
Selamat Senin semuanya, waktunya vote. Yuk vote yuk ❤️❤️
******
Jumat sore seharusnya waktu Mita untuk bersiap pulang ke Cianjur. Namun betisnya terasa berat, efek keliling area pabrik dari resto yang letaknya paling depan, hingga peternakan yang letaknya paling belakang. Ia harus tau berapa luas pabrik secara keseluruhan untuk meyakinkan bahwa bukan betisnya yang manja tapi karena lahan pabrik yang memang luas.
"Abang, kayaknya aku ngga jadi pulang ke Cianjur. Aku kecapean, keliling dari mulai resto sampai peternakan. Aku udah bilang ka Pak Tarjo ngga jadi pulang."
Saat itu Rama tengah bersiap untuk berangkat ke bandara. Mita sejak tadi meminta untuk video call, tapi tidak ia gubris karena tidak memungkinkan untuk saat ini. Mita bisa melihat pakaiannya yang rapi mode on dengan koper yang sudah siap untuk di tarik. Rencananya bisa-bisa berantakan.
"Aku lagi ngga bisa video call Mita sayang."
Menurut perhitungan, Rama baru bisa melakukan video call setidaknya saat sudah sampai rumahnya di Jakarta, kemungkinan Minggu pagi karena pesawat landing di Soekarno Hatta Sabtu pukul 23.55.
Mita yang akhir-akhir ini sering unmood ngga jelas membuat Rama geli sendiri, begitu tau sisi lain dari calon istrinya ini.
"Abang mah gitu, kalau Abang yang kangen aku lagi tidur juga tetap maksa video call. Lagi ngapain sih????"
Rama sudah tidak menggubris pesan dari Mita, berharap Mita segera tidur karena memang di Tangerang sudah tengah malam. Rama juga tidak ingin membuatnya mengasihani Mita yang ingin video call.
"Maaf sayang, aku berangkat dulu." Rama mencium wallpaper ponselnya yang berisi foto nya dan Mita ketika di Golden Gardens Beach Park tempo hari.
Perjalanan yang memakan waktu 20 jam ia habiskan dengan makan, nonton film, dan tidur. Rama memilih business class Japan Airlines (JAL) karena reputasinya yang bagus. Maskapai full service kebanggaan warga Jepang ini, menyediakan makanan sepanjang perjalanan. Kita bisa memilih makanan Jepang atau Western. Untuk penumpang Muslim rute Seattle - Jepang - Jakarta juga bisa memilih halal food saat reservasi. Sedangkan untuk rute penerbangan dari Indonesian atau negara mayoritas muslim ke luar negeri sudah dipastikan makanan yang disajikan adalah makanan halal.
Soal minuman, hampir 30 menit sekali pramugari JAL mendatangi penumpang menawarkan aneka minuman mulai green tea, kopi, jus buah, hingga wine. Sehingga penumpang tidak usah takut kelaparan selama perjalanan.
Selama di dalam pesawat Rama juga tetap bisa membalas pesan Mita. Karena JAL menyediakan layanan WiFi berbayar sehingga penumpang bisa mengakses internet. Bahkan bisa melakukan sambungan telepon melalui web ataupun aplikasi.
Rama tersenyum membayangkan Mita yang sedang galau karena ia masih tidak mau mengangkat video call dari Mita. Rama yang awalnya mau mengangkat telepon terpaksa di matikan sepihak karena suara gemuruh pesawat yang terdengar oleh Mita.
"Abang lagi dimana sih? Itu kaya ada suara berisik gitu. Bukan di apartemen ya? Aku ke Sawarna ngga boleh, sedangkan Abang sendiri keluyuran. Emang paling bisa !"
Rama tertawa membaca pesan Mita setelah ia matikan. Mita tentunya kesal karena acara mantai terpaksa ditunda atas perintah bos besar.
''Ngga sayang, kamu jangan su'udzon, dosa."
Sampai di Jakarta, ia langsung menggunakan taksi bandara menuju rumahnya. Begitu sampai gerbang rumah tertutup rapat. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Padahal ia yakin, orangtuanya belum tidur. Karena Sabtu malam jadwal Pak Romi dan Bu Lia begadang membicarakan apapun termasuk hal kecil sekalipun. Sena juga sedang pulang, karena di pesawat tadi Sena update foto bantal yang sangat ia kenal. Bantal yang ia belikan di Dufan saat Sena masih SMA.
"Pah, tolong bangunin Mamang atau Sesar bukain gerbang. Aku mau masuk."
Pesan yang Rama ketik untuk Pak Romi.
Rama menunggu gerbang dibuka di dalam taksi. Ponselnya berdering, pesannya di balas oleh panggilan telepon. Xixixi.
"Kamu emang dimana?"
"Di depan rumah. Kasian ini supir taksi, aku masih di dalam taksi."
Sambungan telepon terputus, rupanya Pak Romi langsung yang membukakan gerbang karena merasa tidak percaya.
"Kamu pulang ngga bilang-bilang."
"Ini namanya surprise Pah..."
"Tadinya kita mau ke Bandung nengok Sena. Tapi Sena nya keburu nyampe, untung ke Bandungnya ngga jadi."
"Kamu sehat? Selamat dan sukses kamu sudah lulus sidang. Sekarang Papa percaya kamu anak Papa."
Asyeeemm, jadi dulu ngga percaya? Kalau bukan anak Papa anak siapa? Anak om Bamwir? Xixixi.
Sejam lebih keluarga nya mengintrogasi kenapa bisa sampai di Jakarta.
"Naik pesawat dong Mah."
Karena Rama sudah tidur sepanjang di dalam pesawat, membuat Rama tidak merasakan kantuk.
"Kenapa ngga bilang? Kan bisa dijemput di bandara. Mita tau ngga kamu pulang?"
Rama tersenyum seraya mengucap "Belum."
"Ceritanya mau sok-sok an surprise-in pacar." Sena yang kegirangan dibawakan 4 jenis tumbler.
"Kamu tidur sana, cuci muka dulu."
Rama memaksakan diri untuk tidur barang sebentar, agar energi nya full kembali nanti pagi.
__ADS_1
"Subuh bangunin Mah takut kesiangan. Abis Subuh aku mau nganjang ke kabogoh." (nganjang : ngapel, kabogoh : kekasih)
"Emang ngga cape?"
"Buat Neng Mita mah Abang ngga kenal cape."
Pak Romi menggeleng melihat kesomplakan anak lelaki nya ini.
Jam 6 pagi teng Rama sudah siap berangkat. Yang awalnya ia mengira akan mengalami jet lag, ternyata tidak berlaku baginya saat ini. Karena jet lag ternyata kalah telak oleh rindu yang membara di dadanya.
Jarak rumahnya ke pabrik yang terpaut 40km bisa ia lalui dalam waktu satu jam. Jakarta di Minggu pagi cukup lenggang, mendukungnya untuk segera menemui Mita.
Begitu sampai.
"Mit, mobil yang biasa Tarjo bawa ada di depan kosan. Coba kamu liat siapa yang bawa."
Letak kamar Mita yang di lantai 3 memungkinkan ia melihat ke arah luar gerbang. Mita melihat mobil yang Pak Tarjo bawa sudah terparkir disana. Untuk apa datang pagi-pagi? Mungkin Pak Tarjo lupa kalau ini hari Minggu?
Segera Mita menekan tombol lift menuju lantai 1. Kosannya ini memang kos-kosan eksklusif, bahkan Mita sendiri baru tau ada kosan semewah ini yang dilengkapi dengan lift. Saat bertanya kepada tetangga kosan yang bekerja sebagai Caddy golf berapa harga sewa kosan disana, Mita kaget bukan kepalang karena sewanya 7juta per bulan. Hampir dua kali lipat dari uang bulanan yang rutin Rama transfer sejak acara lamaran kemarin. Rama ternyata konsiten dengan omongannya tempo hari bahwa ia kini menjadi tanggung jawab Rama, bukan tanggung jawab Bu Lia lagi. Uang bulanan nya bahkan lebih dari yang biasa Bu Lia kirimkan tiap bulan.
Mita ketuk kaca jendela di samping pengemudi yang yang dilapisi kaca film dengan tingkat kegelapan 60%. Terlihat bayangan supir yang menggunakan jaket tebal dengan masker full face, dan topi nampak berbeda dengan Pak Tarjo.
Kaca mobil pun diturunkan.
"Kenapa Pak kesini? Hari ini Minggu Pak pabrik libur."
Rama diam, tidak menjawab.
"Bukan Pak Tarjo ya? Siapa ya? Kenapa bawa mobil Abang?"
Mita menarik topi yang Rama kenakan karena kesal, pengemudi tidak menjawab pertanyaan nya.
"Abang? Ih kesel saking kangennya jadi ngeliat Pak Tarjo mirip Abang."
Rama tertawa lalu membuka masker nya.
"Aku pulang."
Alis Mita mengkerut, meyakinkan diri bahwa dihadapannya kini benar-benar Abang yang ia maksud. Bukan Tarjo
"Aku kangen."
Sekarang ia yakin, Rama nya pulang. Segera ia buka pintu supir lalu memeluk erat Rama. Mita yang hanya sepundak Rama bisa leluasa mencium aroma tubuh kekasihnya. Aroma yang sama dengan aroma yang pernah Mita cium saat di depan Malabar 10 lebih dari dua tahun lalu.
"Kamu ngga bilang mau pulang, aku nungguin. Aku kira kamu main sama cewek-cewek Amerika sana."
Mita menangis haru, kekasihnya kini ada di pelukannya.
"Hush aku disini, aku ngga pernah main sama cewek-cewek Amerika."
Lima menit sudah Mita dan Rama saling berpelukan, melepas rasa rindu yang begitu menyiksa dan menyesakan dada.
"Abang ngga ngangkat video call dari aku ternyata pulang kesini."
Rama tersenyum, mengusap pipi Mita.
"Masih mau ke Sawarna? berdua sama aku kesana. Aku ngga mau anak-anak ada disana jadi aku suruh mereka Minggu depan aja. Biar kita bisa berdua."
Mita mengangguk, terpancar kebahagiaan di wajahnya karena merass tersentuh. Ternyata ada alasan lain sehingga Rama meminta anak produksi menunda trip ke Sawarna.
Yang awalnya ia ingin ke Sawarna bersama anak produksi, tapi sepertinya berdua dengan Mita tanpa ada anak pabrik tentunya akan lebih romantis.
"Tapi Abang baru sampe kan up? Katanya jauh dari sini 4 jam. Ke Anyer aja yang lebih deket."
"Kemana aja, asal sama kamu."
Rama sedang tidak ingin di ganggu. Sepanjang perjalanan tangannya tak pernah lepas bertautan dengan jari Mita barang sedetik pun. Waktu dua jam terasa singkat karena dihabiskan dengan canda tawa dan berbagi cerita.
Perasaan Mita kali ini berbeda dengan perasaannya saat di Amerika, karena saat itu ia diliputi rasa bersalah kepada Adit karena merasa telah mengkhianati orang yang begitu baik padanya.
"Aku sayang Abang. Makasih Abang udah pulang untuk aku, sekarang dengan aku disini."
Rama mencium punggung tangan Mita. Rama menyukai Mita saat ini yang ekspresif, mengutarakan semua perasaannya tanpa ragu.
"I'm craving something." (aku lagi pengen/ngidam sesuatu) di pagi yang terik di pinggir pantai Anyer, membuat Mita membayangkan betapa menyegarkan sepotong es krim.
__ADS_1
"What are you craving?" (pengen apa?)
"Ice cream." Mita menjawab tanpa ragu.
"Come on, kita cari."
Rama mengemudikan mobilnya kembali, mencari es krim untuk dambaan hati.
Begitu es krim sudah di tangan, Mita masuk ke mobil langsung membuka bungkusnya dengan antusias. Lantas menjilat es krim nya tidak kalah antusias.
Es krim di tangan Rama hampir mencair, karena mata Rama fokus memperhatikan Mita yang tengah asik dengan es krim vanilla.
"Es krim kamu cair, buat aku aja kalau kamu ngga mau." Kini Mita melahap habis es krim coklat miliknya. Otaknya seakan blank melihat bibir Mita dipenuhi es krim coklat.
Tanpa sadar kini bibirnya menyentuh bibir Mita, membersihkan bekas-bekas ceceran es krim di sekeliling bibir Mita. Entah dorongan dari mana Rama melakukan itu semua.
Mita diam, tanpa menolak. Membuatnya semakin berani melakukan lebih. Menyesap setiap inci yang masih terasa manis. Es krim yang Mita pegang kini terjatuh di atas celana jeans miliknya.
Dengan mata tertutup ia mendengar suara isak tangis. Mita menangis.
"Kenapa nangis?" Rama merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
"Kamu jahat, kenapa kamu ambil sekarang?"
Mita menjauh dari Rama, mengambil tisu mobil yang kini dihadapannya lalu mengusap bekas-bekas sisaan es krim di bibirnya dengan terus menangis, namun Rama masih tidak mengerti.
"Salah aku apa?"
"Kenapa kamu cium aku tadi? Saat kita belum nikah." tangisnya semakin mengeras.
Rama menarik kepala Mita ke dalam pelukannya.
"Maaf aku spontan. Aku salah?"
Mita diam namun terus menangis.
"Aku salah? Bilang kalau aku salah."
Mita mengangguk dalam pelukan nya.
"Aku kangen kamu, aku sayang kamu. Tadi itu karena luapan perasaan yang udah aku tahan selama ini. Aku ngga bisa nahan lagi. Maaf."
"Tapi kita belum nikah Bang... Aku udah janji sama diri aku sendiri, untuk menjaga sampai aku nikah."
"Besok kita nikah. Please tolong kasih aku lagi, aku masih mau..."
Mita menggeleng dengan yakin.
Rama menurunkan wajahnya hingga sejajar kembali dengan wajah Mita.
"Please... Aku bisa gila kalau kamu nolak aku lagi." tatapan Rama yang begitu memohon, membuat Mita terhanyut. Mita tidak tega, akhirnya ia mengangguk pelan dan menutup mata.
Perlahan Rama mendekatkan wajahnya, yang kini tak berjarak barang se-centi-pun. Tangan kiri Rama menarik tengkuk leher Mita hingga wajah mereka bersatu. Sementara tangan kanannya menyentuh pinggang Mita. Mendalami perasaan yang kini tengah ia rasakan.
Siang itu Rama dan Mita bagai menikmati dosa yang telah mereka buat sendiri. Mencurahkan perasaan di hati dengan berbagi rasa hangat di bibir hingga Mita merasakan gemuruh yang belum pernah ia rasakan di perutnya.
"Aku sayang kamu, aku kangen kamu, aku pengen kamu." Rama kini memeluknya.
Kini Mita mengerti kata pengen yang sering Rama ucapkan.
"Maaf aku udah ngga bisa nahan ini. Aku sangat tersiksa karena kamu menolak menikah dengan aku dalam waktu dekat."
Kini Mita tidak hanya tau, kini ia juga paham apa yang disebut kebutuhan biologis laki-laki.
"Makasih kamu ngga nolak aku lagi, karena aku ngga mungkin cium Fery. Aku ngga ada perempuan lain selain kamu."
"Abang jangan khianatin kepercayaan aku."
"Kamu masih ngga percaya sama aku?"
Mita mengangguk.
"Besok kita nikah. Biar kamu tau, yang aku rasa sekarang ini bukan hanya naf su tapi juga cinta." Rama melepaskan pelukannya. Memejamkan mata, memikirkan atas apa yang sudah terjadi hari ini.
Benar kah Rama dan Mita benar-benar menikah besok? Hayoooh Rama sih curi start duluan 😂😂
__ADS_1