Cinta Mita

Cinta Mita
Ceban kembali goceng


__ADS_3

Suasana di Bandung memang sangat cocok untuk istirahat. Tidak heran Enin menolak ketika ibu nya mengajak tinggal di Jakarta.


"Moal ah Ibu mah di Bandung we, ada Ideng sama Cucun jangan khawatir. Jakarta mah hareudang, di AC wae masuk angin nu aya.''


Jawaban Enin tiap di diajak menetap di Jakarta.


Meskipun tidak sedingin 10 tahun lalu, namun masih tetap lebih nyaman dari Jakarta. Hari ini sudah dua kali ia ketiduran saat bersantai di ruang tengah saking nyamannya. Sampai ponselnya bergetar ia tidak menyadarinya.


"Den, punten.'' terdengar suara Wa Cucun membangunkan di balik badannya.


''Eh Iya Wa kenapa?" ia membuka matanya.


"Neng Sena tadi nelepon, katanya tolong liat HP.''


''Oh iya. Makasih Wa.''


Sena masih saja sama. Di Jakarta ataupun di Bandung selalu jadi pengganggu, ngga pernah bisa liat Rama santai barang sebentar.


''Apa sih Sen?''


''Lagi ngapain sih? Aku udah di PVJ cepet kesini.''


''Semangat amat Neng. Aku mandi dulu, 2jam lagi lah kira-kira. Hihihi.''


''Awas loh lama, aku nunggu sambil ngeramen. Kalau 2 jam aku bisa diusir.''


''Bawel.''


Ia langsung mengambil handuk ingin segera mandi. Selesai mandi ia mencari Enin untuk pamit keluar menjemput Sena.


Di meja makan ia melihat tudung saji yang tertutup, karena perutnya memang sudah lapar dibukanya tudung saji tersebut.


Pepes ikan mas, sayur asem, lalab dan sambal. Sempurna.


Ia lantas ke belakang mencari keberadaan Wa Cucun menanyakan keberadaan garam dan cengek (rawit). Setelah ia mendapatkan apa yang ia mau, tak menunggu lama ia membejek sedikit rawitnya di atas garam agar ada sedikit rasa pedas.


Cara makan pepes yang ia lihat dari ibu nya. mencolek cabe garam ke nasi dan ikan lalu melahapnya. Dua piring tandas seketika.


"Sena pasti ngomel" batinnya terkekeh dalam hati. Xixixi


Segera ia kemudikan setirnya ke arah Cihampelas sesuai request adik tersayang. Anak gahul Jakarta dalam sebulan sudah tau tempat nongkrong Bandung.


''Sen, udah selesai makannya?''


Begitu ia temukan keberadaan Sena di restoran Jepang.


Sena menoleh ke arah asal suara. Dilihatnya Rama yang datang menggunakan hodie berwarna navy.


"Pantess cewek-cewek pada ngebet" batin Sena dalam hati. Sampai Oliv jumpalitan jika sedang main ke rumah Sena dan bertemu Rama.


''Udah dari kemarin.''


Rama tertawa, senang melihat adiknya kesal.


''Ngga jadi beli sepatu nya? Cemberut gitu.'' Mungkin nanti ia akan merindukan saat-saat seperti ini.


''Jadi lah, rugi aku kalau nggak jadi. Ngapain dulu sih lama banget.''


Ia pun menarik tangan kakaknya keluar restoran.


"Makan dulu, aku juga laper. Wa Cucun masak pepes ikan endulita."


Sena terkekeh mendengar kata "endulita" keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa sih? senyum-senyum nggak jelas." Rama risih sejak tadi Sena memperhatikannya.


Setelah mengitari beberapa toko sepatu, akhirnya ia memutuskan untuk memilih sepatu yang sudah di taksirnya kemarin.


''Kalau kamu masih milih yang harganya ceban kembalian goceng ini, yang udah kamu taksir dari beberapa hari lalu ngapain kita masih muter-muter nggak jelas kaya tadi Sen? Bikin pegel doang.''


''Make sure kak, itu seni nya berbelanja ala wanita.''


''Belanja sama Mita nggak seribet sama kamu. Berbinar-binarnya sama, tapi kalau tingkat keribetan dia segini, kalau kamu ribet banget.''


Rama mengibaratkan Mita dengan seujung kuku.


''Kakak udah ngebeliin Mita apa aja?''


''Laptop paling, itu juga dia milihnya yang murah. Aku pilihin kaya yang aku pakai dia ngga mau ngancem nggak mau dia bawa. Aneh banget kan?''


''Masa laptop doang?''


Sena sedang berusaha mengorek-ngorek namun Rama tidak sadar.


''Sama baju buat kuliah. Dia kaget pas tau totalan belanja nya kaya uang bulanan dia lima bulan katanya.''


Rama tersenyum saat ingat kejadian beberapa Minggu lalu.


''Berapa emangnya?" Sena penasaran


''5 juta sekian, sekalian aku suruh beli banyak buat ganti.''


''Jadi uang bulanannya sejuta doang? Makan apaan dia?''


Rama mengangkat bahu.


''Apa lagi?''


''Ini kamu lagi investigasi aku ya?"


Tanya nya menyelidik.


"Aku pengen tau Mita itu kayak gimana orangnya."


"Sama apa ya, hmmm." ia tampak berpikir.


"Sama belanja keperluan masak makan malem doang. Itu dia buru-buru ngajak ke kasir terus."


Rama dengan gaya cool nya, bercerita dengan tangan sebelah kanan merangkul pundak adiknya.


"Minta Kakak bayarin ke kasir?"


ia penasaran perempuan seperti apa yang sudah membuat Kakaknya menjadi tidak masuk akal.


"Nggak, aku kebanyakan ambil belanjaan katanya. Dia nyuruh udah-udah terus, padahal aku cuma beli yang biasa Mama beli."


"Aku nyuruh dia masak soalnya sebelumnya dia keluar malem-malem buat cari makan malam sama temennya. Perempuan keluar malam buat cari makan namanya keluyuran malam, aku nggak suka. Percuma kan aku udah keliling cariin kosan yang fasilitas lengkap ada dapur kalau nggak dipake"


Kakaknya ini ternyata sudah benar-benar jatuh kepada Mita, jatuh cinta. Tobaattt.


"Jadi udah jadian?"


Rama menggeleng


"Dia nya nggak mau.''


''Menang banyak dong, nggak mau sama Kakak tapi mau dibelanjain.''

__ADS_1


''Aku pakai alibi karena dia kan secara nggak langsung adik angkat aku juga.''


''Modus.'' Sena mendelik


''Padahal kurangnya aku apa coba?"


"Ih nyesel nanya!" Sena meninggalkan ya karena PD akut yang diderita kakaknya itu.


*****


Sena


Sena memperhatikan tiga orang perempuan yang sedang berdiri di depan booth crepes terkenal saat ia ingin membeli minuman.


"Kak, itu temen kuliah aku. Samperin yuk, aku mau lihat seberapa most wanted seorang Rama Yudha."


"Yailah, aku ngga perlu pembuktian. Udah pulang yu sore nih."


Rama sedang merasa tidak nyaman jika harus berhadapan dengan perkumpulan wanita, apalagi saat itu ia hanya laki-laki sendiri.


Namun berbeda cerita saat ia berada di tengah-tengah teman Mita. Ia sangat menikmati keberadaannya saat itu. Melihat interaksi Mita dengan teman-temannya membuat ia yakin bahwa Mita lah orang nya.


"Aku yang perlu. Sayang lah punya kakak kece gini nggak dipamerin."


Rama memegang keningnya yang tidak pusing. Mau tidak mau mengikuti Sena dari belakang.


"Hei kalian disini juga."


Terlihat tiga orang perempuan muda menoleh ke arahnya. Memperhatikannya dari atas sampai bawah. Ia yang canggung, mengusap tengkuk lehernya.


"Eh Sen, lagi ngapain?"


"Lagi jalan sama Kakak gue."'


"Oh Kakak lo, kirain pacar lo yang dari Singapur."


Mati, mulut si Gita lemes amat!


Ini blunder terburuk dalam hidupnya. Rama menyerngitkan dahi nya seolah meminta penjelasan.


"Gue kesana dulu ya." Sena menunjuk salah satu booth minuman boba yang hits.


"Siapa Sen? Ada yang nggak aku tau?"


Rama menatapnya tajam.


"Nggak boleh bohong ya Kak?"


Rama menggeleng cepat.


"Temen sekolah aku yang sekarang kuliah di Singapur."


Rama terdiam, menyadari adiknya sudah bukan gadis kecil lagi yang bisa ia kontrol 100%.


"Bagus dia di Singapur, ngga usah pulang kalau kalian belum lulus. Akan beda ceritanya kalau dia disini. Aku nggak akan biarin kamu jalan berdua sama cowok."


"Curang, Mita seumuran aku bisa jalan berdua sama Kakak!"


"Beda Sen, Aku sama Mita menempatkan diri sebagai adik kakak supaya dia mau nerima keberadaan aku. Kamu nggak bisa jamin dia nggak ngapa-ngapain kamu. Kalau aku nggak mungkin ngapa-ngapain Mita. Ngerti?"


Ia mempercepat langkahnya. Segera ke parkiran setelah selesai membeli yang ia inginkan.


Sejujurnya ia lelah diperlakukan seperti anak kecil, namun ia pun sadar yang Rama katakan tidak semuanya salah.

__ADS_1


__ADS_2