
Sebelum berlanjut ke part yang aku yakin semuanya pasti nungguin, yaitu Rama bakal ketemu Mita. Yeay akhirnya !
Aku mau bilang nuhun thank you untuk pembaca setia. Yang udah ngikutin novel ini.
Makasih juga yang udah ninggalin jejak disini. Like, komen, hadiah dan vote terima kasih banyak ya ❤️
*****
Dua minggu kemarin Rama habiskan libur musim dingin dengan berkemah semalam di Olimpic National Park. Setelah berkemah, ia melanjutkan trip ke New York seorang diri karena Rudy harus kembali bekerja. Berlibur sendiri baginya seperti memberi ruang untuk diri sendiri untuk mengumpulkan energi kembali. Namun tetap pikirannya tak luput dari gadis yang ia cintai di Indonesia.
Masih ada satu minggu lagi jatah liburnya yang akan ia nikmati bersama dengan orang-orang terkasih yang akan datang dari Indonesia.
Setelah ratusan malam ia lewatkan dengan penuh rasa rindu untuk Mita, akhirnya siang ini Mama, Sena dan Mita akan tiba di Seattle, setelah transit di Bandara Narita Tokyo.
Begitu melihat orang-orang tersayang di pintu kedatangan. Ia langsung memeluk Mama, support system terbaik yang ia miliki.
*****
Setelah terbang lebih dari 18 jam akhirnya Mita landing pukul 11.00 di Seattle Tacoma International Airport. Perjalanan panjang ke luar negeri pertama nya. Seharusnya ia excited tapi perasaan bersalah dan tidak enak selalu menghantui. Tentunya kepada Adit.
"Mama sehat ? Papa beneran ngga ikut? Waktu itu kan aku bercanda doang. Ngambekan Papa mah."
Kini wajah Rama dihujani ciuman oleh Bu Lia. Seperti Ibu yang menumpahkan rasa rindu kepada anak kesayangan yang sudah lama tidak bertemu. Ia baru melihatnya hari ini. Sama hangatnya dengan keluarga Adit.
"Papa lagi banyak kerjaan. Kasihan katanya kalau ditinggal." Bu Lia beralasan.
"Jadi kayak bule loh Kakak." Sena berkomentar.
"Di sini jarang matahari soalnya."
Kali ini Sena yang mendapatkan pelukan dari Sang Kakak. Sosok kakak penyayang pikirnya.
''Selama setahun ini Sena ngga ke Singapur atau Malaysia kan Ma?"
Rama bertanya menatap Sang Mama.
''Ngga, kenapa memangnya?''
Sena terlihat sebal. Sepertinya ada rahasia antara kakak dan adik ini.
''Ada Mita..."
Kali ini Rama tersenyum menatapnya. Lalu melirik ke arah Bu Lia.
''Aku peluk calon istri aku ngga apa-apa ya Mah. Kangen soalnya."
Oh My God..... ia menarik nafas. Haruskah berbicara seperti ini di depan Bu Lia?
Rama menarik tangannya ke dalam pelukan.
''Yaudah Mama nunggu di taksi. Jangan lama-lama ya.''
"Pacar orang Kak." Sena mengingatkan.
Rama mencibir.
Rama pun memberikan intruksi kepada seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahun yang berdiri tidak jauh dari Rama untuk membawakan koper. Supir taksi tersebut lalu mendekat.
"Aku kangen kamu."
__ADS_1
Rama memeluk erat, mencium puncak kepalanya. Juga kening dan kedua pipi nya. Anehnya, tubuhnya tak menolak. Namun per sekian detik ia sadar.
"Jangan gini Rama."
Ia mencoba melepas pelukan namun Rama tahan.
"Kamu diem kenapa sih, aku kangen. Kamu juga kangen kan, aku tau..."
Entah dorongan dari mana ia mengangguk. Ya Tuhan... ia tau ini salah, tapi ia sangat rindu dengan wangi khas Rama. Memeluk Rama seperti di dalam mobil di depan kosan dulu. Ia membalas pelukan Rama. Pelukannya kini bertambah erat.
"Iya aku kangen. Tapi ini ngga boleh Rama...'' airmatanya mengungkapkan isi hatinya. Ia takut dan merasa bersalah. Ia mencoba melepaskan kembali pelukan Rama.
''Boleh, kamu boleh peluk aku. Siapa yang ngelarang?"
Rama kembali mencium pipi nya.
Seakan tau isi hatinya. Rama menghapus airmata yang sudah siap tumpah kembali.
''Ibu nunggu di taksi, ngga enak kalau kelamaan."
Ia tak ingin terlarut-larut. Khawatir perasaan di hatinya kembali meluap. Ia harus menahan.
"Merdu banget manggil Ibu nya, aku suka dengernya."
Hidungnya di cubit gemas oleh Rama. Sepanjang perjalanan menuju parkiran taksi ia dan Rama banyak bercerita. Jantungnya berdegup kencang senang. Apakah ini termasuk selingkuh?
"Aku kesel sama kamu, Adit marah waktu itu."
Saat Rama bertanya alasan ia memblok nomor ponsel Rama.
"Marah kenapa?"
"Ayah kamu nanya visa waktu itu, mungkin bahasanya kurang pas di telinga Adit."
"Aku lupa persis nya, intinya gini. Visa udah selesai belum? Semoga disetujui kedutaan biar bisa nyusul Rama."
Ia mencoba menirukan suara Pak Romi yang di tertawai Rama.
"Papa ternyata de best, aku ngga nyangka."
"Maksud Ayah kamu apa sih? Kenapa nyuruh aku kesini? Ayah kamu bukannya ngga ngebolehin kamu sama aku ya?"
"Kamu ngga ngerti?"
"Aku bingung. Tell me why!"
"Nanti aja dibahas lagi, Ibu udah ngeliatin kita dari mobil." lanjutnya begitu sadar Bu Lia dari dalam taksi memperhatikan mereka berdua.
"Sini kalau gitu."
Rama merangkulnya terlalu mesra.
"Lepas ih Rama, malu diliat orang-orang." Ia merasa risih dengan tingkah Rama yang tidak tau tempat, terlebih di hadapan Bu Lia.
"Kita lagi di Hollywood Mita sayang. Orang ciuman di tengah jalan juga udah biasa."
"Tapi ngga depan Ibu juga."
"Biarin, biar nyuruh kita nikah cepet-cepet."
Rama kembali mencium sisi kiri keningnya.
__ADS_1
Dilema. Dengan Adit ia merasa nyaman, dengan Rama ia menjadi diri sendiri.
Ia tidak mengerti kenapa ia tidak menolak segala perlakuan Rama. Tidak seperti saat makan malam dengan Adit di Bali kemarin, ia tau Adit mencoba mencium pipinya namun ia menghindar.
"Mas, ngga sekarang."
Ia seakan belum siap jika Adit menyentuhnya lebih. Kala itu wajah Adit sedikit kecewa karena penolakan darinya.
Hanya "Maaf" yang kala itu terucap dari Adit.
Begitu sampai di apartemen milik Rama yang bergaya American classic ia tercengang dengan kemewahannya. Berbeda dengan rumah Bu Lia di Jakarta yang lebih asri Dan sederhan. Jendela dan pintu yang besar juga di dominasi warna putih, krem dan abu juga tak luput dari perhatiannya. Dan bagian dapur menjadi bagian favorite nya.
"Suka ngga?"
Rama mengagetkannya ketika ia sedang asik melihat-lihat apartment yang memiliki dua kamar tersebut. Tidak terlalu besar namun baginya terlihat mewah.
Ia mengangguk, siapa yang tidak suka?
"Nanti kita bikin di Jakarta."
Rama mengusap rambutnya.
"Mama pakai kamar Rama ya. Yang disana kamar tamu buat Mita. Sena terserah sama Mama atau Mita."
Rama menunjuk kamar dekat ruang TV.
"Kamu tidur dimana?"
Reflek ia bertanya, Bu Lia dan Sena melihat ke arahnya. Ia menjadi salah tingkah.
"Aku di sofa aja. Tapi sama kamu juga boleh, boleh ngga Mah?"
Kini Rama tertawa ke arah Bu Lia. Jahil sekali anak ini, seberani itu kepada Bu Lia. Ia geleng-geleng kepala.
"Mita di kamar Rama aja yang di depan. Mama di kamar tamu. Malem-malem kamu masuk kamar Mita nanti Mama ngga tau. Sekarang kamu udah ngga bisa dipercaya kalau ada Mita."
"Kamu tuh pertama kali nya suka perempuan, langsung main sosor ngga liat tempat." lanjut Bu Lia.
Rama tertawa. Pasti melihat Rama saat mencium nya tadi. Bahkan di dalam taksi minivan tadi, ia dan Rama duduk di baris ketiga tak sedetik pun Rama melepas genggaman tangannya.
Sena yang terus melihat ke arahnya hanya mengomel.
"Ngga bakal ilang Kak Mita nya dipegangin terus."
"Kenapa sih sirik aja."
Bu Lia bergegas masuk ke kamar tamu dengan mendorong koper.
"Sini Rama aja yang bawa kopernya."
"Kamu mau dimanapun jangan suka mengumbar kemesraaan apalagi sampai cium di muka umum."
Bu Lia lanjut menasehati anak laki-laki semata wayangnya.
"Wajar dong Mah, Rama kangen. Mama kalau ngga ketemu Papa setahun lebih gimana rasanya?"
"Mama kan udah nikah, kamu kan belum."
"Yaudah ayo nikah. Aku mah mau banget."
Ia yang tak ingin mendengar omongan Rama bergegas masuk ke dalam kamar Rama. Begitu masuk, ia dikejutkan kembali dengan desain kamar laki-laki single yang segini mewahnya.
__ADS_1
Di luar sana masih terdengar perdebatan antara Bu Lia dan Rama, namun ia memilih tidak ingin ikut campur meskipun ada hubunganya dengan ia sendiri.