
"Udah bangun belum?"
Pagi-pagi Rama sudah warning Adit agar tidak lupa perintahnya kemarin.
"Udah. Bentar lagi ke hotel."
"Bagus. Jadi adik ipar yang baik."
Rama mengetik pesan terakhirnya dengan senyum-senyum.
Setelah sarapan dua tangkup roti dan segelas susu hangat, Adit menuju Keio Plaza Hotel dengan berjalan kaki.
Pagi hari saat musim panas di Jepang, suhu mencapai 28⁰C hingga Adit hanya menggunakan kaos polos putih, celana panjang, dan topi untuk melindungi diri dari sengatan matahari. Namun tidak lupa membawa jaket tipis, karena di dalam kamar hotel tetap terasa dingin.
"Teh, aku di loby."
Adit tidak bisa langsung ke kamar hotel, karena untuk masuk lift membutuhkan kartu akses.
Tapi bukan Mita yang menjemputnya melainkan Sena datang menunduk. Dengan cardigan tipis yang melapisi piyama.
Sena memberikan kartu akses kepada Adit dan mengikuti Adit dari belakang.
"Masih marah?"
Sengaja Adit .elambatkan langkah kakinya agar sejajar dengan Sena.
"Sabar, kalau aku bikin kesel kamu yang sabar. Maaf."
Mendengar Adit bicara demikian, hati Sena seperti dicubit kembali. Adit yang memang tidak bisa marah, menurunkan ego nya serendah mungkin agar hubungannya tidak kandas di tengah jalan.
Begitu masuk ke dalam kamar, Mita sudah terlebih dahulu video call dengan Rama di meja kerja kamar hotel.
"Nah dateng juga. Si paling perfect couple tapi berantem terus."
Semalam sebelum tidur, Mita melihat instagram Adit. Membaca komentar netizen di akun Adit pada postingan semalam. Meski sedang marahan, Adit tetap post di feed instagram fotonya dan foto Sena saat makan ramen kemarin.
"Nemenin turis dadakan dari Jakarta."
Setelah video call dengan Rama semalam, Adit merasa sedikit bersalah karena ia mood liburan Sena dan Mita jadi berantakan.
"Jadi riweuh begini. Maaf pisan ya Teh."
Adit menyimpan topinya di atas meja. Dan Mita memberikan ponselnya kepada Adit untuk bicara langsung dengan Rama.
"Gua jadi berasa duda tinggal berdua sama Yoga gini."
Adit tertawa.
"Mood membaik?"
Sambil menyeruput teh manis hangat buatan Yoga, Rama memperhatikan Adit.
__ADS_1
"Lumayan. Tapi Nona nya masih diem dari tadi."
Adit menoleh sekilas pada Sena.
"Dek, jadi gimana? Kamu pulang kapan?"
"Ngga tau."
"Putus aja udah deh, puyeng banget ngurusin kamu ngambek mulu."
"ENGGAK !!!"
Sena menjawab dengan nada tinggi.
"Baikan ngga??"
"Aku mah ngga ada masalah. Sena yang punya masalah."
Tidak ingin mood nya memburuk, Adit melihat ponselnya agar fokusnya tidak ke Sena yang masih menyebalkan di matanya saat ini.
"Dit, HP simpen dulu. Bocah batu banget pada. Gua sarapan aja belum malah ngurusin lu berdua."
"Staff cewek nya WA mungkin."
Wajah Adit kembali berubah mendengar Sena menghubungkan dengan Silvi lagi. Ponsel Mita Adit simpan di atas meja. Hingga Rama hanya bisa melihat langit-langit kamar hotel.
"Kalau mau pulang, ngga apa-apa pulang aja. Aku ke festival aja ngeberesin kontrak tiga hari lagi."
"Mas mah ngga ada usaha nya baikin aku."
"Aku nya salah terus."
Adit menutup wajahnya dengan topi yang kupluk yang ada pada sweater yang ia gunakan.
Sena menangis, namun Adit tidak bergerak sedikitpun untuk meredakan tangisan Sena.
"Mau diem sampai kapan ini? Aku sambil sarapan telor dadar bikinan Yoga biar waktu aku ngga habis percuma nungguin kalian berdua ngomong."
Rama mulai mengerti, permasalahan ada di Sena.
"Pulang besok aja Yang, Sena ngga mau ngomong. Kamu belajar caranya reschedule tiket gimana."
Bahkan Rama yang hanya melihat ikut kesal dengan tingkah kekanak-kanakan Sena. Bagaimana Adit?
"Ngga mau pulang..."
Akhirnya Sena mau untuk bicara.
"Mau kamu gimana?"
Sambil sarapan, Rama harus bersabar menghadapi paginya hari ini.
__ADS_1
"Jangan bikin aku ngerasa jadi laki-laki jahat, atuh Non. Aku ngga bisa kalau putusin kontrak. Ini tinggal 3 hari lagi acaranya... Setelah itu yaudah aku ngga terima event lagi. Makan mie instan aja tiap hari aku ngga apa-apa. Biar hemat biar kamu ngga marah."
Adit membuka kupluk yang menutupi wajahnya yang memerah.
"Mas nya jangan deket-deket cewek..."
Adit menarik nafas. Sementara Mita memberikan kode kepada Adit untuk mengalah. Dengan gerakan bibir tanpa suara.
"Iya aja."
Mita juga mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera kepada Sena dan Adit.
"Kemarin kan aku bilang, aku cuma bisa sama kamu. Mau ada perempuan kaya gimanapun, aku ngga bisa ngapa-ngapain juga sama perempuan lain."
"Tunggu, bisa apa nih?"
Kalimat Adit terdengar rancu di telinga Rama.
"Ngobrol Kak, deket. Gua ngga bisa deket sama cewek lain. Semuanya pure temen."
"Awas lu ya. Sayang, liatin ini anak berdua."
"Aman."
Mita sedikit berbohong.
"Masih mau pulang? Ambil flight jam berapa? Aku anterin kalau mau pulang. Aku bisa izin dulu sebentar."
Adit merapatkan duduknya mendekati Sena.
Ada perasaan kagum di hati Rama kepada Adit. Mampu menahan ego sebagai laki-laki serendah itu. Adit juga di mata nya sangat sederhana. Bahkan ia tidak menyangka aset yang Adit miliki banyak, tapi gaya hidupnya tidak berlebihan.
"Ngga mau pulang. Kan tadi aku udah bilang belum mau pulang."
"Yaudah jangan marah-marah terus. Sini atuh."
"Heh mau ngapain?"
Adit tidak mendengar pertanyaan Rama. Ia menarik Sena ke dalam pelukannya. Membiarkan Sena menangis, meluapkan rasa kesal dan cemburunya.
"Maaf ya."
"Udah udah."
Adit masih tidak meng-indah-kan ucapan Rama.
"Coba diem aku mau foto."
"Ngga mau. Jelek gini jangan difoto."
Sena menutup wajah dengan telapak tangannya. Adit tertawa namun tetap memotret Sena.
__ADS_1
"Ada yang nangis karena cemburu. Gemes tapi kzl juga, untung sayang."
Adit mengunggah story instagram agar Sena melunak.