Cinta Mita

Cinta Mita
Travelling obat patah hati?


__ADS_3

Selepas makan siang yang terlampau sore, ia pamit masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Karena terasa pasir pantai menempel di badannya.


Tadi di pantai mereka sengaja hanya ngemil makanan ringan dan soft drink. Tentunya Rama yang rindu makanan tanah air fresh dari tangan Sang Mama, tidak mau melewatkan satu minggu ini dengan makan di luar.


"Makan di apartement aja ya? Aku pengen makan masakan Mama."


Dengan kepastian hubungan yang sudah Rama nyatakan, ia mulai berani menunjukan perasaannya kepada Rama.


"Anak Mama bikin gemes." ia mencium pipi Rama singkat lalu berlari masuk ke mobil.


"Kamu nakal ya, berani nya cuma pipi."


Rama berlari mengejar ke mobil.


Kini, ia menatap Rama yang masih menyantap jagung berbalut saos padang di tangannya.


Ternyata Bu Lia sudah menyiapkan bahan makanan dan rempah-rempah Indonesia agar bisa memasak makanan kesukaan Rama di Amerika. How amazing mom!


"Aku mandi dulu ya?"


"Nanti aja, temenin aku makan dulu bentar lagi."


Rama menahan tangannya, memintanya tetap duduk di sampingnya.


Ahh... ia jadi teringat Adit yang kerap minta ditemani makan jika di Malabar 10.


Ia juga teringat ponselnya yang tertinggal di kamar,


"Bentar, mau ambil HP ku di kamar."


Terkejut, begitu ia nyalakan puluhan DM memenuhi akun instagram pribadi miliknya. Begitupan dengan Whatsapp. Belum sempat ia membuka, mata nya tertarik dengan notifikasi bahwa Adit telah menyebutnya dalam sebuah story instagram.


Begitu ia baca, tubuhnya lemas seketika.


"Happy for you, hope you happy with your choice"


Foto Rama yang tersenyum bahagia tengah memeluk dirinya dari belakang. Meski wajahnya tertutup tubuh tinggi Rama tapi dengan tag nama dirinya, ribuan orang yang melihat akan tau bahwa ia lah perempuan yang berada dalam pelukan seorang pria yang bukan Adit. Dengan tag location Seattle, Washington.


Adit ada disini? Jadi benar yang Rama bilang tadi bahwa ada yang mengikutinya?


Air matanya kini mulai mulai luruh membaca DM yang masuk yang sebagian besar menyalahkan nya yang telah selingkuh dari Adit. Ia merasakan sakit di dadanya, bagaimana Adit yang melihat sendiri ia dalam pelukan Rama?


Mas... Maaf ...

__ADS_1


Membaca sebuah pesan dari sebuah nama yang sangat ia kenal, karena pernah berlibur bersama di Bali,


"Aku ngga tau harus marah sama siapa, tapi yang jelas aku kecewa sama kamu. Ternyata liburan bareng kamu sama keluargaku ngga berarti banyak buat kamu. Congratulations, semoga kamu bahagia di atas rasa sakit yang adikku rasakan."


Mbak Putri... Sosok Kakak yang sayang akan adiknya bahkan padanya juga ia kecewakan. Mas Abi, Mbak Memes, Ayah dan Ibu Mas Adit cepat atau lambat mereka akan tau.


"Mita lama banget lagi ngapain?"


Rama masuk ke kamarnya yang tak ia tutup tadi. Begitu Rama menyadari ia yang tengah menangis langsung merengkuhnya dalam pelukan.


"Kenapa tiba-tiba nangis?"


Hanya tangisnya yang ia jadikan jawaban. Rama mengambil ponsel di tangannya.


"Everything will be fine. Ada aku di sini."


Rama menelpon seseorang memakai ponselnya tanpa melepaskan pelukan.


"Gua Rama. Bisa ketemu bentar nanti sore? Biar clear disini semuanya."


Rama menarik nafas berat.


"Udah jangan nangis, ada Mama itu ngeliatin."


Ia tidak sadar bahwa Bu Lia dan Sena melihatnya dari ambang pintu.


Bu Lia terlihat lebih murung dibanding di meja makan tadi. Kembali ia teringat ucapan Adit saat marah dulu, yang mengatakan bahwa Bu Lia adalah mantan kekasih ayahnya.


Dan sekarang, ia berkomitmen dengan Rama. Bahkan Adit melihatnya sendiri.


*****


"Aku keluar bentar, kamu ngga usah ikut."


Rama yang tengah bersiap akan berangkat menemui Adit di kedai kopi langganannya.


"Aku ikut aja." ia khawatir terjadi keributan antara Rama dan Adit.


Rama menatapnya kesal. Mau tak mau Rama mengikuti keinginan Mita.


Mereka menggunakan taksi di tengah cuaca mendung. Dari depan kedai kopi ia sudah melihat Adit yang memilih kursi outdoor dengan vape di meja. Sudah lama ia tidak melihat Adit vaping, ia masih ingat ketika Adit bilang "aku udah ngga butuh lagi, udah ada kamu." hatinya kembali teriris, bagaimana dengan Adit?


"Sorry jadi lo yang nunggu. Udah dari tadi?"

__ADS_1


Adit bangun menyapa Rama memberikan tangan, tanpa melihat ke arahnya yang berada persis di samping Rama.


"Lumayan. Gimana? ada yang perlu diomongin?''


Adit masih terlihat sedikit kaku meski mencoba secair mungkin.


''So sorry kalau harus kaya gini. Gua ngga nyangka akhirnya jadi gini. Mungkin kalau gua ngga kesini, ngga bakal kaya gini."


"Ngga masalah, mungkin memang udah jalannya. Selamat, semoga bahagia."


Adit tersenyum, tapi bukan ke arahnya.


Melihat Adit berusaha setegar karang di hadapan Rama dan dirinya, membuatnya semakin sedih. Sedih karena telah mengecewakan laki-laki sebaik Adit. Tapi sayangnya cintanya telah memilih Rama.


Huhh... perjalan cinta yang berat untuknya.


''Mampir ke apartemen ada nyokap sama adik gua, disini lo tamu gua."


''Boleh kalau ngga ngerepotin."


''Gua baru tau kalau Fima nikahnya sama Kakak lo. Dia partner di kantor, temen dari kuliah. Kayaknya di dunia ini isinya cuma ada keluarga kita doang."


''Kalau kata bokap gua, lo lagi lo lagi."


Adit dan Rama tertawa yang terdengar sumbang di telinganya.


"Sampai kapan disini?"


Dua cangkir hot vanilla latte pesanannya dan Rama sudah tiba, dengan latte art bergambar hati seolah menyindir Adit.


"Lusa ke LA, lanjut California, New York mungkin, keliling aja lah nyampe nya kemana, tanggung udah sampe sini. Harusnya gua keliling sama cewek tapi yaudahlah bukan jodohnya mungkin."


Semudah itu Adit bicara demikian? Apakah memang Adit baik-baik saja?


"Travelling adalah obat patah hati terbaik." lanjut Adit sambil memainkan asap dari vape yang ia pegang.


Ia kini merasa asing berada di antara masa lalu dan masa depannya. Dua laki-laki ini tidak mengajaknya ikut dalam obrolan, bahkan Adit tak melihat ke arahnya sedetikpun. Benar kata Rama tadi, seharusnya tadi ia tidak usah ikut.


Bukankah biasanya laki-laki menyelesaikan masalah dengan Urat dan otot? Namun di hadapannya kini tidak seperti yang ia sempat khawatirkan.


''Besok malem gua tunggu di apartemen."


*****

__ADS_1


Alhamdulillah Mita, Rama dan Adit bisa menyelesaikan permasalahan mereka yaa :-):-)


Tapi cerita ini belum berakhir, karena kisah Mita dan Rama masih berlanjut 🌺🌺


__ADS_2