Cinta Mita

Cinta Mita
Mon-date


__ADS_3

Jam 10 kurang, Adit sudah sampai di rumah Sena. Ucapan Pak Romi betul-betul ia dengar, agar tidak sampai rumah malam.


"Beli apa? Dimana?"


"Aku ngga tau, beli apa coba yang berbau Jepang tapi ada di Jakarta."


Adit tampak berpikir.


"Oh I see. Kita ke Papaya."


"Buah pepaya? Jangan pepaya."


Tumben, Sena merekomendasikan hal aneh, pikir Adit.


"Bukan, Papaya supermarket Jepang. Di Jepang ada kan?"


"Papaya fresh gallery? Di sini ada?"


"Ada dong, udah banyak di Jakarta."


"Serius?"


"Mas kelamaan ngga pulang, makanya sering pulang. Nanti gedung sate pindah ke Jakarta Mas ngga tau."


Adit menguwel-uwel rambut Sena, menikmati sisa-sisa hari berdua bersama Sena. Sebelum beberapa hari lagi Adit harus kembali ke Tokyo.


"Tiket balik udah beli?"


"Udah."


"Syedih mau ditinggal lagi."


Sena menekuk bibirnya sebagai ekspresi sedih. Adit langsung merangkul Sena semakin dekat.


"Kamu syedih, aku juga syedih."


Sena tersenyum simpul dengan candaan Adit.


"Ngga bisa diundur? Atau bulan depan pulang lagi ya? Please..."


"Bisa diceramahin Ibu kalau pulang terus. Kamu libur kapan? Aku pesenin tiket, kita ke disneyland. Deket situ hidden gem, tempat makan ramen yang enak."


"Enak banget?"


"Enak banget banget. Tempatnya dalam gang, tapi makannya gantian karena selalu waiting list. Ramen sini ngga ada yang seenak ramen Jepang."


Adit paham, makanan kesukaan Sena adalah japanese food karena tempat favorit Sena adalah restoran Jepang, sehingga akan sangat mudah jika diiming-imingi makanan Jepang yang enak.


"Terdengar menarik, menggoda sekali."


Beberapa hari ini Sena kerap melontarkan bahasa-bahasa baku yang semakin membuat Sena terlihat gemas.


"Bulan depan ya? Aku pesenin tiketnya."


"Mas nya sabar dulu bisa kali, aku harus liat jadwal kuliah."


Adit tertawa, Sena menggigit tangan Adit karena gemas.


"Berapa minggu lagi kan kamu harusnya semesteran. Abis semestaran liburan seminggu bisa dong. Non Sena ngga kenal remidi kan?" (remidi : ulangan ulang karena belum lulus)


"Kok hafal?"


"Sengaja hafalin jadwal Ayang."


"Aku pikirin dulu gimana caranya biar bisa kesana."


"Yok bisa yok berpikir."


"Visa juga harus disiapin."


"Percaya... Seorang Sena harus nyiapain visa."


"Lho ya harus pakai visa dong semua WNI kalau mau ke Jepang."


"Ya harus, tapi kan tinggal proses, ngga ribet, pasti granted."


Adit mencium puncak kepala Sena. Sangat berharap Sena bisa datang ke Tokyo.


Begitu sampai di salah satu gerai Papaya di Jakarta Selatan, Adit takjub dengan semua produk Jepang yang tersedia di sana. Mulai dari mie atau ramen instan, cemilan lokal Jepang, bumbu, rumput laut, kacang, kopi, teh, hingga buah dan sayuran yang banyak digunakan di masakan Jepang tersedia di sana. Tidak hanya itu, olahan daging, susu, sushi, hingga bento siap makan pun tersaji dengan lengkap.


"Ini sih kaya di supermarket Jepang beneran."


"Lengkap kan, sushi juga ada. Takoyaki nya enak, tahu, telur yang kaya di Jepang yang aman dimakan mentah juga ada."


Sena mengambil takoyaki yang siap di hangatkan.


"Untung aku ngga beli oleh-oleh dari sana. Disini juga ada."


Sena mengambil beberapa cemilan yang ia suka. Mie, tahu, takoyaki, telur, sushi juga tak luput dari keranjang belanjanya.


"Ini beli buat siapa aja?"


"Ibu, Ayah, Mbak Put, Mas, Mbak Memes, Papa, Mama, Kakak, Teteh, Supir sama Bibi juga jangan lupa."


"Banyak juga list nya pemirsah."


"Sesekali ngga apa-apa."


Kenyamanan dari seorang perempuan, Adit temukan di diri Sena. Entah bagaimana caranya, setiap perilaku dan Sena menarik di matanya.


"Kata Papa, Mas jangan boros-boros. Nabung buat masa depan."


"Beneran Papa yang ngomong gitu?"


Ucapan Pak Romi dan Rama kini benar-benar ada di prioritasnya.


"Beneran, ngapain aku bohong."


"Kalau gitu, jajan bulan besok aku potong setengahnya ngga apa-apa? Subsidi buat oleh-oleh yang kayaknya banyak juga."


"Oke."


Jawab Sena yakin.


"Eh ngga jadi dipotong, nanti kamu minta tambahan jajan ke Mama."


"Aku udah jarang minta uang. Uang dari Mama, Kakak, Mas udah lebih dari cukup. Udah jarang beli hal-hal ngga penting. Aku belajar dari Mas, keliatannya Mas kan kerjanya gampang, tapi cermat membelanjakan uang. Aku masih minta tapi kok kaya boros banget. Hiksss."


Adit menikmati setiap respon natural dari Sena. Apa adanya, tidak di buat-buat.


"Ngga apa-apa, selama ngga berlebihan dan aku mampu. Uang dari aku berarti cukup?"


Entah sudah berapa kali di hari ini, Adit mencium kepala Sena yang tingginya hanya sampai bawah kupingnya.


"Ngga ku pakai, ada utuh di rekening. Udah banyak kayaknya, tiap bulan Mas kirim."


"Aku tambahin kalau gitu."


"Eh ngga usah. Segitu aja ngga pernah aku pakai, ngapain ditambahin?"


"Buat resepsi, aku titip di kamu."


"Resepsi kita?"


"Ya kita lah, masa resepsi Mbak Put? Dia sendiri yang nabung itu mah. Aku suka gatel pengen beli printilan motor."


"Di sana ada motor?"


"Buat motor di rumah, aku suka pesen online. Orang bengkel dateng pasangin, Mas Abi yang pantau."


"Buat apa? Motor ngga dipake kok beli printilannya? Emang dipake motornya?"


Sementara sejak kemarin Adit menjemputnya di mobil.


"Aku pengen naik motor sebenernya, tapi takut Nona ngga terbiasa."


"Se-princes itukah aku? Aku juga biasa naik motor. Di kampus kalau lagi ke kosan siapa gitu, aku suka pinjem motor temenku beli makanan."


"Masa sih? Bisa bawa motor?"


"Di bonceng sih, tapi kan lumayan aku ngga alergi angin-anginan."


"Besok aku ke Bandung naik motor kalau gitu. Kamu balik ke Bandung dianter Pak Karman kan? Aku nyusul naik motor."


"Yaudah aku naik motor aja ke Bandung nya sama Mas."


"Jangan, masuk angin nanti kamu."


"Ih lebay ! Ngga lah aku pake jaket tebel."


"Ngga, kamu di mobil aja. Motorannya di Bandung aja nanti aku anter ke kampus dari rumah Enin."


"Ih pelit. Sendirinya naik motor tapi aku ngga boleh."


"Beda, Non."


Banyak hal yang menjadi topik pembicaraan keduanya sambil keliling supermarket memilih makanan. Adit sedang berusaha membuat moment sebanyak mungkin dengan Sena.


Adit yang kebetulan sedang memegang ponsel mendapat notif DM masuk di instagram Sena.


"Sumpah, ganggu banget orang ini."


"Siapa?"


Sena mengambil ponsel Adit.


"Itu mah dia lagi bikin proyek sama dosen, jadi suka ke kampus. Anak-anak suka juga nanya-nanya skripsi. Dia cumlaude lulus 3,5tahun jadi role model anak-anak."


"Ini kamu lagi di prospek sama dia. Ngapain dia ngajak kamu ketemuan? Dia ngga tau ada aku?"


Adit yang jarang mengintrogasi, kini terlihat dominan.


"Aku nya juga ngga mau ketemuan sama dia. Ngga usah terlalu dipikiran hal remeh kaya gitu, Mas."


"Remeh gimana? Aku mau balik ke Tokyo, ninggalin kamu yang ramah ke cowok kaya gini. Kamu kan bisa bilang, sorry Kang aku udah ada cowok. Kamu nya juga ngasih harapan."


Adit mempercepat langkah nya mendorong troley belanjaan.


"Orang dia ngga ngomong kalau dia suka sama aku. Kita ngobrol juga biasa kalau ketemu, rame-rame juga. Aneh banget kalau tiba-tiba aku ngomong aku ada cowok? Nanti dia pikir PD banget aku. Belum tentu juga dia tertarik sama aku."

__ADS_1


"Beli apa lagi?"


Adit mengalihkan pembicaraan.


"Udah. Udah penuh gini se-troly."


"Makan ya?"


Wajah BT Adit terlihat membaik. Sedikit. Lumayan, pikir Sena.


"Makan sushi di mobil aja yuk?"


Sena berinisiatif untuk mempersingkat waktu makan.


"Ngga ke restoran aja?"


"Lama lagi, abis kita dari rumah Mas, Mas ke rumah aku dulu, ngga boleh langsung pulang. Masih kangen."


"Iya, Non bawel."


Adit menggoda dengan cubitan kecil di pinggang Sena.


Selesai membayar 4 kantong belanjaan, Sena dan Adit memutuskan makan di dalam mobil.


"My favourite. Sushi and you, yang kadang ngeselin dan susah dikasih tau."


Adit memposting foto Sena yang sedang memegang sushi di sumpit.


"HP kamu mana?"


Sejak tadi Adit tidak melihat Sena memegang ponsel. Ia ingin Sena melihat postingannya dan melakukan sesuatu.


"Mas tag aku ya?"


Sena pun memotret Adit diam-diam, lalu menyimpan kembali ponselnya.


"Ngga di repost story aku nya."


Adit meletakan sumpitnya terlihat kecewa. Padahal Adit sengaja melakukan hal tersebut agar Sena me-repost story miliknya agar "Akang" brengs*k paham.


"Apaan sih Mas, gitu doang."


"Kamu memang ngga mau keliatan ada aku."


"Aku lagi makan. Nanti juga aku post."


"Sambil jalan ya makannya. Aku udah beres."


Adit memakaikan Sena sabuk pengaman, mengecup singkat bibir Sena yang selalu menggoda nya meski Sena tidak melakukan apapun. Lalu memakai sabuk untuk dirinya sendiri. Terlihat jelas raut wajah kesal Adit karena story nya tidak di repost.


"Penting banget harus di repost?"


"Ngga, ngga penting."


Tanpa menoleh Adit menjalankan mobil perlahan.


"Serius aku nanya."


"Serius, ngga penting. Besok ke Bandung jam berapa?"


Sena mengeluarkan ponselnya kembali, ingin mengambil potret Adit sedang nyetir.


"Mas, senyum."


"Aku lagi nyetir, ngga bisa senyum."


"Ih ngeselin."


Sena pura-pura merajuk.


"My favourite person, the kind hearted, Mas @AdityaW."


Setelah berkendara 50 menit, akhirnya kedua nya sampai di depan gerbang rumah bergaya Jawa yang penuh dengan ornamen kayu.


Adit mengambil ponselnya di dashbord mobil dan melihat notif instagram.


"Terpaksa ngga? Kalau kamu ngga mau jangan dipaksain. Aku ngga apa-apa ngga di publish. Jadi pacar rahasia juga ngga apa-apa. Biar fans kamu ngga kabur."


"Salah lagi aku nya? Males aku mah. Pulang aja deh mumpung belum masuk rumah."


Sena membalikan badannya membelakangi Adit.


"Gara-gara story doang jadi gini suansananya. Mana coba HP aku, aku repost sini."


Adit mengambil ponsel Sena. Sena terus bicara terus tentang kekesalannya.


"Ngga usah, ngga penting."


"Coba hal-hal kecil jangan dibesar-besarkan. Aku tau Mas pengen pengakuan, tapi kan besok juga antar aku ke kampus? Besok aku bawa sound system besar kalau perlu bikin pengumuman kalau aku udah punya pacar."


Ternyata semua wanita sama, akan terus bicara jika sedang kesal. Sama seperti Ibu nya dan Putri, pikir Adit.


"Semalam aku minta peluk, kamu belum kasih."


Adit menggapai tubuh Sena untuk ia peluk, namun Sena menolak. Mencoba mengalah meskipun hatinya masih diliputi rasa cemburu.


"Aku males kalau udah gini. Mood aku hilang. Pulang yuk."


Adit kembali memeluk, namun kali ini tanpa penolakan. Ia memeluk dengan posisi Sena membelakangi tubuhnya.


"Maaf, aku ngga mau kehilangan kamu."


Adit mencium tengkuk yang tertutupi rambut Sena. Sementara Sena mengambil nafas panjang.


"Aku ngga kemana-mana. Siapa yang mau ambil perempuan nyebelin kaya aku? Rugi lah orang juga."


"Iya maaf."


Adit merapatkan pelukannya. Hingga aroma parfum Sena terciun sempurna.


Tok tok tok


"Masuk, ngapain diem disini?"


Abimanyu, menyadarkan Adit bahwa posisi nya dan Sena sekarang bisa membuat orang lain yang melihat berpikir yang tidak-tidak.


Abimanyu membukakan gerbang, menunggu Sena dan Adit sampai turun dari mobil agar tidak terjadi hal seperti tadi lagi.


"Otakmu dimana? Di gule di pagi sore? Di grebek satpam, yang malu keluarga." (Pagi sore : restoran padang)


Abi menegur Adit dengan suara pelan.


"Sena tadi ngambek, ngga mau turun. Aku bujuk, gitu doang ngga aneh-aneh."


"Alah, aku juga laki-laki. Kuliah di Tokyo, bukannya makin pinter. Perlu tak ajarin?"


Adit diam, bukan waktu yang tepat untuk menjawab. Terlebih di hadapannya kini sudah berkumpul semua anggota keluarga lengkap.


"Anaknya Pak dokter udah gede, Buk."


Pak Bamwir menjadi orang pertama yang menyambut Sena.


Sena mencium tangan kedua orangtua Adit, juga Putri, Fima dan terakhir dengan segan mencium tangan Abimanyu.


"Ayah Ibu sehat?"


Sena menduplikasi perkataan Adit jika bertemu kedua orang tuanya.


"Sehat cah ayu. Papa Mama apa kabar?"


Bu Retna mengelus pundak Sena. Awalnya Bu Retna ragu akan sosok Sena, khawatir anak bungsunya tidak cocok dengan anak bungsu lagi. Namun setelah bertemu Sena, hatinya pun ikut jatuh hati.


"Sehat alhamdulillah Bu."


"Bye the way anyway busway, mana oleh-oleh punya ku?"


Putri menyadari Adit dan Sena tidak membawa apapun.


"Awas kamu PHP, aku kan tadi udah minta maaf yang semalam."


"Di mobil, aku lupa turunin. Blank, aku blank."


"Yo pasti blank, heuh."


Abimanyu menyiratkan sesuatu dalam ucapannya.


"Mas Abi..."


"Kamu ngapain lama di mobil, kirain nurunin barang."


Rupanya seluruh anggota keluarga melihat kebaradaan Adit dan Sena sejak awal datang dari CCTV di ruang keluarga.


"Sena touch up dulu. Kaya Mbak, kalau mau turun dari mobil touch up dulu." (touch up : merapikan riasan wajah)


"Lumayan..."


Abi yang langsung selonjoran di paha Fima merespon setiap ucapan Adit. Lumayan juga alasan yang Adit buat, pikir Abimanyu.


"Sek, tak ambil dulu."


"Aku bantu."


"Ngga usah, aku bisa sendiri."


"Ngga apa-apa aku bantu."


Sena mengikuti Adit menuju garasi mobil.


"Aku deg-degan Mas. Ada yang salah ngga tadi sikap atau ucapan aku?"


"Ngga, biasa aja kamunya."


Adit menarik tangan Sena. Rupanya tidak mudah mencoba masuk ke keluarga laki-laki.


Sena merapikan barang belanjaan, lalu mengisakan 1 kantong untuk keluarganya.


"Buat Papa Mama yang mana?"


"Ini udah aku pisahin."

__ADS_1


"Cuma satu? Ini kan ada empat."


"Satu aja cukup, keluargaku lidah nya sunda banget. Kurang cocok sama makanan Jepang."


"Jago bohong sekarang, Papa sama Kakak suka makanan Jepang. Di US kemarin kebanyakan kita makan di restoran Jepang."


"Itu karena ngga ada restoran sunda."


Sena berkilah.


"Awas kamu bohong ke aku. Ini buat rumah sana."


Adit menyimpan satu kantong kembali untuk keluarga Sena.


"Kalau udah nikah harus gitu Non, adil antara keluarga aku dan keluarga kamu."


Sena menggenggam tangan Adit.


"Makasih ya Mas."


"Dengan senang hati."


Bagi Adit sudah seharusnya seperti itu.


Adit kembali menuntun tangan Sena, masuk ke dalam rumahnya kembali membawa dua kantonv belanjaan.


"Wah belanja di Papaya ya? Kamu tau Papaya, Dek?"


Putri sumringah begitu melihat Adit membawa kantong belanja Papaya.


"Non Sena yang ajak, aku mana tau tempat belanja."


"Mas... Sena aja."


Sena protes dengan panggilan Adit di hadapan keluarga Adit. Panggilan yang merupakan sanjungan jika diucapkan Adit di hadapan keluarganya, namun malu rasanya saat diucapkan Adit dihadapan Pak Bambang dan Bu Retna.


"Duh alah... Mas Abi udah bayar kontrakan belum?"


"Kontrakan apa? Aku ngga ngontrak."


"World ini kan punya nya pasangan love bird ini, kita ngontrak Mas."


Seluruh keluarga Adit tersenyum mendengar gurauan Putri. Hingga membuat wajah Sena memerah, bertambah malu.


"Kamu iparan sama mantan dong Dit."


Fima baru ingat, Rama menikah dengan Mita, mantan Adit.


"Ngga masalah, aku udah move on. Gantinya lebih dalam segala hal. Mbak ngga tau aja."


"Sensitif ini bahasannya."


Fima kaget dengan jawaban Adit.


Pak Bambang menatap Adit.


"Lebih pinter, IPB vs ITB maksudnya. Ngeres semua nya otaknya tolong di kuras."


"Kamu kapan rencana nikah Put?"


Abimanyu mengarahkan pandangannya kepada Putri.


"Bulan depan kan lamaran dulu. Aku ngga mau nikah di buru-buru."


"Jangan dinanti-nanti, kasian Adit."


"Kenapa kasian ke aku?"


"Kamu juga pengen nikah kan? Harus nunggu Puput."


"Oh... Sekarang aku mah udah pasrah, Mas Bimo ngga dateng-dateng kesini. Jadi aku terserah Non."


"Dateng kok, kamu nya aja di Jepang. Sok tau."


"Sena masih kuliah kan?"


Pak Bamwir kembali bersuara.


"Iya Yah. Nunggu selesai kuliah 3 semester lagi."


"Semalam bilang mau ke KUA besok. PHP aku ?"


"Duo gendeng ternyata. Cocok."


Percakapan mengalir dengan meriah. Pertanyaan sederhana dari Pak Bamwir, Guyonan dari Putri dan Abimanyu, celetukan dari Fima, dan jawaban polos dari Adit sungguh mengocok perut Sena. Sesekali Bu Retna menimpali ucapan anak dan menantunya. Sementara Sena menjawab beberapa pertanyaan dengan singkat, jelas dan padat karena lebih menikmati menjadi pendengar di keluarga yang hangat ini.


"Makan ya? Belum makan kan Dek?"


"Tadi makan sushi di mobil."


Sena menjawab pertanyaan Bu Retna yang ia kira pertanyaan untuknya.


"Sushi makanan orang Jepang. Orang kita makanannya nasi sama ayam."


"Ini banyak banget belanjaan kamu."


"Sena yang beli."


"Pake uangmu toh?"


"Uang ku uang Sena juga. Sama aja."


Bu Retna dan Pak Bamwir menyadari bahwa anak bungsunya sangat menyayangi putri dari Pak Romi dan Bu Lia.


"Ayah ngga usah kirim uang lagi, uang dia udah banyak. Banyakan tabungan dia dari tabungan ku juga."


"Beda dong, Ayah ngirimnya kan buat sekolah. Uang ku buat aku pribadi. Iya kan Yah?"


"Iya sekolah Adit masih tanggung jawab Ayah. Lanjut doktor kan ?"


"Adoh, makasih tawarannya Yah. Botak kepalaku nanti."


Dua jam di rumah Adit menjadi tidak terasa karena obrolan dan perlakuan yang hangat.


"Aku mampir ke rumah Sena dulu ya Bu?"


"Sibuk anak Ibu satu itu."


Putri selalu saja menjadi penghasut.


"Mumpung aku di sini Mbak, tiga hari lagi balik Tokyo."


"Besok kemana lagi?"


"Pengen motor-motoran ke Bandung. Boleh Bu?"


"Emang kalau Ibu bilang ngga boleh, kamu mau nurut?"


Pertanyaan pancingan dari Putri kembali menguji Adit.


"Ya manut walaupun berat, aku kan ini lagi izin."


"Coba kamu hitung berapa jam kamu di rumah berapa jam di luar rumah."


"Aku baru keluar kan kemarin sore, pulang malam. Hari ini berangkat pagi jam segini udah di rumah, 50 : 50."


"Lima puluh di rumah tuh sama tidur."


Putri sepertinya bagian dari netizen yang suka nyinyir di medsos.


"Heran aku sama Mbak, Mbak punya dendam apa tah sama aku? Yowis kalau ngga boleh, ngga apa-apa."


"Ibu juga kangen, Mas. Kita bisa video call kan."


"Di Jepang sama di Indo sama aja, video call. Kamu yang sabar, nanti punya kakak ipar julid gini."


"Ngga apa-apa, yang penting Ibu mertua nya Ibu nya Mas."


Bu Retna tersenyum, membuat Adit sangat bahagia. Bersyukur Sena bisa bersikap baik terhadap kelurganya.


"Besok berangkat jam berapa? Aku motoran dari sini ke rumah aja ya. Ngga ikut ke Bandung."


"Jam 6 Mas. Ngga usah ke rumah juga ngga apa-apa, kepagian dari sini jam berapa? Aku ngejar kuliah jam10 pagi."


"Kalau kamu ke Bandung, Sena di motor sama kamu?"


"Sena tetap di mobil sama supir. Aku kangen touring, sekalian ke Bandung ada Sena. Belum kenalan sama Enin nya Sena. Tapi ngga boleh ya ngga apa-apa. Nitip oleh-oleh aja buat Enin. Sebelum pulang kita ke Papaya lagi, aku lupa buat Enin."


Adit dan Rama dua orang yang berbeda di mata Sena. Jika Rama orang yang keukeuh, Adit adalah orang yang patuh kepada orangtua. Membuat kekaguman Sena bertambah.


"Mbak mu di denger. Boleh ke Bandung, asal jaga diri."


Sena tersenyum senang. Memiliki waktu lebih banyak dengan Adit.


"Alhamdulillah. Rejeki ku punya Ibu baik gini, ngga kaya yang ini. Denger toh Mbak?"


"Kamu pulang pergi? Bandung naik motor kan jauh, Dek."


"Nginep semalam, Selasa sore aku pulang. Aku kan balik Tokyo Rabu malam. "


"Tidur dimana?"


"Hotel bertebaran Bu. Tenang Mbak, aku ngga ajak Sena ke hotel. Besok kita sama-sama share location live ke HP nya Mbak. Ben puass."


"Hih, suudzon aja. Aku ngga mikir gitu kok."


"Alah..."


Sena tertawa melihat Adit dan Putri bagai tom & jerry.


"Kalau ngga ada nanyain Adek, sekarang Adek nya pulang diusilin terus."


Bu Retna menegur Putri. Jika Adit di Jepang, Putri sering kali video call untuk bercerita.


"Kakak di rumah juga gitu, suka usilin aku..."


Sena tersenyum malu-malu.


"Sabar yo cah ayu."

__ADS_1


Sena mengangguk tersenyum.


__ADS_2