
Selamat malam pembaca semua, akhirnya di Bab ini Rama nikah juga sama Mita.
Oh iya aku mau ngasih tau, kalau ada novel baru aku judulnya "Madu Suamiku"
Habis baca Rama Mita, langsung ke novel aku yang satunya ya. Meski baru Bab 1, besok insya allah update lagi. Langsung favorite-kan, like dan Komen juga.
Makasih semuanya. Selamat membaca ❤️❤️❤️❤️
******
Pernikahan yang sudah Rama bayangkan akhirnya besok akan tiba. Kemarin, Fery sudah memesan ballroom sekaligus kamar hotel untuk pengantin dan keluarga menginap.
"Mbak tolong booking tujuh kamar untuk dua malam, check in besok. Untuk penggantin yang tipe executive suite, untuk orangtua dua kamar junior suite, sisanya untuk kamar bujang dan keluarga yang mau nginep executive aja."
Kamar bujang yang dimaksud adalah kamar untuk Fery dan Sesar. Meski Fery bukan bujangan, tapi ia merasa selalu bujangan jika tidak sedang bersama Rena. Xixixi.
"Tolong beri yang terbaik ya Mbak, ini acara bos saya." Fery meminta perhatian khusus untuk acara akad Rama kepada kru WO yang dipanggil Mbak Mus.
Diam-diam Rama adalah role model bagi Fery. Sehingga sedikit banyak ada sifat dari Rama yang Fery serap, termasuk gaya saat bicara.
Meski menurut keluarga Rama akad dilaksanakan secara sederhana, namun pada prakteknya menurut orangtua Mita jauh dari kata sederhana. Karena bertempat di ballroom hotel bintang lima satu-satunya di Tangerang. Mita tidak pernah membayangkan akan menikah di tempat seperti ini sebelumnya.
Selesai perawatan, Pak Tarjo mengantar Mita dan keluarganya langsung ke hotel.
"Acara akadnya disini Neng?"
Bu Rini kaget begitu masuk ke dalam hotel, ia belum pernah melihat langsung apalagi menginap di hotel mewah.
"Iya Bu."
Fery sudah menyiapkan kamar untuk keluarga Mita dengan dua tempat tidur, karena sebelum akad Mita masih satu kamar dengan orangtua nya.
"Ini mah bukan sederhana atuh Neng, Bapak jadi inget Yoga."
Begitu Pak Zainal masuk melihat kemewahan kamar hotel tersebut. Begitulah orangtua, dimanapun akan selalu ingat dengan anak.
Rama dan keluarganya tiba di hotel sekitar jam 7 malam, setelah acara pengajian dan ramah tamah dengan keluarga yang baru datang dari Bandung.
"Gening banyakan Neng keluarga nya Rama."
Komentar Pak Zainal begitu melihat tamu di kamar yang sebelah, karena Fery memesan 7 kamar di lantai yang sama. Pak Zainal melihat Pak Romi datang dengan rombongan sekitar 10-15 orang.
"Abang, kata Bapak kok tamu nya banyak?"
Pesan yang Mita kirimkan untuk Rama begitu Rama sampai di kamar the bujang.
Terakhir kali Mita bertemu Rama adalah saat di kantor sebelum berangkat ke Cianjur, setelah itu mereka belum bertemu lagi. Rindu, satu kata yang tengah dirasakan oleh sepasang calon penggantin ini. Bahkan mereka tidak melakukan video call seperti biasanya. Rama benar-benar menantikan pertemuan dengan Mita.
"Ngga banyak, cuma Enin sama keluarga Papa Mama aja."
Mita menarik nafas, sedangkan keluarganya tidak ada yang hadir satu pun. Bahkan Yoga tidak hadir.
"Aku kira cuma akad nikah biasa, jadinya keluarga ku ngga ada yang dateng. Bapak kira juga cuma nikah di KUA."
Rupanya keluarga Mita belum terbiasa dengan kehidupan keluarga Rama, karena ternyata standar sederhana dua keluarga tersebut sangat berbeda.
Rama sadar bahwa Mita merasakan sedikit kesedihan karena keluarganya tidak ada yang datang.
"Ngga apa-apa, anggap ini acara keluarga aku aja ya. Nanti kita bikin acara juga di Cianjur biar keluarga kamu ngga perlu repot-repot kesini."
Mita tersenyum, Rama selalu mengerti hal yang tidak ia katakan.
"Aku cuma kepikiran Yoga, harusnya dia ada di sini."
Lama Rama membalas pesannya, hingga akhirnya Rama menelpon. Padahal mereka ada di hotel bahkan di lantai yang sama.
"Yoga udah sehat?"
"Masih lemes sedikit, cuma aku pengen ada Yoga."
Meski kerapkali bertengkar untuk hal-hal sepele layaknya adik dan kakak, tapi Mita sangat menyayangi Yoga.
"Pak Karman jemput Yoga sekarang, kalau ada yang mau ikut lagi ikut aja selagi mobilnya muat."
Rupanya Rama pergi ke kamar sebelah dimana Bu Lia berada. Menanyakan keberadaan Pak Karman, lalu meminta Pak Karman menjemput Yoga di Cianjur.
Di balik ponselnya, jantung Rama berdetak tak menentu. Rama begitu rindu. Jika saja Mita di kamar sendiri, mungkin Rama sudah menerobos masuk.
"Iya aku telepon Yoga sekarang. Makasih ya Bang."
"Iya sama-sama sayang."
__ADS_1
Meski deg-degan tak menentu, tapi hatinya sungguh bahagia.
Fery yang sekamar dengan Rama dan Sesar, tak henti-hentinya menggoda Rama.
"Kiw sayang..." Fery pura-pura mengelus Sesar dengan mesra.
"Bang, gua geli bang." Sesar menghindar.
"Bangkee." Rama melempar bantal ke arah Fery.
"Gua deg-degan gini anjir nelepon doang." Rama memegang dada nya.
"Huh. Bismillah ya Allah."
Bu Lia masuk ke kamar the bujang.
"Kak, makan malam dulu di resto bawah."
"Iya Ma."
Sesampainya di resto, ternyata sudah kumpul semua keluarga lengkap dengan Mita yang duduk di samping kedua orangtua nya melihat ke arahnya.
"Rama kamu disini."
Pak Romi memanggil Rama agar duduk di dekatnya. Mengerti gelagat Rama yang ingin mendekati Mita.
"Pengen mepet dikit juga ngga bisa banget" gerutu Rama dalam hati.
"Calon penganten udah ngga sabar."
Wa Dodi melihat ke arah Rama yang kesal dipanggil oleh Pak Romi.
"Gimana besok udah siap? Udah hafal ijab nya?
Besok Wa Dodi bertindak sebagai saksi, bersama Pak Kusdinar kepala rumah sakit tempat Pak Romi bekerja.
"Siap dong Wa."
Malam itu sudah hadir Enin, keluarga Wa Dodi, dan keluarga Ateu Wiwin adik dari Pak Romi. Wa Ida, kakak dari Bu Lia juga tidak absen.
Acara makan malam diisi dengan obrolan ala bapak-bapak dan ibu-ibu. Terlihat Bu Rini yang sedang asik ngobrol dengan Enin. Sementara Rama dan Mita saling mencuri pandang sambil tersenyum. Hati keduanya malam ini begitu berbunga-bunga, selayaknya bunga di musim semi.
Selepas makan malam, Rama kembali ke kamar the bujang.
Rama berkaca pinggang, jalan bolak balik kesana kemari karena rasa gugupnya. Karena sejak bertemu Mita di restoran tadi, detak jantungnya menjadi tidak karuan.
Fery dan Sesar hanya tertawa melihat tingkah Rama.
"Hafalin ijab, kalau besok remedial sama lu aja Sar nikahnya." Fery melihat ke arah Sesar, menggoda Rama.
"Sembarangan lu ngomong. Mita diciptakan cuma buat gua."
Rama terlihat serius, membuat Fery dan Sesar tersenyum tidak berani menimpali.
Acara akad yang semula akan di mulai jam 09.00 ternyata di percepat karena semua tamu undangan dan penghulu tampak sudah memasuki vanue acara pada pukul 08.30.
Tamu dari Bu Lia dan Pak Romi tampak sudah hadir. Rekan kerja di kampus tempat Bu Lia mengajar, juga rekan sejawat dokter di rumah sakit Pak Romi bekerja yang berjumlah sekitar 50 orang.
"Kalau mau dimulai sekarang sudah bisa Pak." Kru WO yang bernama Malik mendekat ke arah Fery.
Kini, di meja akad sudah duduk Rama, Pak Zainal sebagai wali nikah dari Mita, Uwa Dodi dan Pak Kusdinar, Pak Romi dan tentunya penghulu.
Mita yang semula duduk dengan kedua orangtuanya, kini berpindah duduk di sebelah Rama. Namun baik Rama maupun Mita, tidak mampu untuk melihat pasangan disamping nya. Perasaan yang tengah Rama rasakan tidak dapat di definiskan.
Penghulu pun memanggil nama lengkap Rama.
"Rama Yudha Rachman, benar hari ini akan menikah?"
"Iya Pak."
Rama menatap penghulu di samping Pak Zainal singkat.
"Sudah dilihat perempuan di sampingnya? Betul itu calon istrinya?"
Spontan Rama melihat ke arah Mita yang menunduk malu.
Rama terpana, jantungnya bagai berhenti berdetak.
Mita sangat cantik dibalik kebaya berwarna gold.
"Sudah dulu menatapnya. Tadi ngga berani lihat, sudah dilihat sampai ngga kedip."
__ADS_1
Hadirin yang mendengar tertawa mendengar guyonan Pak Penghulu. Termasuk Yoga yang baru sampai Subuh tadi bersama keluarga Ateu Ina.
"Kita mulai aja ya. Rama kayaknya udah ngga sabar. Silakan Pak Zainal kita mulai ijab dan qabul nya."
Rama menarik nafas nya panjang.
Pak Zainal pun membaca mahar yang diberikan Rama untuk Mita. Air matanya meleleh tak menyangka.
"Ananda Rama Yudha Rachman, saya nikah dan kawinkan Engkau dengan anak saya Paramitha Zainal Binti Zainal dengan mas kawin seperangkat alat shalat, satu set
perhiasan seberat 25 garam, dan logam mulia sebesar 1000 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya anak Bapak yang bernama Paramitha Zainal Binti Zainal dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Dengan jelas dan tegas Rama mengucap qabul untuk Mita, yang artinya kini Rama dan Mita sah sebagai sepasang suami dan istri.
Lalu kata "sah" menggema di ballroom hotel.
Airmata kedua orangtua Mita dan Rama meleleh karena haru.
Rama lantas menarik Mita ke dalam pelukannya sambil mencium kening perempuan yang kini sudah menjadi istrinya itu lama.
"Istri aku." bisik Rama di telinga Mita.
"Sudah dulu, nanti lanjut di kamar. Sekarang tanda tangan dulu."
Hadirin tertawa, sedangkan Rama dan Mita tersenyum salah tingkah.
Selesai akad, Rama dan Mita melakukan prosesi sungkeman kepada orangtua dilanjut ucapan selamat dari keluarga.
"Tetehhh."
Sena memeluk Mita.
"Senaa, makasih ya kado honeymoon nya."
Sena kemarin memberikan voucher hotel meningap di hotel bintang Lima kebanggaan warga Bandung.
"Selamat dari Adit, dia sekarang kuliah di Jepang."
Mita teringat Adit, mantan kekasihnya yang ia buat patah hati 10 bulan lalu.
"Kok tau Adit di Jepang?"
"Tau dong."
Mita mencari Rama yang ternyata sedang mengambil kambing guling.
"Abang, Sena kayaknya jadian deh sama Adit."
"Masa sih? Tapi bagus juga. Adit baik."
Mita tersenyum, senang mendapati suaminya objektif.
Selesai makan, acara dilanjut dengan ramah tamah.
"Abang kenapa? Dari tadi mondar mandir ngga jelas."
Mita menyadari suaminya kini seperti cacing kepanasan.
"Gerah, efek kambing guling. Udah bisa ke kamar belum sih nih?"
"Belum dong Bang. Masih ada keluarga sama tamu Ibu Bapak."
"Tamu nya Papa Mama. Kalau Ibu Bapak yang dari Cianjur."
Mita tersenyum, salah tingkah ditatap Rama begitu dalam.
"Ke kamar yuk. Kita kabur aja. Kamu keluar duluan, ceritanya ke kamar mandi. Nanti aku nyusul."
Ide gila Rama membuat Mita ingin tertawa, namun akhirnya ia keluar dengan pelan agar tidak diperhatikan orang. Begitu Mita sudah keluar ballroom, Rama menyusul keluar.
"Gua tau akal busuk lu."
Ternyata Fery mengamati ya sejak tadi lalu mengikuti Rama di belakang.
"Tolong lah Fer, sekali ini. Kalau bokap nanya bilang gua sakit perut. Ntar gua kesini lagi."
Rama bicara tanpa melihat ke arah Fery.
"Semangat." teriak Fery dengan suara keras hingga semua orang melihat ke arah Rama dan Fery.
__ADS_1
"Bangsatt." Rama mengumpat pelan lalu berlari keluar ruangan sebelum dipanggil oleh ayahnya.