Cinta Mita

Cinta Mita
Meninggalkanmu


__ADS_3

Mita


Kepulangannya kali ini, sepertinya akan menyisakan setidaknya sedikit tanda tanya tentang ia dan Adit. Selama ini ia tidak pernah satu kalipun diantar laki-laki sampai rumah. Saat teman-temannya sudah sibuk dengan cowok, Mita SMA hanya fokus pada sekolah.


Untungnya ia pulang diantar dengan motor matic sejuta umat, bukan mobil mewah Adit atau motor besar Rama. Jika tidak entah seheboh apa tetangganya.


Selesai makan ia ditugaskan menjaga warung dengan Adit yang mengekorinya di belakang karena Yoga sudah mengeluh capek.


"Kamu mah kedul, teteh ngga ada bantuin Ibu atuh. Budak teh ngaleyeud, HP wae." ia baru menyadari Adit yang melihat ke arahnya tersenyum melihat ia yang mengomel. (kedul : malas, budak : anak, nyaleyeud : susah dikasih tau)


"Adik Mas gitu ngga sih?"


"Nggak, aku ngga punya adik." Adit tertawa.


''Wah jangan-jangan Mas Adit yang ngeyel. Kalau kedul kayaknya adik aku doang." ia dan Adit tertawa.


Adit yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya duduk menyila dengan laptop diatas kaki.


"Kalau tau gedenya kaya gini waktu kecil aku ngga minta adik ke Ibu."


"Kamu persis kayak Mbak Putri di rumah, suka ngomel." ia tersenyum, namun matanya tetap fokus pada laptop di hadapannya.


"Naluri semua perempuan itu mah. Wajar." ia tersipu malu.


Mereka terdiam beberapa saat, asik dengan pikiran masing-masing. Ia yang sedang mempelajari bahan quiz untuk Senin pagi, dan Adit yang entah sedang mengerjakan apa.


"Pulang sama siapa Neng?"


Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya datang ke warung ingin membeli telur. Adit yang sejak tadi fokus ikut melihat ke arah datangnya suara.


"Sama Kakak kosan Wa." tetangga sekaligus Uwa jauhnya itu bertanya penuh penasaran.


"Orang kota mah beda nya penampilan oge herang." (herang : bening) ia berkomentar mengenai Adit.

__ADS_1


Adit tersenyum, ia baru sadar bahwa Adit memahami bahasa Sunda karena orangtua ada yang berasal dari Garut.


"Sami wae Ibu, abdi oge ti Garut." (sama aja, saya juga dari Garut)


"Eh gening tiasa nyunda." (Eh ternyata bisa bahasa sunda)


Ia yang mendengarkan hanya tersenyum.


Adit tiba-tiba meletakan laptopnya memperhatikan ia yang melayani pembeli.


"Kasian banget jauh-jauh kesini disuruh jaga warung." ia tersenyum kecut.


"Nggak apa-apa, siapa tau nanti punya supermarket." Adit tersenyum.


Mereka pun membicarakan tentang kesepakatan kerja sebagai seorang manager dan talent.


"Tapi kalau kamu capek kamu bilang. Aku ngga mau urusan kuliah kamu terbengkalai. Karena itu tujuan kamu di Bogor. Aku minta jadwal kuliah kamu."


Tunggu, yang menjadi manager disini kan dia bukan Adit. Harusnya Adit yang memberikan jadwal nya bukan?


"Aku ngga salah nyari manager." Adit nampak tertawa.


"Mau ngadalin aku ini orang." bisiknya dalam hati.


"Yaudah gini..." belum selesai Adit berbicara, ia memotong omongan.


"Maaf aku kan manager nya, jadi Mas yang ngikutin kata aku." Adit memegang keningnya sambil tersenyum.


"Aku minta jadwal Mas, nanti aku cocokin sama jadwal aku. Nanti aku report kalau ada waktu kosong bareng kita bisa pake buat take video, diskusi, dll. Oke ya?" lanjutnya yang dijawab anggukan oleh Adit .


"Kalau Mas mau jadwal aku nanti aku kasih, walaupun ngga ada hubunganya sama Mas sebenarnya." ia tersenyum menggoda.


"Aku bayar kamu berapa ya ini, kamu kaya manager professional gini keren."

__ADS_1


"Harus mahal dong." mereka tertawa terbahak-bahak bersama.


Tak lama Adit pun pamit karena merasa sudah terlalu sore. Ia bergegas ke hotel yang ternyata cukup jauh juga, memakan waktu kurang lebih 1 jam.


Karena minimya hotel di wilayah tempat tinggal Mita, terpaksa ia memilih hotel yang agak jauh karena ia sudah memilih konsep untuk video nya, sehingga tempat take video harus sesuai dengan tema video yang akan ia ambil hari.


*****


Rama


Ia menuju Bandara pukul 03.00 diantar Pak Karman. Keluarga nya sempat memaksa ingin mengantar ke bandara namun ia melarang, karena masih terlalu pagi.


"Disana yang sabar, kalau kangen telepon, video call. Kamu belum kabarin Mita?" ia menggeleng.


"Muka kamu kusut, kabarin dia ya biar kamu plong. Papa biarin, semoga nanti bisa menerima pelan-pelan." Saat menyebut Mita, ibunya menurunkan volume suaranya. kedua tangan ibu nya mengusap lembut pipi nya, ia selalu merasa menjadi anak kecil di hadapan Ibu nya ini.


"Mama, makasih udah mau ngertiin Rama. Mama jaga kesehatan." airmata nya tumpah di pelukan wanita yang telah melahirkan nya 25tahun lalu itu. Wanita yang selalu ada untuknya di saat ia jatuh dan mendorongnya untuk bangun. Wanita yang selalu menjadi pendengar setia jika ia sedang ada masalah.


"Mama akan selalu ngerti kamu. Karena kamu lahir dari rahim Mama. Yang penting kamu sabar." ia merasakan puncak kepalanya dicium. Ia harus selalu membanggakan Mama nya ini.


"Sen, jagain Mama. Jangan nakal, manjanya kurangin, jangan nyusahin Enin. Salamin buat Enin." ia memeluk Dan mencium pipi adik semata wayangnya ini. Sena membalas pelukannya dengan erat, seperti takut kehilangan.


Ia mendekat ke arah ayahnya yang berdiri melipat tangannya dengan pandangan kosong.


"Papa, jaga kesehatan jangan terlalu capek." ia peluk ayahnya yang seringkali berbeda pendapat dengannya. Ia yang merasa sudah dewasa seringkali masih terlalu di setir untuk hal-hal yang bisa ia putuskan sendiri tanpa campur tangan orangtua. Namun ia paham setiap orangtua menginginkan kebaikan untuk anak.


"Papa minta maaf terkadang ngga bisa memahami cara berpikir kamu."


"It's oke, karena Papa sayang sama aku. Nitip Mama."


Pak Karman mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ia yang duduk di kursi penumpang mencari ponselnya yang tadi ia simpan di tas nya. Dilihatnya sebuah nama yang masih ia pin paling atas "Paramitha".


"Aku berangkat, kamu jaga diri. Aku sayang kamu. Aku akan selalu kangen kamu."

__ADS_1


Ia tak mampu menuliskan kata lain. Foto Mita dengan laki-laki itu masih terbayang seolah ada di depan matanya. Ada perasaan terbakar dalam dadanya, namun cintanya melebihi apapun. Ia tetap ingin Mita tau perasaannya, bahwa ia mencintainya sampai kapan pun.


__ADS_2