Cinta Mita

Cinta Mita
Dedek gemes part 2


__ADS_3

''Kak dimana? Pulang kantor langsung pulang, ntar malem anterin aku ke Senopati.''


Betapa shock saat Kak Rama mengirim foto perempuan sedang minum sambil membubuhkan keterangan ''lagi makan.'' Cewek mana ini?


Wah gila, nggak bener. Masih imut banget ceweknya, polos gini.


''Anak asuh Mama yang kuliah di Bogor.'' saat ku tanya siapa perempuan itu. Double kill, anak asuh Mama. What?


Benar-benar tak habis pikir. Main api di hari kerja gini. Bukan dia di Bogor?


Langsung ku lakukan panggilan video untuk menuntaskan rasa ingin tahu, nyesel juga saat kemarin dia datang aku nggak sempat ketemu.


''Kalau kakakku macem-macem lapor Mama aja. Biar dia dikirim ke US.''


Kak Rama memang belum mau melanjutkan study ke US, padahal Mama dan Papa sudah mewanti-wanti untuk segera lanjut. Tapi Kak Rama katanya ''belum mood'' serah lu dah kak, serah.


Tambah semangat untuk ke rumah Dinda kalau gini cerita nya, ada bahan ghibah baru. Wkwkwk adik ngga ada akhlaq.


Whatever.


Ngomongin the most wanted Rama yang merupakan Kakaknya itu sebuah keseruan untukku, terlebih Oliv yang notabene Rama lovers harus tau berita ini.


Jam 18.20 Kak Rama tiba di rumah dengan wajah cerah saat aku sedang makan.


"Tumben mesem-mesem aja. Biasanya pulang kerja suntuk." sambil minum air madu sebagai suplemen alami, aku perhatikan gerak geriknya yang tidak biasa ini.


"Harus dong, hidup itu harus berubah lebih baik.'' ujarnya mengedipkan sebelah mata.


''Sok wise banget.'' bau-bau orang kasmaran, di luar nalar, bucin.


''Anterin aku jam berapa?" Aku yang sudah siap dari tadi, tinggal menunggu Kak Rama langsung gass.


"Baru pegang gelas ini, belum sholat, mandi, makan, rebahan bentar."


tiba-tiba Mama keluar dari kamar sambil membawa buku, mungkin materi ajar untuk besok.


"Macet ya Kak, jam segini baru sampai."


Dicium tangan Mama sebagai tanda salim baru sampai rumah.


"Macet Mah di Bogor." ceplos ku asal. Diikuti kerlingan mata Kak Rama, rasain. Eh tapi nanti dia nggak mau nganterin, bahaya.


"Meeting ya Kak di Bogor?" lanjutku santai.

__ADS_1


"Tadi ketemuan sama klient di Bogor sekalian cuci mata, jadi segeran kan aku." awas aja ini anak manja ngebocorin soal Mita.


''Minta cuciin ke Bi Imas kak matanya biar bersih." takut keceplosan mending kabuurr masuk kamar.


"Hih ga jelas." gerutunya.


19.35


Diketuk kamar Sena dari luar.


"Dek, kemon."


Dia gendong tasnya berisi baju ganti dan printilan lainnya untuk nginap semalam.


"Besok pulang gimana? Siapa yang jemput?"


Begitu ia tutup pintu mobil dan mulai mengemudikan ke arah tol dalam kota.


Walaupun dia tipe adik ngga ada akhlaq, tapi tetap dia adik yang selalu dijaga Rama. Jika terjadi sesuatu hal dengannya, Rama akan jadi orang pertama yang selalu ada.


"Pergaulan anak sekarang itu Kak ya ampun, bikin Mama pusing. Kamu tolong jaga adik kamu, jangan sampai salah teman. Kadang Mama sibuk sama urusan kampus atau nemenin Papa kalau ada tugas keluar. Jadi kurang kontrol, harusnya kamu sebagai laki-laki bisa Mama andalkan."


Anak bungsu yang sudah sering ditinggalkan Mama sejak kecil, membuatnya lebih manja dari anak lainnya. Dan itu membuatnya semakin menjaga betul-betul adik semata wayangnya ini.


"Cerdas banget adek Kakak ini. Jangan bilang Mama dulu, aku masih temenan biasa nggak lebih." Diacak-acak nya rambut Sena sampai kacamata adiknya itu hampir lepas.


"Alah alesan, bilang aja PDKT sampe nyamperin ke Bogor segala. Rela menerjang macet, apa coba namanya?"


"Lho kan emang aku ada meeting di Bogor. Sekalian aja kan, emang anaknya asik juga diajak ngobrol. Coba deh kenalan mungkin cocok juga sama kamu." Sambil menghentak-hentakan kemudi mengikuti suara musik yang diputar Rama masih mencoba menutupi perasaannya terhadap Mita. Masih terlalu dini untuk mempublikasikan perasaannya pada Mita.


"Emang cewek-cewek mau ngapain sih nggak ada angin nggak ada hujan pake acara nginep segala. Ada acara apa?" Rama mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak terlalu grogi.


"Acara ghibah bareng." Sena ketawa asal menjawab.


"Hah? Apaan sih ghibah dijadiin acara. Ngaco." ia mendelik aneh mendengar ghibah dijadikan acara.


"Bukanlah, temu kangen doang. Sebelum nanti kuliah sibuk sama kampus masing-masing."


Dia teringat dua teman adiknya yaitu Dinda dan Oliv. Dinda anak yang agak kecil dan Oliv yang lebih berisi. Oliv juga yang seringkali mencuri pandang ke arahnya kalau kebetulan ia ada di rumah dan Sena sedang kedatangan teman-temannya. Memang sejak dulu Mama lebih suka kalau teman Sena dan Rama main ke rumah, dibanding harus mereka yang main keluar. Lebih aman, begitu pikir Papa nya.


"Masuk kampus mana temen kamu?"


Memang Rama lebih seperti ayah yang mengayomi adik nya, walaupun usia mereka hanya terpaut enam tahun. Tapi juga bisa menempatkan diri sebagai teman saat-saat tertentu.

__ADS_1


"Oliv Unair, Dinda IPB. Eh bareng sama anak asuh mama dong ya? Bukannya dia di Bogor? IPB bukan?'' seketika Sena teringat akan Mita yang katanya kuliah di IPB juga.


"Iya, Mita di ITP. Dinda dimana?"


"Dinda masuk kehutanan."


"Oh... beda fakultas Dek."


"Kakak tau banget kayaknya." Sena mulai menggoda.


"Apa sih Dek, semua orang juga tau ITP beda fakultas sama kehutanan." malas menanggapi Sena. Baginya Sena bukan orang yang tepat untuk cerita. Lagipula Rama tipikal orang yang jarang bercerita tentang masalah pribadi, apalagi soal perempuan. Big no kalau nggak urgent. Apalagi Sena, ember bocor.


Rabu malam Perjalanan Palmerah - Senopati ditempuh dalam waktu kurang 30 menit via tol dalam kota. Sedikit macet di persimpangan arah Blok M.


"Yang mana rumahnya?" Begitu masuk ke kawasan perumahan rumah Dinda.


"Di depan belok kanan. Rumahnya kanan jalan no. 18."


Sena sudah hafal betul rumah Dinda, karena rumah Dinda paling dekat dengan sekolah. Beberapa kali acara kelas seringkali di adakan di rumah Dinda.


"Girls, gue di depan. Bukain gerbang dong."


"Dianter siapa?" Oliv yang paling antusias karena feeling Rama yang antar Sena.


"Kakak gue."


Nah kan, dengan semangat 45 Oliv turun membukakan gerbang.


"Aduh digembok Sen, gue ambil kunci nya dulu." Oliv salah tingkah begitu sampai gerbang ternyata gerbangnya digembok.


"Yaelah buk, terlalu semangat anda. Sampe lupa kunci." Sena tertawa terbahak-terbahak melihat keriweuhan Oliv yang saking semangatnya mau ketemu Rama.


"Lucu banget sih temen kamu dek." Rama tertawa geleng-geleng kepala.


"Fans Kakak garis keras lho dia." mereka tidak ada henti-hentinya menertawakan Oliv.


*****


By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini 🌺🌺


Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back πŸ€—πŸ€—


Semoga kita bisa berkawan rapat 🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2