Cinta Mita

Cinta Mita
Malam penuh rindu


__ADS_3

Selamat hari Minggu pagi semuanya


Aku mau pengumuman, nanti akan ada novel terbaru aku tentang Neneng yang cintanya di duakan oleh suaminya. Neneng yang tengah bahagia menanti kelahiran anak kedua ternyata harus mendapatkan kabar yang menyayat hatinya. Sosok kepala rumah tangga panutan ternyata sudah menikah kembali dengan calon anak dari istri baru nya. Hati istri mana yang Tidak teriris ketika mendengar berita tersebut?


Tunggu novelnya terbit ya ❤️❤️


******


Seminggu setelah kejadian, line produksi FF berencana melakukan outing tipis-tipis ke Pantai Sawarna.


"Mbak Mita ikut Mbak, kapan lagi kita jalan-jalan.''


Kali ini Prasetyo, karyawan asal Temanggung mengajak Mita ke pantai bersama operator pabrik. Refreshing dari pekerjaan yang seminggu kemarin terasa berat.


"Kamu ngajakin calon istri nya bos, mana mungkin dia mau." Mbak Isma turut dalam pembincangan rencana outing minggu besok. Saat itu ia sedang istirahat di line produksi bersama operator yang 80% terdiri dari laki-laki dan QC yang bertugas.


"Bukan gitu Mbak Is, nanti aku pikir-pikir dulu. Laporan magang ku masih belum beres."


Sejujurnya ia ingin bertanya kepada Rama. Bagaimanapun Rama harus tau kegiatannya.


"Bang, tim produksi shift pagi ngajakin ke pantai minggu besok."


Selesai beberes-beres kamar, Mita membuat laporan magang yang sudah menumpuk karena beberapa hari ini tamu datang bulannya tidak dapat di ajak kompromi, mager luar biasa.


"Pantai mana? Bali? Gaya amat anak produksi."


Rama sedang mengoles roti gandum yang sudah keluar dari toaster dengan selai kacang di meja makan yang kala di Amerika dulu pernah Mita pakai saat makan seafood buatan Bu Lia. Rindu, batin Mita namun tak ia ucap. (toaster : alat pemanggang roti)


"Bukan Bali..."


"Kamu kan udah pernah kan ya ke Bali sama siapa deh waktu itu?"


Rama menggigit roti bagian tengah ke dalam mulutnya.


"Mulai..." lirikan mata Mita yang menyipit tanda tidak suka candaan yang Rama lontarkan.


"Hebat dia, aku aja belum sempet ngajak kamu ke Bali. Dia udah duluan."


Masih dibahas.


"Yaudah aku ngga usah ikut ke pantai nya. Orang cuma Sawarna, bukan ke Bali. Sekarang Abang yang ribet."


Rama tertawa ringan, Mita masih di pengaruhi hormon datang bulan jadi lebih sensitif.


"Bukan ngga boleh... aku kangen. Kamu asik-asikan jalan sedangkan aku kangen."


"Kalau aku ngga ikut emang ngaruh? Jadi ngga kangen lagi?"


Padahal Rama mau pulang hari Sabtu besok, namun ia belum bilang ke keluarga maupun Mita. Biar menjadi kejutan pikir Rama.

__ADS_1


"Jauh ngga pantainya? Anak-anak ngga ada yang macem-macem kan sama kamu?"


"Siapa yang berani macem-macem sama calon istrinya bos?"


"Sekarang kamu tambah berani, pengen aku hih." Rama memeragakan tangannya mengepal.


"Hih itu apa?" Mita melotot.


"Pengen aku cium." Wajahnya memerah, bingung harus menjawab apa. Pernyataan yang biasanya bisa Mita sanggah, kini lidahnya seakan kelu.


"Abang pulang kapan jadi nya?" Mita mengalihkan pembicaraan. Biasanya jika obrolan Rama sudah menjurus, Mita akan menyudahi video call mereka. Namun kini ia belum ingin menyudahi obrolannya dengan Rama, Mita juga rindu.


"Nanti pulang. Tunggu aja ya." Ambigu, jawaban yang tidak menjawab pertanyaannya.


"Mit, kamu tau ngga kenapa di bioskop tayang nya film?" Mita tersenyum mendengar Rama yang sedang mencoba merayu nya kembali.


"Karena kalau sinetron ada di siaran TV."


Rama yang sudah mengahabiskan dua tangkup roti panggang selai kacang menopang dagu nya di atas meja makan menggeleng. Mita tersenyum melihat Rama yang seperti anak kecil.


"Karena kalau yang tayang kamu itu aku."


Mita menutup wajahnya malu, gombalan receh Rama kali ini ber-efek baginya. Mungkin karena rindu yang ia rasakan sekarang sama besarnya dengan yang Rama rasakan.


"Udah lumayan kan gombalan aku?"


Rama teringat gombalannya saat di Amerika dulu yang gagal karena Mita sudah tau.


"Masih bahas Sawarna... Kamu pengen banget kesana?"


"Lumayan..."


"Hari apa?"


"Minggu, daripada aku gabut di kosan."


"Kamu tega jalan-jalan tanpa aku? Aku disini setengah mati nahan kangen, kamu malah jalan-jalan." Rama menatapnya dalam.


"Aku cuma bosen di kosan, ngga ada niat seneng-seneng tanpa kamu. Tapi kalau kamu ngerasa kaya gitu yaudah aku ngga ikut. Nanti aja nunggu Abang pulang."


Rama tersenyum, hatinya semakin rindu.


Menurut jadwal pesawat, Rama akan sampai di Jakarta Sabtu pukul 23.55. Jika memaksa harus ikut ke Sawarna Minggu pagi, ia rasa tidak mungkin karena jet lag yang kemungkinan akan ia alami.


"Suruh anak-anak ganti jadwal ke Sawarna nya dua minggu lagi. Perintah dari aku."


"Loh kenapa? Ngga apa-apa aku ngga ikut. Biarin aja anak-anak pengen liburan sebentar. Kasian seminggu kemarin pada underpressure." (di bawah tekanan)


"Ini perintah."

__ADS_1


"Aneh..."


Dua hari lagi adalah jadwal sidang nya. Segala persiapan sudah ia lakukan, pendalaman dan penguasaan materi thesis juga sudah Rama kuasai. Dan kepercayaan diri juga sangat dibutuhkan, marena terbiasa menghadapi client saat di perusahaan keuangan dulu membuat kepercayaan diri lumayan tinggi.


"Doain aku, lusa aku sidang."


"Aku tau kamu pasti bisa melakukan yang terbaik. Udah bilang sama Ibu?"


"Udah dong. Kamu kapan pulang ke Cianjur?"


Rama teringat mobil dan motor yang sempat ia bahas dengan Yoga, adik Mita. Setahun lalu sebenarnya ia sudah merencanakan beli mobil sport , tapi kini keinginannya semakin bulat. Agar tidak kalah keren dengan sang mantan kekasihnya. Fuiihhh…


"Karena ngga jadi ke Sawarna, aku pulang aja."


"Dianter Tarjo kan? Kalau ngebut kasih tau."


"Aku sekarang udah kaya sosialita, kemana-mana pake supir pribadi. Bulan kemarin aku pulang, tetangga rame banget. Kalau kemarin belum lamaran kayaknya aku disangka sugar baby nya om-om."


Sugar baby dan sugar daddy? Rama teringat Andri saat memergokinya dan Mita di mall saat beli laptop dulu.


"Nanti aku pulang khusus jadi supir pribadi kamu."


"Wah tambah heboh satu kampung, supir aku kaya artis ibukota. Pak Tarjo ngga kerja lagi dong?"


"Nanti bantu-bantu di pabrik."


Malam di Tangerang semakin larut, namun Mita masih belum menginginkan video call dengan Rama berakhir. Ia merasa malam ini menjadi si bucin. Biarlah, toh Rama adalah calon suaminya? Mita masih malu, dengan status nya dan Rama saat ini.


"Udah jam 12 kan disana? Kita udah video call 3 jam lebih. Kamu tidur dulu."


"Kamu mah ngga kangen sama aku, aku masih kangen."


Rama kaget mendengar Mita yang begitu ekspresif malam ini. Wow.


"Aku kangen, tapi besok kamu ke pabrik nanti ngantuk."


"Besok aku ngga masuk ngga apa-apa ya?"


"Kamu sakit?" Rama menilisik wajah Mita dalam-dalam.


"Aku lagi haid, ngga enak banget bawaannya."


"Sena suka minum jamu-jamuan gitu kayaknya kalau lagi haid. Nanti aku suruh bawa Tarjo."


Mita mengangguk.


"Aku ngantuk, tapi masih pengen ditemenin..."


"Kamu tidur aja, simpen aja HP nya liatin muka kamu. Aku liatin sampai kamu tidur."

__ADS_1


Hari itu hati Rama menghangat di tengah pagi kota Seattle yang sedang diguyur hujan gerimis.


__ADS_2