
Notifikasi instagram masuk ke ponsel Adit saat ia tengah dalam acara Parade Budaya Indonesia yang diadakan pada Festival Pelabuhan Kesennuma di kota Kesennuma Prefektur Miyagi.
Adit bersama Duta Besar RI untuk Jepang, Heri Heryawan menaiki mobil terbuka untuk arak-arakan. Festival tersebut diselenggarakan setiap tahun oleh pemerintah Jepang pada musim panas sejak 1951 untuk merayakan wisata laut yang aman dan hasil tangkapan yang melimpah.
Sejak tahun 2003 Kesennuma Minato Matsuri selalu dibuka dengan parade budaya Indonesia yang diikuti oleh diaspora dan para sahabat Indonesia-Jepang. Dan tahun ini melibatkan para penggiat media sosial termasuk selebgram sebagai media promosi. (diaspora : warga negara yang kini menetap di luar negaranya, dalam hal ini WNI yang menetap di Jepang).
Dalam parade ini KBRI Tokyo menampilkan tari barong, ondel-ondel, ogoh-ogoh hingga tari Bali di atas kendaraan hias.
Adit datang bersama Hiro untuk membantunya membuat konten keseruan acara hari ini untuk ia upload di akun instagram.
Selesai mendampingi Pak Dubes menggunting pita sebagai simbiolis dibukanya festival, Adit membuka ponselnya untuk melihat notifikasi masuk. Semula ia mengira notifikasi untuk akunnya, ternyata notifikasi story instagram Sena.
Sengaja Adit menyalakan lonceng akun instagram Sena, agar saat Sena update sesuatu, Adit bisa langsung tahu.
Jantung Adit berdebar tak karuan saat matanya fokus pada kunci motor yang tidak ia kenal ada di foto unggahan Sena.
Setengah berlari Adit mendekati Hiro yang sedang merekam video dan berbisik menggunakan bahasa Indonesia. Sengaja Hiro mengambil kelas Bahasa Indonesia agar bisa belajar lebih intensif.
"Tolong kondisikan dulu, gua mau telepon bentar."
Hiro yang sedang memegang kamera vlog mengangguk, mengerti ucapan Adit. Pasti Sena.
Adit tidak bisa menahan apa yang ada dipikirannya. Setelah menepi ke salah satu sisi yang sepi, Adit mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Kak, dimana?"
Tanpa basa basi Adit menelpon Rama yang saat itu masih di pabrik.
"Kenapa emangnya? Lu yang dimana? Kok ada suara gamelan?"
"Gua lagi ada Festival Budaya Indonesia di Tokyo. Coba cek instagram, gua liat story Sena. Kayaknya dia lagi makan sama cowok. Lu ngga lagi sama Sena kan?"
"Cowok? Bentar."
Rama memeriksa instagram nya. Lalu melihat story yang Adit maksud. Sama seperti Adit, fokusnya langsung mengarah pada sebuah kunci dengan logo merk motor mahal, berbeda dengan kunci motor biasa. Kecil kemungkinan kunci motor tersebut milik seorang perempuan perempuan. Karena kunci tersebut adalah kunci motor balap.
"Kak?"
"Gua lagi di pabrik. Sena lagi makan sama temennya kali. Sekarang gua sibuk banget, ngga bisa kontrol dia 24 jam. Tapi gua rasa dia udah dewasa, udah tau apa yang baik untuk dia, dan gua percaya. Lu tanya aja sendiri dia sama siapa."
"Gitu ya..."
Suara Adit melemah, blank harus bagaimana ia merespon.
"Bukannya lu udah ngelepasin Sena? Berapa bulan kemarin Sena nelpon Mita sambil nangis-nangis."
"Ngga kaya yang ada dipikiran lu, Kak."
"Ya kalau gitu dia bebaslah mau jalan sama siapa, asal bukan ngamar. Dia tau yang terbaik buat dia."
Insting sebagai pelindung adik tiba-tiba muncul pada diri Rama.
__ADS_1
"Bukan gitu. Maksudnya gua mau fokus dulu kuliah biar cepet beres."
"Fokus tapi masih ikutan festival ngga jelas. Fokus apanya? Gua kuliah dulu bener-bener ngga ikut kegiatan apapun biar cepet beres, nikahin Mita. Lu mah omdo. Jangan-jangan ada serep lu kan disana?"
"Lah, di sini kan gua sekolah sambil kerja bukan main. Gua dikontrak KBRI buat jadi BA nya. Kerja, nabung juga buat adek lu. Walaupun break, gua masih auto debet ke rekening dia tiap bulan. Masalah komitmen mah kuliah beres gua langsung lamar adek lu. Ngga ada satupun cewek yang deket sama gua disini."
Adit emosi, mengetahui Sena pergi dengan laki-laki lain. Bukan menenangkan, Rama malah mengatakan hal yang memancing emosinya.
"Ngga bisa lah kaya gitu. Adek gua ngga butuh duit lu, dia butuh lu nya. Dongo apa gimana sih, heran." (Dongo : bodoh)
Rama memutuskan panggilang telepon dari Adit. Rama kesal saat pertama kali tau Adit menyudahi hubungan dengan adiknya. Padahal ia dan keluarganya sudah mempercayai Adit. Apapun istilah yang Adit gunakan, di matanya Adit tetap memutuskan Sena.
Sebagai kakak, ada perasaan tidak rela saat itu. Namun Mita menengahi agar Rama tidak perlu sampai mencampuri urusan pribadi Mita dan Adit.
"Bangs*t malah bikin emosi."
Adit memegang kepalanya. Darahnya terasa mendidih, kepalanya seolah berputar-putar. Masalah datang disaat yang tidak tepat, umpat Adit.
Adit tiba-tiba teringat satu nama yang pernah Sena notice.
"Anj*ng gua lupa lagi akunnya."
Adit langsung cek list following Sena. Tidak ada yang bernama Ricky. Lalu Adit mengecek list followers Sena, yang jumlahnya lebih banyak dari following nya.
"Alay amat orang, username aneh-aneh. Bikin susah gua cari nya."
Adit bergumam sendiri. Tanpa Adit sadar, ada mata yang memperhatikannya sejak tadi. Mendekati Adit karena terlihat sedang marah.
Silvi mendekati Adit dengan wajah yang merah.
"Eh ngga. Gimana hari ini? Lumayan kan antusiasme pengunjung?"
Adit mengalihkan lembicaraan.
"Brand Ambassador nya aja Mas Adit. Tahun lalu ngga semeriah ini."
"Tahun lalu kamu udah magang di KBRI?"
"Tahun lalu aku belum magang, tapi datang ke acaranya. Ngga percuma kita nambah budget untuk bayar selebgram mahal."
Awalnya Adit tidak mau menarif untuk event kali ini. Namun Pak Dubes meminta secara profesional, sehingga tuntutan kepasa Adit lebih besar.
"Suka berlebihan. Eh mau nanya dong."
"Perempuan kalau makan sama laki-laki, biasanya ada hubungan ngga?"
"Ngga selalu sih. Rame-rame atau berdua ?"
"Kalau berdua?"
Hati Adit kembali berdetak menantikan jawaban Silvi.
__ADS_1
"Kemungkinan besar ada hubungan, minimal lagi PDKT."
Bangs*t, nyesel nanya, batin Adit mengutuk jawaban Silvi.
Demi memperbaiki mood nya, Adit mendekati Hiro yang masih merekam kegiatan hari ini.
"Kenapa? When you call you look angry." (Pas lagi nelpon lu keliatan marah)
Meski mengerti ketika Adit mengucapkan bahasa Indonesia, namun untuk menjawab dengan bahasa yang sama, Hiro masih belum PD.
"Gua puyeng sama Sena."
"Puyeng?"
Hiro tidak mengerti dengan maksud Adit.
"Pusing, gua pusing."
Adit meninggalkan Hiro yang masih bertugas, lalu berlari kecil hendak bergabung kembali di acara yang ditunggu-tunggu oleh diaspora dan sahabat Indonesa-Jepang setahun sekali.
*****
Selesai acara makan dan ngobrol dengan Ricky, Sena langsung pulang. Kekenyangan hingga tertidur pulas di dalam mobil. Bahkan dua panggilan dari Adit tidak sempat ia angkat.
Apa harus nelpon balik?
Tumben amat !
Meski dalam hatinya bertanya-tanya, namun isi hati tidak bisa dibohongi, Sena senang.
Tak lama, ponselnya berdering kembali nada pesan masuk.
"Non, dimana? Telepon aku ngga diangkat. Lagi sama orang?"
"Lagi di jalan mau pulang ke rumah. Tadi ketiduran, maaf ngga keangkat. Kenapa?"
"Lagi sama siapa?"
"Di jemput Pak Karman."
"Yakin?"
Sena mengirimkan PAP kondisi jalanan dari dalam mobil.
"Muka kamu nya ngga ada."
"Ngga mau. Kenapa nanya terus dari tadi?"
"Ngga. Hati-hati di jalan. Kamu harusnya tau jalan pulang. Jangan salah jalan dan salah orang."
Sena terdiam, menerka-nerka maksud pesan terakhir Adit.
__ADS_1