Cinta Mita

Cinta Mita
Pertengkaran menjelang lamaran


__ADS_3

''Hah??''


''Kenapa kaget?"


Keluarganya memang sudah merencanakan sejak sebulan lalu. Bahkan Sena dan Enin diminta khusus datang ke Jakarta. Tidak ketinggalan Kakak dari Pak Romi juga diminta turut hadir di acara lamaran, mengingat Rama sudah tidak memiliki Kakek Nenek dari pihak ayahnya.


"Kok main lamar aja? Aku ngga dikasih tau."


Rama yang berniat memberik kejutan, sepertinya menjadi kejutan yang tidak diharapkan oleh Mita. Saat perempuan lain senang saat keluarga kekasihnya datang melamar, kenapa Mita justru terlihat sebaliknya?


"Makanya ini aku ngasih tau...''


"Ngedadak banget. Aku kan belum bilang masalah kita sama Ibu Bapak."


"Ngedadak gimana, aku udah bilang dari enam bulan lalu. Ibu Bapak belum tau hubungan kita?"


Rama berubah serius, Mita menggeleng. Jadi selama enam bulan ini hubungannya dengan Mita, dianggap apa? Rama benar-benar tidak habis pikir.


"Kenapa belum bilang? Kamu ngerasa hubungan kita main-main?" lanjut Rama yang kini menatap Mita tajam.


''Bukan main-main, aku kan masih sibuk sama kuliah. Belum kepikiran kesana, tau-tau kamu mau lamar ke Bapak. Aku pikir masih jauh."


"Aku juga sibuk. Kamu pikir aku disini liburan? Aku disini kuliah sambil remote kerjaan di Jakarta. Tapi aku juga mikirin kamu, mikirin hubungan kita. Kamu ngga ada gitu mikirin aku? Jadi kamu mau serius sama aku ngga? Mumpung orangtua aku belum kesana. Parcel-parcel biar dikasih ke orang aja."


Tubuh dan pikirannya lelah, berharap respon bahagia yang ia dapat tapi ternyata sebaliknya.


Rama bangun dari duduknya, melakukan peregangan-peregangan kecil, menetralkan suasana hatinya.


"Kamu marah?"


Pertanyaan apa batinnya kesal.


"Menurut kamu gimana? Mama udah nyari WO, udah test food catering untuk resepsi. Kamu nya mau di lamar kaya gini. Aku udah bilang aku mau nikah sama kamu dari enam bulan lalu. Kemarin kan kamu pulang, Bapak ngga nanya kamu pake cincin dari aku?''


Lagi-lagi Mita menggeleng.


"Cincin nya aku lepas kalau pulang."


Kini Mita merasa bersalah.


"Ya Allah.... Aku ngga tau harus ngomong apa lagi sama kamu. Kita kaya dua orang di jalan yang sama, tapi tujuan kita beda. Ngga pernah ketemu."


Rama pasrah. Namun ia juga ingin memuntahkan emosi jiwa di dada nya .


"Aku udah di posisi harus nikah. Kamu mau ngga nikah sama aku? Kalau kamu ngga mau, orangtua ku terpaksa melamar perempuan lain karena semuanya sudah siap. Aku ngga mungkin ngebatalin.''


Mita mendekatkan kamera ponsel hingga penuh oleh wajahnya.

__ADS_1


"Yaudah mungkin aku bukan jodoh kamu. Aku mah percaya kalau jodoh ngga akan kemana. Yang mau sama aku juga bukan cuma kamu.''


Wajah Rama mengeras, tatapannya kini seperti menusuk.


''Kamu segini doang sama aku? kamu perempuan pertama yang aku kenalin ke orangtua aku. Artinya harus kamu yang jadi istri aku!"


Cuma gertakan, pikir Mita sinis.


"Disana ada yang deketin lagi? Yang kemarin lagi orang nya?" Topik yang Rama angkat sudah melebar kemana-mana.


''Apa sih, siapa yang deketin? Aku cuma ngerasa masih kuliah, orangtua aku pasti pengen aku lulus dulu. Aku juga mau sama kamu, tapi sabar bisa ngga sih."


Rama sedang tidak ingin marah, ia mengambil pulpen dan buku untuk menulis sesuatu.


"Ngga ada yang deketin aku, aku nya juga lagi sibuk nyari perusahaan buat magang." lanjut Mita yang kini berbalik marah.


''Kenapa dari dulu ngomong sama kamu itu sulit? Kamu itu perempuan yang paling sulit."


Mita diam, Rama menarik nafas kasar. Mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


"Jadi orangtua aku ngga usah kesana? Nikah nya nanti-nanti aja kan? Kapan-kapan aja nikah sama aku mah, aku mah ngga masuk di prioritas kamu kan? Aku bilang ke Papa habis ini, kamu belum mau nikah sama aku. Aku suruh cancel parsel segala macamnya. Kamu masih pengen bebas mungkin, masih pengen main. Aku ngga tau."


Mita melunak, seingin itu Rama padanya...


"Rama...."


"Aku mau."


''Mau apa?"


"Aku mau kamu lamar. Habis ini aku bilang Bapak. Gitu kan?"


"Aku capek ngomong sama kamu. Obrolan kita kaya ngga pernah ketemu."


''Kamu marah-marah terus, aku tambah pusing. Aku udah pusing nyari perusahaan yang nerima anak magang, kamu nambah-nambahin."


"Ini lagi perusahaan apa sih. Kirim lamaran nya ke email aku berikut tanggal, berapa lama dan apa yang kamu mau kerjakan. Nanti Fery yang urus. Kamu magang di tempat aku. Kantor pusat aku di Tangerang, nanti Fery nyari tempat tinggal buat kamu selama magang. Udah cukup? Masih pusing?"


"Ngga bisa, aku ngga mau KKN."


"KKN dari mana sih? Hal simple kalau sama kamu jadi ribet. Ngga pernah masuk di otak aku cara berpikir kamu."


"Kalau dosen aku tau yang punya perusahaan nya kamu gimana? Aku ngga enak. Nilai magang aku ngga akan murni karena kamu yang kasih nilai."


''Ya biarin aja sih, ribet banget. Itu yang namanya privilege. Aku lagi cape Paramitha... Aku lagi ngga pengen marah-marah..."


Rama kini sudah bersiap naik ke tempat tidur. Meski Mita tidak tau berapa harga tempat tidur Rama tapi ia yakin harganya tidak murah. Karena ia merasakan kualitas tidurnya membaik saat tidur di kamar Rama.

__ADS_1


"Ya udah jangan marah-marah Rama sayang..."


''Sama calon suami manggil nama, dari tadi Rama, Rama aja aku denger. Kalau Papa denger kamu diceramahin. Panggil sayang aja kan ngga susah."


''Aneh banget ngga sih manggil sayang?"


"Kalau kamu nya sayang, ngga bakal aneh. Kecuali kamu nya emang ngga sayang."


"Kamu mah kesana terus ngomong nya. Aa aja ya, atau akang?"


"Aku bukan Kabayan jangan panggil akang."


"Sayang mah nanti aja kalau udah nikah. Berarti Aa aja ya."


''Tuh ribet kan, panggilan doang nunggu nikah. Semua perempuan ribet kaya kamu atau kamu doang?"


"Coba aja pacarin perempuan lain biar kamu tau. Sepuluh sekalian biar kamu yakin, sekalian cobain mereka satu satu. Udah ah aku mau ngerjain laporan lagi, ngomong sama aku mah cape katanya tadi kan. Ribet."


"Tuh kan, jadi kamu yang marah."


''Aku ngga marah, u...''


''Jangan ditutup, awas ditutup!"


Rama merebahkan tubuhnya miring, ponselnya kini sudah diganjal batal agar tetap tegak. Rama lelah, ia ingin tidur.


''Iya sok ngomel aja terus. Aku lagi cape pengen ditemenin, ngga apa-apa marahin terus aja aku nya sampe aku tidur. Sok sampe kamu puas." Lanjut Rama yang sudah memejamkan mata terlihat letih. Saat ini di Seattle sudah jam 01.00, Rama bahkan mengorbankan waktu tidurnya untuk menghubungi Mita.


''Sayang maaf..."


"Ngga usah manggil aku kaya gitu kalau kamu nya ngga mau. Aku udah ngga mau maksa lagi. Cape ternyata memaksakan keinginan sama orang yang memang ngga niat."


Rama tetap memejamkan matanya, dengan suara lirih.


"Aku emang sayang kamu, cuma kaya berlebihan kalau belum nikah udah manggil gitu."


Tak ada jawaban. Mungkin Rama sudah tidur.


''Rama... Aku sayang kamu, apapun panggilan aku ke kamu. Ngga ada laki-laki lain di hidup aku... Maaf kalau aku belum bisa menjadi yang kamu mau, belum bisa nurutin semua perintah kamu..."


"Aku juga sayang kamu, aku cuma pengen memiliki kamu dengan cara yang halal. Aku punya kebutuhan biologis sebagai laki-laki. Aku pengen kamu. Gimana caranya biar kamu ngerti?"


Rama bicara setengah sadar.


''Minggu aku tunggu orangtua kamu, tapi nikahnya tunggu aku siap ya? Aku ngga akan kemana-mana. Tolong tunggu aku."


Rama menghempaskan nafasnya berat. Ia mengangguk dalam tidur.

__ADS_1


__ADS_2