Cinta Mita

Cinta Mita
Kesepakatan


__ADS_3

Ferry


"Rama kenapa lagi Yang?" ia yang sedang seranjang dengan Rena mengambil ponselnya yang terus berdering di samping meja dengan nama Rama di layar. Mau tidak mau ia menunda aktivitas malam minggu nya kali ini.


Jasa Rama baginya sudah begitu banyak. Berkat hadiah honeymoon darinya, istrinya kini mengandung dan sedang menanti waktu HPL tiba. Saat pertama kali ia mengetahui Rena mengandung, Rama menjadi orang pertama yang ia beri kabar.


"Ramaaaa, gua mau jadi bapak Ram."


"Hah serius? Gila anak 100juta jadi juga. Alhamdulillah, selamat Fer. I'm happy for you brother. Rena mana Rena?" kala itu Rama tidak kalah heboh.


"Ramaaaa, aku mau jadi Ibu. Makasih ya Rama, semoga hidup kamu bahagia dan selalu diberikan kebaikan."


"Aamiin aamiin ya Allah. Serius aku mau jadi om ini teh?"


"Serius Om Rama."


"Deuh ihiy, aku lagi ngobrol sama bumil." Rama memang paling bisa menggoda istri nya. Jahil nya Rama kepada istrinya adalah bentuk kasih sayang dan perhatian Rama untuknya juga.


Mereka pun bercerita tentang pengalaman honeymoon beberapa waktu lalu. Berterima kasih karena sudah di sponsori honeymoon. Saat Rena tau biaya yang Rama keluarkan untuk ia dan Fery, ia sempat shock. Uang sebanyak itu hanya untuk jalan-jalan. Gila, sultan mah bebas! Nama calon nayi nya sekarang disebut bayi 100juta, karena uang yang Rama keluarkan sebesar itu.


Ia sudah menduga alasan apa yang membuat Rama menelepon nya. Tentu tentang dua anak manusia yang sedang dimabuk cinta.


"Iya kenapa Ram?" seolah tidak tau maksud dari Rama.


Tidak butuh waktu lama, Rama langsung mengabsen segala bentuk umpatan untuk menumpahkan kekesalannya.


Kondisi Rama yang tengah drop membuatnya semakin terlihat menderita.


Percakapan telepon ditutup dengan titah dari paduka Rama untuk mengirim karangan bunga. What the f*ck ! Ngapain masih ngirim bunga mangsedih nasib Lu Ram, ringis nya dalam hati.


"Rama nyuruh kirim bunga ucapan Selamat ke Mita udah jadian sama cecenguk."

__ADS_1


"Rama tuh, apa nya yang diliat sih dari cewek itu? Masih kecil lagi belum bisa dikawinin." ucap Rena asal ceplos.


"Anaknya cantik, polos, mungil, tapi depan belakang okeh punya bikin gemes." ia tertawa membayangkan Mita.


"Kamu ih, aku mau tidur aja." Rena cemberut menutup diri dengan selimut.


"Ngga bisa, aku belum beres." Membuat ia yang belum selesai menyelesaikan hajatnya kembali menerkam Rena.


Permintaan Rama tadi besok aja lah, jamuan depan mata sayang kalau dilewatkan. Xixixi


*****


Adit


Sesuai kesepakatan di mobil maka Mita yang memilih motor, dengan satu syarat yaitu tidak boleh bertanya harga. Ia khawatir Mita shock.


"Deal?" ia mengulurkan tangannya kepada perempuan yang sejak pagi uring-uringan membuat mood nya naik turun. Merasa bersalah karena sempat membentak.


"Bentar. Nanti kalau aku milih nya yang mahal gimana?"


"Ehh mana bisa gitu." Mita protes.


"Bisa, pasti bisa." biarlah diomelin dikit ngga masalah, kalau buat motor bagus. Semoga hari ini tidak ada lagi drama motor lagi...


"Yuk.... turun yuk." begitu ia keluar dari mobil suasana hati nya seketika langsung berubah, tidak sabar melihat motor - motor di dalam yang nanti akan terparkir di garasi menemani si ganteng mobil kesayangan.


"Tips dari aku, pilih motor nya jangan yang paling bagus. Harganya juga pasti paling mahal." Raffi memberi saran ketika masuk ke dalam showroom yang membuatnya kesal.


"Oh iya bener, aku pilih yang paling jelek aja berarti ya? Biar murah." Mita tertawa meledek.


"Jangan yang jelek juga sayang." ia mengacak-ngacak rambutnya kesal.

__ADS_1


Ternyata showroom tempat teman Raffi bekerja tidak begitu jauh dari tempat ia tadi berhenti saat lepas kendali.


Surga dunia nya saat ini ada di depan mata sekarang.


Semua motor terpajang gagah mulai dari Yamaha, Kawasaki, hingga Ducati.


"Skripsi kerjain woy!" ia mengagetkan Raffi yang sedang menatap kagum jajaran motor di hadapannya.


"Mas suka yang mana? Hak aku untuk memilih, aku kasih sepenuhnya ke Mas. Ternyata aku memang ngga ngerti motor." Mita tersenyum malu, namun dimatanya menggemaskan.


"Maaf kalau aku nyebelin tadi." lanjut Mita memegang tangannya.


"Iyaa sekarang Mas udah happy, makasih sudah dibolehin beli motor. Maaf tadi ngebentak, udah ngga apa-apa?''


Mita pun menggeleng.


"Beneran yang mana aja?"


"Iya, cuma harus bijak Mas kalau pakai uang meskipun itu hobby."


Ia pun tersenyum mengerti. Akhirnya pilihannya jatuh pada Ducati multistrada.


Mita sempat menahan nafas saat melihat struk pembayaran.


"Hah serius 570juta? ini lebih dari yang semalam Mas bilang, hampir 2x lipat dari budget untuk motor."


"Tambahin dulu, nanti diganti sama Ayah."


Mita diam. Mita sebagai seorang manager sangat strict masalah keuangan. Uang yang keluar dan masuk harus jelas.


"Neng...." ia mengiba, hatinya sudah tertambat pada motor keluaran Itali tersebut.

__ADS_1


"Habis ini Mas kerja keras bagai quda lagi dan beresin skripsi."


Mereka pun mampir makan siang lalu pulang. Raffi ikut kembali ke kosan mengambil motornya yang ia tinggal disana.


__ADS_2