Cinta Mita

Cinta Mita
Perjalanan baru


__ADS_3

Rama


Tinggal dan belajar di negara orang tanpa keluarga membuat ia sedikit merasakan kesulitan. Perbedaan budaya Indonesia dengan Amerika menjadi tantangan tersendiri untuknya.


Ia juga kesulitan menyesuaikan lidah dengan masakan negeri Paman Sam tersebut. Meskipun di kota Seattle ini banyak terdapat restoran Asia, tapi itu tidak banyak membantu karena ia termasuk picky eater alias tipe manusia yang pilih-pilih makanan. Lidah nusantara yang terbiasa dengan masakan rumahan seperti sayur asem, rendang, orek tempe, pepes, ayam goreng, dan sambal tentunya tidak akan bisa ia ditemui dengan mudah bahkan di restoran Asia yang kebanyakan adalah sushi, ramen, dan masakan Thailand. Akhirnya membuat ia meminta kepadanya Ibunya agar mengirimkan sambal kemasan, rendang kering dan makanan kering lainnya yang lebih awet umur simpannya demi untuk mengatasi rasa rindunya akan makanan tanah air.


Bukan hanya soal makanan, tapi juga karena ia minoritas sehingga lebih susah berkomunikasi. Meskipun ia mahir berbahasa Inggris ketika di Indonesia, namun vibe nya tetap berbeda ketika ia langsung berbicara dengan warga lokal di negaranya langsung.


Setelah tiga bulan pertama melewati kursus singkat ia mulai sedikit terbiasa dengan ritme belajar disana. Sangat berbeda dengan cara belajar di Indonesia yang lebih banyak menulis, sedangkan di Amerika pelajaran di dalam kelas lebih banyak diskusi dan menyelasaikan masalah secara langsung.


Semua orang pasti penasaran antara ia dan Mita. Mita benar-benar telah melepaskannya, tidak pernah merespon segala bentuk komunikasi yang ia lakukan. Tapi ia tidak peduli, ia tetap rutin memberikan kabar meskipun tidak ada balasan. Karena ia tahu Mita disana ingin tahu kabarnya karena semua pesan nya centang biru dua yang artinya perempuan itu membacanya.


Saat Fery dan Rena datang beberapa bulan lalu, Fery hanya membawa informasi yang sebenarnya sudah ia ketahui. Teman tidak berguna, gerutunya kala Fery melaporkan bahwa Mita dan Adit semakin dekat.


"Lu ngga niat emang kam prett. Datengin kek tu bocah maksudnya apa bikin Mita jadi manager nya segala.''


''Udah dong jangan ngomel mulu. Aseli ini Amrik keren banget. Gua nginep dimana nih? Hotel udah siap kan buat gua? Hotel bintang lima dong pasti." saat Rama menjemput Fery dan Rena di bandara Seattle, Amerika Serikat.


"Bang kee, ngga tau diri. Supir yang anter lu ke hotel. Gua balik ke apartemen naik taksi, ngga ada kerjaan nganterin orang honeymoon."


"Rena kamu di kamar aja bikin anak yang banyak. Aku udah pesen hotel mahal."


"Enak aja di kamar terus, di Bandung juga bisa kalau di kamar doang mah."


"Cerewet kamu, dikasih tau yang bener." ia gemas jika sudah meledek Rena. Istri sahabatnya ini memang sering menggerutu jika di goda, hiburan untuknya.


Jika uangnya tidak berguna untuk mendapatkan informasi mengenai Mita, setidaknya ia berharap seminggu di Amerika bisa membuat Rena lekas hamil seperti yang mereka harapkan.


Ia pun pamit ke apartemen namun sebelumnya memberikan amplop tebal berisi dollar.


"Ehh teu kudu Ram." (teu kudu : ngga usah) Fery menolak amplop yang Rama sematkan di tangannya.


"Ini Amerika semua nya mahal. Lu harus cobain Starbucks pertama di dunia ada di sini. Anggap itu sedekah dari gua buat anak yatim." ia pun tertawa, berlari menuju taksi.


"Bang keeee, mulut Lu barokah bener." Fery mengejar ia yang lari menjauh.


Di dalam taksi menuju hotel ia kembali merenungi Mita yang ia ketahui sekarang menjadi menager Adit, mau tidak mau ikut kemanapun Adit pergi.


Cerdas, bisa memanfaatkan peluang yang ada. Ia tertawa sinis.


Terhitung beberapa hari sejak keberangkatan nya, profil bio instagram Mita dan Adit telah berubah. Gerak cepat, luar biasa.

__ADS_1


Dalam halaman instagram Adit telah tertulis akun Instagram Mitha sebagai CP lengkap dengan nomor ponsel yang berbeda dengan nomor yang ia punya. Ia pun menyimpan nomor tersebut di ponselnya, tidak boleh terlupa.


Begitupun dengan halaman Instagram Mita yang memuat keterangan "Business Manager of @AdityaW"


Satu kata untuk dirinya saat ini. Pait.


Hampir satu tahun berlalu, perasaannya belum berubah.


Daftar following di fake account nya bahkan telah bertambah menjadi 10 orang. Yaitu teman kosan dan teman dekat Mita kuliah.


*****


Mita


Sepulangnya dari kampus, Adit sudah menunggu di depan kampusnya dengan motor yang biasa ia pakai jika pergi dengannya.


Jarak antara kampus dan kosan yang deket membuatnya sempat menolak tawaran jemputan dari Adit, namun Adit keukeuh ingin menjemput.


"Mas pengen makan yang manis-manis di temenin Neng manis."


"Makan dimana?"


"Fat bubble ya."


Apakah ini selingkuh? Hatinya mengatakan ia telah mengkhianati Rama meski tidak ada komitmen apapun antara ia dan Rama.


Rama masih rutin mengirimkan kabar untuknya. Berupa pesan dan foto dirinya, suasana kampus atau apartemennya.


"Di sini lagi musim dingin, di sana udah musim durian belum?" ia tertawa membaca pesan terakhir dari Rama beberapa hari lalu yang tidak nyambung menurutnya. Rama juga menyisipkan foto nya saat sedang berada di tengah salju. Menggunakan mantel besar, sendiri, kedinginan. Ia pun rindu.


Ia selalu membaca pesan dari Rama, bahkan seringkali menunggu kabar tanpa pernah sekalipun membalas. Egois bukan? Biarlah.


Adit memilih tempat duduk di outdoor seating area. Beberapa bulan terakhir ia mengamati Adit yang mulai memakai vape. Jika sudah dengan vape, Adit akan duduk menjauh darinya agar ia tidak ikut menghirup asapnya. Jika sudah terlalu lama ia akan mendekat dan meminta Adit untuk menyudahi menghisap kepulan asap yang sangat banyak itu.


"Mas, udah."


"Aku lagi pusing skripsi, mentok." selalu itu yang dijadikan alasan. Namun jika ia sudah mendekat mau tak mau Adit berhenti vapping. Namun terkadang Adit merasa kesal jika belum selesai namun ia mendekat.


Seperti saat itu di gazebo ketika Adit asik dengan vape sambil mengerjakan skripsi nya.


"Kamu sana dulu." Adit mendorongnya menjauh.

__ADS_1


"Nggak, aku mau disini." ia ingin Adit menyudahi.


"Ih ngeyel, Mas belum beres."


"Yaudah lanjutin, aku masih mau disini balesin chat dari online shop yang nanya price list."


Akhirnya Adit mengalah menyimpan apa yang ia pegang tadi.


Salahkah jika ia nyaman dengan laki-laki yang baik hati ini?


Semoga ini bukan sebuah kesalahan


****


Adit


Sudah lama ia ingin mengatakan ini, namun feeling nya meminta untuk bersabar. Sampai hari ini tiba, hampir satu tahun kedekatan mereka sebagai manager dan talent. Selesai dengan vape demi meminimalisir rasa gugup nya, ia mendekat ke arah Mita.


"Paramitha... Aku ngga tau ini kecepatan atau nggak."


Mita mendengarkan dengan baik ucapannya yang sepertinya sudah tau arahnya kemana.


"Tapi buat aku waktu yang hampir satu tahun ini udah cukup bikin aku yakin bahwa perasaan aku lebih buat kamu."


"Aku juga berharap ada perasaan yang sama buat aku dari kamu."


Mita menatapnya dengan dalam tanpa ekpresi.


"Mungkin sulit buat kamu menghapus nama laki-laki itu secara permanen dari hidup kamu. Karena dia masih ada di hidup kamu. Walaupun kamu ngga ngomong, aku tau dia masih ada."


Tatapan nya kini ke bawah, setiap kali ia menyebut laki-laki itu Mita tak pernah mau menatapnya.


"Tapi aku ngga minta kamu untuk melupakan. Karena aku juga punya masa lalu. Kita sama-sama punya masa lalu."


"Cukup terima aku sebagai seseorang yang sayang sama kamu, terima kehadiran aku di hidup kamu."


"Aku sayang kamu."


Ia memberanikan diri mengambil tangan Mita untuk pertama kali nya. Dan Mita tidak menolak genggaman tangan darinya.


"Kamu ngga usah ngomong apa-apa. Aku anggap ini jawaban."

__ADS_1


Bahagianya ia hari ini, bisa memegang tangan Mita tanpa rasa ragu. Menumpahkan semua perasaan yang sudah ia rasakan satu tahun kebelakang. Memiliki Mita sebagai kekasihnya.


Sejak saat itu tidak ada yang berubah, hanya Mita yang lebih manis dimatanya, setelah Mita menerima nya ia semakin menyukai perempuan mungil itu. Cara Mita memberikannya perhatian dan menunjukan perasaannya ia sangat suka.


__ADS_2