Cinta Mita

Cinta Mita
Awal pengintaiam


__ADS_3

Begitu panggilan dari Mita terputus, Yoga memperhatikan Rama dengan lekat. Laki-laki yang kini membantu menanggung biaya hidupnya.


"Bang Rama lagi banyak kerjaan ya, Bang?"


Kini Yoga memiliki dua abang, yaitu Rama dan Fery. Dan pertanyaannya kali ini untuk Fery yang mempertanyakan kondisi Rama yang tertidur pulas.


"Mumpung ngga ada Teteh kamu, jadi dia pakai waktunya buat kerja dari pagi sampe malem."


"Kenapa kaya gitu?"


"Biar ngga kangen."


"Cielah. Lebay banget."


Yoga menertawakan Rama yang menurutnya berlebihan. Padahal Mita hanya ke Jepang beberapa hari. Dan setelah itu akan serumah lagi.


"Kamu udah pernah pacaran belum?"


"Kalau suka pernah, tapi kalau pacaran belum pernah. Suka nya cuma menggagumi, ngga berani nembak."


"Anak mana? Anak kampus?"


Obrolan Yoga dan Fery mengganggu tidur Rama. Setelah mendengarkan beberapa kalimat, Rama memutuskan untuk tetap memejamkan mata karena ingin mengetahui Yoga lebih jauh.


"Bukan, adik kelas pas SMA."


"Emang anak Jakun ngga ada yang menarik? Apa karena adik kelas kamu terlalu istimewa?"


"Belum ketemu, Bang. Yoga lebih suka muka-muka polos tanpa make up."


"Iya sih, maba sekarang make up nya tebel-tebel. Handphone nya boba semua. Iya kan?" (HP boba : iphone dengan kamera bermata besar)


Yoga tersenyum setuju.


"Ngga boba ngga main. Yang cowok juga sama, kemana-mana kalungan vape."


"Anjir keren amat. Jaman gua mah anak baru setelannya masih jamet."


Rama tidak kuat menahan tawanya saat mendengar kata jamet. Terlebih mengingat wajah Fery zaman dulu.


"Kampret ngga tidur lu ya? Nguping lu dari tadi."

__ADS_1


"Suara lu ganggu banget anjay. Tapi bener Ga, Fery dulu jamet banget. Rambutnya tajem-tajem, poni pinggir, pake rante-rante gitu lah. Kalau liat Fery zaman dulu, pengen muntah."


"Ngga lah gila lu berlebihan, kapan gua pake rante."


"Tuh kan amnesia. Kalau Gua dari dulu udah keren."


"Iya aja dah yang udah keren dari lahir."


"Ngga usah lu ajarin Yoga dating. Nanti juga ada saatnya." (dating : kencan, pacadaran)


"Abang pas kuliah suka deketin cewek?"


"Malah cewek yang deketin Abang."


"Karena cewek tau duit lu banyak, masa depan lu cerah. Kalau gua ngga deketin cewek, apa ada yang mau deketin gua?"


"Yang pasti karena gua ngga jamet. Kalau Fery dulu buaya darat. Sekarang kamu mau contoh siapa, Abang yang ngga suka deketin cewek tapi jadi bos atau..."


"Atau gua yang banyak cewek nya tapi jadi jongos? Gua tau arah omongan lu si bangsatt."


Fery melempar permen yang ada di dekat radio mobil karena kesal Rama membawa-bawa nasib.


"Gua ngga ngomong lu gitu ya. Lu nya aja yang sensi. Gua ngga pernah menganggap lu orang suruhan gua. Kita partner, apalah gua tanpa lu."


"Basi bangkee."


Akhirnya Rama teringat ponselnya yang sejak pagi tidak ia lihat, ia simpan di dalam tas.


"Teteh nelpon kamu, Ga? Ngga bilang."


Rama merasa bersalah karena melupakan Mita seharian.


"Dia takut lu sibuk, liat tidur kecapean."


Rama pun menelepon Mita segera.


"Maaf Sayang, di pabrik tadi hectic banget. Fery riweuh izin pulang ke Bandung. Jadi kita kejar-kejaran sama deadline besok."


Seketika suasana dalam mobil hening. Yoga mmperhatikan tiap kata yang Rama ucapkan.


"Terus Abang ngapain ikut ke Bandung?"

__ADS_1


"Nemenin Fery. Dia selalu ada buat aku, aku juga pengen selalu ada buat dia."


Rama menggenggam tangan kiri Fery yang memegang setir mobil.


"Ih najis sia." (Sia : Lu)


Spontan Fery memukul tangan Rama karena menggenggam tangannya karena menurutnya menjijikan.


"Yoga ngapain ikut gabung sama bapak-bapak."


"Enak aja bapak-bapak, om-om lebih menggoda."


"Awas lho ganjen ngga ada aku."


"Aku udah selingkuh selama kamu ngga ada. Maaf ya."


"Iya gitu? Emangnya bisa selingkuh dari aku?"


Yoga yang duduk di kursi belakang, megerutkan keningnya. Tidak percaya bahwa Mita senarsis itu.


"Gua selingkuh ngga Fer?"


"Selingkuh sama berkas, sama ipad."


Karena memang Rama tidak lepas dari dua benda tersebut selama beberapa hari ini.


"Tidur ngga itu teh? Pantes tadi kata Yoga, Abang kecapean."


"Biar ngga kangen kamu. Kamu kangen ngga?"


Belum sempat Mita menjawab, mulut iseng Fery menyanggah.


"Haduuuh melipir ke rest area dulu gimana, Ga? Polusi suara buat kaum jomblo."


Berada di tengah-tengah Rama dan Fery menjadi menyenangkan karena guyonan-guyonan spontan khas tongkrongan laki-laki.


"Abang kan ada istri, ngga jomblo atuh."


"Istri juga buat apa kalau..."


"Hush, jangan mendahului takdir karena itu baru spekulasi lu sendiri. Liat dulu yang sebenarnya kaya gimana."

__ADS_1


__ADS_2