Cinta Mita

Cinta Mita
Baku hantam


__ADS_3

Mita


"Siapa? Kalau tamu ajak masuk." Adit pemilik kosan yang masih kuliah tingkat tiga memang seorang pengusaha muda. Di usia nya yang baru 21 tahun sudah memiliki beberapa unit kos-kosan di beberapa universitas. Terlahir dari keluarga berada memang suatu privilege tersendiri sama seperti Rama. Beruntung.


"Saudara Mas. Nggak usah, sebentar lagi pulang."


"Oh. Masih lama nugasnya? Kita mie time gimana? Aku beli mie nya dulu ke ninimarket bentar."


"Wah makan siang gratis, makasih Mas."


Masih di posisi yang sama. Indah yang fokus ngetik, Irma yang fokus chatting, Niken membantu Indah membacakan kutipan-kutipan dari buku rujukan.


"Pada mau mie ngga?" Selesai mengerjakan tugas ia teringat mie time yang Adit bilang tadi. Kebetulan ia mulai merasa lapar.


''Mau, ada?" si gembul Indah no. 1 kalau masalah makanan. Herannya badannya tetap langsing, impian para pejuang diet.


"Tadi Mas Adit nawarin mie, dia lagi beli kayaknya."


"Enak bener hidup lo Mit di kelilingi cogan berhati baik."


''Tadi dia disini kayaknya nongkrongin lo deh." Niken berbisik ke arahnya


"Hush sembarangan, di denger anak kosan nggak enak. Ngga mungkin lah lagian, ngaco." Mita menutup laptop nya dan membereskan beberapa alat tulis miliknya.


Buku, pulpen, notebook, dan ***** bengek yang ia beli dengan Rama waktu itu. Ia jadi teringat Rama, masihkah Rama menunggu?


''Lo ngga usah naif, masa lo nggak ngerasain sih? Gue aja yang liat dari jauh ngerti."


"Nggak lah, nggak ada." masalahnya dengan Rama belum tuntas, tak ingin menambah panjang masalah yang harus ia hadapi lainnya. Omongan anak-anak kosan juga, fans Adit sejati.


Ia melangkahkan kaki kembali melihat Rama. Di ruang tamu sudah tidak ada Adit, mungkin ke warung atau ninimarket.


"Kamu belum pulang?" Mita keluar dari dalam kosannya.


''Tadi ada laki-laki keluar dari dalam kosan kamu. Dia siapa? Boleh laki-laki di dalam?''


''Teman. Kamu masih disini?"


Wajah Rama terlihat lebih merah dibanding tadi sebelum ia tinggalkan.

__ADS_1


"Aku udah bilang, aku tunggu. Kamu kenapa sih nyuruh aku pulang dari tadi?''


"Rama maaf, aku harus ngomong ini. Kamu lebih baik ngga usah kesini lagi. Kamu jalanin hidup kamu seperti sebelum ketemu aku. Anggap kita nggak pernah kenal."


Ia membalikan badan, berusaha menghindari tatapan Rama.


"Kamu ngomong apa sih? Mana bisa aku kaya gitu."


"Maafin aku Ram... Makasih juga selama ini kamu udah baik sama aku, banyak bantu aku. Maaf kalau udah bikin kamu kecewa."


Terasa hawa panas di sekitar mata nya membuat benteng pertahanannya melemah. Tak dapat dipungkiri ia pun merindukan Rama dan nyaman saat di dekat Rama.


"Kamu mau nyakitin aku? Nggak gini caranya. Kamu kenapa sih? Salah aku apa?" Rama terlihat frustasi sendiri. Diacak-acaknya rambut rapinya.


"Ikuti kata-kata orang tua kamu, itu yang terbaik untuk kamu. Maaf aku ngga bisa."


Akhirnya ia mengatakan Hal menyakitkan ini juga. Jika keadaanya tidak seperti ini, mungkin mereka bisa bersama.


Tak terasa bulir halus menetes tak dapat ia tahan. Rama menarik ingin memeluk, namun Adit tiba-tiba datang dari arah gerbang membawa goodie bag balanja berwarna hijau. Adit mengehempaskan tangan Rama dan menarik tangan Mita.


"Anjing lepasin Mita." Ia ketakutan, belum pernah ia lihat Rama sekasar itu.


''Masuk Mit.'' Adit mendorongnya masuk dan menutup pintunya.


Ia kembali ke gazebo, dimana teman-temannya masih setia dengan kesibukannya masing-masing.


"Kenapa tuh muke jadi sepet? Lo nangis?"


Niken si kepo benar-benar pemerhati.


"Eh kayak ada rame-rame dimana sih?"


Pecah tangisan yang ia tahan sejak tadi.


"Lo kenapa nangis?" Indah mendekatinya.


Akhirnya ia menceritakan kisahnya dengan Rama.


"Siapa dong yang bisa liatin ke depan. Gue takut Rama berantem sama Mas Adit."

__ADS_1


"Hah Rama ngajak gelud Adit?"


"Sek sek, gue yang liat." Irma bangkit setengah berlari ke arah ruang tamu. (sek : bentar)


Ia pun mneceritakan hubunganya dengan Rama yang rumit ini. Dari awal pertemuan nya dengan Rama, sampai Bu Lia datang beberapa hari lalu.


"Wah ribet begitu mah, skip aja skip cari yang lain. Ntar lo yang susah ." Niken berpendapat.


"Tapi Rama ngga mau nerima Ken."


"Egois itu dia. Nggak mikirin lo, iya nggak sih?'' Kali ini Indah bersuara.


"Susah sih kalau urusan hati. Akal sehat jadi sakit. Otak, mata, telinga lo udah ngga guna lagi. Buta semua."


"Aman, Rama udah cabut. Serem banget Rama marahnya. Mereka hampir baku hantam." Irma datang dengan tergesa-gesa.


Ia sedikit lega, setidaknya Rama tidak nekat.


Adit pun datang mengeluarkan isi goodie bag.


"Udah beres kan tugas nya? Ngemil dulu lah memulihkan energi yang sudah terkuras."


Chitato, tango, hingga minuman dingin dikeluarkan Adit. Rama dalam wujud lain.


"Mas Adit keren, peka banget." Irma semangat mengambil minuman dengan bulir jeruk berwarna orange yang masih dingin.


"Jarang-jarang aku kesini. Mit bantuin masak mie bisa? Biar tetap waras."


Ada tatapan aneh yang ia rasakan. Mungkin sedikit menyindir Rama tadi?


"Maaf ya Mas jadi ada ribut-ribut karena Rama tadi."


Sesaat setelah mereka sampai di dapur ia membuka obrolan kejadian di teras tadi.


"Nggak apa-apa, laki-laki kalau emosi biasa begitu. Yang tadi bukan saudara atau kakak angkat kamu kan? Dia kayak yang suka sama kamu tuh."


"Dia kakak angkat aku. Keluarga dia yang biayain kuliah aku."


"Oh, I got the point. Wow."

__ADS_1


"Wow kenapa?" Mita bingung. Segitu mudahkah ditebak jalan cerita ia dan Rama?


"Nggak apa-apa." Ia berpikir bisa-bisa nya Rama menyukai Mita yang notabene anak angkat keluarganya. Bisa dipastikan bahwa Rama bukan dari keluarga sembarangan.


__ADS_2