
"Ngga kemalaman Sena diantar pulang jam segini?"
Bu Retna yang membukakan Adit pintu.
"Acaranya aja jam 7 malam Bu, ketemu temen SMA Sena jadi keasikan ngobrol."
"Ngga macem-macem toh?"
"Macem-macem apa, Mbak?"
Adi memeluk Bu Retna sebagai ungkapan kesal dituduh macam-macam. Meski kesal ia masih bicara dengan suara lembut.
"Check in. Apalagi?"
Adit melepas pelukannya dari tangan Bu Retna. Tuduhan Putri kali ini keterlaluan menurut Adit. Meskipun bercanda, ada banyak candaan yang lebih pantas untuk dibahas.
"Mbak, kalau gaya pacaran Mbak dan Mas Bimo atau teman-teman Mbak kaya gitu, jangan disamakan dengan aku dan Sena. Aku tau batas sampai mana aku boleh sama Sena. Aku memang laki-laki dewasa normal, bucin, apalah itu sebutan Mbak untuk aku. Tapi aku masih bisa nahan nafsu ku. Aku masih ingat cara menjaga nama keluarga. Aku memang ngga suci, tapi aku ngga sampai sana. "
"Ya kamu pulang nya malam. Lagian aku bercanda."
"Aku pulang malam karena acaranya malam. Dan masih banyak hal yang lebih pantas untuk dijadikan candaan !"
"Ojo nesu-nesu lho. Baperan."
"Besok aku share loc live. Kalau aku check in Mbak bisa tau aku di hotel mana. Mungkin Mbak sama Mas Bimo mau satu hotel, dengan senang hati."
Adit meninggalkan Bu Retna dan Putri membuang muka.
"Eh alah enak aja, aku masih segel ! Kamu ngerti guyon ngga sih?"
"Bercandaan anak kementrian kampungan."
Adit meninggalkan ruang tengah dengan membuang pandangan.
"Makan dulu ndak Dek?"
Adit tidak menjawab pertanyaan Bu Retna.
"Kamu keterlaluan Put. Adit mana mungkin kaya gitu."
"Kalau ngga kan yaudah ngga usah marah. Guyon Bu, guyon."
"Besok samperin Adek, minta maaf. Marah itu dia."
Adit membanting pintu kamar hingga pakaian yang ia gantung di belakang pintu terjatuh. Lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan mengeluarkan ponsel untuk video call Sena. Berharap rasa kesalnya hilang setelah melihat Sena.
"Kenapa?"
Adit menutup matanya dengan pergelangan tangan karena rasa kesal masih memenuhi hatinya. Setelah menginjak usia dewasa, jarang sekali ia berdebat dengan Putri. Bahkan ia lupa kapan terakhir dan topik berdebat dengan kakak perempuan satu-satunya itu.
"Ngga, lagi kesel aja sama Mbak."
"Mbak Putri kenapa?"
"Males bahasnya. Kamu ngga tidur?"
"Aku masih pengen ngobrol. Aku masih shock Mas pulang."
"Yang tadi kurang? Masih belum percaya aku emang pulang."
"Cukup yang tadi. Makasih ya."
Anehnya bagi Adit, seolah ingin lagi dan lagi. Namun berharap Sena yang memulai.
"You're mine."
"Tentu saja. Ngga ada yang lain di hidup aku. Mas satu-satunya."
Adit tersenyum.
"I love you to the moon and back, Mas."
Mal ini Sena seolah ingin terus mengungkapkan perasaan cintanya untuk Adit.
"Really?"
Adit seolah tak percaya.
"Ngga cukup kah yang tadi sebagai pernyataan aku?"
"Kontak fisik kan bisa dilakukan dengan siapapun."
"Mas begitu? Aku ngga. Perempuan hanya bisa melakukan kontak fisik dengan orang yang dia sayang."
Adit terdiam setuju. Dulu Mita menolak ciumannya ternyata karena bukan Adit orangnya.
"Oh I see... Ake lebih baik sekarang, setelah tadi BT banget sama Mbak. Mau tidur sekarang? Besok aku jemput jam10. Aku udah lumayan ngantuk."
"Jangan BT lagi. Kakak juga suka bikin aku BT, namanya juga kakak emang udah tugasnya rese-in Adek."
Adit tersenyum. Wajahnya berbeda dengan wajah saat awal video call tadi
"Oke, aku juga tidur."
Meskipun masih ingin bicara dengan Adit, Sena tidak ingin menggangu istirahat orang yang kini sangat ia sayangi.
"Mimpiin aku, jangan yang lain."
"Akang-akang fans aku di kampus ngga boleh aku mimpiin?"
Wajah Adit berubah, menutup matanya membali. Begitu mudah mengetahui isi hati Adit, pikir Sena. Bisa berubah dengan mudah.
"Terserah kalau kamu memang mau nya mimpiin mereka. Aku cuma mau mimpiin kamu."
Adit tau ada beberapa senior Sena di kampus yang mendekati kekasihnya. Adit kerap membaca DM dari "Akang-akang" karena akun instagram Sena juga terhubung di ponsel miliknya.
"Yang bener? Boleh mimpiian Akang-akang?"
Entah ilham dari mana, Sena ingin menggoda Adit.
"Akang yang mana? Yang kemarin kamu respon DM nya?"
Beberapa hari lalu Adit membaca DM dari seorang alumnus ITB yang entah bagaimana caranya bisa mengenal Sena meski sudah lulus.
"Respon apa? Aku cuma bales gitu doang."
"Akang yang lain ngga kamu bales. Sumpah aku jadi ngga ngantuk kamu bahas hal penting ini."
Sena tertawa karena merasa berhasil mengerjai Adit.
"Aku bercanda, aku cuma mau mimpiin Mas."
__ADS_1
Adit diam, kesal dengan bercandaan para wanita malam hari ini.
"Mas..."
"Hmmmm."
"Aku bercanda."
"Udah bercandanya? Candaan kamu ngeselin, sama kaya Mbak."
Bukan hanya mata yang Adit tutupi, wajahnya kini ia tutupi dengan bantal. Banyaknya wajah yang ia tutupi menggambarkan banyaknya kekesalan di hatinya.
"Dududuuu. Jangan marah, aku cuma sayang kamu."
"Hmmm."
Ada perasaan yang mengganjal untuk menjawab ungkapan sayang dari Sena.
"Mas ngga sayang aku ya?"
"Sayang."
Suara Adit terdengar samar karena tertutup bantal.
"Bohong. Matanya ngga lihat aku."
Adit duduk, membuang bantal yang menutup wajahnya dan menatap Sena dengam serius.
"Aku sayang kamu dengan mata tertutup atau terpejam, dengan diam atau bicara, dengan semua kelebihan dan kekurangan aku. Semoga kamu mau nerima kekurangan aku yang banyak ini. Mungkin lebih banyak kurangnya dari lebihnya, bahkan kalau dibanding Akang-akang, aku bukan apa-apa."
Adit si pesimistis.
"Mas lebih dari semua laki-laki di dunia ini. Ngga ada laki-laki yang matanya lebih jujur dari mata kamu. Aku tau isi hati Mas, meskipun hanya dengan tatapan mata."
Cukup. Bagi Adit pernyataan singkat dari Sena cukup membuatnya tenang.
"Kalau gitu aku juga sayang kamu."
"Cuma sayang? Ngga cinta?"
"Cinta juga."
Sena tertawa puas.
"Besok aku peluk lagi boleh?"
"Izinnya peluk aja, nanti kemana-mana."
"Ngga suka?"
Adit dengan pandangan
tulusnya yang membuat Sena klepek-klepek.
"Suka ngga ya?"
"Non, kalau belum nikah jangan terlalu gemes. Aku takut."
Suara tertawa Sena semakin kencang.
"Udah ya Non, bye sayang."
"Bye, Mas."
*****
Kini entah ada angin apa, sehabis shalat subuh Mita mengambil sapu yang sedang dipegang oleh Bi Imas.
"Bibi kerjain kerjaan lain aja. Saya pengen nyapu."
"Ngga usah Neng. Neng Mita duduk aja, nonton berita sama Ibu. Atau olahraga sama Bapak di samping."
Kebiasaan Bu Lia sehabis shalat Subuh, membaca buku fiksi koleksi pribadi miliknya sejak bertahun-tahun silam. Membaca sambil menonton acara berita pagi adalah rutinitas Bu Lia di pagi hari. Meskipun mata Bu Lia fokus membaca dan tidak menyimak acara berita sepenuhnya, namun suara TV harus tetap terdengar.
Konon membaca buku-buku lama yang pernah kita baca, akan melatih memori otak agar tidak mudah lupa meski bertambah usia. Karena dengan membaca buku yang pernah kita baca sebelumnya, secara otomati otak akan menstimulus untuk mengingat kembali isi buku tersebut.
Berbeda dengan Pak Romi, laki-laki paruh baya tersebut lebih menyukai lari-lari kecil di treadmill sambil menikmati udara pagi yang belum banyak terkontaminasi asap kendaraan. Sambil membaca koran atau membaca pesan di grup dokter maupun grup dengan teman-teman lama.
Sangat kontras dengan kedua anaknya, yang kembali menutupi tubuhnya dengan selimut selesai shalat Subuh di waktu weekend atau hari libur.
"Bosen Bi, saya pengen jadi menantu idaman."
Mita tersenyum meyakinkan Bi Imas agar diizinkan menyapu. Ia lantas menyapu lantai mulai dari ruang makan lalu ruang keluarga dimana Bu Lia sedang asik membaca ditemani secangkir teh tawar favorit.
"Mas, sapu kamar saya sama sekalian beresin meja riasanya, lap pakai kain basah."
Tanpa menoleh ke arah orang yang menyapu, Bu Lia memberikan intruksi. Mita lekas mengambil lap basah lalu masuk ke kamar Bu Lia sesuai perintah dari Sang Ibu Mertua.
Kurang dari lima menit Mita selesai membersihkan kamar yang tidak berantakan ataupun kotor. Sebuah pekerjaan yang menurutnya mudah.
Begitu Mita keluar dari kamar Bu Lia, Pak Romi datang dengan handuk kecil setengah basah di tangan.
"Mita ngapain bawa sapu?"
"Tadi Mama nyuruh nyapu kamar."
Pendengaran Bu Lia terganggu dengan percakapan dua orang di dekatnya.
"Mama nyuruh Mita nyapu?"
"Ngga, tadi Mama nyuruh Imas."
"Imas darimana, tadi Mita yang nyapu kamar."
Pak Romi menunjuk Mita yang memegang sapu dan lap basah.
"Kok kamu yang nyapu? Imas mana?"
"Bi Imas nyuci, Mah... Tadi aku yang minta sapu ke Bi Imas karena lagi pengen nyapu."
"Aya-aya wae." (ada-ada aja)
Pak Romi geleng-geleng kepala, lalu masuk ke dalam kamar.
"Ngga usah, kamu diem aja. Ada Imas ngapain kamu yang nyapu."
"Ngga apa-apa, aku lagi pengen beberes."
"Panggil Rama aja suruh bangun. Udah mau jadi Bapak, kebiasaan masih suka tidur habis Subuh."
Mita beranjak membangunkan Rama yang hampir seluruh tubuhnya ditutupi selimut, terkecuali kepala.
__ADS_1
"Sayang bangun, dipanggil Mama."
"Bangunin dong."
Rama merentangkan tangannya dengan mata terpejam.
"Ayo bangun."
Mita menarik tangan Rama agar segera bangun.
"Bangunin yang lain."
Otak Rama sudah mulai ngeres.
"Ih, masih pagi."
"Enakan pagi, sekalian sarapan."
Posisi berubah, kini Mita berada di atas tubuh Rama efek tarikan tangan Rama.
"Gimana sih mau jadi Ayah juga."
Mita memukul-mukul dada Rama.
"Mana sarapan aku?"
"Di bawah, Abang mau sarapan apa?"
"Pengen sarapan kamu dulu di sini."
"Ngga bisa, sarapan di bawah aja."
"Dibawah gini?"
Rama merubah posisinya, kini ia yang mengusai tubuh Mita. Matanya kini sudah terbuka lebar siap menerkam mangsa di hadapannya.
"Abang... masih pagi, Mama nungguin."
"Emang ada apaan? Ini hari Minggu."
Setengah malas Rama akhirnya bangun. Melempar perlahan selimut yang tadi menutupi tubuhnya. Lalu menuruni anak tangga menuju ruang keluarga.
"Pagi Mah, ada apa?"
Rama mendekati Bu Lia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Bu Lia setengah mengantuk.
"Ngga ada apa-apa. Bangun aja, udah siang."
"Kirain ada apa. Tau gitu aku sarapan di kamar sama Mita."
"Sarapan dalam arti lain kan?"
Seolah tau apa yang ada dipikiran Rama.
"Nengok calon cucu Mama, biar seneng ditengokin Papa nya."
Bi Imas dengan tergesa mendekati majikannya.
"Bu, Neng Mita ngga bisa dikasih tau."
"Kenapa Mita?"
"Lagi beres-beres isi kulkas. Katanya kotor."
Tanpa sadar, saat Bu Lia dan Rama ngobrol, Mita kembali ke dapur ingin membantu pekerjaan Bi Imas.
"Maksudnya gimana Bi?"
"Neng Mita lagi bersihin kulkas Den, saya udah bilang jangan. Tapi Neng Mita nya keukeuh pisan."
"Ya ampun istri kamu. Tadi dia yang nyapu, Mama pikir tadi Imas. Mama suruh beresin kamar tadi."
Bu Lia menyimpan buku yang sedari tadi dipegang. Mengikuti Pak Romi yang sudah terlebih dahulu masuk kamar.
"Biarin Bi, bagus kan artinya rajin."
Rama menuju dapur, tempat dimana kulkas berada. Rama berdiri menempel pada salah satu dinding dapur. Memperhatikan Mita yang sedang duduk jongok membersihkan bagian-bagian kulkas dengan lap kain.
Rama menunggu Mita tanpa bersuara. Menikmati pemandangan istrinya yang begitu telaten membuang daun-daun sayuran yang menguning karena terlalu lama disimpan di kulkas.
Sambil menunggu, Rama membuka whatsapp, hendak membalas beberapa pesan yang belum ia buka.
Setelah dirasa semuanya bersih dan sesuai tempat, Mita mengambil satu buah jeruk sunkist. Betapa kagetnya Mita, Rama sudah berpindah duduk ke atas meja maja dapur.
"Kamu ngapain disini?"
"Nungguin kamu beres-beres kulkas. Rajin amat."
Rama mengusap rambut Mita dengan segenap rasa sayang.
"Habisnya badan aku pegel-pegel kebanyakan diem."
"Tadi aku ajak berkeringat ngga mau. Sekarang yuk."
"Ngeres aja. Mau jeruk ngga?"
"Ngga mau, mau nya kamu."
Rama menggendong Mita ala pengantin.
"Abang, sekarang aku berat."
"Lebih berat cinta aku ke kamu."
Begitu melewati ruang keluarga, terlihat Sena sudah bangun masih menggunakan piyama sedang asik dengan ponsel di tangan. Sementara Pak Romi duduk di sebelah Sena menonton TV menggantikan posisi Bu Lia.
"Yah elah, penganten basi."
"Pengen ya digendong gini?"
Rama meledek Sena.
"Mita sarapan yang banyak. Makan buah, sayur, protein, biar janin nya sehat harus banyak makanan bergizi."
"Iya Pah..."
Mita mengangguk.
"Denger kata dokter Romi."
Rama membesarkan suaranya agar didengar Pak Romi.
__ADS_1
*****