
Setelah amunisi perut terisi full, kami pun langsung tancap gas mencari kosan dekat kampusku.
''Aku parkir disini aja kali ya. Biar kita enak lihat-lihat kosannya.'' aku hanya mengangguk, dia pasti lebih berpengalaman jadi aku nurut saja.
Kami pun melihat kosan putri di sepanjang jalan. Rama menyarankan aku memilih kos khusus putri agar aku lebih nyaman. Dia bertanya sangat detail kepada setiap pemilik kosan. Mulai dari harga, sumber air, kamar mandi, keamanan, kebersihan, sampai peraturan kosan terkait jam malam.
Untunglah ada Rama kalau tidak aku akan bingung. Dia pasti sudah pernah kos sebelumnya, jadi tahu hal-hal penting saat mencari kosan.
Setelah melihat 5 kosan untuk perbandingan aku cocok dengan kosan ke tiga yang kami lihat. Selain murah, kamarnya cukup bersih walaupun kamar mandinya di luar tapi tidak masalah karena penghuni kosan perempuan semua. Tapi Rama memilih kosan ke dua karena memiliki kamar mandi dalam dan ada jam malam sampai jam 10 lewat dari itu gerbang kosan akan dikunci.
''Kosan kedua lebih mahal, kosan ketiga sudah cukup untuk aku.''
''Dengan perbedaan harga 1 juta kamu udah dapet kosan kamar mandi dalam dan wifi untuk satu tahun. Kamu nggak perlu ngantri kalau mau ke toilet. Ngantri toilet itu nggak enak kalau pas kita kebelet atau buru-buru. Nggak perlu ke warnet atau nyari wifi di luar. Jam malam juga penting karena kosan akan lebih aman. Barang-barang kamu dikamar aman. Dan yang terpenting kamu nggak bisa keluyuran malam-malam.''
What? Orang ini, kalau ngomong suka seenaknya.
''Ya nggak lah jam 10 ngapain aku masih di luar. Ronda?'' Rama tertawa mendengar omelanku. Aku tak terima dia curiga padaku.
''Gimana fix ya kosan kedua?'' tanya nya tetap dengan gayanya yang sedikit memaksa.
''Susah deh ngomong sama orang kaya, 1 juta itu uang Rama. Budget dari Ibu nggak cukup.'' aku mulai kesal karena dia tidak peka.
''Oh itu, Mama pelit banget sih ngasih uang kosan.'' gerutunya kesal.
''Nggak boleh gitu, Ibu sudah baik banget sama aku.''
''Aku tambahin 1juta.''
__ADS_1
''Aduh jangan gitu. I'm fine dengan kosan ketiga.''
''Tenang aja, kamu tetap harus ganti dengan cara belajar yang rajin dan jangan pacaran sama cowok lain. Kalau sama aku boleh.''
Hah? Peraturan darimana itu. Rama menatapku serius.
''Sebagai seorang konsultan, aku lebih ngerti prioritas dan faktor-faktor penunjang dalam mengambil keputusan. Dan aku nggak suka dibantah. Sekarang kita ke kosan yang kedua tadi.''
Kalau sudah begini aku menyerah, sepertinya hari-hari ku ke depan akan penuh dengan aturan mutlak dari Rama.
Kami pun kembali ke kosan kedua tadi. Rama mengambil tanganku lalu digenggamnya.
Sadar atau ngga sih ini orang? batinku.
Akupun pusing kembali. Tapi aku melayang, tolong sadarkan.
''Aku kan udah bilang, aku nggak kenal anak angkat Mama yang lain. Dan nggak pengen kenal juga.''
''Kenapa nggak pengen kenal?'' tanyaku heran.
''Anak yang lain namanya Ahmad, Raka, Fahm. Ngapain juga aku ajak kenalan, rugi dong.''
''Ealaahhh si Bambang.'' Kami pun tertawa bersama. Terasa tangan kirinya mengacak-ngacak rambutku.
Hatiku mohon jangan baper rintihku dalam hati.
Rama ini sejenis fuckboy dimana kita harus tebel kuping denger rayuan maut.
__ADS_1
Setelah membayar DP untuk kosan kami pun pulang. Sisanya aku bayar saat memasukan barang hari Minggu besok.
Tak terasa sudah jam 4 sore. Kami memutuskan untuk pulang, karena Rama harus mengantar Sena nanti malam.
''Aku antar sampai naik bus ya. Kalau sudah sampai rumah kabari aku. Sampaikan salam ke Bapak dan Ibu.''
Ah salam. Apa harus aku sampaikan? Padahal mereka tidak tahu aku pergi dengan Rama.
''Terima kasih untuk hari ini ya Ram. Semoga kamu dan keluarga kamu sehat selalu. Semoga setelah lulus nanti aku bisa membalas semuanya.''
''Balas apa sih? Pantun kali di balas. Kamu balas cinta aku aja udah cukup.'' Ucapnya sambil tersenyum.
''Kalau semua konsultan kaya kamu, client GR semua yang ada. Jago gombal.'' ucapku tak menanggapi ocehannya.
''Aku sayang sama kamu Mit.''
''Aduh buaya darat dari mana sih ini, berapa cewek yang udah kamu taklukin?'' walaupun dalam hati deg-degan kaya mau copot, tapi harus tetap bisa kondisikan.
''Sedih amat dibilang buaya sama si Neng cantik.''
Mulai ngaco, aku langsung ke dalam bus agar Rama segera pulang. Khawatir Sena menunggu.
*****
By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini πΊπΊ
Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back π€π€
__ADS_1
Semoga kita bisa berkawan rapat πΊπΊπΊπΊ