
Sepulangnya Niken, Irma dan Indah, ia dan Adit masih asik membicarakan hal-hal receh.
''Aku baru sadar kamu makan telur nya terakhir. Sengaja apa gimana?" Adit melihat mangkoknya yang masih berisikan telur. Sementara mangkoknya sendiri tersisa sedikit kuah ayam bawang.
''Merhatiin aja Mas." ia tersenyum malu.
"Aku kalau makan mie pakai telur selalu makan telur nya terakhir. Enak gitu kaya ngemilin telur rasa mie. Iya nggak sih?"
Adit tertawa lepas. Tadi saat masih ada teman-temannya, ia tak selepas dan seceria ini. Sisi lain dari Adit.
"Nggak ah, kayaknya kamu doang yang kaya gitu." Adit yg keheranan tersenyum manis. Memang manis.
"Masa aku doang yang gini?"
Sejenak ia melupakan Rama yang beberapa hari ini mengganjal pikirannya. Ingin rasanya ia menanyakan keadaan Rama setelah ribut dengan Adit tadi, tapi ia tahan sekuat tenaga. Jangan sampai kepo setitik rusak move on sebelanga. Jangan.
''Kamu Cianjur bagian mana nya?"
"Cianjur bagian Gekbrong."
Adit kembali tertawa. Lucu kah?
''Kenapa ketawa?'' ia ikut tersenyum, menyenangkan juga ngobrol dengan Adit.
"Sorry sorry, lucu nama tempatnya."
Bisa-bisanya ngetawain Gekbrong, ucapnya dalam hati.
"Aku mau dong ke Cianjur pengen liat sawah di sana sampai bisa ada beras Cianjur yang pulen itu dan menghasilkan gadis desa kayak kamu yang ngga kalah pulen." lanjutnya Adit.
"Ah bosen gombalannya beras Cianjur terus. Yang lain atuh harus kreatif." ia balas menggoda Adit.
"Cowok yang tadi gombalannya beras Cianjur juga?" Adit mengangkat alisnya.
"Jadi ke yang tadi. Lupain lupain lupain." ia jadi seterbuka ini kepada orang lain. Tak ingin membahas Rama.
"Wajar kalau kamu suka, mapan, tampan, dermawan, apa lagi?"
"Beda Mas, aku sama dia beda. Kaya gini nih." ia menunjuk ke arah bawah dan ke atas langit.
"Gitu ya...'' Mereka terdiam beberapa saat. Adit yang memang sedikit kaku kini merasa canggung.
"Mas Adit asal mana?" ia memecah kesunyian dengan mengalihkan pembicaraan.
"Aku blasteran." dengan gaya sok cool nya.
"Blasteran mana? Korea Jepang gitu ya?" melihat dari gaya nya yang sedikit mirip Oppa Korea.
"Garut Banyuwangi, jauh banget sampe Korea."
"Ih aku kira beneran blasteran luar negeri." ia malu sendiri.
__ADS_1
"Emang aku seganteng apa sampe nyangka dari Korea? Mirip Jungkook atau Sehun?" Ia menutup wajahnya malu. Adit bergaya dengan memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri.
Kali ini ia harus kembali hati-hati, pesona Adit tidak kalah dengan Rama.
"Mas ARMY sekaligus EXOL juga ternyata. Aku terkejut." ia berlagak menutup menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Aku suka nyimak aja anak-anak perempuan di kelas ngikutin banget boyband. Kalau aku tetep Tzuyu, cocok nggak aku sama Tzuyu?"
Oh.. ternyata di lingkungan nya banyak perempuan. Anak Jakun pasti cantik. Hafal girlband pula. Tobat.
"Cocok mas. Ke Korea yuk, Mas ke Tzuyu aku ke Taehyung."
"Ke KUA aja gimana?" Adit bingung sendiri dengan yang ia ucapkan, bisa se-frontal itu gombalannya. Layaknya seorang professional.
"Mas jangan bilang kaya gini juga ke semua cewek." ia geleng-geleng kepala dengan gombalan tingkat dewa nya Adit, luar biasa di luar kepala. Apa karena sudah terbiasa?
"Enak aja, aku suka perempuan baru dua kali. Sama mantan dan sama kamu."
"Kita ngga usah ke Korea. Tzuyu sama kamu mah kalah. Kalau aku sama Taehyung ya kalah aku. Jadi kamu sama aku aja."
Ia rasa ada yang salah dengan wajahnya sekarang. Entah hidungnya yang mengembang kempis atau wajahnya yang memerah. Tolong jangan bereaksi aneh, harapnya dalam hati.
Tak lama datang Bu Wati dengan sapu lidi bergagang panjang yang hendak menyapu taman belakang.
"Ealah jadi ini yang bikin Mas Adit betah disini."
Ia rasa muka nya benar-benar memerah sekarang, entah semerah apa dipergoki Bu Wati yang sedang di gombali Adit.
"Iya Bu, Mas Adit gombal terus dari tadi. Untung aku udah strong dari gombalan laki-laki."
"Yah gagal dong gombalan aku. Saya pulang ke Depok ah Bu." Adit berlagak ngambek, namun tak lama tertawa.
"Kenapa nggak kuliah di Bandung Mas? Kan keren." untuk kedua kali nya ia mengalihkan pembicaraan.
"Keterimanya di Jakun mau gimana?"
"Jakun tetap keren sih. Mahasiswi nya juga bening-bening. Aku juga ditolak ITB , sakit ya rasanya." ia pura-pura meringis memegang dadanya.
"Disini pelarian doang? Emang kerenan ITB sih."
"Parah, kalau ngomong suka bener."
Mereka tertawa bersama, tidak sadar beberapa penghuni kos memperhatikan kedekatan mereka berdua.
"But I'm proud to be a part of IPB."
"IPB keren juga, membangun negeri." ia tersenyum mantap.
"Kalau membangun rumah tangga sama aku mau nggak?" lanjutnya sambil tersenyum puas.
Mita menutup wajahnya, sudah tidak tahan lagi dengan gombalan receh nya Adit. Kalau Rama tau, rasa-rasanya Adit sudah jadi perkedel.
__ADS_1
"Aku dulu keterima juga di IPB. Cuma ambil Jakun, tau ada kamu disini aku bakal ambil IPB. IPB aja nggak nolak aku, kamu juga jangan nolak aku."
"Pepet terus Mas. Jangan kasih kendor."
Bu Wati ternyata sambil menyimak obrolannya dengan Adit. Tipe ibu-ibu yang suka ghibah di tukang sayur di kampungnya.
Ia jadi cengar-cengir sendiri. Beda rasanya digombalin Rama dan Adit.
"Malah senyum-senyum."
"Aku blank, udah ah.
"Mit, boomerang dong. Ketikin instagram kamu, biar tak follow." (tak : aku)
Ia pun mengetik nama nya di pencarian Instagram milik Adit. Adit menariknya untuk berfoto bersama. Ia sudah tidak canggung lagi dengan laki-laki yang lebih tua dua tahun darinya ini.
"Followers nya banyak amat, verified. Kalau ini followers bisa diuangkan, bisa buat makan beberapa minggu. Followers aku mah apa atuh, dibeliin tahu bulat juga cuma dapet dua."
Adit tertawa terbahak-bahak mendengar perumpamaan Mita.
"Pantesan cowok tadi segitunya sama kamu, lucu gini."
"Lucuan Mas lah, nggak ada obat."
''Kamu suka nggak?"
Ia mencium bau-bau modus lagi. Tarik nafas dalam-dalam, ia sudah cukup kenyang dengan gombalan hari ini. Jangan baper.
"Sama?" ia menatap tajam
"Selebgram kaya aku."
"Suka kalau nge influence kebaikan."
"Oke. Ada kesempatan buat aku berarti ya." Adit mengangguk-ngangguk tersenyum.
"Ehhh.. kesempatan apa dulu?" Ia antusias.
"Kesempatan untuk dekat sama kamu."
"Eaaaaaa."
ia teringat ucapan Niken beberapa hari lalu, jika ada laki-laki gombal atau merayu jangan baper. Semakin kita baper, semakin besar kemungkinan hati kita untuk patah kembali.
"Kok eaaa ? Aku serius."
"Nggak ah, bisa diserang fans Mas Adit nanti aku."
Bisa-bisanya gombal, tipe Adit gini biasanya tipe-tipe buaya yang menebar jaring untuk mencari mangsa. Fans dimana-mana, kalau mau tinggal DM satu followers nya urusan beres.
"Udah ah, aku bisa gumoh. Aku nyerah, udah nggak kuat digombalin selebgram kaya Mas."
__ADS_1
"Ngeledek, awas ya."