
Mita
Sebulan sudah berlalu sejak berlibur dari Amerika. Kini Mita tengah menghadapi semester penuh jadwal kuliah dan praktikum. Ia memutuskan untuk berhenti me-manageri Adit karena beberapa pertimbangan.
"Mas, kayaknya Mas udah butuh manager yang lebih professional dari pada aku. Selesai UTS jadwal kuliah sama praktikum aku tambah padat. Mulai semester depan aku juga udah harus persiapan magang ke food industry."
Alasannya kala itu. Meski begitu, sampai saat ini Mita masih menjadi penghuni Malabar 10. Selain permintaan Rama yang menyuruh nya berhenti menjadi manager dan meminta fokus pada kuliah, Mita pun ingin meminimalisir pertemuan dengan Adit.
''Kamu kalau mau pindah kosan minta temenin temen cari kosan baru, ngga usah bilang Mama nanti aku yang bayar."
Benar saja lambat laun Rama akan menyuruh nya pindah kosan. Tapi setelah Mita berpikir ulang, dengan padatnya jadwal di kampus sudah meminimalisir pertemuannya dengan Adit. Terlebih Adit sudah jarang terlihat di kosan.
''Ngga usah, sayang uang. Kemarin uang kamu kepake banyak pasti kan pas aku ke sana?"
''Kamu kesini dan kamu pindah kosan ngga bikin aku miskin. Kamu kesini tiap bulan juga aku masih bisa biayain. Lagian daripada kamu ngga nyaman kan mending pindah. Biar kamu fokus sama kuliah jadi cepet beres. Aku udah pusing.''
Kalau membicarakan uang dengan Rama selalu tidak pernah menang. Lalu pusing? Pusing karena apa pikirnya.
Lagi pula Mita tidak ada waktu untuk packing pindahan, pikirannya sedang penuh mencari informasi perusahaan mana saja yang membuka lowongan untuk anak magang.
''Bulan besok kesini lagi ya? Udah sebulan aku ngga liat calon istri aku cemberut, ngomel di depan mata aku. Tapi aku ngga bisa pulang, takut ngga mau balik lagi kesini. Makanya kamu aja yang kesini aku pesenin tiket. Apa minggu besok kamu kesini? visa tinggal diperpanjang."
Permintaan yang terlalu halu !
"Ih kamu mah ngaco, kamu udah mulai thesis bukan? Kerjain aja thesis, udah sampe mana? udah mulai penelitian belum? Jangan halu terus kenapa sih, emangnya kesana tuh kaya dari sini ke Jakarta?"
Rasanya di atas kepalanya kini sudah mengepul asap yang menyembur keluar.
''Tuh ngomel kan, malah bikin gemes. Kamu kalau ngomel kaya gitu depan aku dan ngga ada Mama, jangan harap kamu bisa selamat."
Senyum Rama kini terus mengembang, pasti otak Rama sudah diisi dengan pikiran kotor batin Mita.
"Kamu mah ngga nyambung. Orang tuh kalau dimarahin harusnya berpikir, bukannya malah bilang aku gemes. Apa coba korelasinya?''
''Korelasinya semakin kamu marah-marah, ngomel-ngomel semakin bikin kamu tambah ngegemesin. Liat hidung kamu naik turun.''
Spontan Mita memegang hidungnya agar tidak naik turun.
__ADS_1
"Pokoknya kalau kamu kesini aku mau yang lebih dari pipi. Obat pusing aku sama thesis, aku butuh obaattt."
Rama akting seperti orang stress pikirnya.
"Ngga ah, aku ngga mau kesana sendiri, sama aja aku bunuh diri. Udah ah ngobrol sama kamu bikin darah aku naik."
Naik darah? Yang ada Mita hanya pura-pura. Melihat Rama memohon adalah hiburan baginya.
''Mit jangan ditutup dulu, aku masih kangen."
Aku juga kangen, batinnya jahil. Xixixi.
"Lagian kamu tuh pikirannya udah kemana-mana. Aku lagi ngerjain laporan praktikum besok."
Perempuan memang paling jago mengelabui lawan.
''Wajar dong, temen-temenku malah ada yang udah tinggal sekamar tapi belum nikah. Jadinya kalau cium doang mah masih oke lah buat kita."
"Tuh ngaco ah, my first kiss just for my husband." (ciuman ku hanya untuk suamiku).
"How lucky I am. I'll be your first kiss." (Betapa beruntung nya aku. Aku akan menjadi ciuman pertama mu).
Mita tersenyum. Semenyebalkan apapun Rama, tetap Rama lah yang mampu menghangatkan hatinya.
"Aku sayang kamu, jangan pikir macem-macem dulu. Nanti aja kalau udah nikah macem-macemnya."
Pertama kalinya Mita mengatakan perasaannya duluan, Rama tentu senang bukan kepalang.
"Aku juga sayang kamu. Yuk nikah yuk, and you will be mine." (kamu akan jadi milikku)
"Iya selesai kamu master, I will be yours." (Aku akan jadi milikmu)
"Much love your you." (Banyak cinta untukmu)
"Me too sayang."
Dunia bagai milik Rama dan Mita.
__ADS_1
*****
Rama
Sebulan berlalu sejak Mita mengunjunginya ke Amerika, pikirannya ia paksa untuk fokus kuliah dan mempersiapkan thesis secepatnya agar bisa lulus sesegera mungkin.
Sekarang Rama tidak terlalu pusing memikirkan kantor, karena Fima sudah kembali ngantor dan dibantu Fery. Sebulan ini juga Rena dan Nabila, putri kecil mereka ikut tinggal di apartemen selama Rena cuti.
"Kantor aman Fer?"
"Aman bosque. Renovasi udah running semua, gua ngurus Tangerang sama Depok. Fima bagian Bogor, Jaktim, Bekasi."
"Mantep mantep, semoga cepet beres. Biar penjualan naik duit gua cepet balik, aing bokeeek." (aing : gua)
Setelah dihitung-hitung biaya renovasi yang per restoran cukup memakan dana. Yang awalnya ia hanya berencana merenovasi tiga restoran, akhirnya setelah dipikir masalah efisiensi waktu dan penawaran promo dari konsultan desain ternyata lebih murah jika ia merenovasi 10 restoran sekaligus.
Belum lagi rencana untuk membuka restoran baru di wilayah Jakarta Selatan. Rama sudah pusing memikirkan dana yang harus ia siapkan.
''Ah sepik lu, duit lu mah ngga abis-abis."
''Aamiin, gua aamiin-in aja. Ngga ada masalah kan?"
"Aman sih cuma ya gitu, biasalah sama Fima gua kadang masih suka ada beda pendapat. Lu tau sendiri dia kerasnya kaya gimana."
Fima dan Fery memang kerapkali adu pendapat sejak kuliah dulu. Bahkan untuk masalah sepele pun.
''Btw ada yang pamer cincin di
instagram. Gile bener, kalau bos yang naksir mah pacar orang juga disikat. Udah tukar cincin?"
Rama yang video call sambil mencari buku referensi untuk bahan thesis nya yang terselip entah di kamar bagian mana menghentikan aktivitas pencarian nya. Tertarik dengan topik yang Fery tanyakan.
"Belum, tapi udah gua lamar. Biar ngga ada yang bisa nyalip di pengkolan."
Sebenarnya Rama pun belajar dari Mita dan Adit. Selama apapun mereka dekat, jika hanya komitmen pacaran dalam arti baru lebih dari sekedar teman tapi belum ada gambaran pernikahan, maka secara hukum agama masih boleh untuk di langkahi. Berbeda cerita jika sudah lamaran untuk menikah atau khitbah menuju pernikahan maka pendapat para ulama adalah haram untuk meminang perempuan yang sudah dipinang orang lain. Sedangkan Adit dan Mita baru pacaran, meskipun sama-sama sakit. Bodo amat ! Xixixi.
"Edan bos aing, kabogoh batur di lamar. Ditarima deuih ku awewe na, double kill anjay. Tapi sih saha nu bisa nolak maneh. Mun urang mah geus pindah ka Mars ciga na."
__ADS_1
Sudah beberapa hari ini ia tidak tertawa lepas, bahkan lupa kapan terakhir tertawa dan tersenyum sekembalinya Mita dan keluarganya ke Indonesia. Tapi jika sudah bicara dengan Fery, semua beban dan segala macam pikiran yang memusingkan rasanya menguap ke udara bersama tawa. Fery tidak pernah gagal mengembalikan mood nya untuk tertawa.