
"Foto-foto nya kirim ke Mas ya Ga, jangan kasih ke Bang Rama."
Yoga harus segera ditutup mulutnya, kalau tidak bisa bahaya.
"Gampang Mas."
Adit tersenyum, tidak percuma ia mendidik Yoga sewaktu masih pacaran dengan Mita.
"Kemana lagi? Lihat sepatu?"
Meski baju Adit sudah lapis dua, ditambah sweeter dan jaket tebal musim dingin, lengkap dengan sarung tangan yang tidak kalah tebal, namun udara dinging masih terasa.
"Yuk. Mas dingin ya?"
Hidungnya kini mulai meler, untungnya ia tidak lupa membawa sapu tangan di saku jaketnya.
"Lumayan."
Sena mendekat, merapikan posisi syal nya yang melingkar di leher. Ternyata terbuka sedikit, pantas terasa dingin.
"Makasih ya."
Tingkat kelucuan Sena di matanya meningkat tajam dibanding hanya melihat dari video call.
Begitu masuk ke dalam store, wajah Sena semakin berbinar, karena ini surga bagi Sena. Mulai dari sepatu running (lari), basket, tennis, skateboard, hingga perlengkapan olahraga lainnya tersedia di toko tersebut.
"Sambil kamu lihat sepatu, jawab pertanyaan aku cepet ya. Tas atau sepatu?"
"Sepatu lah tidak diragukan lagi."
Sena merangkul tangan Adit, berbagi rasa hangat untuk mengurangi dingin yang ia rasakan juga.
"Sepatu atau make up?"
"Sepatu."
Sena memang jarang tampil ber-make up, padahal biasanya perempuan akan memilih make up bukan? Ternyata Sena berbeda.
"Cewek biasanya pake make up."
"Kalau skin care aku pake, kalau make up tipis aja lah ya, udah cantik dari lahir soalnya. Hahaha."
Adit ikut tertawa, mencubit hidung Sena gemas.
"Sepatu atau travelling?"
"Travelling untuk cari sepatu. Jadi tetap sepatu, yuhuuu. Mas ini bagus ga?"
Sena mengambil Nike seri Air Max berwarna pink muda.
"Kamu yang pake mah bagus apa juga."
Sena tersenyum.
"Masa sih?"
Sena senang sekali hari ini. Pertama Kali dalam hidup pergi berdua dengan laki-laki yang ia suka tanpa takut ketahuan.
"Lanjut lagi. Sepatu atau kuliner?"
"Sepatu. Meski ngga bikin kenyang, tapi tetap sepatu, karena sepatu bisa bikin aku bahagia."
"Ini susah nih. Sepatu atau baju?"
"Tetep sepatu."
Sena menjawab dengan yakin.
"Sepatu terus. Kenapa?"
Uniknya yang Sena beli sepatu tipe-tipe sneakers, bukan high heels, flat shoes atau wedges yang bergaya feminim. Lagi-lagi berbeda dengan Mita.
"Karena baju murah itu ngga akan keliatan kalau kita PD dan nyaman pakainya. Tapi kalau sepatu, sepatu mahal sama sepatu murah itu keliatan dengan mata telan jang."
"Iya sih... Oke terakhir. Sepatu atau aku?"
Adit jahil menanyakan hal terakhir.
"Wah ini baru berat."
Adit tertawa.
"Mas Adit lah, no debat."
"Kenapa?"
"Karena yang tadi aku bilang. Meski aku se-cinta itu sama sepatu, tapi dunia tetap dunia walaupun ngga sepatu di bumi ini. Tapi kalau ngga ada kamu di hidup aku, namanya bukan kehidupan. Ngerti ngga sih?"
Perbedaan dengan Mita lainnya, Sena ekprsesif, persis seperti Rama.
"Sena jago gombal ya."
Sena tertawa.
"Aku ngga gombal."
Sena mengitari bagian toko lainnya. Ke arah display sepatu laki-laki.
"Mas coba pakai."
Sena memberikan sepatu seri Air Jordan dengan leher kaki yang tinggi, yang biasa digunakan untuk pemain basket. Namun dengan berkembangnya zaman, sepatu-sepatu yang biasa dipakai olahraga ikut bergeser pemakaiannya menjadi kasual santai yang tidak hanya dipakai saat olahraga. Bisa untuk nongkrong bahkan ke kampus.
"Cocok ngga?"
Sena menjawab dengan membulatkan jempol dan telunjuknya.
"Bungkussss."
Sultan dari lahir memang beda, melihat harga hanya sekilas.
Sena juga mengambil dua sepatu lainnya, yaitu seri internationalist dan seri huarache.
"Which one is your favourite?" (paling suka yang mana?)
"Selalu ini dong, favorite sepanjang masa. Dipakenya nyaman. Aku udah punya model in sebenernya, tapi belun punya warna ini. Saking suka nya sama seri huarache, aku pengen warna lengkap."
Sistem Huarache merupakan sistem yang mengintegerasikan antara lidah sepatu dan bagian dalam sepatu. Sneakers dengan sistem ini dirancang agar sepatu dapat pas dengan kaki, bahkan tanpa bantuan tali sepatu, hingga terasa nyaman saat digunakan.
"Yaudah sini, sekalian aku bayar."
Adit mengambil keranjang berisikan sepatu Sena dan sepatu dirinya yang dipilihkan Sena.
"Ngga usah, Kakak bekelin aku kartu. Hahaha."
"Kan udah ada aku, kenapa minta ke Kakak? Menurut kamu, aku ngga mampu?"
"Mas aja kesini naik ekonomi, gaya-gayaan beliin aku sepatu. Aku ngambil 3 lho ini."
"Kan aku udah bilang, aku naik ekonomi bukan berarti ngga punya uang. Mau liat isi kartu aku? Sini."
Adit mengambil ponselnya di tas, bersiap membuka mbanking miliknya.
__ADS_1
"Ngga usah, yaudah aku percaya. Tapi ini biarin aja Kakak yang bayar."
"Aku aja yang bayar, sia-sia aku pake ekonomi kalau kamu ngga mau barang dari aku."
Adit mengambil paksa belanjaan Sena. Lalu mengambil ponselnya menghibungi Yoga.
"Ga, masuk ke Nike. Sekalian cari sepatu."
Ternyata Yoga menunggu di luar toko, sejak tadi ragu untuk masuk. Akhirnya Adit menelponnya juga, tanpa ragu akhirnya ia masuk.
"Ambil dua Ga, yang bisa dipake kuliah."
"Yoga ngga bawa uang banyak Mas. Tadi mau minta ke teteh malu banyak orang."
"Tenang aja uang teh Sena banyak. Pilih aja sekalian yang bagus."
Sena mencubit lengan tangan Adit yang iseng.
"Serius Teh?"
"Serius."
Sena tertawa.
Sementara Yoga memilih sepatu, Adit dan Sena duduk menunggu.
"Kenapa suka sepatu? Sepatu kan dibawah, kadang ngga keliatan. Perempuan biasanya suka tas."
"Ini ada filosofinya. Sepatu yang bagus akan membawa kita ke tempat-tempat yang bagus. Ngga menjamin sih, cuma kayak harapan aja."
Adit memandangi perempuan yang ia rasa sangat mencintainya. Bersyukur bahwa Sena untuknya.
"Kalau Mas suka nya apa?"
"Aku suka nya mobil dan motor."
"Curang, itu lebih mahal dari sepatu. Aku gantiin nya ngga seimbang. Yaudah aku beliinnya mobil-mobilan."
Adit tertawa.
"Aku ngga minta kamu gantiin pake mobil atau motor."
"Gantiin pake apa dong?"
"Ganti dengan kesetiaan kamu. Aku pernah sakit sampai mati rasa. Jangan bikin aku ngerasain itu lagi, entah gimana aku kalau itu terjadi lagi. Kalau ada kemungkinan untuk itu, stop aja disini sebelum aku semakin sayang sama kamu. Karena aku tipe orang yang ngga mudah berpaling."
Adit mengucapkan dua kalimat terakhir dengan menunduk.
"Ngga, aku udah bahagia bisa sama kamu."
"Bener ya? Kalau kamu bisa janji, aku kasih semua hati aku."
"Aku janji."
Karena suasana dan tempat yang mendukung, Adit memeluk dan mengecup kening Sena singkat.
"Jangan bilang Kakak yang kita lakukan hari ini. Aku sayang kamu."
Adit mengusap kepala Sena dengan seluruh perasaannya.
"Aku lebih."
Adi tersenyum merangkul Sena di sisinya.
Sementara di belahan Market, sudah dua jam Rama dan Mita menunggu di kedai kopi langganan Rama.
"Aku tersiksa sayang."
"Sena pasti lagi seru-seruan. Aku cuma duduk disini, ngopi di Bogor juga bisa Sayang."
Mita sejak tadi ngedumel, Rama hanya tersenyum jahil melihat Mita kesal.
"Tadi diajak ke dalam ngga mau."
"Pengen sama Sena."
"Nanti malem keluar lagi sama Sena. Kita extend aja ya disini. Yang lain kan 5 hari lagi juga pulang. Papa soalnya mau ada workshop di Jerman. Kita dua minggu disini."
"Magangku gimana kalau kelamaan disini?"
"Kamu kan Masih haid. Aku ngga mau pulang sebelum hanimun beneran. Haid biasanya seminggu kan? Kita tambah satu minggu setelah haid kamu beres."
"Kelamaan Abang..."
"Enak aja, rugi bandar kalau ngga dapet apa-apa."
Mita sudah menghitung anggaran Rama selama mereka berlibur. Tidak kurang dari 1 M yang harus Rama keluarkan. Rasanya memang tidak adil jika Rama tidak mendapatkan yang is inginkan.
"Kamu punya fan tasi liar ngga?"
"Maksudnya?"
"Aku ada. Please jangan tolak aku."
Rama menarik wajah Mita mendekat ke wajahnya, meraup semua bibir istri nya.
Sebelum menikahi Mita, saat berada di kedai kopi tersebut sendiri, Rama selalu membayangkan kehadiran Mita di sisinya. Melakukan hal yang menjadi pemandangan sehari-sehari sepasang kekasih saat menikmati kopi di kedai tersebut.
Kini, di tengah musim dingin, akhirnya Rama bisa merasakannya dengan Mita. Hingga lepas kontrol, tangan Rama sudah meraba kemana-mana, masuk ke dalam jaket Mita.
"Rama, istigfar."
Kehadiran Pak Romi mengagetkan pasangan suami istri tersebut.
"Astagfirullah, ya Allah..."
Kini Bu Rini yang istigfar.
Wajah Mita memerah karena malu kepergok mesum di kedai.
"Biasalah Pah anak muda sini. Rama juga pengen ngerasain sama istri sendiri. Halal ini. Yuk pulang, udah beres kan?"
Pak Zainal hanya tertawa melihat kelakuan menantunya yang cuek bebek.
Dua jam lamanya para orangtua menghabiskan waktu di Market, membeli bermacam-macam sayuran, buah, makanan dan pernak-pernik untuk oleh-oleh.
Menjelang siang rombongan yang pergi ke market sudah sampai apartemen. Segera Bu Rini dan Bu Lia ke dapur untuk memasak makan siang.
Sementara Sena, Adit dan Yoga samlai dua jam kemudian, setelah Rama bolak balik menelpon ketiga nya bergantian. Menelpon Sena dan Adit menyuruh segera pulang, sementara menelpon bahkan video call Yoga untuk memantau aktivitas Sena dan Adit yang saat itu sedang membeli kebab di sekitar jalan menuju apartemen.
"Bahagia banget mukanya. Abis ngapain hayo?"
"Beli es krim, jalan-jalan sama beli sepatu."
Sena tersenyum senang, belum pernah ia sebahagia ini sebagai perempuan dewasa.
Mita dan Rama diam. Es krim mengingatkan mereka berdua akan sesuatu.
Tatapan Rama kini mengarah ke Adit yang sedang membawa 4 buah kantong belanjaan berisi sepatu miliknya dan Sena.
"Ngapain aja tadi?"
__ADS_1
Rama tidak ingin bertanya pada Sena, ia ingin mendengar jawaban dari Adit.
"Nganter Sena doang. Abis dari museum langsung ke Nike store."
Karena tidak nyaman dengan pandangan mengintimidasi dari Rama, Adit hendak ke apartemen sebelah, tempat dimana kamarnya dengan Yoga berada. Karena apartemen Rama hanya 2 kamar yang diisi oleh Rama, Mita dan juga Sena.
"Aku ke kamar dulu ya Sen."
Sena mengangguk, sebahagia ini memiliki hubungan yang tidak perlu ditutup-tutupi.
Adit keluar apartemen, Sena masuk ke dalam kamar. Sementara Yoga sengaja ditahan oleh Rama untuk diintrogasi.
"Tadi ada yang macem-macem ngga Ga?"
"Aman Bang, ada Yoga."
Yoga tidak ingin dianggap cepu (mata-mata). Lagi pula menurutnya, Adit dan Sena masih dalam tahap wajar.
Begitu Adit masuk ke apartemen sebelah, ternyata para tetua sedang ngobrol sambil menikmati kopi dan croissant yang sepertinya di pesan oleh Rama.
"Abis dari mana Dit?"
Kayaknya penting banget dari tadi pada nanyain dari mana, batin Adit bicara.
"Jalan-jalan sekitar Museum, duduk-duduk, sama ke Nike Om."
Adit ikut bergabung dengan Bapak-bapak setelah menyimpan satu tas belanja berisi sepatu miliknya yang tadi ia beli.
"Sena beli sepatu?"
"Iya." Adit tersenyum, orangtua Sena paham betul hobi anaknya yang menyukai sepatu.
"Beli berapa?"
Pertanyaannya harus se-detail ini?
"Beli 3."
"Sena selalu memanfaatkan keadaan."
"Cerdas berarti Om, turunan dari siapa ya? Tante kali ya?"
Pak Romi tertawa sumbang.
"Jelas dari Papa nya."
"Sempet berpikir kesana sih Tan, cuma biar lebih sopan aja sama Om."
Kali ini Adit sudah berani melontarkan candaan-candaan ringan, seperti yang Rama sering lalukan kepada ayahnya.
"Bisa aja kamu. Kamu ngerokok ngga?"
"Kalau rokok ngga, paling vape aja kadang-kadang."
"Kalau lagi pusing sama cewek ya?"
Adit dan Pak Zainal tertawa. Adit jadi terkenang saat-saat sulit melupakan Mita, anak Pak Zainal.
"Kuliah juga bikin pusing."
"Pusingan mana mikirin perempuan atau kuliah?"
Pak Zainal kali ini ikut bertanya.
"Sama sih Pak. Hahaha."
"Hebat loh Adit ngga ngerokok, dokter jantung kalah."
Bu Lia protes kebiasaan buruk suaminya.
"Itu kan kadang-kadang, ngga tiap hari. Yang penting anak sama calon mantu ngga ngerokok itu suatu kebanggaan."
Adit terkejut mendengar kata calon mantu keluar dari mulut Pak Romi.
"Sama Sena udah serius atau baru perkenalan?"
Deg, Bapaknya nanyain anaknya.
"Perkenalan yang serius."
Jawab Adit yakin. Tapi please, jangan tanya nikah dulu, Adit bermonolog sendiri.
"Sena kan anak bungsu, kamu anak bungsu, itu gimana? Udah siap ngadepin Sena yang kayak gitu?"
Kayak gitu gimana maksudnya?
"Sejauh ini Sena ngga pernah macem-macem alhamdulillah. Saat-saat tertentu aja suka rada-rada nyebelin. Tapi masih bisa Adit handle, Om."
Adit memang laki-laki baik, bahkan ketika bersama Mita, Pak Zainal sudah yakin bahwa Adit adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Andai ia punya dua anak perempuan, Maka akan meminta Adit menjadi menantunya tanpa ragu.
"Kuliah cepet selesaikan, pulang ke Indonesia, merintis karir di tanah sendiri dan membangun keluarga. Dunia seleb kamu itu jadikan sampingan aja. Sebulan berapa? 100 dapet?"
"Lebih sih kalau sudah normal. Adit kemarin sempet off setahun lebih. Baru dua minggu ini jalan lagi."
"Kenapa off?
"Bosen." Admit tersenyum simpul menutupi alasan sebenarnya.
"Kalau bosen kenapa dijalanin lagi?"
Haruskah berkata jujur?
"Biar ada tabungan lebih. Karena dari usaha di Indonesia disuruh Ayah full investasikan lagi sementara tabungan mulai tipis." Adit tersenyum malu. Adit tidak sempat memikirkan alasan lain yang masuk akal, hingga jalan satu-satunya adalah jujur.
"Bagus kalau gitu, Ayah berpikir jangka panjang buat kamu. Sama Sena sudah berapa lama?"
"Sekitar dua bulan, sebelumnya temenan biasa."
"Sena banyak ya jajannya sampai jalan lagi endorment nya?"
Pak Romi dan Pak Zainal tertawa.
"Lumayan. Hahaha."
"Ayahhya Adit ini, kakak tingkat istri saya di kampus. Pernah deket tapi ngga jadi. Hahaha."
Pak Romi menatap Pak Zainal, memberikan informasi yang membuat Pak Zainal dan Bu Rini sedikit kaget.
"Papa..."
Semua orang tertawa dengan respon Bu Lia yang terlihat kesal.
"Walaupun uangnya banyak, tapi jangan sampai ilmu dari pendidikan kamu yang ngga mudah ini ngga kepake. Papa juga nitip Sena."
Kupingnya ngga salah denger? Papa?
"Iya Pah..."
Terasa canggung, tapi Adit akan mencobanya.
Papa?
__ADS_1