Cinta Mita

Cinta Mita
Check in


__ADS_3

"Kamu juga lebih milih kerjaan dan Rama kan daripada aku?"


"Naha jadi ka urang sih?" (Kenapa jadi ke gua sih?)


Rama pusing tujuh keliling dengan kerumitan ini.


"Aku mah suami atuh, Yang. Aku cari nafkah. Dahlah kalau kamu masih mau sama aku, berhenti kerja."


"Kerja aja aku stress, punya suami tapi kaya ngga punya. Gimana kalau cuma diem di rumah nunggu kamu pulang?"


"Kamu sama Sasha ikut ke Tangerang."


"Ngga bisa semudah itu, Yang. Aku juga udah nyaman kerja sama Bos aku."


"Kerja plus-plus?"


"Terserah kamu mikir apa tentang aku. Udah ah, aku takut Sasha nyariin. Aku balik dulu."


"Sasha di sini??"


"Telat, kamu baru nanyain dia sekarang."


Rena berdiri hendak meninggalkan private room. Namun Fery segera menahan tangan Rena dengan kasar.


"Fer, Fer."


Sop buntut milik Rama tercecer kuahnya karena gerakan tiba-tiba dari Rama yang ingin mencegah Fery.


"Jangan macem-macem, Ren! Sasha disini?"


"Iya, ngga salah kan? Dia nyaman sama Pak Wijaya."


"Kamu ya bener-bener, ngga habis pikir sama isi kepala kamu."


Fery menghempaskan tangan Rama yang berusaha menahan tangannya.


"Biasa we atuh." (biasa aja dong)


Pergelangan tangan Rama terasa sakit. Emosi jiwa Fery benar-benar meluap. Bagaimana bisa selingkuh membawa anak?

__ADS_1


"Kamu udah gila, Ren !"


Telunjuk Fery begitu ingin menyentuh kening Rena, tapi ia tahan sekuat tenaga. Rena pun melepas tangan Fery dengan keras lalu pergi. Namun Ferry tetap mengikuti Rena dengan wajah merah dan urat begitu kentara.


"Bang, Yoga nunggu di sini."


Yoga speechless dengan adegan yang terjadi dihadapannya bertepatan saat sesendok kuah sop ingin masuk ke dalam mulutnya.


Rama mengangguk tanpa menoleh ke arah Yoga. Pikirannya fokus pada Rena yang berjalan cepat hendak kembali ke kamar. Terpaksa ia mengikuti Fery karena khawatir terjadi sesuatu.


Fery dan Rama harus setengah berlari agar pintu lift yang Rena naiki tidak tertutup. Pikiran Fery bertambah kacau saat mengetahui Sasha ada di kamar bersama Pak Wijaya.


Begitu Rena menempelkan kartu pada sensor pintu, pintu kamar nomor 1017 langsung terbuka dalam hitungan detik. Dan detik berikutnya seorang anak kecil berlari ke arah Rena dan minta digendong.


Rama dan Fery kaget, karena di dalam kamar tersebut ada banyak orang. Ada pula anak perempuan di atas kursi roda.


"Ada siapa itu?"


Perempuan paruh baya berusia 50 tahunan, yang tidak lain istri dari Pak Gunawan melihat seseorang di balik pintu.


"Ayahnya Sasha, Mam."


"Suruh masuk sini."


Fery lemas, lega bercampur malu. Rama pun refleks meremas baju Fery bagian pinggang. Sebagai bentuk ekspresi kesalnya karena Fery telah salah sangka.


"Masuk, Yang."


Fery menahan diri dan perasaan malu untuk berbasa-basi dengan keluarga Pak Gunawan selama 5 menit lamanya.


"Saya pamit dulu Pak ya, khawatir mengganggu family time nya."


"Ngga ganggu. Rena sudah Saya anggap anak sendiri. Cucu saya yang difabel suka main sama Sasha, jadi suka saya suruh kesini. Saya juga minta maaf Rena jadi sering ikut acara kita. Kata Rena LDR sama suami jadi ngga masalah katanya."


"Iya ngga apa-apa, Ibu. Saya senang, Rena bisa membantu Ibu, Sasha juga ada teman main."


Di sela-sela pembicaraan, Rama meminta Rena unuk mengantarnya kembali ke private room.


Begitu Rena, Fery dan Rama keluar kamar...

__ADS_1


"Kamu kenapa atuh ngga bilang?"


Fery menuntut penjelasan.


"Makanya tanya istrinya, pehatiim. Ini mah setiap video call pasti sambil pegang ipad, laptop. Lagian buat apa atuh aku selingkuh? Bukan solusi dari masalah, malah nambah masalah. Aku teh bodoh gitu menurut kamu?"


"Aku kan ngga tau. Aku cuma tau kamu booking kamar sama bos kamu. Aku ngga tau kalau sekeluarga."


"Keluarganya Pak Wijaya baik ke aku, ke Sasha juga. Dia teh udah kakek-kakek, masa aku selingkuh sama kakek-kakek? Kalau sama Lee Min Ho mah ngga apa-apa. Aku rela kehilangan kamu."


"Sok sembarangan kalau ngomong."


"Jadi kita gimana?"


"Ya gimana atuh? Masalah kamu itu mah, da aku mah ngga gimana-gimana."


"Ram, gua ngga ikut balik ke Jakarta ya malam ini."


Fery mendekati Rama dan merangkul.


"Eitsss ngga bisa. Besok meeting."


"Gua jadi pengen check in."


"Tolong atuhlah Fer, gua lemah kalau ada Rena. Sieun aing mah ka pamajikan maneh." (Gua takut ke istri lu)


"Emang baong si Rama mah." (baong : nakal)


"Bukan gitu atuh, Ren. Besok ada meeting besar."


"Fery udah kerja berapa minggu non stop coba. Aku juga tau, kamu kasih apartemen biar bisa dikasih kerjaan terus. Sengaja biar deket sama Fery. Aku juga tau."


"Seminggu lagi atuh, Ren. Senin depan Fery cuti seminggu. Besok kita ada meeting."


"Sabtu masih meeting, heran."


"Ram, pinjem kartu. Check in bentar."


Fery memanfaatkan keadaan. Ia membuka dompet besar berisi banyak kartu. Dan mengambil sebuah kartu sakti Rama untuk membayar kamar.

__ADS_1


"Si edan. Fer, dua kamar."


__ADS_2