
"Abang siapa?"
Rama seminggu ini hidup bagai zombie. Tidur hanya 2-3 jam, melakukan penelitian, mengerjakan thesis dan segala pekerjaan nya di Jakarta.
Untuk menghubungi Mita saja ia tidak sempat. Saat ada sedikit waktu free, Mita mungkin sudah tertidur. Rama tidak ingin menggangu waktu tidurnya.
Namun Rama yang tengah membedah buku refrensi untuk Bab 3 nya, kini tertarik dengan pesan yang Mita kirimkan.
Aku siapa? Pertanyaan lucu. Rama simpan buku yang ia pegang, berikut kamus yang selama ini menemani nya untuk memahami beberapa kosa kata Bahasa Inggris bisnis yang jarang ia gunakan di Indonesia.
Rama melakukan panggilan video.
"Abang sibuk banget, ngga ada kabar."
"Demi kamu hidup aku udah kaya zombie. Biar cepet beres. Desember aku mau pulang, empat bulan lagi. Kenapa sayang?"
"Abang siapa?"
"Aku? Rama Yudha, calon suaminya Paramitha Zainal. Kenapa?"
Mita menggeleng.
"Btw gimana hari kedua di pabrik. Udah ngapain aja?"
"Kemarin aku udah kenalan sama anak resto, karyawan kantor, supervisor pabrik, operator. Tadi aku keliling pabrik FF, peternakan sama RPH."
"Udah kenal semuanya?"
"Lumayan."
"Besok mau ngapain?"
"Aku mau fokus di bakso, ngitung material balances. Kata supervisor di line bakso ada masalah di hitungan material balances, jadi minta tolong aku itungin."
"Siapa namanya?"
Berani-beraninya nyuruh Mita.
"Pak Rizal. Kenapa?"
Gua tandain lu, pikirnya.
"Ngga. Ada yang nyuruh kamu lagi?"
"Ngga, semuanya baik."
Tidak seperti biasa, malam ini Mita lebih banyak menunduk tidak menatapnya. Padahal sejak acara lamaran sebulan lalu, setiap kali Rama video call Mita selalu antusias bicara dengannya.
"Kamu kenapa? Lagi capek?"
"Aku capek mikirin kamu.''
"Maaf kemarin aku sibuk banget penelitian dan menganalisis. Sekarang udah mendingan, tinggal nyusun."
"Kamu ngga bilang ke aku kalau kamu itu bos. Aku nanya ke Mbak Isma, QC tim 1. Mereka manggil Abang bos besar. Kamu ngga pernah cerita tentang pabrik, RPH, peternakan. Aku cuma tau resto. Itu pun aku ngga tau semua."
__ADS_1
"Apa penting nya buat kamu tau? Malah bagus kan, kamu suka sama aku nya bukan sama yang aku punya."
Rama belum menemukan alasan untuk memberi tahu Mita semua miliknya. Dan lagi menurut Rama, akan ada saatnya Mita tau, setelah ia kembali dari Amerika Rama akan mengajaknya keliling.
"Tapi aku kaya ngga kenal kamu. Kamu siapa aku ngga tau. Aku kaya orang bodoh pas Fery jelasin kamu itu siapa. Aku ngerasa kalau kamu nganggap aku ngga penting."
"Ngga gitu... Liat aku coba, dari tadi kamu ngomong ngga ngeliat aku. Fery ngomong apa aja? Anak-anak ngomong apa aja?"
"Ngomong semua yang harusnya aku tau yang Fery tau, mungkin masih ada yang ngga Fery tau. Bener kata Fery tadi, kalau kamu selingkuh, ngasih satu usaha kamu ke selingkuhan kamu juga aku ngga akan tau. Usaha kamu apa aja, uang kamu dimana, berapa, aku ngga tau. Ya mungkin aku memang ngga penting untuk tau."
"Fery bangsatt."
"Gimana mau nikah kalau kamu ngga terbuka sama aku? Aku perlu tau karena memang harus tau, buksn karena aku matre. Apa aku bisa percaya sama kamu sedangkan kamu sendiri ngga percaya. Waktu itu kan aku udah bilang kalau nikah itu perlu rasa saling percaya, terbuka. Untungnya kita belum nikah."
"Tunggu, kamu ngomong nya jadi kemana-mana gini. Maksudnya untung belum nikah apa?"
"Aku ngga tau."
"Aku nelpon Fery dulu. Kamu tidur udah malem. Oh iya, Tarjo ngga ada masalah kan?"
Rama belum bertanya tentang Tarjo, menantu Pak Karman, supir Mita.
Ternyata Mita sudah memutuskan panggilan video dari Rama.
"Fery bangsaattt."
Kini nama Fery menjadi sasarannya.
"Bajingan, lu ngomong apa sama Mita tadi?"
"Ngomong apa gua? Tadi di pabrik gua ngejelasin pabrik FF sama pabrik belakang."
"Ta* an*ing !"
Kini Rama benar-benar marah kepada Fery.
"Sabar bos sabar. Kenapa ada apa?"
"Lu bilang apa gua selingkuh segala? Maksud lu apa? Mau ngadu domba gua?"
Fery kilas balik perkataan nya tentang selingkuh tadi siang.
"Kamu harus tau Rama punya apa aja. Kalau ada satu hartanya yang ngga ada jadi kamu tau. Kalau dia selingkuh, ngasih selingkuhannya RPH gimana? Kalau kaya gini, kamu ngga bakal tau."
Apakah omongannya tadi salah?
"Tadi bercanda doang. Gua bilang dia harus tau semua tentang lu. Lu harus ngasih tau semua tentang lu lah kalau lu mau serius sama dia. Mita udah gua anggap adek gua sendiri. Salah gua dimana?"
"Lu mau ngancurin hubungan gua sama dia kalau gitu caranya. Selingkuh bukan bahan candaan bangsatt. Kalau sampe dia mutusin lamaran gua karena dia ngerasa gua ngga nganggap dia penting lu harus tanggung jawab. Susah Fer ngeyakinin dia, lu jangan bikin hidup gua tambah susah kenapa sih. Gua ngegaji lu buat ngurusin resto sama pabrik, ngga usah ngurusin gua sama Mita !"
"Masa sampe seserius itu omongan gua?"
"Makanya pake otak lu sebelum ngomong ! Gua belum bilang semuanya karena belum waktunya. Nanti juga gua bakal bilang. Kalau dia mau semua yang gua punya gua bisa jadiin mas kawin. Gua kasih semuanya ke dia. Kita nikah semua aset gua balik nama atas nama dia. Miskin sekalian gua kalau sampe selingkuh."
"Oke, gua minta maaf kalau ternyata jadi sepanjang ini."
__ADS_1
"Jalan pikiran dia itu beda Fer sama jalan pikiran kita. Otak dia isinya ngga bisa gua tebak. Lu ngga usah ngomong macem-macem soal gua. Gua sendiri yang akan ngomong. Ngerti ??"
Rama jarang sekali marah, bahkan saat menyuruh anak buah akan meminta dengan kata tolong. Jika marah, suasana kantor akan tidak nyaman.
"Oke gua ngerti. Besok gua notice juga ke Sesar masalah ini. Sorry Ram, besok gua klarifikasi ke Mita."
"Rizal spv kasih tau jangan kasih tugas yang berat buat Mita. Jangan nyuruh macem-macem. Di line bakso itu ada air panas, dia malah nyuruh Mita ngitung material balances bakso, emang dia ngga punya tim sampe nyuruh Mita? Kerja dia apaan?? Mita kenapa-kenapa gua pecat tanpa pesangon." (Spv : supervisor) (material balances: memeriksa kesesuaian bahan yang masuk dengan produk yang keluar)
"Iya bos besok gua bilang."
Kini Rama mencari nama Mita kembali.
"Kamu belum tidur kan? Aku telepon lagi ya?"
Tak ada jawaban, bahkan tanda-tanda pesan sudah dibaca pun tidak ada. Emosi nya yang berantakan ia lampiaskan pada kertas dan buku di hadapannya. Hitungan-hitungan bisnis ternyata bisa selesai dalam beberapa menit.
*****
Pagi hari Mita menyalakan ponselnya, semalaman ia menangis. Merasa Rama belum percaya sepenuhnya kepada Mita.
Pak Tarjo, supir baru Mita yang berusia 35 tahun sudah menunggu di depan kosan. Mobil khusus untuk Mita sudah disiapkan di kosan, Pak Tarjo datang setiap pagi ke kosan dengan menggunakan motor miliknya.
"Gile anak magang sekarang, bawa mobil sendiri pake supir pribadi."
Ratih, staff keuangan kantor melihatnya di parkiran. Mita bingung harus menjawab apa, ia hanya tersenyum.
Begitu sampai di ruangan menager dan supervisor, Fery mendekati Mita.
"Mit, kemarin aku ngomong masalah selingkuh itu bercanda jangan kamu anggap serius. Abang jadi marah ke aku karena omongan kemarin. Aku ngga ada niat apa-apa."
Mita meminta Fery untuk tidak menyebut nama Rama selama di lingkungan pabrik agar tidak menimbulkan kecurigaan karyawan lain.
"Kenapa Abang harus marah? Kalau ngga ada niat kan ngga perlu marah. Aku turun ke line dulu Kak."
Fery mendengus dalam hati, ternyata memang sulit bicara dengan Mita.
Mita mengambil pakaian khusus yang harus dipakai semua orang saat mau masuk ke line produksi. Tidak boleh menggunakan aksesoris cincing, gelang, dan dilarang berkuku panjang. Dengan tujuan meminimalisir kemungkinan kontaminasi barang asing ke dalam produk.
"Bakso udah jalan produksi Pak? Saya mulai dari mana? Nimbang adonan dulu ya berarti."
Mita mendekati Pak Rizal untuk menghitung material balances.
"Yang nimbang biarin si Opik aja. Kamu tinggal nyatet, ngga usah megang produk dan jauh dari air panas."
Rizal kini berhati-hati.
"Kamu bukan anak magang beneran ya?"
"Saya anak magang, kuliah di IPB."
"Nama lengkap kamu siapa?"
"Paramitha Zainal."
"Bukan Mita Rachman?"
__ADS_1
Rupanya Rizal curiga Mita anak dari keluarga Rachman. Xixixi.