Cinta Mita

Cinta Mita
Budak Cinta


__ADS_3

Adit mengendarai motor menuju Jakarta dengan kecepatan diatas rata-rata. Berangkat dari Bandung Jam 5 sore, sampai di rumah orangtuanya pukul 9 malam. Selama perjalanan, terhitung Adit hanya istirahat satu kali yaitu saat shalat Isya sekaligus meng-qashar shalat Maghrib yang ia lewatkan.


Sesampainya di rumah, keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga. Pak Bambang, Bu Retna dan Putri duduk lesehan di depan tv sambil menonton berita dengan topik seputar kenaikan harga bahan pangan.


"Naik nya gila-gilaan, edyaan."


Komentar Putri yang bekerja di kementrian perdagangan.


"Imah sekarang kalau belanja sayur dan lauk mingguan ke pasar ngga cukup sejuta, Yah. Biasanya segitu udah lumayan lengkap. Sekarang 1,5 juta ngga selengkap 1 juta sebelum barang-barang naik. Ibu sampe shock."


"Pemerintah kan ngga bisa terus memantau harga pasar Bu. Kita rutin adakan sidak pasar, tapi semua harga yang menentukan pasar, tengkulak."


"Peran pemerintah kalau gini opo?"


"Nah itu tugas mentri perdagangan. Piye Put?"


"Pusing aku, Yah."


Saat obrolan masih seputar kenaikan bahan pangan sambil menikmati buah potong sebagai camilan malam, Adi masuk dengam tas ransel yang dan sekantong jinjingan.


"Eeh, anak Ibu yang hilang sudah pulang."


"Aku cuma holiday semalam, Mbak."


"Podo wae." (sama aja)


"Gimana lancar disana?"


"Lancar dong."


Adit tersenyum sumringah. Kini perutnya terasa lapar lagi.


"Udah makan semua tah? Aku laper."


"Ngga dikasih makan tah kamu disana?"


"Tadi sore makan di warung tenda., ngga mampir-mampir lagi. Wajar jam segini lapar lagi."


"Kamu makan sendiri? Kenapa ngga sama Sena?"


"Sama Sena dong, ngapain aku di Bandung kalau ngga sama dia."


"Lha dia mau makan pinggir jalan? Ngga sakit perut itu dia. Aku e emoh."


"Alah lebay, Mbak ngga secantik Sena tapi lebay nya lebih-lebih."


"Eh lambe mu."


"Sena bisa menyesuaikan aku, calon istri sholeha."


"Aku lihat di story kamu kasih boneka kan? Geli aku kaya anak SMA itu lho Buk, alay. Buat cewek dibela-belain, bonekanya gede banget. Tapi makan di pinggir jalan, habis uangmu?"


"Aku mah bisa-bisa aja makan di fine dining. Biar simple Mbak maksudnya, selesai makan langsung pulang."


Mendengar Putri membahas boneka yang ia lihat di story Sena, Adit teringat bahwa ia belum membuka instagram hari ini.


Tersenyum karena penasaran adakah akang-akang yang membalas story Sena.


"Baru semalam kamu di Bandung, udah sunda pisan euy."


Putri menirukan dengan logat Sunda.


"Dapet toh logatnya? Mojangnya juga tak sikat."


Adit mengambil tiga potong apel sekaligus. Malas rasanya harus makan sendiri.

__ADS_1


"Opo yang di sikat?"


Adit tersenyum memeluk Bu Retna yang berada tepat di sampingnya.


Adit baru menyadari bahwa instagram Sena udah keluar dari ponsel miliknya. Karena penasaran, Adit langsung menelepon Sena saat itu juga.


"Lagi apa?"


Pertanyaan basa basi dengan nada datar.


"Masih nugas. Kenapa Mas?"


"Kemarin kamu pinjem HP aku, ngga kamu apa-apain?"


"Ngga aku apa-apain. Kenapa memangnya?"


Sena tidak ingat dengan yang ia lakukan kemarin.


"Instagram kamu keluar dari HP aku. Kamu ganti password?"


"Ngga, password aku masih sama."


Sena baru ingat. Kemarin ia me-log out akun instagramnya di ponsel Adit saat si pemilik ponsel tertidur di pojok baca rumah Enin.


"Kok ke log out?"


"Hmmm?"


Adit bingung harus menjawab dengan kalimat bagaimana.


"Kamu yang log out?"


Sena diam.


"Kenapa di log out?"


"Ngga kenapa-kenapa. Mas mau instagram Mas log out dari HP ku juga? Nanti aku log out, for sure."


"Ada apa di instagram kamu?"


"Ngga ada apa-apa, sumpah."


Seluruh telinga yang ada di ruang keluarga kini fokus mendengarkan pembicaraan Sena dan Adit.


"Terus kenapa di log out?"


Adit meninggikan suaranya, spontan bangun dari tidur-tidurannya di paha Bu Retna.


"Kok Mas marah sih? Aku jadi kaya tersangka. Aku ngga ngapa-ngapain, ngga selingkuh juga."


Tugas Sena belum selesai, masih banyak isi di kepalanya yang harus ia tuangkan dalam sketsa gambar. Namun sepertinya tidak semudah yang ia bayangkan.


"Ya marah atuh aku, kamu log out ngga bilang. Apa sih yang mau kamu tutupin?"


Pak Bambang menunduk mendengarkan obrolan Adit dan Sena.


"Aku ngga nutupin apa-apa. Aku cuma takut Mas khawatir kalau ada DM masuk yang ngga jelas. I can handle everything, don't worry."


"Akang yang mana yang mau kamu lindungi hah?"


"Lindungi apa sih? Mas mah..."


Belum selesai Sena bicara, Adit memutuskan percakapan. Tidak ingin mendengar ucapan Sena yang klise di telinganya.


Dengan rasa kesal yang memenuhi dadanya, Adit menghabiskan alpukat yang sudah dipotong.

__ADS_1


"Kenapa Dek?"


Akhirnya Bu Retna memberanikan diri untuk bertanya. Mengusap punggung anak bungsunya untuk menenangkan.


"Nggak."


"Selingkuh tah pacarmu? Kurangmu opo toh Dit. Heran aku."


Adit tidak menjawab pertanyaan Putri.


Meski tidak yakin Sena demikian, kemungkinan Sena untuk selingkuh sangat ada bagi Putri.


"Ngga usah terlalu dipikirin. Wajar-wajar aja kalau Sena butuh privasi."


Pak Bambang mencoba memahami dari sisi Sena dari apa yang barusan ia dengar.


"Aku udah kasih akses semua punya ku, dia nya masih minta privasi. Privasi kaya gimana? Aku ngga ngerti sama cara berpikirnya."


Adit menuju dapur ingin membuat sesuatu.


"Energen dimana Bu? Emosi jadi tambah laper."


"Ojo emosi. Ibu bikinin."


Blank, Adit tidak sadar dengan yang dilakukannya. Mondar-mandir tidak jelas.


Selesai menghabiskan segelas energen coklat, Adit mengambil sarung tinju di kamar kakak laki-lakinya yang tidak dikunci. Lantas meninju samsak yang digantung di balkon lantai dua.


"Masalah itu biasa dalam hubungan. Kamu terlalu memikirkan hal-hal buruk, yang bikin kamu kepikiran. Apapun disambung-sambungin, padahal ngga gitu, Dek."


Kali ini Putri sedikit lebih bijak, karena tidak ingin adiknya bertambah galau karena besok harus kembali ke Tokyo.


"Mbak ngga tau Sena. Dia di kampusnya banyak yang suka, mau tak tinggal. Wajar aku ada ketakutan."


"Kamu kasih dong kepercayaan."


"Sulit untuk percaya."


"Ngapain kamu memulai hubungan kalau ngga percaya? Aku yang ngga ngerti cara berpikir kamu."


Putri duduk di salah satu kursi baklon. Ia hendak mengirimkan DM kepada Sena, untuk konfirmasi.


"Maaf kalau aku ikut campur urusan kamu sama Adit. Tapi besok Adit kan berangkat, Ibu khawatir kalau mood Adit begitu."


"Itu lho Mbak. Ada kakak tingkatku yang deketin aku. Dia suka DM, kirim-kirim paket, Adit ngga suka. Takutnya pas mood Adit jelek, ada DM ngga jelas dibaca Adit, dia marah atau gimana kan aku takut. Bukan aku selingkuh, jangan salah tangkap."


"Ealahh cah gendeng. Cemburu doang?"


"Adit itu pernah nyamperin mantanku yang di Sing karena suka ganggu aku di DM. Itu awal-awal pacaran, kalau sekarang ada yang gitu lagi dia bisa lebih parah. Mbak paham kan posisi aku?"


Meminta pengertian dari Adit rasanya sulit. Mungkin Putri bisa mengerti lebih dari Adit, harap Sena.


"Ya aku paham."


"Adit lagi apa Mbak? Ngga macem-macem kan dia?"


Putri mengirimkan video Adit yang sedang meninju samsak. Jelas raut wajah Adit yang memerah plus berkeringat karena pukulan dia sendiri.


Karena merasa dipermainkan, Putri menoyor kepala adik bungsunya.


"Bucin akut."


Adit semakin menjadi-jadi, karena Sena tidak kunjung mengirimkan pesan.


"Maunya apa tah?"

__ADS_1


Adit duduk, mentap langit dari balkon dengan keringat yang mengucur dari dahinya.


__ADS_2