Cinta Mita

Cinta Mita
Rumah aku itu kamu


__ADS_3

Mereka menghabiskan sisa waktu yang hanya dua hari dengan mengitari setiap sudut kota New York. Seperti pagi ini yang dimulai dengan menjelajahi 5th Avenue (dibaca: Fifth Avenue) yang merupakan jalan arteri tempat berbelanja kota New York. Disini kita bisa menemukan department store kelas atas seperti Bergdorf Goodman dan toko retail multinasional seperti Zara dan Uniqlo. Di jalan ini juga Apple Store dan toko perhiasan ternama Tiffany & co berada.


"Boleh liat-liat, tapi Mama ngga akan beliin kamu perhiasan ya Sen." Begitu Sena meminta masuk ke toko perhiasan langganan para artis dunia.


Sena lantas melihat ke arah Rama.


"Jangan liat-liat aku." Rama yang sudah tidak enak feeling memilih memalingkan wajah.


''Kenapa sih ngga ada yang mau beliin aku apa ya?"


''Kamu masih kuliah ngapain pake perhiasan mahal? Ini liat Mita ngga ada minta macem-macem. Padahal kartu aku unlimited."


Abang jago mulai sombong.


''Mita tuh role model banget kayaknya." Sena mendengus kesal.


Ia hanya tersenyum sekilas, selalu dijadikan objek perbandingan oleh Rama.


Adit yang sesekali curi pandang ke arah Sena, melihat dengan senyuman.


Setelah puas menjelajahi jalan yang menjadi jalan termahal kelima di dunia menurut majalah Forbes pada tahun 2008, Sena mengajak ke daerah Brooklyn untuk mencari makanan halal sebagai makan siang di The halal spot.


"Kamu tau tempat-tempat kaya gini dari mana?"


Adit yang mencoba membuka diri dengan orang sekitar termasuk membuka percakapan dengan Sena. Tidak ada salahnya berteman bukan? Meskipun dengan adik mantan rival sendiri.


"Baca dong Mas, browsing. Percuma punya handphone puluhan juta kalau cuma di pake sosmed sama selfie doang. Kita dikasih teknologi biar makin pinter. Nyenengin Steve Jobs lah dikit di atas sana, pake HP buatan dia untuk hal yang berguna."


"Itu siapa yang ngomong?"


Rama berlagak seperti mencari-cari orang lalu melirik ke arah Sena.


"Ya ampun kamu yang ngomong. Ngga sia-sia Mama ngelahirin kamu Dek." lanjutnya seolah terkejut.


Sena mencibir ke arah Rama merasa diremehkan.


''Karena ini masih siang, jadi belum banyak restoran halal yang buka. Biasanya halal food yang di food truck gitu lebih banyak nanti sore."


Sena tak menghiraukan perkataan Rama. Bodo amat !


"Aku kayaknya kalau jalan disini sendiri bakal asal makan, ngga liat halal atau ngga nya."


"Jangan atuh, agama itu kan bukan hanya sekedar ritual ibadah. Kalau buat aku, menjadi seorang muslim itu identitas. Jadi kalau misalnya Mas Adit kuliah di Konoha sekalipun, terus Mas Adit shalat dan cuma makan makanan halal harusnya teman-teman Mas bisa tau kalau Mas tuh Muslim. Even without saying I'm Muslim.'' (meskipun tanpa bilang "Aku Muslim")


"Apalagi cuma Amerika, disini juga banyak Muslim. Di Brooklyn ini aja ada 28 masjid artinya komunitas Muslim disini itu banyak, jadi makanan halal ngga akan susah-susah banget lah.'' lanjut Sena.


"Amazing.'' Adit seperti terkesima mendengar penuturan Sena.


''Amazing apa nya, itu hal-hal standard ngga sih? Kalau kita asal makan, kayaknya identitas kita patut dipertanyakan.''


"Tapi pemikiran kaya gitu emang udah jarang ada di otak anak muda Muslim zaman sekarang."


Ucap Adit pelan, seolah membicarakan diri sendiri.


''Islam KTP ngga tuh? the real krisis identitas."

__ADS_1


Adit tersenyum kecut.


''Jangan-jangan Allah ngga merestui Mas Adit sama Mita karena ada kandungan makanan haram di badan Mas Adit. Makanan haram itu bikin doa kita ngga di ijabah."


Adit terdiam.


''Sorry kalau tersinggung, aku ngga niat julid sebenarnya." Sena tertawa setengah meledek.


Selesai makan siang, mereka menuju Brooklyn Islamic Center untuk shalat dzuhur. Lalu menikmati sisa hari pemandangan kota yang menakjubkan dari Top of the Rock Observation Deck dari ketinggian lantai 70.


"Kalau ngga sama lo, gua kayaknya bakal luntang lantung disini."


"Kalau masalah ginian Sena jagonya. Apalagi dia kuliah seni desain, jadi ke New York udah kaya feel at home. Seni banget anaknya."


Sena yang sedang asik berfoto tak merasa sedang dibicarakan.


"Yok bisa yok, sama Sena yok."


Rama heboh tepuk tangan sendiri, meskipun beberapa pasang mata memperhatikan namun Rama tak peduli.


"Kalau udah punya cowok gua ngga mau, ntar diambil lagi kaya yang udah-udah.''


Adit sudah berada pada level trauma sepertinya, xixixi.


''Nyokap pasti setuju kalau sama lo."


Hah, apa guna nya Rojalii kalau dia nya udah punya cowok batin Adit sumbang.


*****


Hari ini akhirnya mereka akan berpisah di Bandara Jhon F Kennedy, New York. Rombongan Jakarta terdiri dari Mita, Sena dan Bu Lia akan take off jam 13.00. Sedangkan grup pria berpencar, Rama kembali ke Seattle pukul 15.00 dan Adit melanjutkan random trip nya ke LA 17.00.


"Jam 5."


"Ngga kelamaan nunggu di bandara nya? Jadwal kita duluan soalnya."


"Ngga apa-apa, gabut juga sendirian di hotel sekalian aja check out nya. Btw makasih udah di traktir selama di sini. Hotel, makan, taksi."


Rama mengangguk singkat.


"Sekalian doang itu sih."


"Ntar lo sendirian di LA gimana ceritanya. Ke tempat gua lagi aja udah, lo bisa ke.... Vegas deket dari tempat gua." lanjut Rama mengecilkan volume suaranya saat mengucapkan "Vegas" khawatir terdengar Mita.


"Eh tapi kalau lo ada niat sama adek gua, ngga usah ke sana. Keluarga kita harus bersih."


Adit tertawa lepas, rupanya Rama menjaga betul Sena.


"Gua ngga ada niat."


Rama yang sedang mengecek ulang isi sling bag milik nya menatap Adit penuh selidik.


"Serius?"


Serius Adit nolak Sena?

__ADS_1


"Serius, ngapain kesana. Dari awal gua ngga niat ke Vegas."


Rama mengendurkan tatapannya. Ia pikir Adiknya ditolak oleh Adit, xixixi.


Mereka sedang berkumpul di kamar wanita, kemudian Rama memanggil Mita untuk mendekat.


"Mita kamu sini."


"Ih kamu mah manggil-manggil terus."


"Kamu tuh mau pisah sama aku ngga ada manis-manis nya. Kalah sama air mineral."


"Apa sayang, ada apa kamu manggil aku?"


"Nah gitu kan manis didengernya. Sena sama Mama mana? "


Grup wanita memesan tipe kamar condotel dengan 2kamar tidur dan ruang tamu terpisah. Sena dan Mama yang masih membereskan beberapa oleh-oleh masih di kamar.


"Kenapa? Kaya mau ngasih pesan-pesan terakhir deh nyuruh ngumpul semua."


Sena sudah siap berangkat dengan kacamata dan syal yang melingkar di lehernya. Tak lama Bu Lia menyusul keluar kamar.


"Mah, kalau nanti Mita macem-macem sama cowok, aku pulang mau beres atau belum beres kuliah aku. Nanti aku langsung ke Cianjur jemput Bapak buat nikahin aku sama anaknya yang ini nih. Aku bawa langsung ke KUA."


Rama menunjuk Mita. Rupa kejadian saos bolognese belepotan masih membekas di pikiran Rama.


"Kamu mah berlebihan. Emang aku ngapain?"


Mita tidak terima dengan ultimatum yang berlebihan dari Rama.


"Ya bisa aja kan. Ini aku serius kamu jangan macem-macem. Kamu sini kenapa sih deketan sama aku susah banget. Mau ngga ketemu setahun kamu kayak gini, gimana aku ngga mikir macem-macem."


Mita yang malu menjadi pusat perhatian akhirnya mendekat untuk mempercepat proses.


"Aku mau peluk."


Pantas Mita bertekuk lutut di hadapan Rama, rupa nya begini cara ia berinteraksi dengan perempuan itu pikirnya. Selalu menunjukan power nya pikir Adit.


"Jangan lama-lama Kak. Belum mahrom." Bu Lia mengingatkan.


"Pisah nya juga di bandara nanti, nanti aja peluknya."


Mita yang pemalu masih risih mempertontonkan kemesraaan di depan publik.


''Kata Papa ngga boleh di ruang publik."


Rama menarik pinggang Mita untuk mendekat, merapatkan tubuh untuk mencium bahu sekaligus aroma gadis yang ia cintai.


''Inget jangan macem-macem, aku sayang kamu. Tunggu aku pulang. Rumah aku itu kamu."


Kini pipinya sudah dalam genggaman Rama kemudian di sapu halus oleh Rama, berikut kening, hidung dan mata.


''Kamu juga jaga diri, jangan telat makan. Kamu udah kurang tidur, kalau telat makan juga bahaya."


''Berangkaaattttt." Sena jengah melihat moment uwu Rama.

__ADS_1


Adik ngga ada akhlak, batin Rama kesal.


__ADS_2