Cinta Mita

Cinta Mita
Sebuah pengakuan


__ADS_3

Adit memutuskan pergi dengan Mita, berjalan menyusuri pantai berdua.


"Sorry, aku mau ajak pacarku jalan-jalan dulu. Penggantin baru silakan menikmati, buat yang pacarnya ke laut silakan diratapi. Mobil Mas bawa aja, nanti aku naik taxi."


Selama di Bali, teman Putri sang pemilik villa menyediakan satu buah mobil yang bisa digunakan oleh Adit sekeluarga.


''Beneran ke laut apa gimana? Aku ketinggalan info nih." Penggantin baru wanita yang sedang menyeruput kelapa muda penasaran.


''Ke laut beneran Mbak, ngambang." Adit tertawa jahil.


"Asyeeem." Putri ngedumel.


"Jangan mampir ke hotel ya kalian." Fima yang selalu ceplas ceplos apa adanya mengingatkan.


"Ternyata isi otak Mbak ya Allah. Tapi boleh juga ide nya, aku baru kepikiran hahaha."


Mita menatapnya tajam, yang dibalas dengan cubitan gemas di pipi kekasihnya.


Gemas rasanya melihat Mita sekarang, sejak Abi mempertontonkan kemesraaan nya secara sengaja. Ia khawatir tidak bisa mengontrol dorongan-dorongan syaiton dalam dirinya.


Tapi harus jauh dari Mita? Mana bisa!


''Apa jangan-jangan Mbak sama Mas dulu suka mampir ke hotel ya?" Putri menyelidik.


''Mau tau aja deh." Fima membalas dengan tatapan sinis sambil tertawa.


"Astagfirullah ya Allah." Adit setengah berteriak menggelengkan kepalanya.


''Opo toh anak kecil, udah sana."


Mita dan Adit menyusuri pantai dengan saling bergenggaman tangan.


"Dinner berdua ya nanti malam? Kita berangkat sebelum sunset. Aku mau liat sunset sama kamu."


"Mas Abi sama Mbak-mbak ngga diajak? Aku ngga enak."


"Ngga usah dipikirin. Mereka aja ngga mikirin aku."


Mita tertawa, senang melihat sisi lain dari Adit jika sedang bersama keluarganya. Sosok anak bungsu manja, yang seringkali menjadi bahan candaan kakak-kakaknya.


"Kamu kapan siap nikah? Aku semoga bisa wisuda Maret, lagi ngejar."


"Mbak Puput juga belum Mas.... masa ngelangkahin. Abis lulus Mas mau ngelamar kerja kemana?"


"Ngelamar kamu belum bisa ya?"


"Tuh bahasannya jadi kesana lagi. Nanti, tiga tahun lagi."


"Lama banget, nyicil motor lunas itu mah."


Adit menendang-nendang pasir di bawah kaki nya. Menahan rasa di dalam dada nya.


*****


Rama


Sebelum Rama pulang dini hari tadi, Rudy memastikan rencana road trip mereka pagi ini.


"Yakin bisa berangkat pagi?"

__ADS_1


Mengingat saat itu sudah 02.35


"Not sure hahaha." (nggak yakin)


"So?"


"Besok lagi aja lah Bang. Mau mantau yang lagi di Bali dulu."


"Oke siyaappp."


Seolah memahami gejolak cemburu di hati juniornya Ini.


Rencana road trip lebih baik ia tunda dulu pikirnya. Demi memantau pergerakan dua orang manusia yang sedang berlibur bersama.


Karena sudah tidak ada transportasi umum yang beroperasi, akhirnya ia menerima tawaran Rudy diantar pulang ke apartment. Mengingat di Amerika Rama tidak memiliki mobil pribadi. Ribet pikirnya, ditambah transportasi umum yang nyaman membuat Rama malas mengurus izin mengemudi.


Jika sedang hujan seperti tadi sore, ia biasanya memesan taksi jika ingin pergi ke suatu tempat.


Jarak apartemen miliknya dan rumah Rudy hanya berjarak 3km, ditempuh dengan mobil hanya 10 menit kurang. Bebas hambatan.


"Berapa lama lagi disini?"


"Less than one year I hope." (Aku berharap kurang dari satu tahun)


"Hope so. Ngga minat kerja disini? Bukannya dulu sempet nanyain nanya kesempatan kerja disini?" (Hope so : semoga)


Saat awal ke Amerika Rama memang berencana bekerja beberapa tahun di Amerika sambil menunggu restu dari Ayahnya. Tapi sekarang restu sudah di tangan, mau apa lagi?


"Ngga kayaknya, dulu bokap ngga setuju sama cewek itu jadinya gua kesini. Jadian lah itu cewek sama orang, gua ngga ada ya dia di pepet orang lah. Sekarang bokap udah ngerestuin, balik ah gua pengen cepet-cepet beres."


"Kenapa tiba-tiba bokap setuju?"


Rudy tidak menyangka alasannya se-absurd itu.


''Berarti bokap lo ngga percaya sama pilihan lo kalau gitu. Lebih percaya sama pilihan cowok hits tadi."


"Eh iya bener juga."


Rama baru menyadarinya.


"Ketemu dimana? Kayak masih muda banget."


"Nah ini lucu nih, gua belum pernah cerita ke orang. Jadi dia tuh anak asuh nyokap gua."


"Hah gila pantes bokap lu ngga setuju, terus gimana seru nih."


Rudy mulai tidak fokus menyetir, ter tertarik dengan cerita Rama.


"Pertama kali gua liat dia pas dia lagi ke rumah pas lagi makan siang sama nyokap. Gua ngambil minum di kulkas samping dia banget. Pas gua liat dia lagi nunduk malu tapi matanya sambil lirik-lirik gua. Itu dia lucu banget."


"Jadi gua tuh sebelum ketemu dia ngerasa, gua normal ngga ya? Kok ke cewek tuh kaya biasa aja. Sedangkan temen-temen gua baji ngan semua doyan cewek. Gua sempet paranoid, ngeri gua belok anjir."


"Tapi pas ketemu dia, itu gua langsung on. Bangsatt pertama kali nya gua kaya gitu."


Rudy tertawa sambil memukul paha nya tak tahan.


"Sampe bikin gua jumpalitan begini. Gila kan."


"Parah parah. Semoga lu berjodoh sama dia."

__ADS_1


Rama meng-aminkan dengan Amin yang paling serius.


Sesampainya di apartemen, kantuknya sudah hilang. Mungkin karena obrolan dengan Rudy dengan tawa tanpa henti.


Perbedaan waktu Jakarta dan Bali terpaut 1 jam lebih dulu Bali, artinya perbedaan antara Seattle dan Bali adalah 15 jam lebih dulu Bali.


Rama masih memantau story anggota keluarga Adit termasuk Fima yang sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga tersebut.


"Bangsatt ada yang lagi dinner pinggir pantai."



Ia menelpon Fima.


"Penganten baru lagi honeymoon asik bet dah."


Begitu terhubung tanpa salam Rama langsung nge-gas.


"Hahaha lo kapan kawin? Thank you ya kado nya, means a lot to me." (sangat berarti buat gue)


"Eh bokap lu ngomong apaan ke ipar gue? Ngamuk dia."


"Ipar yang mana? selebgram itu maksud lo?"


"Sinis banget ke adek gue. Lu berdua ngerebutin Mita? Anaknya lagi dinner tuh berdua."


"Lu tolongin gua dong, jangan mentang-mentang adek ipar jadi ngedukung mereka."


"Ih emang kenapa mereka? Lucu kok mereka berdua cocok. Cantik sama ganteng."


"Kita temenan udah lama Fim. Tolong dong."


"Bantuin apaan?"


"Gua sayang sama dia. Gua nitip jangan sampe ada bekas adek ipar lu. Jangan sampe diapa-apain sama adek lo."


"Pacar nya ini, kenapa sih."


"Calon istri gue."


"Ya Allah halu aja lu mah. Disana ngga ada yang menggugah selera?"


"Ngga ada, cuma Mita doang."


"Anjrit lah anak kecil itu bikin dua cowok kaya gini."


"Yaudahlah, happy honeymoon. Cepet nyusul Fery punya bayi."


"Lo nelpon gue jauh-jauh dari Amrik buat itu doang? Gue kira mau nanyain kantor. Ya elah ampun dah yang bucin."


"Kantor mah aman kan selalu gua pantau, cepet kerja dah lu gantian gua mau liburan."


"Selasa deh gua masuk, istirahat dulu sehari pulang dari sini. Fery kapan masuk?"


''Senin dia masuk. Gua usahain disini cepet beres. Biar bisa jemput calon istri gua."


"Gila."


Gila karena Mita, Rama tertawa.

__ADS_1


__ADS_2