Cinta Mita

Cinta Mita
Hamil?


__ADS_3

"Ini bagus Teh."


Sena mengambil sebuah blouse berwarna salem, yang terlihat cocok untuk Mita.


Mita dan Rama membuat janji dengan Sena di mall saat jam kosong. Sena keluar kelas jam10 dan baru ada kelas kembali jam 3 sore sampai jam 4.


"Tapi lucuan ini kayaknya."


"Itu model yang aku mau, tapi aku warna lylac nya. Ini, udah aku masukin."


Sena mengangkat shopping bag berisi beberapa helai baju yang ia beli.


"Samaan ngga apa-apa ya, beda warna ini kan?"


"Ngga apa-apa."


Mita melihat sekeliling toko mencari suaminya yang tengah duduk di sofa tunggu, fokus dengan ponsel.


"Sayang bagusan mana?"


Mita memegang lima buah baju. Namun Rama hanya menjawab seperlunya, melihat sekilas baju yang Mita pegang .


"Bagus semua. Approve Sena semua kan?"


Mita mengangguk.


"Aku ambil semua ya?"


"Iya, Sayang."


Rama juga melihat sekilas tas belanja berwarna transparan yang Mita bawa.


"Bayar dulu, kalau udah kita langsung makan. Sena mana?"


Rama memeriksa sekitar namun tak melihat adik kesayangannya.


"Ke toko sebelah kayanya, dia udah bayar duluan tadi. Udah laper?"


"Laper, aneh banget. Padahal tadi aku makan kayanya banyak juga."


Sebelum berangkat, Enin meminta Rama dan Mita untuk makan terlebih dahulu, meski belum waktunya makan siang.


"Seenak-enaknya makanan di luar, makanan di rumah itu lebih sehat dan enak. Komo bari Cucun nu masakna, endol pisan ceuk budak ngora ayeuna." (Apalagi Cucun yang masak, enak banget kata anak muda zaman sekarang).


Hingga Rama dan Mita tidak mampu menolak.b


"Sayangku jadi embul gini makannya."


Mita memeluk Rama dengan manja. Namun Rama tidak merespon, malah mengetik pesan untuk Sena. Rama sendiri sudah hafal betul letak toko dan restoran yang biasa ia datangi di Paris Van Java Mall.


"Sen kita duluan ke Gyu-kaku, kamu nyusul."


Sehabis membayar pakaian Mita yang ternyata banyak, Rama dan Mita segera merapat ke restoran Jepang yang tidak jauh dari posisinya saat ini.


"Selesai belum belanjanya? Kita ngga bisa pulang terlalu malam. Besok aku ada meeting. Ngantuk banget semalam aku begadang beresin kerjaan."


"Belum, aku masih ada yang dicari, dimohon bersabar. Mumpung lagi disini sama Sena."


Rama mengangguk kecil seolah berkata,


"Baiqlah..."


"Toko yang komplit aja biar hemat waktu dan tenaga, ngga ngantri lagi di kasir. Pilihin sepatu juga buat aku."


Rama teringat beberapa pasang sepatu nya yang itu-itu saja karena malas berbelanja.


"Aku udah ada incaran, dari kemarin udah liat model-modelnya di website resminya. Sepatu sama kemeja buat kamu, Yoga, Papa, Mama, Ibu, Bapak, Enin, semua aku beliin. Buat mamang sama uwa aku kasih uangnya aja biar beli sendiri. Sena juga pilih sendiri sekalian sama buat Adit."


Rama tersenyum. Mita the kind hearted, pikir Rama. (baik hati)


Keterbatasan finansialnya dulu, seringkali membuatnya berangan-angan ingin membelikan ini dan itu untuk orang-orang terdekatnya. Kini berkat kehadiran Rama, semuanya menjadi mungkin untuk diwujudkan.


"Fery beliin, ukurannya dibawah aku satu nomor. Rena kayaknya diatas ukuran kamu, mungkin dua nomor."


"Baik banget suami aku, inget temen."


"Fery juga udah baik sama kita, kalau bukan karena dia yang handle kantor, kita ngga mungkin kesini."


Mita mengangguk.


"Tambahin ya uangnya."


Kini tersenyum malu.


"Tadi pake kartu siapa emangnya?"


"Kartu aku. Aku takut uang Abang habis."


"Dompet aku kan di kamu, pake kartu aku aja nanti uang kamu yang habis."


"Kalau uang aku habis kan bisa minta ke Abang, kalau uang Abang yang habis kita minta ke siapa?"

__ADS_1


Rama tertawa. Mita nya masih sama, masih sama polosnya. Hanya berbeda di jumlah kata yang keluar setiap harinya yang semakin meningkat.


"Minta Papa Mama, warisan aku banyak. Ngga tau kan?"


"Hush sembarangan ngomong warisan. Kita ngga boleh mengharapkan warisan, Sayang."


"Iya maap salah ngomong. Aku ganti aja nanti totalnya berapa. Tadi kamu izin ambil semua aku kira pakai kartu aku."


"Pakai uang aku yang dari Abang, kalau habis aku minta lagi."


"Ya jangan nunggu habis, gimana sih."


Rama masih bingung cara pikir Mita.


Sesampainya di restoran tujuan, Rama memesan menu AYCE (all you can eat).


"Ngga kebanyakan pesen AYCE, Sayang?"


Mita protes, menurutnya kurang worth it memesan menu AYCE yang harganya lebih mahal, karena ia sendiri makan tidak terlalu banyak.


"Aku laper, lebih hemat AYCE kalau dihitung-hitung."


Mita tergelitik, ternyata Rama masih memikirkan harga.


Tidak lama setelah memesan, Sena datang membawa lima goodie bag berisi belanjaan miliknya sendiri.


"Ini cewek-cewek kesambet apa sih, belanjaannya kaya mau Lebaran."


"Aku belanja buat Adit juga, sepatu sama sweater."


"Dia menang banyak kamu belanjain, awas aja pake kartu aku geseknya."


Rama berkomentar sambil membalik daging di pembakaran.


"Dia kemarin transfer, bilangnya buat aku jajan, jadi aku beliin aja sekalian. Masih sisa malah uangnya."


"Transfer berapa?"


Rama betul-betul ingin tahu Adit laki-laki seperti apa. Tulus atau karena ada mau nya.


"10 jeti."


"Banyak amat."


Rama kaget, seukuran Adit yang pekerjaannya tidak jelas menurutnya, bisa memberikan uang jajan sebanyak itu termasuk hal yang mengagetkan.


"Tarif dia sekali endors itu sih."


Mita berkomentar, seseorang yang pernah memegang keuangan Adit beberapa bulan lamanya.


Membicarakan uang bagi kebanyakan orang memang hal yang tabu. Namun sebenarnya penting bagi pasangan yang merencanakan hubungan serius.


"Kalau dia yang bikin kontennya, dia yang mempromosikan langsung terus post video nya di story memang segitu rate nya. Kadang ada sih yang nawar kalau teman atau kenalan yang minta tolong. Kalau post nya di feed lebih mahal lagi. Tapi kalau cuma pasang iklan di story, lebih murah."


"Sebulan berapa produk yang dia iklanin kaya gitu?"


Rama tertarik dengan pekerjaan yang Adit geluti.


"Abang liat aja story dia tiap harinya. Kalau post video biasanya 1-2 produk sehari, tapi story iklan nya banyak. Sekarang malah aku lihat dia banyak ber partner sama brand besar, bayarannya lebih mahal lagi."


"Semudah itu dia cari uang. Boleh juga."


"Keren kan pacar aku. Calon suami deng, aamiin."


Sena penuh harap berjodoh dengan Adit dengan aamiin yang paling dalam.


"Aamiin, Adit baik kok orangnya."


Rama beberapa kali memanggil waitress untuk nambah daging dan pelengkap lainnya.


"Kakak ngga salah, dari tadi ngga berhenti makan?"


"Iya kan Sen, aku sampe bengong liat Abang makan dari tadi. Padahal tadi kita makan sayur lodeh, gurame, ikan asin sebelum kesini. Omaygat, eungap Sayang."


"Kerjaan aku lagi banyak banget, pake otak, jadi cepet laper."


Satu jam full makan tanpa henti, Rama akhirnya merasa kekenyangan. Lalu kembali melihat ponselnya, dan kembali fokus pada grup whatsapp proyek terbarunya.


Mita berbincang rindu dengan Sena. Karena usia yang sama, hingga membuat satu sama lain merasa cocok. Pembicaraan keduanya pun seru, mulai dari persoalan kuliah hingga kehidupan asmara bersama pasangan masing-masing.


"Abang mah mana ada begitu."


Saat menimpali cerita Sena tentang Adit. Seolah tidak sadar bahwa yang Mita sebut dengan "Abang" ada disampingnya. Namun Rama hanya fokus pada layar ponsel dan memilih mengacuhkan obrolan-obrolan unfaedah.


Hingga Mita merasa terganggu dengan tatapan dua orang perempuan muda yang memperhatikan Rama dengan senyuman penuh.


"Ehemmm."


Mita berusaha mengusik konsentrasi Rama.


"Hah?"

__ADS_1


Rama celingak celinguk tidak mengerti maksud Mita.


"Itu dua cewek liatin Kakak dari tadi."


Sena juga menyadari Kakaknya menjadi pusat perhatian para wanita.


"Pengen kenalan kali sama Abang."


Mita berkomentar ketus dengan tanpa sadar mengambil segelas ocha dingin demi menutupi perasaan kesalnya agar tidak kentara.


Spontan Rama melirik ke arah kanan dimana dua sosok perempuan yang dimaksud berada. Karena ia pun merasa ada yang memperhatikan sedari tadi.


"Pantesan dari tadi istrinya didiemin, kayaknya ikut memantau juga."


"Memantau apa? Aku lagi chat di grup proyek sama Fery, calon investor, sama Fima juga. Sama nulis note buat bahan meeting besok."


"Kita jalan berdua aja Sen, aku sekalian mau cari baju sama sepatu buat sidang. Jangan ganggu yang lagi sibuk, sekalian TP-TP." (TP \= tebar pesona)


Pikiran Rama kini terpecah, meski fokus matanya pada ponsel, namun telinganya masih berfungsi dengan baik.


"Aku salah terus kayaknya. Siapa sih yang tebar pesona?"


Mita acuh tak acuh mendengar gerutuan Rama.


"Belanjanya berdua aja jadinya? Aku nunggu disini?"


"Terserah, biar bisa sekalian kenalan sama yang kemeja pink itu duhai, empuk depan belakang."


"Aku lagi ngga berminat untuk bercanda Sayang..."


"Aku juga ngga bercanda, sok aja mau kenalan mah mangga."


"Kakak nunggu di mobil aja."


Sena menengahi.


"Sabar... Orang sabar nanti pekerjaannya dipermudah."


Sena merangkul Rama, mentransfer energi positif agar Rama lebih tenang.


"Kalau kurang apa-apa WA ya Sen, aku stand by pegang HP."


"Siap, asal jelas."


Rama mencubit pipit Sena, mengerti kejelasan yang Sena maksud.


Dua perempuan dengan status sister in law tersebut mendatangi toko fashion ternama yang menjual segala keperluan dalam berbusana, sesuai permintaan Rama. (sister in law \= saudara ipar)


Untungnya Mita sudah memilih model yang cocok untuk Rama, orangtua dan Yoga hingga tidak sampai satu jam keduanya sudah keluar dari toko tersebut. Hanya menambah masing-masih satu buah kemeja dan sepatu untuk Ferry dan Rena.


"Jangan terlalu lama, kita langsung pulang. Biar ngga terlalu malam sampai apartemen."


Pesan dari Rama yang ia pun sudah tau.


Begitu sampai rumah, Mita mencari Enin. Memberikan sebuah selendang yang bisa dipakai untuk acara-acara resmi dan sandal berbahan croslite, yaitu bahan karet bersel tertutup yang antiselip, tidak meninggalkan jejak dan antimikroba. Cocok dengan Enin yang membutuhkan kenyamanan.


"Enin dapat jatah juga? Nuhun geulis, semoga cepet dikasih momongan."


Aamiin, Mita hanya bisa tersenyum sambil berdoa.


Rama memantau keberadaan Pak Karman, yang akan membawa mobilnya ke Tangerang. Lalu menuju kamar Sena untuk pamit sekaligus meminta bantuan.


"Sen, tolong kasih tau Mita jangan suka cari masalah. Sekarang dia sensitif banget, pusing aku ngadepinnya. Masa aku harus minta tolong mertua untuk nasehatin anaknya? Kerjaan aku lagi banyak, takutnya aku lagi capek ngga bisa sabar ngadepin dia."


Di hadapan Mita, Rama berusaha meluaskan dada nya untuk bersabar lebih banyak.


"PMS bukan? Tapi kayaknya ngga, tadi pagi kompakan basah rambut artinya enak-enak kan semalam?"


"Anak kecil ngerti apa enak-enak."


Rama mengingat-ngingat kapan terakhir Mita haid. Rasanya beberapa bulan lalu saat di Amerika.


"Sen, mungkin ngga kalau Teteh kamu hamil?"


"What?? Jangan gila kak."


"Lho kenapa gila, aku suaminya."


Sena tertawa saat sadar Rama dan Mita sudah menikah.


"Ya Allah beneran?"


"Jangan berisik dulu, keep dari siapapun. Papa, Mama, Enin, juga Mita. Aku make sure dulu."


"Adit boleh dong? Aku ngga bisa kalau ngga cerita ke Ayang."


"Ayang-ayang. Alay. Aku pamit ya, jangan macem-macem, sekali macem-macem aku langsung nikahin kamu."


Rama menarik tangan Sena untuk ia peluk adik semata wayangnya.


"Wah ide bagus. Apakah aku harus macem-macem aja ya? Biar disuruh nikah. Hahaha."

__ADS_1


Sena tertawa keras, membuat Rama kesal.


"Bandel."


__ADS_2