
"Ini hidup aku, kenapa kakak yang ngatur?"
"Kamu tau apa hah? Kamu minum susu aja masih minta tolong orang. Ngga usah sok ngerasa udah gede !"
Rama menunjuk-nunjuk Sena dengan tajam. Beberapa pasang mata berkukit putih yang membeli burger memperhatikan Rama yang terlihat marah.
Mita kaget, Rama sekeras itu kepada Sena. Sena manangis, sifat manjanya kini menjadi bomerang baginya.
"Teh, aku harus gimana?"
Sena menangis kedalam pelukan Mita. Mita mencari Adit yang sudah menjauh ke arah kafe kembali bersama Yoga.
"Biarin dulu. Abang masih emosi, jangan dijawab. Kamu sabar ya."
Dengan suara berbisik Mita menasehati Sena, namun masih terdengar Rama. Dengan sabar Mita mengusap penggung adik kesayangan suaminya tersebut.
"Mita, pernah ngga aku ngomong kasar sama kamu? Milenial kaya kamu harus aware, melecehkan perempuan dengan ucapan itu kekerasan verbal namanya. Kalau digituin sama cowok kamu harusnya marah. Susah amat ngasih tau cewek bucin yang masih labil."
"I'm not labil !"
"Bucin nya iya? Cuci muka, jangan nangis nanti jadi pertanyaan Papa. Balik ke kafe."
Sementara itu, beberapa meter di depan Rama terlihat Adit menendang benda apapun di hadapannya, masih tidak terima dengan keputusan Rama.
Meski bukan Sena yang memutuskannya secara langsung, tapi rasanya sakit juga.
"Kalau sama perempuan jaga omongan kamu Ga. Jangan kaya Mas, ngga bisa jaga mulut."
Yoga mengangguk, ikut sedih dengan kata perintah putus yang harus keluar dari mulut Rama.
"Semua orang kan ngga selalu benar Mas. Meskipun lidah ngga punya tulang, tapi dia bisa juga keseleo. Yoga tetep percaya Mas Adit baik meski ngga sempurna."
Adit tertawa kecil mendengar ucapan yang baginya adalah hiburan dari Yoga.
"Namanya juga Kakak pasti ngebelain adiknya, Mas yang salah."
"Emang Mas ngomong apa ke Teh Sena? Bang Rama sampai marah kaya gitu."
"Ucapan gobl*k pokoknya."
Adit merasa bodoh berkali-kali lipat, malu mengingat pertanyaannya semalam. Suasana semalam yang seharusnya hangat, ia rusak dengan ucapannya sendiri.
"Kebanyakan orang kaya emang gitu Mas, ngga mau dibantah, harus sempurna."
Tawa Adit semakin keras, hiburan yang membuat hatinya lebih baik. Namun sayangnya, tawa Adit mengusik pendengaran Rama.
"Denger ngga dia ketawa-ketawa? Kamu nangis, menyedihkan."
"Itu Yoga yang ngajak bercanda Adit, kaya ngga tau Yoga aja. Adit pasti sedih juga, Abang egois banget."
"Kamu sama nya kayak Sena."
Rama menjepit Mita ke dalam lipatan ketiaknya.
"Iya lah, aku perempuan."
"Tapi kamu istri aku, dukung aku gimana sih. Haid besok beres kan?"
Setengah berbisik, membuat Mita sedikit merasa nge-fly. Namun Mita tersenyum, mood Rama membaik.
"Beres kayaknya. Kita stay lebih lama di Los Angeles aja ya?"
"Ngga sekalian aja stay permanen di L.A?"
"Emang bisa?"
"Ngga."
"Ihhhh."
Mita mencubit kecil perut Rama.
"Aku kangen." yang dibalas dengan pelukan dan kecupan Rama.
"Bisa ngga sih dikamar aja kaya gitu nya, risih aku liatnya."
Sena mempercepat langkahnya, agar tidak melihat adegan tak senonoh di depan matanya.
"Halal ini, jomblo sirik aja."
Jomblo? Gara-gara siapa hikss, batin Sena menangis.
Selesai makan siang, rombongan menuju Fisherman's Wharf Sign untuk sekedar berfoto sebagai kenang-kenangan.
Selama perjalanan, Adit masih mencuri pandang ke arah Sena. Melihat wajah murung Sena dan sedikit sembab, membuatnya semakin menyalahkan diri sendiri.
"Ngga apa-apa kita udahan, tapi aku harap kamu maafin aku."
Adit mengetik pesan untuk Sena, berharap Sena melihat ke arahnya.
"Berapa kali aku bilang, aku udah maafin kamu."
Kini kedua nya bertemu pandang, dengan kikuk Adit melambungkan sedikit senyuman dan Sena membalas senyuman tersebut. Adit sedikit lega, setidaknya Sena sudah bisa tersenyum untuknya.
"Sen, you should to know. Aku ngomong gitu bukan karena aku ngga sayang kamu, buatku semalam itu hanya pertanyaan biasa. Bukan untuk meragukan atau menuduh kamu. Maaf kalau jadi terdengar ngga baik. Aku senang kalau aku yang pertama, karena kamu juga yang pertama buat aku. Really sorry, I really love you. Tapi aku tetap mengutuk mulut aku ini. Maaf sekali lagi maaf, aku ngga akan ngomong jahat lagi sama kamu."
"Iya, I got you. Maybe we can back again?"
Perasaan hangat menjalar ke hatinya membaca pesan yang sebetulnya singkat tersebut. Sena memang perempuan yang tidak bisa memohongi perasaannya sendiri.
"Rama?"
"Ini hidup aku, bukan hidup Kakak."
"Dia bisa tambah marah sama aku Sen. Aku mau hubungan kita panjang, aku butuh restu Rama. Aku ngga mau jelek lagi di mata dia, masalah ini cukup udah bikin aku jadi bajingan jadi aku ngga mau bikin masalah lagi. Aku sedih dan kesal sama diri sendiri. Dia kakak kamu, sayangnya dia ke kamu pasti lebih dari sayang nya aku ke kamu. Jangan sekali-sekali memilih orang lain dibanding memilih keluarga, karena keluarga segalanya yang akan selalu ada di titik terendah kamu sekalipun. Di tubuh kalian mengalir darah yang sama. Kamu harus tetap nurut kata Rama, sama kaya kamu harus dengar ucapan orangtua kamu. Nanti aku yang ngomong dulu baik-baik, kita gini dulu sementara. Aku sayang kamu. Maaf."
Berkali-kali Adit mengucapkan kata maaf sejak semalam, artinya Adit sangat menyesali ucapannya.
"Iya."
Sesampainya di Fisherman's Wharf Sign, Bu Rini menjadi orang yang paling bersemangat berfoto. Suasana sore itu tidak terlalu ramai. Namun ada beberapa musisi yang akan menggelar street performance.
"Foto berdua boleh?"
Adit memberanikan diri mendekati Sena.
__ADS_1
"Ngga, foto sama-sama."
Rama turut mendekati Sena yang tengah memegang gulali. Sementara itu para orangtua langsung mencari toko souvenir di sekitar Fisherman's Wharf Sign.
Perjalanan di lanjutkan dengan mengunjungi Pier 39. Pier sendiri artinya dermaga, sehingga tidak heran di sini banyak kapal.
Dari Pier 39 juga bisa melihat Alcatraz Island yang dikenal dengan sebutan “The Rock”. Pulau yang dulunya penjara terkenal itu sekarang sudah jadi tempat wisata.
Pier 39 ini juga terkenal dengan California Sea Lion-nya. Di Pier 39 West Marina ada tempat khusus mangkalnya para singa laut selama lebih dari dua dekade terakhir.
Setelah puas menjelajahi Pier 39, rombongan dengan Sena sebagai tour leader mengajak ke tempat terakhir yang akan dikunjungi hari ini sebelum check in ke hotel, yaitu Ghirardelli Square yang terkenal dengan coklatnya yang enak yaitu Ghirardelli Chocolate.
Setelah puas berkeliling, Pak Romi akhirnya menyerah karena sudah merasa lelah meskipun ibu-ibu masih semangat untuk belanja.
"Tangan mana lagi yang harus bawa barang belanjaan Mah? Kayaknya kaki kita harus kita fungsikan untuk bawa barang."
Pak Romi protes, Bu Lia tersenyum malu.
"Rama udah ngga mau bawa lagi."
Cukup baginya membawa kaos-kaos bertulis San Francisco, gantungan kunci, tutup botol, piring-piring hias, makanan-makanan hingga coklat.
Sebelum matahai terbenam, akhirnya rombongan sampai di hotel yang sudah Rama booking. Pertama kalinya bagi keluarga Mita ke luar negeri langsung ke Amerika, negara yang terkenal dengan biaya yang serba mahal.
Dua tipe kamar penthouse yang Rama pesan, dengan pembagian kamar persis seperti di apartemennya kemarin. Satu penthouse dengan tiga kamar tidur, dan satu penthouse dengan dua kamar tidur.
"Bang, Yoga satu penthouse sama Abang aja bisa ngga? Saka orangtua garing."
Rama terdiam, artinya Adit dan Sena juga akan satu penthouse. Namun demi Yoga, yang ia pun harus menggunakan alasan apa untuk menolak akhirnya mengiyakan permintaan Yoga. Rama, Mita, Sena, Adit dan Yoga menempati penthouse yang sama. Tentunya Rama lebih waspada.
Mendekati malam, dua keluarga beserta Adit makan malam di salah satu restoran yang tersedia di hotel bintang lima tersebut. Selesai makan malam, Adit meminta izin mengajak Rama bicara di ruang outdoor agar pembicaraannya tidak didengar oleh orangtua terutama oleh Pak Romi.
"Kak, bisa ngomong bentar di luar? Disini terlalu rame."
"Cukup panggil gua Rama, gua bukan kakak lo."
Hati Adit berdenyut sakit menerima penolakan dari Rama. Ternyata lebih sakit dibanding dengan saat meminta putus tadi.
"Ada hal penting?"
Tidak ingin basa basi, Rama menanyakan inti dari isi obrolan yang ingin Adit katakan.
"Maaf atas kata-kata gua ke Sena kemarin. Gua paham kenapa lu ngga bisa terima. Tapi itu bukan karena gua ngga sayang Sena."
"Sayang, cinta itu cuma bahan baku di dalam hubunham, makanan itu tetep ngga enak kalau ngga pakai bumbu. Etika, omongan, bahasa tubuh itu juga penting. Lo masih harus belajar cara ngomong sama cewek, cara memperlakukan perempuan. Dan Sena bukan objek yang gua izinkan untuk lo jadikan bahan belajar, silakan cari objek lain."
"Gua ngga bisa cari cewek lain."
"Terserah, udah bukan urusan gua. Sampe sini aja kayaknya obrolan kita karena bukan hal yang terlalu penting menurut gua, good luck."
Rama menepuk bahu Adit, namun baginya tersirat seolah Rama meremehkannya. Namun dibalik itu semua, Rama benar-benar menjaga Sena.
"Sena masih mau gua ada di hidupnya."
"Dia belum dewasa, masih dibawah tanggung jawab gua."
Di telinganya terdengar seperti "Gua yang nentuin hidup Sena."
"Sorry gua harus jujur, lo kakak paling angkuh dan egois yang pernah gua kenal."
Rama yang sudah berdiri hendak pergi, secara spontan berhenti begitu mendengar ucapan Adit.
"Lo kakak paling angkuh dan egois yang pernah gua kenal. Untungnya kakak gua ngga kaya lo."
Adit menaikan suaranya hingga pengunjung hotel melihat ke arah keduanya.
"Anj*ng emang ini orang. B*ngsat !"
Pukulan pertama telah mendarat di pelipis Adit yang menyisakan sedikit memar. Mungkin baru pemanasan.
"Lagi, pukul lagi sampe lo puas."
"Si bangs*t nantangin."
"Gua kasian Sena punya kakak kaya lo. Diktator."
"Bacot."
Bertubi-tubi pukulan dan bogeman mentah mengenai wajah mulus Adit. Hingga ujung bibir, pelipis hingga dagu kebiruan dan penuh memar karena emosi Rama yang berapi.
Pengunjung pun menjauh dari tempat keributan, lalu salah satunya memanggil kru restoran untuk memisahkan dua orang yang sedang panas.
"Teh, Kakak mukulin Adit Teh."
Sena menyadari keributan terjadi di luar restoran. Sama-samar melalui kaca jendela yang besar terlihat Rama yang terus memukul Adit.
"Kakaaakk, stop Kak. Kenapa sih."
Sena mendorong Rama yang mengusai tubuh Adit.
"Lo harus inget, sehebat apapun lo, sesukses apapun lo, adek lo berhak nentuin hidupnya sendiri, bukan lo setir."
"Mas udah Mas."
Sena meminta Adit menghentikan ucapannya yang semakon membuat Rama panas.
"Biarin Sen, sekalian aku nebus yang kemarin. Biar aku ngga ngerasa bersalah terus. Lagi? sebelah kiri masih aman."
Adit menepuk-nepuk pipi kirinya.
Rama meninju pipi kiri Adit 3 kali langsung hingga Adit tersungkur.
Adit masih diam, menerima setiap pukulan yang mengarah ke wajahnya.
"Pah, Abang mukulin Adit."
Dengan tergesa Mita melapor kepada Pak Romi.
"Dimana?"
Pak Romi langsung berlari menuju tempat dimana telunjuk Mita mengarah.
"Rama stop. Ini kenapa begini?"
Rama menghentikan pukulannya.
"Ngga apa-apa, urusan anak muda."
__ADS_1
"Kamu bilang ngga kenapa-kenapa? Kamu ngga liat mukanya Adit babak belur begitu."
"Dia yang nantangin."
"Kalau orangtua nya nanya Papa jawab apa?!"
Pak Romi memegang keningnya yang tiba-tiba pusing.
"Ngga usah dijawab Pah."
"Kamu keterlaluan. Kamu ngga liat Sena nangis kaya gitu. Masalahnya apa sih? Astagfirullah, Ya Allah Ya Rabbiii."
Bu Lia membantu Adit bangun. memeriksa wajah Adit yang memar.
"Dia pantas dihajar. Mulut lo jaga kalau ngomong sama orangtua gua."
Rama meninggalkan restoran dan kembali ke kamar hotel dengan menarik tangan Mita setelah memperingatkan Adit.
"Ngga usah ikut belain."
Setelah pintu kamar tertutup Rama membuka bajunya ingin berganti baju karena keringat yang keluar dari tubuhnya saat menghajar Adit tadi.
"Tapi Abang salah."
"Aku cuma bela harga diri aku sebagai Kakak."
"Abang cuma bela ego Abang."
Sementara itu Pak Romi meminta peralatan P3K kepada pihak hotel untuk mengobati luka.
"Kamu ada masalah apa sama Rama?"
Percuma jika mengintrogasi Rama, karena Rama tidak akan bicara alasannya. Hingga Pak Romi merasa perlu mengorek permasalahannya kepada Adit.
"Masalah anak muda Pah. Kakak cuma lagi pengen nunjukin powernya sebagai kakak."
"Kamu babak belur begini masih bisa santai ngomong kaya gitu. Kalau ada masalah selesaikan dengan kepala dingin, bukan berkelahi."
"Sena kemana lagi itu anak."
Pak Romi membawa Adit ke penthouse nya, meminta Bu Lia membersihkan luka Adit karena Sena sudah tidak terlihat batang hidungnya.
Dengan amarah Sena masuk ke unitnya, dan Rama sedang nonton tanpa rasa bersalah.
"Maksud Kakak apa sih Kak? Adit saking hormatnya sama kakak, merendahkan ego nya untuk ngomong sama kakak. Biar kita ngga jalan di belakang kakak."
"Bullsh*t, kamu tau apa."
"Aku tuh selalu jadi anak kecil di mata kakak. Kapan sih aku gede nya?"
"Kamu selalu kecil di mata aku."
"Aku bakal selamanya sama kakak? ngga akan punya kehidupan sendiri sama laki-laki, kaya kehidupan teteh sama kakak?"
Mita menunduk, Sena menginginkan kehidupannya dengan Rama. Dengan perasaan sayang selayaknya kakak kepada adiknya, Mita memeluk Sena yang perasaannya sedang kacau.
"Aku jagain kamu."
"F*cking bullsh*t. Nih baca nih chat aku sama Adit."
Sena melempar ponselnya. Tapi Mita yang mengambil ponsel Sena, bukan Rama.
Mita membaca sekilas isi chat yang ada di ponsel Sena. Begitu tau isi dari chat tersebut, Mita membacakan dengan keras agar Rama mendengar.
"Ngga apa-apa kita udahan, tapi aku harap kamu maafin aku."
"Berapa kali aku bilang, aku udah maafin kamu."
"Sen, you should to know. Aku ngomong gitu bukan karena aku ngga sayang kamu, buatku semalam itu hanya pertanyaan biasa. Bukan untuk meragukan atau menuduh kamu. Maaf kalau jadi terdengar ngga baik. Aku senang kalau aku yang pertama, karena kamu juga yang pertama buat aku. Really sorry, I really love you. Tapi aku tetap mengutuk mulut aku ini. Maaf sekali lagi maaf, aku ngga akan ngomong jahat lagi sama kamu."
"Iya, I got you. Maybe we can back again?"
"Rama?"
"Ini hidup aku, bukan hidup Kakak."
"Dia bisa lebih marah sama aku Sen. Aku mau hubungan kita panjang, aku butuh restu Rama. Aku ngga mau jelek lagi di mata dia, masalah ini udah cukup bikin aku ngerasa jadi bajingan, aku ngga mau bikin masalah lagi. Aku sedih dan kesal sama diri sendiri. Dia juga kakak kamu, sayangnya dia ke kamu pasti lebih dari sayang nya aku ke kamu. Jangan sekali-sekali memilih orang lain dibanding keluarga, karena keluarga segalanya dia akan ada bahkan di titik terendah kamu. Di tubuh kalian mengalir darah yang sama. Kamu harus tetap nurut kata Rama, sama kaya kamu harus dengar ucapan orangtua. Nanti aku coba ngomong baik-baik, kita gini dulu sementara. Aku sayang kamu. Maaf."
"Wow gantle sekali laki-laki ini. Mas AW ini siapa Sen?"
"Calon menantunya Dokter Romi, ada yang nyentuh dia lagi berurusan sama Dokter Rumi dan Bu Dosen Amalia."
Sena mengambil ponselnya kembali, lalu masuk ke kamar dengan membanting pintu kamar.
"Orang itu pasti bikin salah Sayang, Adit pasti ngambil banyak pelajaran. Tinggal kamu nya turunin ego dulu sedikit, tambah keren deh pasti."
"Berisik, mandi gih. Kamu udah beres kan haid nya."
"Aku ngga mandi sebelum kamu minta maaf ke Adit. Muka ganteng gitu jadi babak belur."
"Berani-beraninya bilang laki-laki lain ganteng, suami sendiri ngga dipuji."
"Loh, kenyataan. Kamu juga ganteng, Adit juga ganteng."
"Berisik, mandi sana. Ini handuk cepet mandi, aku laper."
"Laper apanya, baru juga makan."
"Laper pengen makan kamu."
"Tapi janji ya minta maaf ke Adit?"
"Bawel. Aku keluar dulu bentar, aku balik kamu harus udah beres mandinya."
"Mau kemana?"
Namun Rama sudah menutup pintu.
*****
Makasih yang sudah vote, komen, like dan sawerannya. Sehat selalu ya.
Rekor banget bab ini sampe 2400++ kata 🥳🥳
Semoga bisa rajin Up ya.
Jangan lupa rekomendasikan juga novel ini ke kenalan pembaca semua, lumayan buat temen gabut ❤️❤️
__ADS_1