
"Lu kapan sih pindah?"
Kejadian semalam masih terbayang di memori Fery. Pengantin baru ini sering membuatnya susah bernafas, menjadi menginginkan Rena secara tiba-tiba. Bikin repot.
"Anjir gua diusir dari apartemen gua sendiri. Karyawan ngga tau diri."
"Bukan gitu, kalau pindah kan enak lu mau main di dapur juga urang moal ngurus, kumaha maneh. Pikiran gua jadi kotor melulu kalau liat lu sama Mita. Mata lu anjir kalau natap Mita biasa aja dong."
"Tatapan gua biasa aja kayaknya, otak lu nya aja emang yang ngga beres. Gua panggil GoClean besok biar disikat bersih."
Obrolan saat sarapan antara dua laki-laki di hadapan Mita. Mita hanya mendengarkan, tidak ingin ikut dalam obrolan yang menurutnya absurd.
"Sayang lusa aku ke kampus ada persentasi. Pak Tarjo bisa anter aku ngga?"
"Suami kamu si Tarjo? Aku disini malah nanya Tarjo."
Fery tertawa hampir menyemburkan isi mulutnya.
"Ngakak aing, ngebayangin Tarjo lakinya Mita."
"Bukan gitu. Abang kan sibuk."
"Kampus kamu di Mars juga aku anter, kerjaan ditinggal bentar mah ngga bakal bikin bangkrut."
"Masa sih?"
Mita tersenyum, menyenangkan perempuan memang semudah itu. Meski terdengar gombal dan mustahil namun terdengar menyenangkan di telinga nya.
"Kalau bangkrut salahin Fery."
"Amanlah kantor sama gua."
Mungkin ini sarapan terakhir bersama bertiga dengan Fery, karena besok Rama dan Mita sudah mulai mengisi apartemen baru.
"Besok apartemen atas mulai gua isi. Senang dah lu bebas lagi."
"Yes finally."
Karena apartemen Rama yang baru hanya berbeda lantai, membuat ia tidak repot untuk pindahan. Dan apartemen yang baru sudah full furnished, lengkap dengan furniture sehingga Rama hanya perlu membawa barang-barang pribadi yang bisa dicicil dari apartemen lama ke apartemen baru.
Mita tersenyum, baginya Rama adalah wujud nyata dari kesempurnaan.
"Kamu itu bentuk nyata dari baiknya Allah ke aku. Ngasih suami yang kaya gini."
"Masa sih? Nanti malem yang spesial dong kalau gitu."
Rama tersenyum penuh arti.
"Besok aja lah yang spesial kalau udah pindah ke atas. Duh repot banget se-apartemen sama penganten baru."
Fery tidak ingin ruang tengah dijadikan ruang mesum kembali.
Di kantor pun jika jam istirahat, Mita lebih banyak bersama Rama di ruangan Rama dengan pintu terkunci. Beberapa kali karyawan lain ingin masuk ke ruangan Rama untuk memberikan dokumen namun setelah diketuk tidak ada jawaban, padahal di pintu terpampang tulisan "ada direksi" yang artinya Rama ada di dalam ruangan. Ketika dibuka, pintu terkunci hingga menimbulkan banyak tanda tanya kegiatan yang sedang dilakukan pasangan yang masih berstatus kekasih di mata para karyawan.
Meski Mita merasakan tatapan menyelidik beberapa pasang mata yang memperhatikannya seolah tak suka, Mita tetap tidak ingin membongkar status pernikahannya. Bodo amat !
"Sayang, wisuda tanggal berapa?"
Mita teringat akan wisuda Rama. Seperti kebanyakan anak lainnya, Mita ingin membahagiakan keluarganya. Ia ingin mengajak keluarga nya ikut ke Amerika namun Mita bingung cara mengatakannya. Mita tidak mau disebut tidak tahu diri, atau aji mumpung.
"Pertengahan Desember. Kenapa?"
Sambil menunggu pesanan pizza yang sudah Mita pesan melalui ojek online datang, Mita dan Rama beristirahat di dalam kamar. Rama mengusap lembut kepala istrinya yang tengah bersandar di dalam pelukannya.
"Kalau Bapak, Ibu sama Yoga ikut boleh?"
Mita terlihat hati-hati dalam bicara.
"Aku pakai uang dari rekening aku kok, ngga minta pakai uang Abang. Ya meski dari Abang juga, tapi aku bakal hemat besok-besok biar ngga minta uang lebih ke Abang kalau belum waktunya gajian. Aku akan rajin masak biar hemat."
Mita melanjutkan bicara nya dengan tergesa, memotong Rama yang ingin menjawab pertanyaan nya.
"Kamu nganggap aku pelit sama keluarga istri?"
Rama melepaskan pelukannya seolah tersinggung lalu bangkit dari tempat tidur.
"Bukan gitu, aku takut ngeberatin Abang."
"Kita suami istri Mit, bukan orang lain. Kalau Bapak Ibu mau ya ajak aja. Aku ngga kepikiran kesana bukan berarti aku ngga mau ngajak, bukan aku pelit. Di otak aku isinya banyak hal, hal-hal kecil ngga sempet aku pikirin."
Rama keluar kamar, Mita merasa bersalah atas ucapannya barusan yang telah menyinggung Rama.
"Sayang aku minta maaf."
Mita mengucapkan maaf melalui whatsapp, karena kini Rama pindah ke ruang tengah bersama Fery.
Mita pun keluar kamar untuk melihat Rama yang sedang tertawa bersama Fery. Mita mendekati Rama lalu duduk di samping suaminya tersebut.
"Aku mau bikin milkshake, Abang mau ngga?"
Rama melepaskan rangkulan yang Mita berikan untuknya.
__ADS_1
"Aku mau pake strawberry."
Fery yang menjawab, Rama tetap fokus pada ponselnya sejak Mita datang. Padahal tadi sedang haha hihi dengan Fery.
Malam ini terasa panas, membuatnya berinisiatif membuatkan Rama milkshake.
"Fer pernah ngga gua pelit?"
Mita diam, Rama meletakan ponselnya di meja masih marah.
"Pelit masalah duit gitu? Ngga lah, kalau bukan lu yang bayarin mana bisa gua sama Rena ke Amrik nginep di hotel bintang lima seminggu. Buat kaum mendang mending kaya gua, mending buat renov rumah atau ganti mobil. Gila 100 juta buat jalan-jalan seminggu doang."
Mita terdiam, mendengar fakta yang baru ia tau.
"Denger ngga? Jangan sekali-kali lagi ngomongin uang sama aku. Aku tersinggung."
"Kenapa sih?"
Fery tidak mengerti arah pembicaraan Rama.
"Bilang pelan-pelan, pengen ajak Ibu Bapak Yoga. Ngga usah pake uang kamu, uang aku juga ada. Keluargaku apa ada yang pelit?"
Rama melanjutkan ucapannya tanpa mendengarkan Fery. Hingga Fery paham yang terjadi, karena ia tau betul Rama paling tidak suka disinggung masalah uang.
"Mita mau milkshake? Biar aku yang bikinin, biar tetep adem, jangan ikut panas."
Fery bangkit menuju dapur, membiarkan Rama dan Mita menyelesaikan masalah keuangan rumah tangga yang bisa menjadi masalah besar jika tidak diselesaikan.
"Kamu kan tau kerjaan aku di kantor gimana, kadang ke Depok, Bekasi, muter-muter. Kamu juga yang nyuruh aku begitu kan? Kontrol semua. Jadi hal gituan ngga kepikiran di otak aku tapi bulan berarti aku pelit."
Mita mendengarkan dalam diam, tidak berani angkat bicara.
"Wajar ngga kalau aku ngga kepikiran untuk ngajak Bapak Ibu?"
"Tapi aku ngga bilang Abang pelit. Aku cuma bilang takut Abang keberatan."
"Keberatan karena apa? Kalau ngga pelit, ngga akan keberatan lah kalau ada uangnya. Kamu kan tau uang aku ada, kalau kamu takut aku keberatan berarti kamu ngira aku pelit. Fery aja aku biayain bulan madu nya, apalagi keluarga kamu. Mau berapa lama disana? Seminggu? Sebulan? Ajak sekalian om kamu."
"Ngga usah sama Om, saudaraku yang lain nanti iri. Abang jangan marah, abis ini aku akan bersikap selayaknya istri bos kalau gitu biar Abang ngga tersinggung. Pulang ke Cianjur, mau ngajak Ibu shopping."
Mita merajuk dengan memeluk Rama demi mencairkan emosi Rama.
"Pulang di anter Tarjo. Harga diri aku ya Allah."
"Berlebihan." Mita menelusup ke ketiak Rama dan memeluknya kembali.
Rama mengambil ponselnya yang tadi ia letakan di meja lalu menekan tombol untuk menelpon seseorang.
"Siap Pak."
Selesai, Rama tidak mau mendengar Tarjo mengucapkan apapun lagi.
"Apa lagi? Kalau mau apa-apa bilang. Aku bukan dukun."
"Kamu suaminya siapa sih? Kok baik banget."
"Sana ah, aku mau kerja."
"Ngga mau, aku mau disini."
"Mau aku telanjangin disini?"
Mita tertawa melihat Rama yang masih kesal. Hatinya bahagia memiliki Rama sebagai suaminya.
"Fer mana minumannya? Ngomel bikin gua haus."
"Makanya jangan ngomel."
"Siapa yang bikin kesel? Laporan kamu beresin, selesai kamu wisuda kita umroh semua."
"Ikut dong bos."
Fery membawa tiga gelas milkshake yang terlihat menggoda dan dua kotak pizza yang sudah sampai saat ia membuat minuman di dapur.
"Ngga ada, lu jagain kantor. Kerja aja yang rajin, mulai tahun depan ada pemilihan karyawan teladan hadihnya umroh suami istri."
"Kurang rajin gimana gua bangsatt, perjanjian awal kerja gua libur seminggu dua kali inget ngga lu nyett? Boro-boro seminggu dua kali, kemarin-kemarin Rena sering kesini karena gua ngga bisa balik. Awas aja kalau bukan gua yang dapet hadiahnya."
"Mulai itungan... Silakan dihitung semuanya..."
Rama mengaduk milkshake miliknya.
"Pasti kesitu kan bahasannya. Pokoknya gua pengen umroh ya bos. Ngga apa-apa gantian kalau lu udah pulang."
"Naikin dulu penjualan. Kalau tahun depan bisa naik minimal 20% boleh lah umroh akhir tahun depan."
Fery mengingat-ngingat angka penjualan tahun ini yang akan segera tutup tahun.
"Bener lu ya, gua pegang omongan lu."
"Bawel lu."
__ADS_1
"Sayang, Fery pegang omongan aku, kamu ngga mau megang yang lain?"
Tatapan Fery kembali melengos. Obrolan mesum akan ia dengarkan lagi.
"Iya nanti aku pegang yang lain."
Mita membuka kotak pizza yang baru saja sampai. Bahagianya ia malam Ini, membayangkan keluarga nya dan keluarga Rama berlibur bersama.
"Makasih ya sayang, jangan marah lagi."
Mita mengecup Rama yang dibalas dengan buas.
"Ehemmm gua masih disini ya tolong diperhatikan."
Namun keduanya tidak menghentikan aktivitas panas nya. Seolah tidak mendengar ucapan Fery.
"Aing geus teu kudu nonton dina CD deui, live performance." (gua ngga perlu nonton dari CD lagi, pertunjukan live)
*****
Saat Adit sedang asik belajar sambil mengerjakan tugas dengan tangan menggenggam onigiri bongo yang katanya onigiri no.1 di Jepang, ponsel Adit bergetar ada pemberitahuan instagram.
"Tolong jaga Sena. Gua nitip Sena jangan nyakitin dia."
Adit tersenyum sinis melihat nama dalam akun yang mengirimkan DM ke Instagram miliknya. Ia teringat Rama yang juga pernah menitipkan Mita, lalu diambil kembali saat sudah sangat mencintai Mita.
"Makasih udah diingetin. Tapi lu harus tau, Sena gua jagain buat gua sendiri bukan buat orang lain karena dia cewek gua sekarang."
Hari itu Adit sedang tidak ada kuliah, ia menghubungi Sena yang sepertinya masih di kelas karena Whatsapp dari nya belum Sena baca.
"Password IG kamu apa?"
Adit menagih janji Sena yang katanya ingin memberikan akun instagramnya. Adit penasaran dengan isi DM yang dari mantan Sena yang bernama Damara. Yang menurutnya masih sangat mencintai Sena.
Sena baru membalasnya 3 jam kemudian.
"Maaf Mas aku masih ada kelas. Bukan12tiga."
Dengan gerak cepat Adit membuka akun Instagram milik Sena.
Dengan Damaragunawan berada di urutan paling atas dalam list DM nya dengan 10 pesan belum dibaca. Artinya laki-laki ini masih sering mengirimkan DM untuk Sena.
"Aku liat-liat DM kamu ngga apa-apa?"
Lama sekali Sena membalas, hingga akhirnya Adit membacanya tanpa menunggu balasan Sena.
"Semua yang udah aku lakukan ngga berarti apa-apa buat kamu?"
"Aku nyesel kenapa kuliah disini, rasanya percuma aku kuliah di kampus impian aku tanpa kamu ada di hidup aku."
"Aku cuma kangen kamu Sen."
"Kamu serius sama cowok itu?"
"Aku ngga yakin dia bisa cinta kamu lebih dari cinta aku ke kamu."
Hatinya panas membaca pesan yang kesekian.
"Kamu bakal nyesel Sen udah ninggalin aku untuk cowok yang ngga aku yakin bisa sayang banget sama kamu."
"Dia banyak fans nya, apa kamu yakin dia bisa setia sama kamu padahal kamu jauh? Kalau laki-laki normal dia akan butuh perempuan di sampingnya apalagi dia mahasiswa S2 Sen yang umurnya di atas kita."
"Apa kamu pernah buka Instagram dia dan baca isi DM nya? Dia masih suka sama yang namanya Paramitha. Bahkan password dia belum dia ganti, mantannya yang namanya Paramitha masih tau password instagram nya."
Adit tetap membaca pesan dari Damar dengan wajah yang mengeras. Bagaimana Damar bisa tau tentang Mita?
"Bangsatt lu niat ngehasut Sena." Adit memukul meja belajar ya hingga laptop dihadapannya bergeser jauh.
"Kamu harus hati-hati, yang harus kamu tau cuma aku yang cinta tulus sama kamu."
Tak sabar Adit mengetikan sesuatu.
"Gua Adit, lu ngga usah ganggu Sena lagi."
Lantas Adit mengetikan sesuatu di ponselnya kepada akun yang sama dengan akun yang mengirimkan Sena banyak DM yaitu @Damaragunawan.
"Lu tinggal dimana?"
Baginya Singapura tidak jauh. Setelah mengetahui ada laki-laki yang sangat mencintai Sena, Adit akan melakukan apapun untuk Sena sekarang.
Adit juga membaca semua isi DM dari akun pria. Total ada 9 DM namun hanya 3 yang Sena respon.
"Kamu ngga usah bales DM dari cowok-cowok lagi."
Ego nya sebagai laki-laki muncul, ia tidak ingin Sena merespon laki-laki yang mendekatinya.
*****
Halloo pembaca setia, Selamat Hari Senin. Vote yuks ❤️
Jangan lupa like & Komen juga yaaa
__ADS_1