Cinta Mita

Cinta Mita
Pemilik kosan


__ADS_3

Rama


Sejak obrolan nya terakhir dengan Mita beberapa minggu lalu yang berakhir dengan ngambek-ngambekan, ia memilih menjauh beberapa waktu.


Hari ini, urusannya sudah selesai hingga banyak waktu ia pakai untuk merenung tentang hubunganya ke depan dengan Mita.


Waktu keberangkatan yang tinggal beberapa hari lagi, ia memutuskan untuk mendatangi kosan Mita.


Sesampainya di kosan Mita tampak banyak terparkir sepeda motor dan sepatu yang betebaran menandakan di dalam kosan sedang banyak orang.


Ia mengambil ponselnya kemudian dicari kontak perempuan tersebut.


''Mit, kamu dimana? aku di depan kosan.''


''Bentar aku keluar.''


Rama pun turun dari mobil menuju pintu gerbang kosan. Dilihatnya Mita menggunakan dress panjang motif floral, cantik. Kecantikannya bertambah sejak beberapa minggu lalu. Apa mungkin karena sudah bercampur rindu?


"Chat, telepon, video call aku kenapa nggak pernah kamu jawab?"


"Maaf aku udah mulai sibuk." Mita menunduk tak membalas tatapannya.


"Sesibuk apa?"


"Ada apa kesini? Ada yang penting?"


"Liat aku... Kamu sibuk apa? Ngga suka aku kesini?''


Mita mengangkat wajahnya, semburat merah jambu di pipi nya mampu ia tutupi.


"Aku nggak bisa ngobrol lama, aku lagi ngerjain tugas kelompok di dalam sama anak-anak. Aku nggak enak kalau terlalu lama ninggalin mereka."


"Kamu lanjutin, aku tunggu."

__ADS_1


"Bakalan lama, kalau bosen kamu pulang aja."


"Aku tunggu." ia mengembil ponselnya tidak menghiraukan omongan Mita.


Terlihat pesan masuk dari Fima, teman sekaligus orang kepercayaannya di "Treehouse" salah satu restoran yang ia miliki di daerah Tangerang. Mita mengabarkan bahwa besok akan ada rapat pemegang saham di restoran tersebut.


''Besok saya ke kantor.''


Sudah sejam ia menunggu Mita yang tidak kunjung menampakan batang hidungnya. Tak lama keluar seorang laki-laki muda berkemeja flanel, mungkin teman sekelas Mita.


"Mas, Mita masih di dalem? Masih kerja kelompok ya?"


"Mita masih ngerjain tugas, Mas yang katanya kakak angkatnya Mita ya?"


Oh... ia baru tau ternyata Mita mengenalkan ia pada temannya sebagai "kakak angkat"


''Belum beres ya?'' ia tak berniat menanggapi hal lain selain keberadaan Mita di dalam.


''Masih ngerjain tugas. Mita nggak usah dijagain, ada saya.'' laki-laki itu menepuk punggungnya lalu pergi.


Laki-laki itu pergi begitu saja sambil tertawa sinis.


"Bangsatt"


Ia mencoba menahan emosinya,


"Kamu belum pulang?" Mita keluar dari dalam kosannya.


''Tadi ada laki-laki keluar dari dalam kosan kamu. Dia siapa?''


''Teman. Kamu masih disini?"


Ia yang masih dibawah emosi meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Aku udah bilang, aku tunggu. Kamu kenapa sih nyuruh aku pulang dari tadi?''


"Rama maaf, aku harus ngomong ini. Kamu lebih baik ngga usah kesini lagi. Kamu jalanin hidup kamu seperti sebelum ketemu aku. Anggap kita nggak pernah kenal."


Mita membalikan badannya, namun Rama menahan dengan menarik tangannya.


"Kamu ngomong apa sih? Mana bisa aku kaya gitu."


"Maafin aku Ram... Makasih juga selama ini kamu udah baik sama aku, banyak bantu aku. Maaf kalau udah bikin kamu kecewa."


"Kamu mau nyakitin aku? Nggak gini caranya. Kamu kenapa sih? Salah aku apa?" Ia merasa frustasi sendiri. Diacak-acaknya rambut yang sudah ia sisir rapi saat akan berangkat tadi.


Obrolan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya dengan Mita. Seperti dihantam batu bertubi-tubi.


"Ikuti kata-kata orang tua kamu, itu yang terbaik untuk kamu. Maaf aku ngga bisa."


Ia melihat bulir halus menetes dari mata perempuan cantik ini. Ia menyadari sesuatu dari ucapaan terakhir Mita. Ia ingin memeluk, namun laki-laki yang tadi ia lihat, kini menahannya dan menarik tangan Mita.


"Anjing lepasin Mita." teriaknya marah melihat laki-laki lain memegang tangan Mita.


''Masuk Mit.'' ia perhatikan laki-laki itu begitu lembut terhadap Mita yang membuat darahnya semakin mendidih. Lebih mendidih dibanding melihat Mita dengan temannya dari Cianjur waktu itu.


"Dia udah ngga mau sama lu bos. Harga diri lu sebagai laki-laki dimana hah maksa perempuan?"


"Bacot, gua ngga ada urusan sama lu." Laki-laki yang disebut sebagai teman oleh Mita tak luput dari tatapan marahnya.


"Lu pergi dari sini, orang-orang pada ngeliatin kesini. Gua ngga mau ada rame-rame disini. "


"Kalau gua ngga mau, mau apa lu? Lu siapa??" tangannya mengepal sudah siap mendaratkan tinju nya untuk laki-laki sok ini.


"Ini kosan punya gua. Gua bisa panggil keamanan sini."


"Bangsatt." Rama menendang meja disamping kirinya.

__ADS_1


Ia pun meninggalkan tempat itu dengan amarah luar biasa. Harus kemana ia salurkan amarahnya ini?


__ADS_2