Cinta Mita

Cinta Mita
Ipar Terbaik


__ADS_3

Jumat pagi, giliran Mita yang bersiap untuk pergi ke JVAC. Setelah minggu lalu Sena menyambangi tempat yang sama dan bertemu dengan orang yang tidak Adit harapkan.


Tidak ada kesulitan yang berarti di dalam dalam pengurusan visa bagi Mita karena Rama segalanya sudah diatur oleh Rama.


"Bisa ngga sih Bang pake jalur biasa aja, yang sama kaya orang. Ngga usah pake jalur orang dalam."


Dalam beberapa hal Mita masih tidak terbiasa dengan segala kemudahan yang bisa Rama berikan. Salah satunya adalah koneksi orang dalam.


"Lho, aku ngga nyogok kok. Kalau dalam pengurusan visa itu ada yang namanya rekomendasi. Disini aku merekomendasikan kamu ke temen aku yang kerja di JVAC, bahwa istri aku mau pengajuan visa. Mempermudah kerja dia juga, ngga capek-capek nge-cek kamu. Kan itu di cek background kamu, ada kemungkinan untuk jadi pekerja ilegal di Jepang atau ngga. Istri aku mana mungkin jadi TKI ilegal. Ya kan?"


Kali ini masuk akal. Baiklah.


Beda hal nya dengan Yoga. Laki-laki berusia 18 tahun tersebut sedang menikmati perannya sebagai adik ipar dari crazy rich. Bagi Yoga, Rama adalah orang paling crazy kekayaannya dari seluruh orang yang ia kenal.


Hari ini Yoga diantar ke kampus oleh Pak Yanto menggunakan mobil Rama.


"Bang Rama baik ya Pak?"


Sambil memperhatikan Pak Yanto nyetir, Yoga mengajak bicara agar suasana tidak kaku.


"Baik banget, Den. Anak cucu saya, yang biayain sekolahnya keluarga Den Rama."


"Yang bener Pak?"


Dil luar ekspektasi Yoga, ternyata Rama dan keluargnya banyak memiliki anak asuh yang dibiayai sekolah dan hidupnya.


"Bener Den, masa Saya bohong."


Satu kata yang pas untuk Rama yaitu sempurna.


Tenyata kebaikan itu menurun, pikir Yoga.


Proses registrasi dan daftar ulang hari ini berjalan lancar. Tentunya berkat Rama dengan uangnya yang tidak berseri.


Meski demikian, Mita meminta Yoga untuk tidak memanfaatkan kebaikan Rama, demi kebaikan Yoga.

__ADS_1


"Nanti di kampus ikut pengajuan beasiswa aja, Ga. Lumayan kalau dapet keringanan."


Beberapa hari lalu selesai makan malam, Yoga, Rama, Mita dan Bu Rini ngobrol sambil menonton berita


"Keringanan apa?"


"Biaya kuliah atuh Bang."


"Ngapain? Teteh nya mampu kok."


Rama bicara sambil mengunyah snack taro di genggaman Mita.


"Ya kan lumayan kalau bisa lebih murah."


"Ngga usah. Kalau Teteh ngga mau bayarin kuliah kamu, nanti Abang yang bayarin. Sama adik kok hitungan."


Rama menyipitkan pandangan ke arah Mita. Tidak masuk di akalnya.


Rama yang bisa membiayai anak orang lain yang tidak ada hubungan kekeluargaan dengannya, lantas membiarkan adik iparnya mencari beasiswa?


"Udah cukup dia merih sampai SMA kemarin. Sekarang kan ada aku, udah lah ngga usah ribet kenapa sih... Pengajuan beasiswa itu makan waktu, tenaga. Suruh aja adiknya fokus belajar."


Tanpa sadar Bu Rini menitikan air mata mendengar ketulusan Rama.


"Yaudah iya... Denger kan Ga? Fokus belajar."


"Iya Teteh."


"Makasih atuh ke Abang."


"Makasih ya Bang."


"Sama-sama. Apa sih yang ngga buat adik Abang."


Rama memainkan alisnya ke arah Yoga, agar Yoga tidak sungkan.

__ADS_1


Dan kini, segalanya mudah bagi Yoga. Meski ia tidak bisa menyalahgunakan kebaikan Rama.


*****


Selesai acara, Adit melihat cacatan di ponselnya. Ia teringat tugas yang harus diselesaikan besok.


"Sil, toko buku yang lengkap dimana?"


Mengingat Silvi di Jepang sudah hampir empat tahun lamanya, pengetahuan akan tempat-tempat di Jepang tentunya Silvi lebih paham.


"Kalau aku sukanya ke Tower Records di Shibuya. Mas lagi cari buku?"


"Iya buat bahan materi."


Silvi tersenyum. Adit bertanya pada orang yang tepat.


"Bareng aja yuk. Kebetulan aku juga lagi cari buku."


"Serius?"


Dari Yokohama, tempat festival kebudayaan digelar, Adit dan Silvi menggunakan kereta Tokyu Toyoko dari Stasiun Yokohama. Perjalanan memakan waktu 27 menit, sedangkan harga tiketnya sebesar 270 yen atau setara dengan Rp38.000.


"Kita ngga apa-apa kan Mas pergi berdua?"


"Ngga apa-apa. Kenapa emangnya?"


Adit lupa bahwa ia tidak suka jika Sena pergi berdua dengan laki-laki lain.


Malam itu, terasa lebih indah bagi Silvi. Meski ia sadar bahwa ia salah, tapi ia sendiri tidak bisa mengontrol perasaan yang datang tanpa permisi.


"Mas udah kemana aja di Jepang?"


"Belum banyak, terlalu sibuk nyari rupiah."


Silvi paham karena setiap harinya story instagram Adit lebih banyak berisi endorment.

__ADS_1


__ADS_2