
"Kamu kemarin kemana? Ayah cek kamu ngga di hotel."
Hari ini adalah free day untuk Pak Gunawan. Sebelum dua hari lagi kembali ke Jakarta bersama anak semata wayang.
"Keluar, cari angin."
Tumben, batin Pak Gunawan.
Tadi subuh adalah flight terakhir Pak Gunawan minggu ini. Sehingga pagi ini bisa sarapan di hotel bersama Damar.
"Sarapan sekarang ngga, Yah?"
"Masih pagi, sejam lagi deh."
"Aku duluan ya. Aku tunggu Ayah di restoran."
Ada perubahan aneh pada Damar sejak kemarin yang Pak Gunawan sadari. Mulai dari keluar hotel sendiri dalam waktu yang tidak sebentar. Hari ini, bangun Subuh dan sarapan pagi dengan semangat. Perubahan yang positif sebenarnya, namun alasannya menjadi tanda tanya.
Sebelum satu jam, Pak Gunawan pergi sarapan menyusul Damar. Berbeda dengan Damar, Pak Gunawan lebih senang keramaian sementara Damar lebih senang sunyi.
Keanehan selanjutnya di restoran, Damar memilih tempat duduk di dekat jendela padahal biasanya lebih memilih duduk di pojok agar tidak terganggu orang lalu lalang.
"Meja kebesaran kamu sudah kamu lepaskan?"
"Bosen di pojok, kalau di sini kan bisa ngeliat aktivitas orang lain."
Pak Gunawan menyunggingkan senyum, tumben-tumbenan pikirnya.
Tidak lama dua orang perempuan muda melewati Damar dan Pak Gunawan. Bahkan salah satunya terseyum dan menganggukan kepala kepada Ayah dan anak tersebut seperti orang yang saling mengenal.
"Kayak ngga asing perempuan itu, Mar. Tapi siapa ya."
Efek bertemu banyak orang setiap harinya, terkadang membuat Pak Gunawan merasa pernah bertemu padahal belum pernah. Dan terkadang sebaliknya.
"Itu Sena sama Kakak iparnya."
Setengah terkejut, Pak Gunawan memperhatikan kembali dua perempuan cantik yang sedang mengelilingi menu buffet yang disajikan. Memang terlihat seperti orang Indonesia.
__ADS_1
"Kok bisa di sini?"
"Jodoh mungkin. Boleh berharap dan mencoba lagi?"
Kenapa begitu sulit melupakan Sena? Sena bagi Damar adalah cinta monyet sekaligus cinta serius.
"Janganlah... Cari yang lain aja."
Damar tersenyum simpul. Kedua orangtuanya beberapa bulan lamanya menjadi saksi keterpurukannya sampai harus mengambil cuti kuliah. Membuat Damar paham, keduanya tidak ingin melihat ia kembali jatuh untuk kedua kalinya.
"Ayahnya ya Sen?
Sambil melihat menu yang tersedia, Mita membisikan sesuatu karena rasa penasaran.
"Iya ayahnya pilot. Mungkin lagi transit atau udah selesai terbangnya."
Beberapa bulan bersama, membuat Sena sedikit tau kehidupan seorang pilot. Rute penerbangan Pak Gunawam kebanyakan Asia Timur hingga Eropa. Dan Jepang adalah salah satu yang tersering.
Mita mengangguk, circle pergaulan Sena memang bukan orang sembarangan.
Hari itu restoran terasa penuh oleh tamu hotel dan pengunjung. Mungkin karena weekend hingga banyak warga lokal, turis domestik sampai turis asing datang menginap.
Dengan ragu-ragu Sena menyapa Pak Gunawan, karena harus melewati meja Damar untuk duduk di meja belakangnya.
"Pagi, Om."
Sena menyapa sambil menyunggingkan senyum sebagai tanda hormat kepada Pak Gunawan.
"Kok bisa di sini?"
"Iya kebetulan bisa ketemu di sini. Sena lagi liburan, Om."
"Ohh.. Takdir?"
"Bisa jadi."
Sena tersenyum kaku. Segera pergi ke meja kosong karena takut diambil orang lain.
__ADS_1
"Udah kemana aja?"
Pak Gunawan membalikan kursinya, sehingga bisa mengobrol dengan Sena lebih dekat.
"Kemarin ke Gyoen, jalan-jalan mumpung di sini.
"Pulangnya ke Tsujuki outer market?"
Damar melirik Pak Gunawan, menyadari bahwa kemarin Sang Ayah memantau penuh kegiatannya.
"Iya. Beli sushi, sashimi, seger-seger ikannya."
Tidak butuh waktu lama Sena langsung akrab dengan Pak Gunawan. Keluarga Damar baginya seperti keluarga dekat. Terlebih dengan Bunda Damar, beberapa kali video call untuk sekedar menanyakan kabar.
"Kesana pas jam makan siang ya?"
"Iya kok Om tau?"
"Karena waktu yang tepat ke Tsujuki memang pas jam makan siang."
"Iya bener, Om."
Kemarin pun Sena kalap memesan aneka makanan yang dijual di Tsujuki Market.
"Itu tempat favourite Bunda nya Damar."
"Tempat favourite nya Mama juga sih kalau ke sini."
"Oh iya?"
Sena tersenyum mengangguk. Keluarganya memang memiliki banyak.
"Di sini pakai tour guide?"
"Private tour guide. Cowoknya yang jadi tour guide."
Damar menjawab agar Pak Gunawan berhenti mengintrogasi Sena.
__ADS_1
"Ohhh begitu..."