Cinta Mita

Cinta Mita
Kesabaran Yang Di Uji


__ADS_3

"Kalau akhirnya ngga mau, ngapain kamu nangis-nangis? Kamu kan tau, aku ngga bisa liat kamu nangis."


Rama berjalan mendahului Mita. Bicara dengan pandangan ke depan seperti sedang bicara sendiri.


"Aku ngga mau dibilang memanfaatkan relasi apalagi uang. Aku yang salah telat daftar, yaudah tahun depan ngga apa-apa biarpun sedih."


"Ngga usah sedih, kamu sendiri yang nolak."


Mita berjalan dengan setengah berlari agar bisa menyusul Rama yang berjalan terlampau cepat.


Tiba-tiba terbesit ide untuk mengerjai Rama karena sudah membuatnya capek mengejar namun tetap tidak berhasil terkejar.


"Huh hah huh hah."


Mita berhenti sesaat, membungkuk memegang lututnya seolah kelelahan.


Rama berbalik badan melihat Mita yang berjarak lima meter di belakangnya.


"Kenapa Yang?"


"Capek aku mah ngejar Abang. Sok kalau masih mau marah mah, tinggalin aja sekalian."


Kini langkah Rama berbalik arah. Ia berjalan menghampiri Mita.


"Aku lagi yang salah."


Rama menghembembuskan nafas panjang lalu menggendong Mita layaknya menggendong anak bayi, karena khawatir dengan perut Mita jika menggendong di pundak.


"Ngga usah digendong, Abang jalan nya pelan aja."


"Capek kan? Udah diem. Sekarang kamu yang nurut."


Sesampainya di mobil, Rama masih tidak banyak bicara.


"Wisuda tahun depan aja, aku mau ke Jepang aja secepatnya. Sena gimana visa nya?"


"Tanya aja sendiri."


Pandangan tajam Mita kini menusuk Rama.


"Kalau Abang masih marah, aku turun di sini. Aku pulang naik taksi aja."


Mita tidak terbiasa dengan jawaban ketus Rama.


"Maksudnya tanya Sena langsung, Yang. Aku belum sempat nanya."


Rama mengambil tangan Mita. Lebih baik mengalah demi kewarasan rumah tangga.


"Makan dulu ngga?"


"Di apartemen aja, aku pengen cepet nyampe."


Mita menekan tombol di samping kiri kursi mobilnya, agar bisa sedikit meluruskan punggungnya.


"Oh iya besok aku urus visa ya, sebelum Jum'at-an. Sabtu kan libur."


"Nanti aku telepon temen yang biasa urus, biar Senin keluar visa nya. Mau berangkat kapan?"


"Senin keluar berarti Selasa bisa berangkat?"


Rama mengangguk. Apa yang ngga bisa?


"Sena suruh urus tiket sama semuanya disana."


Dengan semangat, Mita mencari kontak Sena yang sudah biasa didapuk menjadi travel agent keluarga.


"Bestie, gimana visa kamu?"


"Granted dong. Teteh gimana?" (Granted visa: disetujui untuk masuk ke suatu negara)


"Besok aku baru mau apply. Tapi tenang, Senin udah keluar visa nya kata Abang."


"Kalau Kakak yang ngomong berarti udah aman."

__ADS_1


"Iyess cepek buat kamu."


"Abang mana? Aku mau ngomong bentar."


Mita menekan tombol speaker agar Rama bisa mendengar.


"Mau ngomong apa? Udah aku load speaker. Orangnya lagi PMS, dari tadi sensi."


"Apa, Dek?"


"Urusin surat magang dong, Kak. Aku disuruh magang sama kampus liburan semester ini."


"Kamu yang ditugasin kenapa jadi aku yang repot? Mentang-mentang aku bos jadi aku ngga ada kerjaan?"


"Fery atuh suruh. Aku kan mau ke Jepang nemenin istrinya lho ini tugas penting. Lebih penting dari magang."


"Mengbawel. Pulang dari Jepang aja kamu magang nya. Jangan dibiasain KKN. Anti banget aku mah."


Mita mendengar kalimat terakhir Rama dengan senyum sinis.


"Ngga salah?"


Rama tertawa. Tak lupa ia mengingatkan Sena untuk membuat itinerary selama di Jepang agar ia bisa mengkondisikan segala sesuatu yang Mita butuhkan. (Itinerary : rundown rencana perjalanan)


"Ih meditt. Ada yang gampang kok nyuruh yang susaah."


"Usaha, Dek."


Sena memang terlalu banyak diberi kemudahan, pikir Rama.


Rama kembali fokus pada jalanan di hadapannya. Di kepalanya kini banyak yang ia pikirkan.


"Bang, besok aku urus visa sendiri aja ya sama Pak Tarjo."


"Yoga ngga bisa anter?"


"Yoga mau daftar ulang ke kampus katanya."


"Naik apa?"


"Bawa mobil aku aja, nanti Yanto aku suruh bawa."


"Terus aku gimana ke JVAC?"


"Kamu naik mobil kamu sama Tarjo."


"Lho terus Abang ke pabrik gimana?"


"Aku nebeng sama Fery."


"Ngga apa-apa kaya gitu? Yoga aja naik gojek kan ngga ribet, Yang."


"Kasian, biarin aku yang ikut Fery."


Mita mengangguk, membiarkan Rama sesuai keinginannya.


Sesampainya di apartemen, aroma wangi tumisan tercium begitu pintu Rama buka.


"Ibu masak apa wangi banget. Tega Abang mah aku ngga diajak makan."


Mita langsung menuju dapur karena perutnya sudah lapar.


"Kamu mah suka gitu kalau ngomong, suka memojokan aku. Tadi kamu yang bilang pengen cepet pulang."


"Masa sih?"


"Tau ah."


"Deuh ngambek. Makan sini Sayang, ada tumis kangkung sama goreng tempe. Ada empal juga kesukaan Abang."


Meski kesal dengan tingkat laku Mita hari ini, Rama masih mencoba untuk sabar.


"Sunda banget ini menu nya. Kaya makanan di rumah."

__ADS_1


Mata Mita berbinar begitu melihat sambal masih di atas ulekan, goreng tempe dan tahu, tumis kangkung, dan empal goreng dibuat khusus oleh Bu Rini untuk menantu tercinta.


"Tadi Ibu nelepon Bapak, lagi makan kangkung jadi kabita." (kabita : kepengen)


"Siapa yang masakin Bapak?"


"Bapak atuh masak sendiri."


"Kenapa ngga beli aja Bu?"


"Di sana mah yang jual masakan mateng jauh. Ngga kaya disini tinggal buka HP."


"Kasian atuh Bapak. Teteh udah sehat da Bu, kalau Ibu mau pulang ngga apa-apa nanti dianter Pak Tarjo."


"Bener Teteh udah bisa ditinggal?"


"Bener. Nanti sekalian bawain baju Yoga kali ya titip ke Pak Tarjo?"


"Baju tinggal beli, Yang. Ribet-ribetin Ibu aja."


"Sayang uang atuh beli mah. Kan ngga satu dua buat kuliah mah."


Bu Rini tidak tidak setuju.


"Ngga apa-apa jajan awet, Bu. Sabtu kita belanja keperluan Yoga kuliah sambil ke dealer motor. Ibu pulangnya Sabtu sore atau Minggu pagi aja, belanja dulu. Belum sempet ajak Ibu kemana-mana. Banyak banget kerjaan di pabrik."


"Tau Ibu juga Rama sibuk, ngga apa-apa."


"Ibu ngga mau ikut ke Jepang?"


"Nanti-nanti aja Ibu mah kalau libur kuliah Yoga. Teteh aja sing sehat selamat ya di sana."


"Iya, Bu."


"Oh iya kursus nyetir mulai kapan, Bang?"


Kini Yoga buka mulut.


"Minggu mulai. Kamu liat video belajar mobil dulu di youtube. Biar tau dasar-dasarnya. Nanti di tempat kursus jadi tinggal praktek."


"Beres itu mah. Yoga udah hafal nama-namanya sama fungsinya."


"Wih canggih. Bagus, harus kreatif dan inisiatif. Abang suka."


Bu Rini dan Mita tersenyum senang, Yoga bisa mengambil hati Rama.


"Udah gatel pengen nge-gas."


"Minggu Abang temenin. Abang ngga bisa ngelepas kamu belajar sendiri meskipun ada instruktur nya."


Yoga tersenyum. Ia bersyukur memiliki kakak ipar seperti Rama. Kakak ipar idaman semua orang.


"Hatur nuhun ya, Rama. Sudah baik ke Ibu, Mita, Yoga juga."


"Namanya juga suami ke istri, kakak ke adik, Bu."


Rama tersenyum di tengah makan siangnya yang terlampau sore.


****


"Non, maaf ya kalau dua minggu ini aku bakal sibuk banget. Aku lagi kejar target ngeberesin kerjaan, karena minggu depan udah ujian."


Chat Adit membuyarkan konsentrasi Sena saat sedang mempersiapkan segala suatu untuk trip ke Jepang.


"Festival di KBRI selesai?"


"Masih seminggu lagi."


"Oke. Jaga kesehatan, minum vitamin ya."


"Siap. Muahh."


Setelah chat dari Adit, kehaluannya semakin bertambah. Ingin segera berangkat ke Jepang !!

__ADS_1


Memberi Adit surprise kedatangannya ke Jepang.


Can't wait !


__ADS_2