aja."
Adit hanya menjawab dengan menyunggingkan senyum.
Pukul 18.00 Adit sudah sampai di masjid tidak jauh dari rumah Sena. Kebiasaan tepat waktu saat di Jepang, terbawa sampai Jakarta. Sebuah kebiasaan yang baik tentunya.
Berbekal share location dari Mita, Adit mengetahui kemana kemudi setirnya harus melaju. Selesai shalat maghrib Adit melanjutkan ke alamat tujuan.
"Siap belum Non? Aku di depan."
Begitu sampai di depan rumah berlantai 3 dengan cat putih yang mendominasi Adit mengirimkan pesan kepada Sena.
"Nunggu Pak Karman panasin mobil dulu Mas, bentar lagi berangkat."
Sena masih tidak peka dengan kalimat "aku di depan."
Karena gemas dan iseng, Adit menelpon Sena.
"Ngapain nunggu Pak Karman? Aku anter. Ada siapa di rumah?"
"Anter kemana sih Mas? Ih suka ngelindur. Tuh ada Kakak sama teteh."
Sena mengarahkan kamera ponselnya ke arah Rama yang sedang ongkang-ongkang kaki. Mita hanya tersenyum simpul, karena hanya ia yang mengetahuo kepulangan Adit.
Sena yang meminta Rama dan Sena untuk pulang, karena tidak ingin sendiri di rumah.
"Aku di bawah, kamar kamu yang mana sih?"
Adit bermaksud memencet klakson jika kamar di lantai 2 yang menghadap jalan adalah kamar Sena.
"Di bawah mana? Aku udah turun, mau berangkat."
"Anak ITB ada juga yang lemot begini."
Sena masih bingung dengan ucapan Adit. Di bawah rumahnya? Mana mungkin !
Adit lantas turun dari mobil lalu memencet bel.
"Bukain gerbang Non, aku di depan rumah kamu."
"HAH??"
Sena setengah berlari ke arah gerbang, hendak memastikan keberadaan Adit.
"Mas kapan pulang? Ya ampun bikin orang bingung."
Adit tertawa melihat sisi polos Sena.
"Sengaja aku pulang. Aku cemburu ke Pak Karman. Dia terus yang anter kamu."
Sena masih termenung. Terasa mimpi melihat Adit ada di depan matanya.
"Mimpi ngga sih?"
Adit melihat sekeliling rumah Sena, lalu menyadari kamera kecil yang terpasang hingga mengurungkan niatnya memberikan Sena kejutan kecil.
"Berangkat sekarang? Pamit dulu kali ya."
Adit menarik tangan Sena yang hari itu terlihat cantik dengan make up natural.
"Ehhh kedatangan orang Jepang."
Mita menjadi orang pertama yang melihat kehadirannya di ruang keluarga.
"Dari kapan di Jakarta?
Rama bangun dari tidur-tiduran yang sudah nyaman sambil memainkan remote TV.
"Kemarin pagi baru sampe. Papa Mama ada?"
"Bokap masih di RS. Lewat kan tadi RS yang di depan? Nyokap di kamar."
Sena sudah sadar bahwa Adit dihadapannya. Dengan langkah penuh semangat, Sena mengetuk pintu kamar orangtuanya.
"Mah, ada Mas Adit."
Bu Lia yang sedang mengkoreksi tugas mahasiswa mendengar nama Adit langsung melepas kacamatanya.
"Mana Adit?"
"Mah, sehat?"
Adit mendekat ke arah Bu Lia yang sudah menggunakan pakaian rumah untuk cium tangan.
"Sehat alhamdulillah. Eleuhh lagi mudik? Nyampe kapan?"
"Kemarin Mah. Sena mau kondangan ngga ada temen katanya. Jadi Adit pulang dulu."
"Yang bener cuma karena mau nganter aku? Ini dia ngga bilang mau pulang. Aku kaget tiba-tiba bilang ada di depan."
Sena tersipu malu dengan jawaban Adit.
"Eh tapi lu makin ganteng semakin glow up. Biasanya kan kalau anak rantau malah ngga keurus, dekil gitu kan. Adit malah tambah oke tampilannya."
Sena tersenyum mendengar pujian untuk kekasih dari mulut kakaknya langsung.
"Tapi kamu jangan seneng, Dek. Di Jepang ada yang ngurusin Adit kali."
Ide jail nya seketika muncul. Di pandangan Sena kini Rama berkali-kali lipat menyebalkan.
Mita menyikut Rama dengan kekuatan sedang. Sementara Adit salah tingkah dengan gurauan Rama.
"Ngga ada, gua glow up karena banyak yang endorse skin care."
"Kakak kalau ngomong asal jeplak aja. Adit BA tau. Emang Kakak, cuci muka aja jarang !" (BA \= Brand Ambasador)
"Aku mah udah ganteng dari lahir."
Rama tidak mau kalah.
"Jepang kan sama kaya Amrik Kak, jarang matahari jadi muka nya bersih-bersih. Ngga usah dengerin Rama, suka ngaco."
"Abang mah bandingin Adit sama Fery kali. Beda lah Sayang, Fery mah muka nya debu doang. Coba kasih dia face toner deh, di kapas pasti daki doang."
Rama tertawa mendengar guarauan asal dari Mita.
Setelah berbasa-basi seperlunya Adit pamit mengantar Sena.
"Awas lu macem-macem."
Belum apa-apa Rama sudah memperingatkan Adit.
"Kakak, yang sopan. Adit datang jauh dari Jepang."
Bu Lia menegur Rama. Sena dan Adit hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Masa sih cuma demi nemenin kondangan?"
Begitu masuk ke dalam mobil, Sena menggoda Adit.
"Sekalian menebus rindu. Aku mau nagih janji. Kemarin ada yang bilang mau peluk."
Sena memeluk Adit dengan cepat.
"Kangennn. Ngga usah balik ke Jepang lagiii."
"Eitss ngga bisa dong begitu."
Adit mencium kening Sena. Memandangi wajah perempuan di hadapannya yang selalu membayangi selama di Jepang.
"Berangkat sekarang?"
Adit bertanya dengan lembut. Benar-benar sosok laki-laki yang Sena dambakan.
"Kemana?"
"Ke nikahan temen kamu kan?"
"Kalau ke KUA udah tutup ya jam segini?"
Sena tersenyum karena malu, mulutnya begitu sulit untuk disaring.
"Awww aww awww. Besok ya kalau kantornya buka."
Adit benar-benar menikmati hubungannya kali ini yang ternyata lebih indah dari sebelumnya.
******
Halooo semua nya. Alhamdulillah aku udah bisa lebih sering update, walaupun belum setiap hari lagi.
Semoga bisa lebih sering update.
Like komen juga yaaa. Kalau ada bunga atau kopi juga bolehh biar tambah semangat 😍😍😍
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa ❤️❤️❤️