Cinta Mita

Cinta Mita
Orang yang tidak diharapkan


__ADS_3

Selepas pertemuan di Amerika, kini Sena dan Adit sudah kembali menjalani hari sebagai mahasiswa. Sena sudah mulai disibukan dengan bayang-banyang judul skripsi yang seharusnya mulai ia kerjakan. Sementara Adit kembali ke Tokyo, menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa, dan kembali sebagai selebgram, sebuah profesi yang sempat ingin ia tinggalkan ternyata profitnya masih ia butuhkan saat ini.


"Endorsment mu itu sayang kalau stop, Dek. Ngga semua orang bisa dengan mudah bisa cari uang kaya kamu."


Nasehat dari Sang Ibu masih teringat di kepalanya.


Terkadang kenyataan hidup memang tidak selamanya sesuai ekpektasi yang diharapkan. Tidak semudah dan seindah yang orang lain lihat.


Setiap hari setidaknya Adit harus post story instagram tiga sampai lima online shop untuk mempromosikan online shop tersebut yang menggunakan jasanya. Beberapa online shop sudah memiliki template foto atau video promosi siap unggah, sehingga Adit tidak perlu lagi membuat konten. Hanya dengan menaruh foto atau video online shop tersebut, cuan mendarat dengan mudah ke dalam rekeningnya. Betapa akun instagram saat ini menjadi salah satu bentuk investasi digital.


Namun ada pula yang meminta Adit membuat konten khusus mengenai produk yang ingin dipromosikan olehnya langsung. Karena effort (waktu dan pikiran) yang ia keluarkan lebih banyak, maka harganya pun berbeda dengan rate promosi konten siap unggah. Karena posisi Adit saat ini di Jepang, maka online shop atau brand yang menginginkan di review atau digunakan oleh Adit, akan mengirimkan produknya ke Jepang. Lalu ia akan melakukan photo shoot seperti beberapa saat lalu yang rasanya belum terlalu lama ia lakukan bersama Mita. Sayangnya, kenangan bersama Mita terlalu banyak diingatannya hingga tidak mudah ia lupakan begitu saja, meski rasanya sudah jauh berkurang.


Hari ini, di tengah musim peralihan ke musim semi, Adit sedang mengatur layout yang akan ia gunakan untuk mengambil foto dan video di salah satu sudut tidak jauh dari kampusnya. Tepatnya di bawah pohon rindang dengan bunga berwarna merah muda di pinggir sungai kecil. Persis seperti gambar yang biasa dijadikan sebagai wallpaper ponsel.


Beberapa produk ia bawa sekaligus demi menghemat budget foto, salah satunya adalah produk rendang dan abon kemasan dengan target pasar anak-anak kost ataupun mahasiswa rantau seperti dirinya sebagai bekal jika rindu akan makanan tanah air. Adit menyiapkan keperluan photo shoot hari ini dibantu oleh seorang teman yang hobi foto bernama Hiro, mahasiswa asli Jepang yang ia kenal di kelas Bahasa Inggris dari jurusan matematika murni.


Selesai photo shoot, Adit bergegas untuk pulang karena harus segera bersiap untuk live streaming dengan sebuah aplikasi online travel agent (OTA) yang sudah bekerja sama dengannya.


"Gila, gua udah kaya robot gua."


Celetuknya dalam hati.


Sementara itu di bawah langit Bandung di dalam sebuah kamar dengan buku di tangan. Seorang perempuan muda tengah memandangi wajah kekasihnya yang ia lihat di dalam layar ponsel. Rupanya Sena menonton live Adit dan ikut berkomentar.


"Ganbatte kerjanya !" (ganbatte \= semangat)


Adit yang sejak awal memperhatikan komentar langsung tersenyum bahwa Sena menonton dirinya.


"Hai Adit apa kabar?"


Sapa seorang wanita muda bernama Mala yang menjadi pembawa acara live hari ini.


"Baik Kak."


Adit tidak tahu persis usia Mala, meski terlihat seumuran namun demi kesopanan ia memanggil Mala dengan sebutan Kakak.


"Gimana Jepang lagi musim apa? Udah masuk musim rindu belum?"


Adit dan Sena tertawa bersama meski terpisah jarak. Sang pembawa acara seolah sangat mengerti hati dua insan tersebut.


"Lumayan... Kalau rindu mah selalu, gue mahasiswa rantau soalnya."


"Rindu yang di Indonesia ya? Siapa tuh kalau boleh tau."


Dimeriahkan dengan gelak tawa para kru OTA tersebut di balik layar seperti penonton bayaran.


"Yaaa adalah... Orang tua, saudara, sahabat, temen, banyak lah..."


Adit salah tingkah.


"Pacar gimana? Ada dong."


"Hmmm... Ada... Rindu juga."


Sambil menggaruk kepala, menjawab malu-malu.


"Dia nonton ngga sekarang?"


Adit salah tingkah karena pembahasannya malah mengenai pacar.


"Nonton dong, hai kamu."


Adit melambaikan tangannya untuk Sena. Wajah Sena memerah karena malu, padahal tidak ada siapapun yang melihat dirinya.


"Cieee..." Mala tertawa puas menggoda Adit.


"Ajak join live dong."


Mala semakin menjadi, senang melihat Adit yang salah tingkah.


"Eh seriusan? Emang guest star yang lain gini juga? Tadi di briefing ngga disuruh join live pacar. Jangan nambah-nambahin kerjaan Kak."


Adit menggaruk kepala. Pertama kalinya ia bekerja sama dengan OTA, hingga ia belum tau cara mainnya.


Mala bersama kru tertawa terpingkal melihat Adit kebingungan.


"Boong bercanda, kita cuma mau nanya-nanya aja sama lo. Disana masih musim dingin? Lo dimana nya sih?"


"Disini sudah masuk ke semi, gue di Tokyo nya."


"Ohh pusat kotanya gitu dong. Belajar sambil travelling ngga disana? Udah kemana aja?"


Adit bersemangat, pembahasannya sudah sesuai tema yaitu mengenai travelling.


"Nah itu dia, gue belum sempet keliling karena belum terlalu bisa ngatur jadwal belajar sama pekerjaan. Jadi belum kemana-mana tapi pengen banget keliling kalau waktunya udah agak longgar."


"Lho tapi kayaknya belum lama lo dari Amerika."


"Iya itu lagi hadir ke acara wisuda."

__ADS_1


"Oh keluarga ada yang kuliah di sana?"


"Masih on the way keluarga, doain aja."


Adit kembali menyunggingkan senyum.


"Ohh gue paham yang begini-begini."


Adit hanya membalas dengan senyum, membiarkan Mala terus meyakini yang ada di pikirannya.


"Waahhh udah ada tanda-tanda ke pelaminan kalau gitu, keluarga udah deket dong."


"Woy, pembahasan lo salah fokus Mala."


Seorang kru si balik layar bernama Roy nyeletuk setengah teriak mengingatkan Mala yang dijawab gelak tawa.


"Mohon maap, abis seru ngobrolin cemewew tuh. Btw Amrik gimana? Kemana aja?"


"Seru banget keliling. Ke Seattle, California, L.A juga. Cuma kemarin sempet kambuh alergi dingin karena pas gue kesana lagi dingin banget."


"Nah lho, gimana jadinya?"


"Masih aman, jadinya istirahat, ngga keluar malem."


"Nah sekalian nih buat yang pengen jalan-jalan ke negara dingin main salju, saran lo apa aja yang harus dipersiapkan?"


"Yang pertama pasti coat tebel, jaket, sweater, kalau perlu bawa lebih dari satu. Kedua, sepatu lo juga yang buat musim dingin, bisa dipake di salju. Kaos kaki jangan ketinggalan. Ketiga, lebih bagus lagi kalau nyiapin long john. Itu semacam thermal underware, jadi badan lo bisa lebih hangat."


"Wah bermanfaat sekali infonya."


"Kaya minyak-minyak herbal Indonesia juga kalau perlu bawa. Obat, minuman rempah-rempah yang anget juga jangan ketinggalan. Kaya wedang kan udah banyak yang instan, itu membantu banget. Karena kita kan ngga minum wine, jadi ngangetin badannya pake wedang jahe. Ini gue pribadi sih ngga nge-wine. Haram penonton haram."


Adit memeragakan gaya raja dangdut Indonesia.


"Lawak si Adit."


Mala tertawa.


"Serius ya Allah. Oh iya satu lagi yang ngga boleh ketinggalan, indomie! Amerika harus diangetin pake indomie ngga sih!"


Mala tertawa terbahak-terbahak dengan keseruan obrolan malam ini. Hingga membuat enam puluh menit menjadi tidak terasa.


"Thank you for the great conversation and nice talking to you, Dit. Take care there, come home sooner. Ada yang rindu."


Mala menggoda tiada henti sambil tertawa.


"Me too, thank you for having me. Thank you semuanya."


Adit merebahkan diri, menghempaskan tubuhnya dengan tanpa beban ke atas kasur, hingga 2 jam lamanya ia tertidur pulas. Padahal di dalam salah satu kamar rumah Enin, Sena mencoba menghubunginya namun tak ada jawaban. Begitu bangun, Adit langsung teringat dengan buku dan materi yang harus ia baca untuk dibuat kesimpulan dan ia persentasikan besok. Tugas kelompok yang seharusnya ia kerjakan bersama teman kelompoknya, namun ia terpaksa absen karena endorsment mendadak yang baru diinfokan kemarin.


"Adeuh ****, gua ketiduran."


Ponsel yang saat ia tertidur tadi berdering, masih belum terlintas di pikirannya. Padahal ada yang mengatakan,


"Mas, how's going today? Capek ya?"


Adit melirik barisan angka di ponselnya yang menunjukan jam. Saat live tadi, sekitar pukul 20.00 WIB artinya pukul 22.00 waktu Jepang. Wajar ia tertidur setelah live kurang lebih 1 jam lama nya.


"Sena maaf, aku ketiduran."


Hingga matahari Tokyo menyapa malu-malu, Adit belum melihat pesan balasan dari "Sena-chan" yang masuk ke ponselnya.


"Sen, are you oke?"


Adit memutuskan mengirimkan pesan yang ia harap segera di balas oleh Sena.


"I'm oke, aku lagi di kelas."


"Take care Sena."


"ILU & IMU."


"Artinya?" Adit menautkan alisnya bingung.


Sena tersenyum tanpa membalas pesan Adit. Hehehe.


Sore nya kini terasa lenggang, mungkin karena Sena belum juga membalas pesannya kembali. Selesai kuliah dan persentasi, Adit memutuskan mendekat ke area lapangan basket kampus yang sedang dipakai oleh mahasiswa lain yang tidak ia kenal satupun sedang berlari berebut bola.


Adit membuka ponselnya, iseng ia buka gallery foto yang menampilkan beberapa foto random yang ia ambil saat gabut. Foto produk endorsment ia lewat begitu saja, hingga jarinya terhenti pada foto beberapa bulan lalu yang ia ambil bersama seorang perempuan dengan latar "Hollywood".


"Rindu, jaga diri."


Adit mengunggah foto tersebut ke dalam instagram story miliknya.


"Masa?"


"Yang disana, ngga kangen kah sama aku?"


Berbalas DM pun terjadi dengan perempuan di dalam foto tersebut yang tidak lain adalah Sena dengan berhiaskan senyum dan rindu.

__ADS_1


"Mantap udah liburan bareng. Dapet kali bibir doang mah."


Username yang asing namun ia hafal kalimat tersebut hanya mungkin dilakukan oleh satu orang.


"Bacot beraninya pake fake account !"


"Apa dapet yang lain juga? Enak ngga? Gua jadi ngebayangin."


Damar sukses membuat otaknya tidak berfungsi.


"Anj*ng sini lu bangs*t kalau berani."


"Ke US liburan bareng ngga mungkin kalau cuma foto-foto doang. Sena tuh levelnya ikan salmon, cuma kucing b*go yang ngelewatin salmon di depan mata. Kalau gua liburan sama dia langsung gua hamilin kali. Lu ngga usah muna."


Adit meremas ponsel di genggamannya saat membaca pesan dari Damar.


Sena yang masih di kelas menunggu dosen seketika panik membaca DM yang masuk ke akun Adit.


"Mas, jangan kepancing please."


"Arrrgghhhhh !!!"


Adit meninju meja taman di hadapannya.


Tidak terasa airmata Sena jatuh, khawatir Adit melakukan hal-hal tidak terduga. Ia keluar dari kelas menuju toilet untuk melakukan panggilan dengan Adit.


"Angkat, aku di kelas jangan bikin khawatir."


Dengan emosi masih meluap Adit mengangkat video call dari Sena.


"Mas dimana?"


Adit mengarahkan kamera nya ke arah lapangan.


"Ngga usah diladenin, makin diladenin dia makin gila. Kita bisa ikut gila."


"Menurut kamu, aku diem aja?"


"Terus Mas mau nya gimana?"


"Kalau perlu kesana, aku habisin juga bisa itu bajing*n, minimal jari nya patah."


"Yang Mas dapet apa?"


"Seenggaknya dia ngga bisa ngetik kata-kata rusak lagi. Ini aku udah ngga baca, tapi kata-kata dia masih muter-muter di otak aku Sen."


Adit meletakan ponselnya di kursi mengahadap langit, hingga Sena tidak bisa melihat wajahnya. Entah kenapa hatinya merasa sakit dan teriris mengingat perkataan Damar yang ia baca tadi hingga matanya berkaca-kaca.


"Aku temenin, kapan mau kesana? Aku tinggal ambil paspor di rumah."


Gila ! batin Adit. Benar-benar Rama versi perempuan.


"Kamu gila."


"Kamu yang duluan gila. Udah aku bilang, aku akan membalas lebih. Ayo kapan mau kesana? Kita janjian dimana?"


Adit terdiam, tidak ada kata-kata yang ingin ia ucapkan lagi. Cukup lama keduanya terdiam, tanpa ada obrolan.


"Aku ke kelas dulu ya, dosenku kayanya udah masuk."


Namun nyatanya Sena tidak kembali ke kelas, masuk ke dalam mobil dan meminta Pak Karman mengantarnya ke kedai kopi langganannya.


"Lu belum nyobain Sena? Asli gua sekarang jadi kasiannya ke lu, belum bisa move on dari bini gua."


Deg.


Adit membaca pesan dari akun miliknya untuk Damar. Tentunya Sena yang membalas.


"Bangs*t, ngga usah lu panggil Sena dengan sebutan bini ta* !"


"Sena emang bini gua sekarang, harus gua jabarin rasanya Sena? Berbulan-bulan lu sama ngga dapet apa-apa Bro? Apes anjir !"


Sena tersenyum sinis, membaca pesan balasan yang ia ketikan untuk Damar.


"Sen, kamu jangan balas aneh-aneh. Udahlah close aja ngga usah diladenin."


Adit merasa Sena terlalu berani membalas demikian.


"Ngadepin orang gila harus lebih gila Mas. Ikutin aja permainan dia ya Sayang."


Sayang? Pertama kali nya Sena memanggilnya sayang yang bahkan ia sendiri masih kaku untuk memanggil Sena dengan panggilan tersebut.


"Btw, gue Sena. Belum move on juga Bung? Kita udah lewat, jangan rusak hati, pikiran, dan masa depan lo dengan masa lalu yang dia nya pun udah ngga inget lo lagi. Jujur gue ngga kenal sama orang yang lagi chat sama gue sekarang, totally you different 100%. Jangan kotori tangan lo dengan kata-kata kotor kaya chat yang lo ketik tadi. Comeback to the real Damar please, the kind and sweet dude. I'm happy with my man today, so I wish you too always happy and healthy, best wishes for you."


Adit menarik nafas sedikit lega, balasannya tidak direspon lagi oleh Damar.


"The kind Sena, thank you babe." (Babe : sayang)


"Babe? Nice one."

__ADS_1


*****


Ahhhhhhh ketemu lagii. Susah sekalibsekarang-sekarang ini mau nulis. Semoga aku lebih bisa memaksimalkan waktu. Terima kasih banyak pembaca setia. Tunggu kelanjutannya kisah Mita, Rama, Adit dan Sena yaa 😍😍😍😍


__ADS_2