
"Sen, bisa ngomong sebentar? Please, terakhir."
Saat tengah menikmati makan malam di ruang VIP khusus teman-teman pengantin, Sena memperlihatkan isi chat dari Damar kepada Adit.
"Terserah."
Adit menjauhkan zuppa soup yang sedang ia makan. Selera makannya hilang seketika.
Manusia bernama Damar seperti tidak bisa membiarkan Adit dan Sena hidup dengan tenang.
"Terserah gimana?"
Sena masih memperlihatkan chat Damar yang belum ia balas. Sementara Adit mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang ia simpan di meja.
"Mas..."
"Pulang aja yuk udah malem, Kakak nungguin."
Sena menarik nafas melihat Adit langsung berdiri bermaksud untuk pulang. Ternyata menghadapi rasa cemburu semua laki-laki sama saja.
"Tapi aku ngga bisa kalau cuma sendiri."
Balasan untuk Damar akhirnya Sena kirimkan. Kimi ia tidak bisa menghindar. Berada dalam satu acara dengan Damar, membuat Sena mau tak mau merespon permintaan konyol Damar. Mau ngomong apa lagi?
Adit melihat Sena membalas pesan dari mantan. Karena kesal ia mengambil ponsel Sena, dan meletakan ponsel tersebut di hadapannya. Ingin tau balasan dari Damar.
"Ada pengawal baru selain Pak Karman?"
"Urusan lu apa sama pengawal cewek gua !"
Adit mengirimkan pesan suara untuk membalas chat Damar. Tidak keras, hanya penuh penekanan.
"Gua cuma pengen ngomong yang terakhir sama cewek lu bro, ngga bakal gua ambil."
Adit tidak menggubris balasan terakhir dari Damar.
Tak ada balasan, Damar mengirimkan pesan kembali.
"Selesai makan aku tunggu di parkiran ya."
Terakhir, pikir Sena.
"Mas, please jangan adu urat buat ynag terakhir. Ini acara orang, malu kalau sampai ribut. Aku cuma pengen tau dia mau ngomong apa."
Adit memainkan tangannya di atas paha tanda sedang gelisah. Baru beberapa jam yang lalu ia merasakan manisnya sebuah hubungan.
"Nganterin pacar sendiri ketemuan sama cowok. Membagongkan."
Umpat Adit kesal, namun tetap mengikuti Sena ke arah parkiran.
Di depan sebuah mobil Damar sudah menunggu dengan rokok di tangan. Begitu melihat kedatangan Sena, Damar membuang rokok tersebut lalu ia injak dan meminum sebotol air mineral yang ia simpan di kap mobil depan.
Sementara itu Adit menunggu Sena di sebelah mobil Damar.
"Sejak kapan kamu ngerokok?"
"Ini cara yang bisa aku lakukan untuk aku bertahan sampai saat ini."
Sena tertegun, jawaban Damar menggambarkan kekecewaan mendalam terhadap dirinya.
"Aku cuma pengen cerita buat yang terakhir, mumpung kita masih ketemu. Hari ini kejadian juga di depan mata aku, kamu jalan sama cowok selain aku."
Kalimat dari seorang laki-laki yang putus asa akan cintanya. Tanpa memandang Sena, pandangan Damar kosong lurus ke depan.
"Jangan tanya rasanya. Jangan sampai kamu ngerasain yang aku rasain. Kalau ngga inget Bunda, aku pilih hilang, mati, atau gila biar ngga inget apapun."
Adit mendengarkan meski samar. Seolah berkaca pada diri sendiri, tengingat kejadian beberapa tahun silam.
"Tadi, ngeliat kamu di peluk di depan umum, sebuah adegan yang aku impikan. Yang kamu tatap dengan senyuman yang selalu aku kangen, yang cium rambut kamu, ternyata bukan aku orangnya."
Sena diam. Damar mangambil nafas dalam penuh kekecewaan.
"Tadi kamu ngapain di mobil?"
Sena tidak menjawab. Memainkan botol kemasan bekas Adit minum di kakinya, untuk ia injak-injak.
"Yang dapet ciuman kamu juga bukan aku."
Apalagi? batin Damar.
Meski bukan hal yang ingin Sena dengar, tapi kali ini ia mencoba bersabar untuk pertemuan terakhirnya dengan Damar.
"Kamu udah sama dia waktu masih sama aku? Tell me the truth."
"Nggak. Dia hanya datang sebagai teman saat aku masih sama kamu. Dan meminta aku sebagai laki-laki yang tertarik dengan perempuan saat kita udah selesai."
"Kapan tepatnya kita selesai?"
Damar memberanikan diri mengangkat kepala, menatap Sena. Namun tak ada satu katapun yang Sena balas.
"Aku bener-bener ngga tau, karena aku ngga pernah ngerasa kita selesai. Bahkan sampai tadi sebelum kamu datang sama dia, aku masih berharap kalau kita lagi istirahat. Dan akhirnya, aku lihat dengan mata dan kepala aku sendiri kamu sama cowok, mata aku kaya kebuka ternyata kita memang selesai."
"Ternyata kamu cuma ilusi yang aku ciptakan sendiri, Sen."
Damar tersenyum sinis, merutuki kebodohannya sendiri.
"Anggap aku udah mati aja kalau sesulit itu lupain aku."
Sena bingung harus menghadapi Damar dengan cara apa. Terlebih dengan kehadiran Adit, ia juga harus menjaga perasaan Adit. Karena Adit yang sudah ia pilih.
"Apa aku harus bikin makam buatan untuk kamu? Hari ini sebagai tanggal kematian kamu?"
"Aku izinkan kamu untuk itu, kalau itu bisa membuat kamu lupa sama aku."
Damar tidak habis pikir, sekeras itu kepala Sena.
"Kasih aku satu alasan kenapa aku harus lupain kamu?"
"Kemungkinan terbesar selama ini aku hanya respect ke kamu sebagai teman."
"You are a bad lier."
__ADS_1
Damar tidak percaya Sena hanya menganggapnya sebagai teman.
"I'm not lying. To be honest, aku hanya respect ke kamu sebagai teman. Saat itu aku hanya mencoba memaksa diri aku untuk menerima kamu karena melihat perjuangan kamu. Dan sebatas rasa penasaran bagaimana rasanya punya pacar. Dan kamu kandidat terbaik yang ada saat itu."
Tatapan Damar seketika berubah. Yang awalnya memelas, berubah menjadi keras.
"Woohooo, good answer. Sekarang sudah sangat jelas alasannya dan aku terima. Terima kasih untuk rasa penasarannya."
Damar beranjak meninggalkan Sena dengan kekecewaan yang semakin dalam. Hanya sebatas itu ia dimata Sena?
"Damar, sebelumnya kita teman, aku harap kita bisa jadi teman lagi."
Sena mengeraskan suaranya agar Damar mendengar.
"Gua ngga pernah merasa kita pernah berteman. Sebelumnya kita orang asing, hanya disatukan di kelas yang sama. Setelah ini, kita kembali jadi orang asing."
Setelah melihat ke arah Sena, kini Damar seolah berbicara kepada Adit.
"Jaga."
Damar berlari meninggalkan parkiran menuju venue acara. Bergabung dengan teman-temannya kembali. Menahan sekuat tenaga rasa perih yang harusnya bukan hal baru untuknya. Namun rasanya masih seperti luka yang terkena garam.
Sementara Sena berlari ke arah Adit lalu menangis. Hatinya ikut sakit melihat Damar yang ia sakiti begitu dalam.
"Mas... aku jadi ngerasa jahat banget."
"Setidaknya udah beres. Semoga dia ngga ganggu lagi."
Adit memeluk sambil membelai rambut Sena.
"Pulang ya?"
Sena mengangguk. Meski belum pamit kepada teman-temannya, namun ia tidak ingin bertemu Damar kembali hingga akhirnya pamit melalui whatsapp kepada Oliv dan Dinda.
"Eh udah tadi ngomong sama Sena?"
Oliv melihat kehadiran Damar namun tidak melihat Sena. Seharusnya hubungan keduanya sudah membaik bukan setelah bicara?
"Siapa?"
"Lo udah ngomong sama Sena kan? Sekarang dia dimana?"
"Temen lo itu? Udah balik kali."
"Temen lo juga lah. Apaan sih."
Dinda tidak suka dengan ucapan Damar tadi.
"Gua ngga punya temen yang namanya Sena. Mantan ada, tapi udah mati."
Dinda kaget mendengar ucapan terakhir Damar yang langsung pergi membuang muka. Sementara Oliv terdiam karena tahu perasaan Damar sesakit apa.
Selesai acara, Oliv menunggu taksi online di depan restoran. Namun tak ada satupun yang nyangkut.
"Lu nunggu siapa?"
Kehadiran Damar yang tiba-tiba mengejutkan Oliv hingga ponselnya terjatuh.
Damar tersenyum senang. Keduanya pun jongkok berbarengan mengambil ponsel yang jatuh hingga tak sengaja saling tatap yang membuat keduanya canggung.
"Elo tiba-tiba nongol, kaget lah gue."
"Nunggu siapa? Supir?"
"Ngga. Tadi kesini naik taksi online, lagi ngga pengen dianter jemput supir dan ngga pengen bawa mobil. Ini padahal banyak mobil manggkal, tapi ngga pada diambil orderan gue. Sue banget."
"Pada kondangan kali drivernya, temennya Fahri."
Oliv tertawa, sejak tadi ia tak kehabisan bahan tertawa jika sudah kumpul dengan geng sableng teman-teman semasa SMA.
"Ngaco lu ah."
"Gua anter aja, udah malem."
"Ngga apa-apa lu nganter gua balik?"
"Emang kenapa? Elu kali yang kenapa-kenapa kalau gua anter."
"Yaudah kalau ngga repot."
Meski awalnya sungkan, Oliv mencoba bersikap biasa. Karena ia dan Damar tidak pernah sedekat ini. Hanya kenal satu sama laib karena sekelas. Saat Damar berpacaran dengan Sena pun tidak pernah bertemu karena jarak Singapura dan Jakarta yang cukup jauh.
Selama perjalanan, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Damar berinisiatif memulai pembicaraan.
"Di Sing kadang gua suka order Grab buat keliling doang. Duduk di belakang supir, diem, cuma buat liat jalan. Random trip, makan, terus pulang lagi ke apart." (Sing : Singapura)
Oliv tersenyum.
"Sama banget. Kadang dunia emang seremeh itu ke kita. Tapi gue suka mikir, kenapa gue yang Dia pilih untuk merasakan ini?"
Oliv menimpali. Ucapan yang Damar katakan barusan, menggambarkan dirinya saat ini.
"Proses kali Liv, perjalanan hidup. Enjoy the ride ae lah."
Damar mencoba tersenyum, meski masih membayang rasa sakitnya.
"Btw, lo ngga dimarahin pulang jam segini?"
Damar masih menjadikan Sena sebagai perbandingan, jam 9 malam seperti tengah malam untuk Sena.
"Siapa yang mau marahin? Di rumah gue juga ngga ada siapa-siapa."
"Ortu lo?"
"Sibuk, biasalah."
"Kakak lo?"
Damar teringat bahwa Oliv memiliki kakak perempuan.
"Sibuk juga."
__ADS_1
"Buset, sibuk semua?"
"Sibuk dugem, ngabisin duit ortu."
"Emmmm kirain sibuk apaan. Muter-muter Jakarta mau ngga? Gua tadinya mau gabung sama Reno. Tapi dipikir-pikir males. Takut balik-balik mabok, gua dikutuk repot."
"Anak Bunda mau badung? Jangan lah. Ayo gue temenin keliling, nemenin yang patah hati."
"Woy sama kali, lu juga 11 12 sama gua."
"Mirip doang, beda masalah aja. Btw sorry kalau gua nanya Sena lagi. Tapi gue pengen tau, tadi ngomongin apa kalian?"
"Ya gitu. Selesai."
"Tapi tetep berteman kan?"
"Gua ngga bisa berteman dengan luka dan rasa sakit. Enaknya dilupain, ngga usah diomongin lagi. Kaya yang pernah lu bilang di bandara. Mungkin sakitnya sebulan dua bulan. Yaaaa hadapi aja lah, bismillah."
"Bener Pak Ustadz, gue setuju."
"Ustadz dari mana potongan gua ancur begini."
"Bismillah, insya allah semoga berkah."
Damar shock, Oliv se-absurd ini.
"Lu kan bukan muslim woy!"
"Astagfirullah, gue lupa."
"Geblek."
Damar menyetel musik dengan keras, keliling Jakarta hingga pukul 11 malam. Lalu mengantar Oliv pulang karena tidak terbiasa pergi dengab perempuan hingga larut malam.
"Reno jadiin temen aja. Ngga usah ikut-ikutan."
Oliv paham dengan kondisi Damar saat ini. Hingga merasa takut jika Dar terjebak dalam pergaulan yang salah.
"Gue juga kalau mau badung mah mendukung banget. Di rumah cuma ada pembantu doang. Gue ngga balik juga ngga bakal ada yang cariin."
Damar tertegun, mengerti dengan kondisi Oliv.
"Kalau butuh temen chat aja, gua cuti kuliah."
"Iya. Thank you ya udah dianterin. Hati-hati, Mar."
*****
Dalam perjalanan pulang, Adit tidak melepas genggaman tanggannya, sesekali mencium tangan Sena dengan lembut. Moment yang akan ia rindu jika sudah kembali ke Jepang.
"Besok aku jemput, mumpung hari Minggu di rumah ada semuanya."
"Jemput kemana?"
"Ke rumah. Ngga mau ketemu calon mertua?"
"Mau."
Bagi Adit ini adalah kedua kalinya ia membawa perempuan ke rumah. Namun bagi Sena, besok adalah yang pertama baginya datang ke rumah laki-laki secara pribadi.
"Oke. Fokus ke depan, yang udah lewat biarkan aja. Oke?"
"Iya Mas..."
"Senyum atuh Non cantiknya."
Sena tersenyum malu salah tingkah.
"Aku deg-degan terus liat kamu."
"Ngga usah diliatin..."
"Sayang, ada bidadari di samping ngga diliat."
"Gombal terusss."
"Tapi suka kan?"
"Suka."
"Sama, aku juga suka."
Obrolan tidak penting namun perlu bagi pasangan. Tertawa bersama untuk hal-hal tidak penting membuat cinta semakin bersemi.
"Teteh hamil lho. Aku mau jadi Ateu." (Ateu \= Tante)
"Wahh aku jadi Om atuh."
"Om kasep."
Sena membalas dengan gombalan.
"Ini Ateu Geulis. Om kasep sama Ateu geulis kalau punya anak spek bidadari nanti nya Non. Bikin yuk."
"Yuk."
Adit menggigit kecil tangan Sena. Tak tahan karena Sena selalu balik menggoda.
"Kuatkan iman ku ini ya Allah !!!"
Adit seolah teriak. Bagi Sena, Adit selalu menggemaskan jika digoda.
Satu kecupan pun mendarat di pipi Adit.
"Non, aku lagi nyetir. Nanti terganggu konsentrasinya. Cium nya yang lain atuh."
Adit pun tak tahan jika tidak menggoda.
"Mau dong cium yang lain."
"Astagfirullah Nooonnn."
__ADS_1