Cinta Mita

Cinta Mita
Investor Muda


__ADS_3

"Jadi pulang kapan?"


Adit menarik Sena duduk di hadapannya. Sena menangkis tangan Adit, menolak untuk duduk berhadapan. Lebih memilih membereskan beberapa barang yang berserakan di meja.


"Pulang kapan juga sama aja. Ngga ada ngaruhnya ke Mas."


"Jangan besok."


Sena diam, tetap membereskan maja kerja dari beberapa barang bawaan.


"Aku ngomong lho ini. Ngga didengerin."


Adit bergumam pelan namun masih terdengar.


"Teh, aku balik ya. Kalau besok jadi pulang kabarin."


Adit memakai topinya kembali lalu pamit kepada Mita. Tidak ingin bicara dengan Sena.


"Ngga jadi tidur disini?"


"Ngga dianggap, ngga bawa vape juga."


"Masih nge-vape?"


Satu hal yang tidak Mita suka dari Adit sejak dulu yaitu nge-vape.


"Kadang. Pulang ya."


"Yaudah hati-hati."


"Jadi atau ngga jadi pulang, besok kabarin aku Teh."


"Muhuuun." (iya)


Adit meninggalkan kamar tanpa pamit kepada Sena.


"Jahat banget."


Sena menghempaskan diri ke sofa.


"Kamu nya yang baper. Adit jadi serba salah."


"Baper dibagian mana?"


"Adit nya ngga kecentilan kan? Kalau ada perempuan yang centil itu salah perempuannya. Yang penting Adit nya tetap setia, ngga aneh-aneh. Dia cuma kerja. Udah seneng-seneng didatengin, ujung-ujungnya dicemburuin."


Awalnya Adit ingin menginap di hotel namun mood nya merosot tajam karena sikap acuh Sena.


Begitu sampai di apartemen, Adit mengontak Hiro untuk segera edit video, karena harus segera naik. Ponsel yang ia tinggal di atas meja belajarnya berbunyo saat ia mencari vape. Berharap panggilan dari Sena, tapi ternyata bukan.


"Jepang aman?"


"Aman, Kaisar nya sehat."


Rama tersenyum tipis melihat wajah lecek Adit.


"Sena kenapa mau balik?"


"Ngidamnya Teteh udah kesampean mungkin. Gua ngga tau. Coba tanya."


"Lu nya sibuk kan? Gua denger-denger sih gitu."


"Sibuk kerja."


"Kerjanya sama cewek?"


"******, adek sama kakak sama aja. Selalu menghubung-hubungkan ke perempuan." umpat Adit dalam hati.

__ADS_1


Adit tidak ingin menjawab pertanyaan Rama. Mood nya buruk, khawatir perkataan kasar yang nantinya keluar.


"Sena nya ngga mau ngerti?"


Hanya hembusan asap vape yang keluar dari mulut Adit, masih enggan menjawab.


"Widih, pro banget anda."


"Udah nyoba belum? Kalau belum cobain lah."


"Ngga boleh tidur samping Nyonya dong Saya nanti."


Adit tertawa. Saat ini ia butuh hal-hal receh untuk ditertawakan.


"Jadi gimana Adek gua? Lu udah jauh, jadiin lah masa ngga."


Adit lupa. Rama datang sebagai Kakak dari Sena, bukan sebagai temannya. Maksud dari telepon Rama pasti menyangkut Sena, bukan untuk menghiburnya.


"Kalau mau nanya Sena, tanya ke Teteh aja. Gua lagi males ngomong. Percuma juga gua ngomong, lu kakak nya, pasti belain dia."


"Mita udah angkat tangan. Gua di sini penengah yang akan objektif."


"Mau se-obyektif gimanapun juga ngga bakal bisa, darah lu sama dia sama."


"Intinya lu ngga bisa ninggalin kerjaan sekarang?"


"Lu mau gua jadi gembel? Berapa pinalty yang harus gua bayar kalau putusin kontrak sepihak. Gila kali. Yang agak masuk akal lah kalau minta sesuatu coba bilangin Sena."


"Kalau lu di posisi dia, lu bakal ngerti ngga? Kalau nanti dia kerjanya sama cowok kaya lu sekarang."


"Dia cewek, ngga harus kerja. Kalau kerjaannya berhubungan sama cowok gua bakal suruh berhenti. Ngapain anjir. Kalau gua kan cowok, emang harusnya kerja. Berhubungan sama cewek kalau masih normal mah sebatas temen ngga usah dibuat ribet atuh."


"Putusin aja Sena kalau gitu."


"Tuh kan, gua bilang juga percuma. Lu ngga ngasih solusi. Cuma menyudutkan gua, seolah-olah gua yang jahat ngga mau berkorban."


"Kalau dia ngga bisa ngertiin kerjaan lu, ngapain lagi dipertahanin? Harusnya dia ngerti. Cobalah ngomong dulu baik-baik."


"Putusin Sena ngga bisa? Daripada lu terbebani."


"Lu jago anjir. Seolah-olah ngebela gua, padahal biar gua jauhin Sena. Sorry Kak, kalau cuma nyuruh gua buat putusin Sena mending ngga usah nelepon. Gua ngga bisa udahan sama Sena. Anjin* ngabisin batre HP gua doang."


Rama tertawa melihat kekesalan Adit yang terpampang nyata di layar ponselnya.


"Yaudah makanya lu ngomong ke gua. Mau lu gimana?"


"Gua mau dia sabar dulu satu tahun. Setelah lulus, gua kerja yang lain."


"Ngga nyoba bisnis lagi?"


"Bisnis apa?"


"Kosan lu gimana? Ada kafe juga kan? Apa udah lu jual?"


"Itu Mas Abi yang urus. Duitnya disuruh buat rumah."


"Bisnis yang lain lah. Banyak bisnis kalau lu nya fokus mah."


"Makanya itu gua belum bisa fokus. Susah deh bisnis sambil kuliah di luar gini."


"Pabrik gua bisa jalan pas gua kuliah di US."


"Karena lu udah punya sistem. Gua sistem dari mana anjir. Lu enak ada anak buah, tinggal pantau. Gua nyuruh siapa? Mas Abi?"


"Ya lu cari lah orang. Lu tuh harusnya sekolah bisnis, ngapain sekolah teknik. Aduh Dit. Ngga nyambung kemana-mana."


"Telat ah, sekolah gua udah mau beres. Bisnis lu gimana?"

__ADS_1


"Gua lagi butuh suntikan dana. Bangun pabrik sekarang gila. Bayar tukang nya 2x lipat."


"Lu lagi bikin pabrik baru?"


"Bikin bangunan baru. Masih satu lahan sama RM."


"Butuh berapa?"


"Kurangnya sekitar 50."


"Gila 50 Triliyun?"


"Milyar lah gila. Bangun apaan 50 Triliyun? Istana??"


"Bangunan doang segitu?"


"Sama mesin, interior, dan lain-lain. Puyeng ngga gua?"


"Kirain... 50 juta kan ngga mungkin."


"Milyar. Tapi gua ngga mau pake bank."


"Kalau ada yang bisa ngasih segitu, keuntungannya buat dia apa?"


"Profit dong. Sistem bagi hasil aja. Pabrik gua bersih, baru audit eksternal. Keuangan bersih. Ngga ada yang perlu ditakutin untuk curang dalam pembagian profit. Semuanya jelas dan tercatat."


"Pembagiannya berapa? Jatohnya aset kan?"


"Ya aset. Misal, lu mau join 50 M. Itu bangunan atas nama lu. Berdiri di atas tanah perusahaan. Bagi hasilnya 5% dari profit."


"Kecil dong 5%, kirain 20%."


"Gua bangkrut anj*ng. Asetnya kan tetap punya lu ngga hilang, tapi dapet profit 5% tiap tahun dari keuntungan."


"Berapa 5% nya?"


"Itung aja dari 800 juta sampai 1 M."


"40 sampai 50 juta dong. Itu bulanan apa tahunan?"


"Bulanan lah..."


"Boleh deh asal aman nih gua naro duit di lu."


"Boleh apaan?"


"Gua yang invest."


"Berapa?"


"50 M kan?"


"50 ember duit koin."


"Kalau cash ngga ada segitu. Kalau jual beberapa property bisa segitu. Itung-itung gua bantuin calon ipar aja. Tunggu seminggu bisa kan?"


"Ah ta*, yang bener lu punya?"


Rama meragukan Adit yang menurutnya masih bocah.


"Tuh ini nih yang gua ngga suka. Lu sama Sena tuh sama. Selalu ngeremehin gua. Udah ngga mood gua anj*ng."


Adit melempar ponselnya ke kasur.


"Dit sorry bukan ngeremehin. Gua shock."


Dengan menyesel dan perasaan tidak enak, Rama mengirimkan pesan.

__ADS_1


"Bisnis belakangan. Beresin dulu urusan sama Sena. Besok pagi lu ke hotel. Gua mau video call kalian berdua. Awas lu ngehindarin masalah."


Ada perasaan tidak rela jika Adit harus putus dengan Sena. Susah mencari kandidar lain dengan kuliatas setara Adit. Apalagi Adit bisa jadi investornya? Satu masalah selesai. 😍😍😍😍


__ADS_2